Alex melirik ke arah dinding. Sudah malam dan dia pun harus mengakhiri lemburnya. Begitulah dia jika gila kerja, sampai lupa waktu. Jika saja dia tidak ingat di rumah telah ada seorang istri yang ingin dia temui, mungkin dia masih betah dengan kursi putar dan keyboard komputer di ruangannya. Saat Alex telah mematikan komputer, terdengar dering ponsel di meja. Dia meraih benda pipih kesayangannya itu lalu mengangkat kedua alisnya saat melihat nama Devan di layar ponsel. “Ngapain,” sambut Alex. Tentu saja Devan sangat dongkol dengan sambutan yang tidak hangat sama sekali itu. “Eh, gini-gini aku berjasa selama dua bulan ini membuat istrimu itu bisa memasak, tau! Jadi, bersikaplah sopan padaku,” omel Devan. Alex tersenyum tipis. Betapa mudah membuat Devan naik pitam, tapi dia tahu, p

