Tak Ingin Berteman

1922 Kata

Yulia keluar dari kamar. Dia mendapati putranya sedang duduk di sofa ruang tengah. Yulia merasa rindu dengan anak lelaki satu-satunya itu. Dia pun duduk di sebelah Alex perlahan. “Mama!” panggil Alex setengah terpekik melihat ibunya. Pria itu segera meletakkan bukunya lalu memeluk sang ibu dengan rasa rindunya. Alex mencium kedua pipi ibunya. “Mama datang sama siapa? Papa nggak ikut?” tanya Alex. “Sendiri, Papamu sibuk, kan?” sahut Yulia. Meski agak sedikit kecewa, tapi Alex tetap berusaha untuk tersenyum. Ayahnya juga tidak pernah melewatkan kemajuan bisnis anak lelakinya. Setiap kali ada sedikit saja kemunduran, pasti pria paruh baya itu akan menghubunginya. “Mama dan Papa sehat, kan?” tanya Alex. “Iya, kamu? Kayaknya kamu sedang tidak sibuk. Gimana perusahaan kamu?” tanya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN