Merasa Tak Asing

1194 Kata
Sarah mendongak, menatap wajah Dara yang tampak menahan rasa geram itu. Dia segera mempercepat untuk memunguti pecahan kaca yang tersebar di lantai, agar cepat juga menyingkir dari tempat itu, di mana pria yang menidurinya sedang duduk memperhatikan. “Wanita bodoh, bagaimana bisa kamu berani bekerja di sini dengan kecerobohanmu itu! Kalo ini sering terjadi, pecahan kaca itu akan membuat celaka para pengunjung!” bentak Dara, membuat orang-orang yang berada di dekatnya kembali menengok ke arah dua wanita itu. Beberapa menggeleng iba, tapi tak sedikit juga yang memandang sinis pada Sarah setelah Dara mengatakan hal yang benar tentang keselamatan para pengunjung cafe. Dalam hati, Dara merasa sangat puas bisa memperolok Sarah yang sekarang ini makin gugup mengambili pecahan kaca di bawah meja para pengunjung. Tak jarang, pengunjung pria malah membuka kakinya agar Sarah tampak melakukan hal yang tak senonoh di bawah kakinya. Sebuah pelecehan yang didukung oleh Dara, karena dia membiarkan hal itu terjadi tanpa memperingatkan pengunjung itu. “Dia keterlaluan,” geram Alex yang sedari tadi memperhatikan, tak ada satu pun yang bertindak atas pelecehan itu. “Lex—“ Devan hendak menahan sahabatnya yang bergegas berdiri untuk memberi pelajaran bagi pengunjung yang berbuat demikian kotornya pada seorang pelayan yang sedang terkena masalah. Terlambat, Devan tidak bisa menahan Alex yang sudah geram sampai ke ubun-ubun. Dia bergerak ke meja di mana Sarah sedang membersihkan kepingan kaca tanpa menghiraukan tawa para lelaki itu. Alex mencengkeram kerah baju lelaki yang telah melecehkan pelayan. “Apa masalahmu, Bung?” tanya pria itu. Namun, tak ada jawaban di mulut Alex, hanya kepalan tinju yang dia layangkan ke wajah lelaki itu hingga jatuh tersungkur di bawah meja, membuat pengunjung lain berdiri menghindar. Beberapa orang ketakutan di tempat itu dan memilih untuk pergi meninggalkan cafe, tapi banyak yang lain tetap tinggal untuk mengetahui apa yang akan terjadi setelah itu. “Apa di otakmu memang kotor seperti itu? Kamu tidak lihat dia sedang apa? Dia sedang membersihkan kepingan kaca agar tidak melukai kaki kotormu itu! b*****h!” umpat Alex kesal, kembali mencengkeram kerah baju lelaki itu. Pria yang dicengkeram kerahnya oleh Alex menjadi pucat pasi. Dari sudut bibirnya mengalir darah segar akibat kepalan tangan Alex. Ternyata nyalinya tak sebesar apa yang tadi dia lakukan pada Sarah. Namun, teman-temannya tak terima atas perlakuan itu. Mereka berdiri lalu berniat memukul kepala Alex. Tak semudah itu, Devan pun ikut berdiri menepis tangan teman-teman si m***m dengan tangan kosong. Alex dan Devan sekarang menghadapi empat pria di cafe. Dengan beberapa kali libas, keempatnya pun kalah karena Alex dan Devan menguasai bela diri tingkat atas. Keempatnya terbirit-b***t lari tunggang langgang keluar dari cafe yang telah berantakan itu. Tubuh Sarah tambah bergetar melihat kejadian di cafe. Dia takut sekali karena merasa dialah yang menyebabkan semua kekacauan di cafe. Sementara Dara meliriknya sinis, seolah tambah menyalahkannya. “Tuan-tuan dan Nona-nona, maafkan atas semua kekacauan ini karena kesalahan salah satu pelayan kami,” ucap Dara pada semua orang yang berdiri dengan rasa kagum pada Alex dan Devan. Dara mendekat pada Alex dan Devan lalu mengucap maaf atas semua yang terjadi. “Kenapa kamu minta maaf pada kami? Bukankah kami yang membuat kekacauan di sini?” balik Alex pada Dara. Dara meringis mendengarnya. Kelihatan sekali kalau dia sedang mencari muka pada pengunjung. Dia pun berkali-kali membungkuk, lalu menyalahkan satpam yang sekarang berada di sebelahnya. Mengatainya satpam tak berguna. Alex dan Devan menggelengkan kepala melihat kelakuan leader pelayan itu. “Ini, untuk semua kekacauan yang kami buat.” Alex mengeluarkan kartu kreditnya untuk membayar ganti rugi atas semua yang dia lakukan demi seorang wanita pelayan yang dilecehkan oleh pengunjung pria. Kedua mata Dara berbinar melihat hal itu. Langsung saja dia membawa kartu itu ke kasir lalu berbisik ke telinganya dan meminta Alex untuk menekan sandi. Mata Dara terbelalak melihat jumlah yang diberikan oleh Alex. Dua puluh juta untuk ganti rugi kekacauan yang tak seberapa itu. “Terima kasih, Tuan. Ini lebih dari cukup untuk ganti rugi.” Dara membungkuk dengan girang di hadapan Alex. Pria itu segera meraih jaketnya dan mengajak Devan keluar dengan pandangan mata orang-orang di dalam cafe. Sementara itu, Sarah bergegas membuang pecahan kaca ke tempat sampah. Hal ini dia lakukan untuk menghindari Alex. Meskipun dia tahu bahwa setelah ini Dara akan memakinya dan entah apa yang akan Dara lakukan padanya. Namun, dia berharap untuk selamat dari pandangan mata Alex. Sayang sekali, di saat Sarah berbalik, dua pria tadi berada di parkiran, di mana dia harus melewati parkiran untuk kembali ke dalam cafe. Sarah memilih untuk menunggu kepergian dua lelaki itu di balik tembok agar kedua pria tampan itu tak melihatnya. “Gila kamu, Lex. Kenapa pake belain wanita yang nggak kamu kenal itu?” tanya Devan sebelum masuk ke dalam mobilnya. “Van, kita itu lahir dari rahim perempuan, jadi kalo ada perempuan yang nggak salah apa-apa, tapi dilecehkan oleh seorang pria, itu artinya pria itu nggak menghargai ibunya!” Devan mencebik. “Itu berlaku pada wanita-wanita penghibur kamu?” tanyanya melirik tajam pada Alex. “Itu beda, kita melakukannya suka sama suka, Van. Aku butuh tubuhnya, mereka butuh uangku. Fix, nggak ada yang diberatkan, bukan? Beda kasusnya sama yang tadi, mikir!” sahut Alex menunjuk ke dahinya, balas menatap Devan dengan tajam. “Kalah deh aku sama kamu, Lex,” kekeh Devan. Dara yang berwajah kesal karena mencari Sarah yang tak diketahui keberadaannya usai kejadian itu, keluar dari dapur dan melongok ke sana kemari mencari ke arah parkiran. Dia tersenyum pada Alex dan Devan yang terpaksa menghentikan obrolan mereka karena kedatangan wanita itu. “Maaf, Tuan-tuan, saya mencari pelayan yang memecahkan gelas kaca tadi. Apakah ada di antara kalian yang melihatnya?” tanya Dara. Alex dan Devan mengangkat bahu, lalu berniat masuk ke dalam mobil karena telah malas melanjutkan obrolan. Dara berjalan ke arah belakang dan berdecak saat menemukan orang yang dia cari sedang bersandar di tembok, seperti sedang bersembunyi. “Apa yang kamu lakukan, wanita bodoh?” Dara menyeret Sarah hingga tersungkur di depan mobil Alex. Padahal saat itu, Alex sedang akan memundurkan mobilnya. Dia berhenti sejenak melihat apa yang dilakukan oleh Dara. “Minta maaf dan bilang terima kasih pada Tuan royal ini yang udah bantuin kamu tadi! Dia yang bayar semua ganti ruginya! Kamu masih untung tidak dipotong gaji!” bentak Dara pada Sarah yang menunduk dan hendak berdiri. Alex pun turun dari mobilnya lalu menghampiri keduanya dengan wajah datar. Dia menghela napas melihat hal itu. Sarah merasa gugup saat Alex malah turun dari mobilnya dan berdiri dengan jarak hanya tiga langkah dari tempatnya berdiri sekarang. “Terima kasih, Tuan. Saya mohon maaf karena membuat Tuan harus membela dan membayar semua kekacauan akibat perbuatan saya,” ucap Sarah membungkuk, ingin segera pergi dari tempat itu. “Mau ke mana kamu, hah?” bentak Dara menarik lengan Sarah hingga masker wajahnya ikut tertarik dan terjatuh ke bawah. Alex sangat terkejut dan mengerutkan dahi saat melihat wajah Sarah. Dia merasa tidak asing pada wanita itu. “Tunggu, kamu—“ Alex masih berpikir siapa wanita itu, kenapa hatinya bergejolak melihatnya. “Maaf, Tuan. Saya banyak pekerjaan. Saya harus memberesi semua di dalam. Bukankah begitu Kak Dara?” tanya Sarah membungkuk lalu berjalan meninggalkan Alex yang tertegun menatapnya tanpa bisa berkata-kata dan Dara yang memakinya pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN