“S-sakit, Kak.” Sarah mengaduh karena rambut yang ditarik oleh Dara menyakitinya. Sarah juga merasa ngeri dengan pisau yang telah menempel di pipi. Sedikit saja dia salah bergerak, maka pisau tajam itu akan melukainya. “Aku ingatkan kamu untuk tidak mendekati Chef Devan. Dia hanya milikku,” ancam Dara membisikkan kalimat di telinga Sarah. “Iya, Kak. Saya bukan ingin mendekati Chef, tapi saya hanya ingin bekerja saja,” rintih Sarah kesakitan karena tarikan tangan Dara makin kencang pada rambut Sarah. “Jangan bohong,” sahut Dara berdesis di telinga Sarah. “Nggak, Kak. Saya nggak bohong,” ucap Sarah takut sekali. “Awas kalo kamu bohong,” sahut Dara melepaskan tangannya hingga Sarah nyaris tersungkur ke meja dapur. Terdengar suara langkah kaki Devan yang mendatangi dapur. Dara ge

