Bab 22 Neraka

1072 Kata

Arsyad menutup laptopnya. Dia mengurut pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Seharian berkutat dengan laporan membuat matanya lelah. Kini, setelah pekerjaan selesai, justru perutnya ngereog minta diisi. Dirinya mendesah lelah kemudian. "Sepertinya bangunan ini akan roboh jika Tuan Arsyad terus-menerus menghela napas seperti itu," sindir Brian yang sedari tadi berada satu ruangan dengan sang CEO. Dia bosan. Hampir dua jam mereka bekerja di sana dan karena seringnya Arsyad menghela napas membuat Brian tanpa sadar menghitungnya. "Jika rindu, kenapa tidak datangi saja apartemennya, Tuan?" Usulan itu terdengar begitu bagus. "Sayangnya dia sedang tidak ada di sini, Si Otak Pintar!" cibir Arsyad yang kadang memelesetkan nama sang sekretaris dengan memanggil artinya. Brian terlihat tertari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN