"Gue suka lo, Redy," kata Kara lantang dan jelas. Tanpa sadar kedua tangannya terkepal erat, membuat sebagian buku-buku jarinya memutih. Kara menggigit bibir bawahnya sekilas lalu menarik napas dengan tenang. "Gue suka lo...," ulangnya lirih. Entah sejak kapan, perasaan itu telah tumbuh. Perasaan yang mampu membuat senyum Kara terbit tanpa alasan, dan menitikkan air mata tanpa sadar. Semua itu karena Redy. Cowok itu yang telah mengajarkan pada Kara bagaimana caranya merasa senang hanya dengan menatap seseorang, dan sedih karena melihat sosok orang lain di matanya. Meskipun Redy mengatakan bahwa hubungan mereka tidak lebih dari sekedar status yang terikat oleh sebuah perjanjian bodoh, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang dapat menjamin bahwa perasaan diantara keduanya dapat

