Untuk pertama kalinya, suasana di rumah itu tegang dan tidak nyaman. Irfan masih membeku, pria itu tak kuasa menatap netra istrinya. Sementara Windy terus menatap netra suaminya dengan tubuh sedikit bergetar karena menahan amarah. “Bang ... lihat aku kalau bicara. Kemana kamu tadi siang?” Windy terus menginterogasi suaminya. “Windy ... maafkan abang, abang ... abang menemui Kenzo tanpa memberi tahumu terlebih dahulu.” Irfan mulai bersuara, ia mulai berani menatap wajah Windy seraya memegang bahu wanita itu. “Menemui Kenzo kemana?” Windy membuang muka. “Hhhmmm ... sayang, Kenzo sedang sakit. Dia memintaku untuk menemuinya, hanya itu.” Irfan menjelaskan. “Hanya itu?” “Ya, apa kamu tidak mempercayaiku?” “Coba katakan, bagaimana bisa aku percaya sementara aku melihat dengan mataku sendi

