Malam itu, akhirnya Ethan dan Danisa tiba di apartemen Ethan yang kini sudah diberikan ke Danisa sebagai hadiah pernikahan. Udara dingin malam menyeruak saat pintu terbuka, membawa aroma khas ruang yang baru selesai dibersihkan. Ethan menaruh koper mereka di ruang tamu, lalu menoleh ke Danisa yang berdiri canggung di dekat pintu. Ini adalah pertama kalinya Danisa berada di apartemen itu sebagai istrinya yang sah. “Kamu mau langsung pindahan dari apartemen lamamu besok?” tanya Ethan, mengingat percakapan mereka sebelumnya di jalan. Danisa menggeleng sambil tersenyum tipis. “Nggak usah buru-buru, nggak ada yang ngejar kita. Lagipula, aku nggak bawa banyak barang di sana.” Ethan mengangguk, setuju dengan keputusan istrinya. Ia sadar, memaksa Danisa melakukan segalanya dalam waktu sin

