Ethan membuka pintu apartemen dengan langkah berat. Dokumen yang ia bawa tadi dari rumah orang tuanya kini terasa tidak penting sama sekali. Pikirannya penuh dengan percakapan tajam ayahnya dan sikap acuh ibunya. Ia ingin melupakan semuanya, setidaknya untuk malam itu. Saat ia masuk ke dalam, aroma kopi hangat menyambutnya. Di dapur, Danisa berdiri, baru saja menuangkan kopi ke dalam cangkir. Wanita itu tampak sederhana dalam balutan kaus longgar dan celana pendek, namun kehadirannya membuat Ethan merasa lebih ringan. Tanpa banyak kata, Ethan melempar dokumen yang dibawanya ke sofa. Langkahnya panjang dan cepat menuju Danisa. Sebelum wanita itu sempat berbalik, Ethan memeluknya dari belakang, menarik tubuhnya ke dalam dekapan hangat. “Ethan?” Danisa bertanya pelan, sedikit terkejut

