*** Ternyata takdir masih betah menakutiku. Tak sampai hanya sebatas aku melihat mereka berdua memasuki restoran saja. Tuhan kembali mempertemukan kami pada pertemuan tak terduga. Aku masih ingat betul sehari yang lalu aku sengaja tak menghabiskan makananku hanya karena agar kami sesegera mungkin meninggalkan restoran itu. Saga sempat merasa aneh apa lagi Kilea. Dia enggan meninggalkan tempat duduknya namun aku meyakinkan mereka untuk pergi kalau tidak ingin perutku semakin sakit. Aku memberi kemungkinan pada keduanya bahwa aku sedang kedatangan tamu bulanan. Saga yang mengerti segera saja membujuk Kilea. Aku bernapas lega ketika kami sudah meninggalkan restoran itu. Kenyataannya aku sedang menghindar. Ya, itu benar. Masih sulit bagiku untuk berpura-pura baik-baik saja padahal tidak

