bc

Surrender

book_age18+
17
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
age gap
kickass heroine
drama
tragedy
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

Kamadia Abigail Wardana ( 20 tahun ) akhirnya harus menerima tawaran DREYFUS KRAMAYUDHA ( 35 tahun ) sebagai istri karena di dorong faktor kebutuhan akan uang untuk memperbaiki perekenomian keluarganya. Semua memang berjalan baik sesuai harapan Abby karena Drey menepati janjinya untuk membantu keluarganya. Tapi Abby tidak pernah menyangka kalo dia harus masuk dan terlibat di tengah intrik keluarga Drey yang saampai mengancam nyawanya.

LAlu mungkinkah Abby bisa jatuh cinta pada sosok Drey yang menurutnya kejam ? ?. Lalu bagaimana konflik antara Abby dan mama mertuanya yang ternyata suka pada Drey??. Lalu bagaimana Abby membantu Drey dalam upayanya menyelamatkan bisnis keluarga dari ketiga saudara tiri Drey yang gila harta dan uang??.

Ikuti ya gaes….perjalanan cinta Abby dan Drey yang pastinya selalu penuh konflik dan trik lalu jauh dari normal yang di jalani orang banyak. Story dark romance pertamaku dan buat aku deg degan sekali menulisnya…

chap-preview
Pratinjau gratis
1.Om Om Bule
Sudah pagi lagi aja. Rasanya aku baru tidur sebentar lalu harus bangun lagi untuk bekerja. Semalam tuh aku pulang di jam 1 malam dari kafe merangkap resto tempat aku bekerja di pusat kota yang cukup jauh dari tempat tinggalku di bilangan Slipi. Jadi jangan berpikir aku pulang dari club macam gadis remaja ibu kota lain untuk menghabiskan malam weekend. Boro boro aku bisa pergi ke club, kalo uang hasil aku kerja selalu aku berikan hampir semuanya pada tanteku yang juga merawatku setelah kedua orang tuaku meninggal karena wabah COVID yang sempat meresehkan semua orang di negeri ini. Jadilah aku di asuh dan tinggal di rumah om Emir yang juga abang kandung mamaku berikut istrinya. Anak mereka semuanya lelaki, ada tiga orang dan sudah menikah semua jadi pindah tinggal mengontrak dengan istri dan anak mereka. Itu yang buat om Emir dan istrinya akhirnya bersedia menampungku setelah keluargaku yang lain tidak menyanggupi. Ya mau gimana lagi, kalo aku yatim piatu sekarang ini, dan hanya punya om dan tanteku sebagai ganti orang tuaku. Baik sih mereka, sampai aku merasa kasihan dan rela rumah peninggalan orang tuaku di jual oleh keduanya untuk modal beli mobil yang akhirnya di pakai om Emir jadi supir taksi online sebagai penghasilan utama keluarga sampai saat ini. Aku harus cukup merasa puas di belikan motor matic yang akhirnya jadi kendaraanku untuk bekerja di kafe merangkap resto selama dua tahun setelah aku lulus sekolah SMA, lalu kedua orang tuaku meninggal. Semua aku putuskan begitu karena tidak ingin menjadi beban om dan tanteku yang bertahan hidup dari hasil om ku jadi taksi online. Tapi lalu karena om Emir semakin tua dan sakit sakitan jadi agak susah juga kalo di paksa narik mobil online terus. Ujungnya untuk menutup kebutuhan hidup sehari hari jadi aku mesti bantu juga. Mau berharap pada anak anak om tanteku ya tidak mungkin kalo mereka berpenghasilan pas pasan, karena memang sudah punya istri dan anak dan hidup di rumah kontrakan. “Kerja lagi Di?” tegur om Emir di meja makan saat aku selesai bersiap untuk berangkat kerja lagi. “Iya om, lumayan kalo weekend gini, pasti kafe rame, jadi bisa dapat uang tip lumayan” jawabku jujur. Om Emir lalu menghela nafas. “Kamu gak pernah libur Di” komennya lagi tepat aku memakan nasi uduk sebagai menu sarapanku. Aku langsung tertawa. “Libur juga ngapain om, aku paling tidur. Lebih baik kerja cari cuan” jawabku. Memang om Emir tertawa saat itu, tapi aku tau dia merasa kasihan padaku. Ya mau gimana lagi. Sebagai anak muda tentu aku akan merasa malu kalo aku yang malah bermalasan di rumah. Masa malah orang tua yang masih kerja keras, apalagi di saat mereka sebenarnya sudah tidak punya tanggungan apa pun. Eh malah harus urus aku. Pokoknya jadi saling kasihan doang bisanya, termasuk saat tanteku menegurku soal uang setelah om Emir pamit narik taksi online. “Uang yang kamu kasih pas gajian habis Di. Maaf ya tante jadi repotin kamu kalo tanya soal uang lagi. Kamu tau sendiri om kemarin hampir dua minggu tidak narik karena tidak enak badan, udah tua kali ya Di” keluh tanteku. Aku langsung menghela nafas. Tanggal gajian masih jauh, kalo masih tengah bulan. Terus uang sisa gajiku tinggal 500 ribu sampai waktunya gajian lagi. Mau tidak mau aku pecah lagi lebih dari separuh pada tanteku. “Tante bakalan irit irit Di, dan om kamu juga udah coba narik lagi, semoga cukup sampai kamu gajian lagi” kata tanteku. “Iya tante, aamiin” jawabku lalu pamit berangkat kerja. Sebenarnya sempat ada rencana menjual mobil yang om aku pakai cari uang, tapi aku larang karena itu harta satu satunya yang mungkin bisa di pakai kalo ada kebutuhan mendesak. Mau jual rumah, tidak bisa juga kalo surat rumah sudah di gadai untuk biaya pernikahan anak lelaki om dan tanteku yang paling bungsu. Jadi memang hanya mobil dan mungkin motorku yang bisa jadi pegangan kalo butuh uang cepat kalo terjadi sesuatu. Sejak awal memang kami bukan keluarga berada. Kedua orang tua aku dulu hanya karyawan di perusahaan swasta. Malah lebih baik om Emir yang dulu kerja dengan jabatan manager di perusahaan swasta percetakan besar lalu pensiun di usia 60 tahun setelah kedua orang tuaku meninggal. Ya seperti inilah nasib pegawai swasta yang tidak mungkin dapat uang pensiun macam pegawai negeri. Astaga sampai lupa memperkenalkan diriku. Namaku Kamadia Abigail Wardana. Biasa di panggil Dia atau Di. Umurku masih cukup muda, baru 20 tahun, dan aku yatim piatu seperti aku bilang sebelumnya. Selebihnya tidak ada yang istimewa, walaupun banyak orang bilang aku gadis yang punya wajah cantik. Lebel cantik doang percuma kalo tidak bisa membuatku bisa menghasilkan uang banyak. Tapi mungkin bisa kalo aku bekerja mengandalkan kecantikanku. Tapi kerja apa kalo tidak punya modal untuk jadi artis, ujungnya aku hanya akan berakhir jadi ani ani atau malah perempuan simpanan. Gak deh, aku masih punya cukup moral untuk menceburkan diriku jadi perempuan tidak baik. Apalagi aku masih muda dan masih mungkin kerja dengan cara halal. Toh aku tidak pernah bercita cita tinggi selain berkeinginan hidup normal macam kebanyakan orang yang menikah dengan lelaki baik yang aku sayang dan menyayangiku, lalu hidup berumah tangga lalu punya anak. Sesederhana itu cita citaku. Tidak usah muluk muluk macam ingin punya rumah mewah, mobil sampai dapat lebel kaya raya. Tidak perlu kalo aku sadar itu semua tidak mungkin. “Di, semalam kemana?. Gue tungguin elo juga” tegur Aris yang aku tau, kalo dia menyukaiku semenjak aku jadi pelayan di tempat aku bekerja. Bukan aku tidak tau, aku tau benar dia suka aku. Aku hanya membatasi diriku untuk urusan cinta cintaan supaya aku tetap focus kerja dulu sampai aku merasa keuangan keluargaku cukup aman. Takutnya kalo aku terlibat urusan cinta cintaan, beresiko buat aku sakit hati, lalu aku malah tidak bisa bekerja dengan baik. Gak deh. Dalam hidup kita mesti punya skala prioritas. Lagian aku masih cukup muda untuk menikah, bisa nanti nanti sambil cari yang cocok lalu jangan lama lama pacaran, langsung nikah aja. “Elo taukan gue bawa motor juga?. Jadi buat apa tungguin gue pulang kerja” jawabku sambil menutup loker tempat aku menaruh tas dan menaruh celemek yang jadi seragamku. Aslinya seragam aku bekerja hanya kaos putih dan celana panjang hitam lalu pakai celemek yang di ikatkan di pinggang lengkap dengan bacaan nama kafe atau resto tempat aku bekerja. “Yakan bisa ngawal elo pulang kerja Di” jawabnya. Aku tertawa saja. Aku aman aman pulang sendiri walaupun aku pulang di jam tengah malam. Dia macam tidak tau Jakarta aja yang jalan utamanya tidak pernah sepi dari lalu lalang kendaraan seakan warganya tidak pernah tidur. “Gue kerja dulu ya” pamitku enggan melayani lagi. Harusnya dia ngerti penolakanku. Tapi ya sudahlah, benar tanteku soal lelaki yang akan penasaran terus kalo apa yang dia mau belum dia dapatkan. Lalu aku bekerja seperti biasanya dari jam 8 pagi bersih bersih dulu sampai kafe buka lalu melayani pengunjung yang rata rata memesan kopi dan menu sarapan macam sandwich atau roti bakar. Kalo sudah beranjak siang baru deh pesan makanan atau menu makanan besar macam nasi dan aneka lauk atau steak, spaghetti sampai pizza. Semua memang tersedia dari masakan Indonesia, sampai makanan western. “Di, ada langganan elo tuh, yang om om bule. Nyari elo karena cuma mau di layanin sama elo” kata teman satu shift aku hari ini. Aku tertawa saja. “Jangan jangan naksir Di sama elo” katanya lagi. “Ngaco lo” kataku sambil mengambil buku menu. Aku baru selesai istirahat dan sholat, lalu kembali kerja lagi setelah satu jam istirahat bergantian di jam 1 siang. Tidak boleh istirahat di jam kafe ramai oleh pengunjung, jadi aku selalu telat makan siang di jam 1 ke atas atau malah jam 2 ke atas, tergantung kesibukanku. “Ganteng ege” katanya lagi. “Tau. Dan karena tuh o mom ganteng dan kelihatan kaya, jadi mana mungkin suka sama gue” kataku lagi. “Bisa aja, kalo dia niat cari sugar baby” jawabnya. Hadeh…buat kepalaku pusing aja. Lebih baik aku tinggal dan segera aku layani lelaki yang memang pantas di panggil om oleh anak seumuran aku. Entah sejak kapan dia jadi sering datang, pokoknya dalam seminggu setidaknya 2 sampai 3 kali dia datang di hari random dan jam random juga. Kadang hanya pesan kopi lalu tak lama pergi lagi. Kadang bisa berjam jam dengan laptopnya lalu minum bergelas gelas kopi. Kadang lagi sampai makan malam, dan pergi menjelang kafe tutup di jam 12 malam. Yang buat aku suka melayaninya, ya karena memberikan aku uang tip terus dari uang kembalian, mau berapa pun jumlahnya. Sampai pernah aku di kasih uang tip sampai 100 ribu lebih berikut recehan gitu. Ya aku mah senang senang aja. Aku pikir mungkin receh untuk dirinya yang kelihatan kaya. Dan sekarang temanku malah bilang kalo dia kemungkinan suka aku, dan sedang cari sugar baby. Kok ya aku jadi deg degan saat aku bergerak mendekati meja tempat biasa dia duduk. “Siang pak” tegurku menjeda fokusnya pada laptopnya yang terbuka. Aku lalu langsung menunduk saat dia mengangkat wajahnya menatapku. Gak ganteng banget sih, tapi keren gimana gitu. Namanya laki bule, walaupun gak kelihatan bule banget. Tengah tengah deh, macam bule keturunan. Tapi sepasang matanya yang berwarna coklat terang kadang buat aku segan menatap wajahnya lama lama. “Lama sekali, dari mana kamu?” jawabnya. Astaga…ngomel dong. Apa karena aku langsung nunduk menghindari tatapan matanya ya, karena sebelumnya aku selalu memasang wajah senyum sesuai SOP, sekalipun pengunjung yang aku layani kelihatan tidak ramah. “Maaf…tadi saya istirahat makan dan sholat pak” jawabku jadi benaran takut. “Oh…” jawabnya lalu terlihat santai lagi setelah menatap laptopnya lagi. Aku langsung menghela nafas lega. “Jangan senang dulu” jedanya dan buat aku meringis menatapnya lagi. Kenapa lagi ya??. Perasaan tumben galak banget. “Saya sudah bilang jangan panggil saya bapak. Panggil saya Drey” katanya lagi. Jelas aku menggeleng. “Kenapa?” tanyanya lagi lagi. Hadeh…ampun… “Karena aturannya begitu, mana mungkin saya panggil pengunjung dengan namanya” jawabku. Yakali kami kenal akrab sampai harus panggil nama. Dan jangan lupa kalo dia lebih tua dariku. Sudah aku bilangkan, kalo dia lebih cocok jadi om aku atau malah papaku. Tapi masa iya mesti panggil dia dengan sebutan om. Kok ya aku jadi bergidik sendiri. Jangan jangan beneran om o*******g. “Ayo pak silahkan, mau pesan apa. Bapak bilang sudah tunggu saya lama sekali” kataku menjeda diam dan tatapan galaknya padaku. Horor banget, lebih horror dari debcolector penagih utang. Yakan kalo deb collector gitu, kalo akhirnya kita bayar, tidak mungkin juga kita di macam macamin. Kita belum bisa bayar aja mereka tetap tidak bisa berbuat macam macam. Memangnya di sinetron yang deb collector bisa mukul orang yang tidak bisa membayar hutang. Ini real life yang ada hukum di mana orang yang melakukan penganiayaan apalagi membunuh harus di hukum sekalipun punya alasan kuat melakukan itu. Jadi lebih menyeramkan o mom senang yang mungkin banget macam macam pada gadis remaja sepertiku. Tuhkan jadi kemana mana pikiranku. “Kamu sudah tau apa yang biasa saya pesan, Abby” jawabnya. Dan buat aku menarik nafas setiap kali dia panggil aku dengan nama Abby. Persis papaku kalo panggil aku, dan bukan Dia. Ingatkan namaku KAMADIA ABIGAIL WARDANA?. Papa bilang semasa hidup, kalo aku lebih cocok di panggal ABBY, di banding Dia atau Di. Nah kalo nih om om, malah lebih terdengar enak di telingaku tiap kali panggil aku dengan ABBY. Mungkin gara gara aksen bahasa Inggris dirinya kali ya?. Jadi sebenarnya aku suka di panggil Abby. Cuma orang orang sudah terlanjur panggil aku Dia, atau Di. “Kalo gitu bapak pesan kopi Americano kalo seperti biasanya” kataku memastikan pesanannya, walaupun aku tau dia memang selalu pesan menu kopi itu. Dia mengangguk pelan saat menatapku. “Ada yang lain pak?” tanyaku lagi. “Gampang, bisa saya pesan lagi” jawabnya. Aku lalu mengangguk mengiyakan. “Dan harus kamu lagi yang antar pesanan saya, jangan orang lain” katanya lagi memesan. Ampun…macam aku kerja di kafe ini beneran khusus melayani permintaannya dia aja. Entah sejak kapan, lupa aku juga. Sebagai pegawai kafe, tentu aku memilih menurut terus pada apa yang di perintahkan atasanku. Jadi aku lagi juga yang mengantarkan pesanannya. Padahal mana bisa begitu. Terkadang yang melayani pesanan siapa yang antar pesanannya siapa, tergantung sepia tau tidaknya pengunjung kafe saat itu supaya orang tidak lama menunggu pesanannya di antar. “Silahkan pak!!” kataku setelah mengantarkan kopi pesanannya. Dia mengangguk dulu sambil menatapku. “Boleh saya tanya sesuatu?” tanyanya sampai aku batal pamit mundur. “Bapak butuh sesuatu?. Atau mau pesan yang lain?”tanyaku menjawab. Tapi dia menggeleng. “Saya mau tanya, apa kamu masih perawan?” tanyanya santai sekali. Efeknya dong, jelas buat aku kaget sampai aku diam beberapa jenak. “Saya harap kamu bersedia menjawab, jadi saya tidak perlu mencari tau dengan cara lain. Dan harus kamu jawab dengan jujur” katanya lagi menjeda diam dan keterkejutanku. FIKS!!!, nih om om beneran sugar daddy yang memang niat cari gadis muda untuk jadi sugar babynya. Mendadak aku ketakutan. Wajar gak sih?. Masa tiba tiba tanya aku masih perawan atau tidak dan harus aku jawab dengan jujur. Lagian apa pentingnya untuk dia, dan bukan urusan dia juga soal keperawananku. Rasanya langsung tervalidasi kalo dia lelaki c***l yang berniat macam macam padaku. trus aku mesti gimana??, atau mesti jawab apa??. Ya Tuhan….apa hidupku kurang drama sinteron banget ya, sampai KAU merasa perlu mengirim lelaki di hadapanku untuk jadi lawan mainku dalam drama sinetron yang ceritanya soal kehidupan pribadiku??.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
698.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.4M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
938.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
335.9K
bc

Not just, the Beta

read
335.7K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook