“Abby….” tegur si om menjeda diamku.
Tentu aku butuh waktu untuk menguasai diriku lagi setelah pertanyaannya sebelumnya yang membuatku syok, malu dan tentu saja bingung. Mau apa juga tanya soal keperawananku?. Dan rasanya aku tidak perlu jawab pertanyaannya.
“Maaf pak, saya sedang kerja. Dan pertanyaan bapak sifatnya pribadi sekali” jawabku berusaha tetap sopan.
Aslinya mau sekali aku tabok wajahnya supaya dia berhenti bersikap kurang aja. Tanya soal keperawananku tentu termasuk pelecehan verbalkan??. Iya gak sih?.
“Jadi kita mesti bertemu di tempat lain lalu bicara berdua?” tanyanya malahan.
Ampun bangetkan??. Tentu jawabannya malah buat aku semakin takut padanya. Bicara di tempat lain dia bilang, dan berdua saja?. Yang benar saja. Yang ada aku beneran di bungkus. Istilah yang banyak di pakai orang terutama lelaki hidung belang kalo berniat mengajak kencan seorang perempuan.
“Maaf pak, saya tidak ada waktu juga untuk itu. Saya harus kerja sampai sore, bahkan sampai malam. Setelah itu saya pulang lalu tidur” jawabku masih berusaha sopan.
Dia menatapku dulu sampai aku menunduk menghindari tatapannya. Matanya itu loh, beneran macam om o*******g yang sedang menargetkan gadis remaja macam aku untuk jadi teman kencannya atau malah simpanannya.
“Maaf lagi pak, saya permisi dulu. Saya masih banyak pekerjaan” pamitku buru buru karena lalu dia diam saja.
Tapi kok ya tidak pulang pulang. Malah bertahan di kafe sampai waktunya aku pulang dan berhenti melayani pesanannya. Entah berapa banyak kopi yang dia minum sampai aku lupa berhitung. Aku juga tidak memberikan struk tagihannya, karena aku tidak tau dia akan berada sampai kapan di kafe, kalo tidak juga menerima tagihannya. Beneran buat aku lelah sekali hari ini, kalo aku mesti terus meredam debar jantungku yang tidak lagi bisa aku definisikan sebagai rasa grogi atau rasa takut karena aku merasa dia awasi terus. Ampun om….
Lebih ampun ampunan lagi, kalo kemudian dia malah datang setiap hari ke kafe, seperti tau jam dan jadwal kerjaku yang terkadang dapat shiff siang sampai kafe tutup. Dan yang buat kesal, harus selalu aku yang melayani pesanannya dan harus juga jadi orang yang mengantarkan pesanannya.
“Beneran suka elo kali Di. Masa sampai minta manager buat elo yang layani pesanan dan mesti elo juga yang antar pesanan dia” komen mba kasir yang tau benar aku di tegur managerku kalo si om datang.
“Gak tau deh mba, aku kok ya malah takut ya” keluhnya.
Mba kasir yang aku lupa namanya jadi tertawa. Aku memang tidak berusaha akrab dengan siapa pun di tempat kerjaku menghindari drama. Namanya di tempat kerja kadang ada aja dramanya. Dari mulai drama cari muka sampai drama iri.
“Syukuri dan jalanin aja sih Di. Yakan dia selalu kasih uang kembaliannya buat tips elo. Lumayankan kalo dia pasti kasih duit banyak banget buat bayar tagihan dia” kata mba Kasir lagi.
Aku sontak menghela nafas. Benar sih bagian ini, karena memang tidak pernah ambil uang kembaliannya. Tapi tetap tidak wajar kalo tagihannya hanya 300 atau 400 ribu, tapi kasih aku uang untuk bayar lebih dari 500 atau 600 ribu. Kok ya seperti sengaja supaya aku bisa terima uang tips besar yang dia berikan. Mau nolak pun tidak bisa, karena managerku selalu perintahkan aku untuk melayaninya setiap kali datang. Jangan m***m dulu, bukan melayani yang gimana gimana. Masa iya berani kurang ajar atau macam macam di tempat seramai kafe.
“Pokoknya Di, jangan cari masalah sama pak Drey selama kamu masih mau kerja di sini. Kalo saya suruh kamu layani pesanan dan antar pesanan pak Drey, ya kamu turuti. Jangan lalu kamu kasih saya masalah juga” kata managerku sebelumnya karena aku kadang berusaha mengalihkan atau menghindari dengan minta tolong yang lain yang menggantikan aku untuk melayani si om, atau pak Drey.
“Kan ada yang lain pak. Nanti jadi iri sama saya, kalo yang lain juga tau, kalo saya selalu di kasih uang tips cukup besar oleh pak Drey” jawabku pada managerku.
“Harusnya kamu bersyukur pak Drey loyal kasih kamu uang tips, dan bukan malah ribet dengan omongan atau komentar yang lain. Gimana sih kamu?. Pokoknya saya tidak mau tau, kamu harus nurut pada perintah dan aturan saya” kata managerku lagi.
Aslinya aku semakin kesal dong. Masa iya aku mesti banget menurut seakan yang kerja jadi pelayan hanya aku. Tapi ya bagaimana lagi, namanya orang kerja, pasti harus nurut pada atasan. Jadi aku lagi yang mesti melayani dan mengantarkan pesanan milik si om. Bagusnya dia tidak lagi banyak bicara selain sibuk dengan laptopnya. Sampai kadang aku berpikir, apa dia tidak punya kantor ya, sampai mesti kerja di kafe setiap hari sampai jauh malam. Soalnya kalo aku lembur sampai kafe tutup, dia selalu masih ada di bangkunya. Paling bangkit dari duduknya untuk ke toilet.
“Kamu tidak sedang hindari saya kan?” tegurnya akhirnya menanyakan soal itu padaku setelah dia bicara soal apa yang mau dia pesan saja.
Aku langsung diam dan menunduk menghindari tatapannya.
“Apa saya buat kamu takut?” tanyanya lagi.
Masa iya mesti tanya sih?. Bukan aku takut juga sih, tapi aku risih. Coba deh kalian jadi aku, sekalipun yang diam diam mengawasi aku terus saat aku bekerja itu ganteng banget, tapikan jadi buat takut ya??. Kalo masih seumuran aku, mungkin aku tidak takut, tapi umurnya jauh sekali dari aku. Tapi kalo aku pikir lagi, dia mau apain aku ya??. Dengan uang yang dia punya, dia kan bisa dapatkan perempuan mana pun untuk jadi teman kencan atau teman dia tidur. Lalu kenapa aku??. Itu kalo aku sedang berpikir lurus dan lempeng ya supaya aku berhenti merasa takut akan kehadirannya yang terus menerus dan mengawasiku diam diam.
“Abby…” tegurnya menjeda diamku.
Sontak aku menghela nafas.
“Bapak kenapa datang ke sini terus sih?” tanyaku memberanikan diri mengangkat wajahku.
“Memangnya ada larangan untuk saya datang ke sini?” tanyanya saat menjawab.
Jadi aku diam. Ya karena tidak ada yang bisa larang juga si om datang ke kafe ini, apalagi tidak pernah buat masalah dan selalu memesan banyak kopi atau malah makan sekalian. Tentu bisa jadi omzet atau pemasukan kafe tempat aku bekerja.
“Tidak ada larangankan?” tanyanya menjeda diamku.
Buru buru aku mengangguk.
“Lalu kenapa kamu tanya itu ke saya?” tanyanya kemudian.
Jadi bingung jawabnya.
“Kamu bekerja saja seperti biasanya, jangan perdulikan saya” katanya lagi padaku.
Aku hanya bisa mengangguk.
“Baik pak, saya permisi dulu. Silahkan di nikmati pesanan bapak” pamitku.
Tidak dia tahan lagi sih, jadi aku melanjutkan pekerjaanku.
Tapi lalu ada moment di mana aku semakin takut akan kehadiran si om, di hari hari depan. Dan dia masih tetap datang ke kafe seperti biasanya, dan masih setiap hari.
“Siapa lelaki yang semalam membuntuti kamu pulang, lalu kamu ajak mampir ke rumahmu?” tanyanya.
Sampai aku terbelalak menatapnya saat dia selesai menanyakan soal itu. Semalam memang aku lembur dan pulang lewat tengah malam lalu ingatkan temanku di kafe yang aku bilang suka aku itu, memaksa mengekori aku pulang sampai rumah. Lalu memang aku tawari mampir ke rumahku, sebagai bentuk basa basi. Mana mungkin juga aku biarkan dia mampir di jam lewat tengah malam, dan pasti dia menolak dong dengan alasan kesopanan.
“Bapak ikutin saya pulang?” tanyaku setelah menguasai diriku lagi.
“Hanya untuk memastikan kamu selamat sampai rumah” jawabnya.
Malah buat aku berpikir keras. Jangan jangan selama ini dia memang membuntutiku sampai rumah?. Kok ya semakin buat aku takut. Masa tidak cukup dengan dia datang ke kafe tempat aku kerja, sampai merasa perlu tau di mana rumahku.
“Tapikan tidak bilang saya. Itu namanya penguntit pak. Dan itu namanya kejahatan” omelku jadi muntah deh rasa kesalku.
Dia luar dugaan dia malah tertawa.
“Kalo gitu tinggal kamu laporkan saya ke polisi. Tapi apa kamu punya bukti kalo saya menguntit kamu?” jawabnya dengan nada mengejek.
Beneran buat aku geram sampai aku menatapnya sejutek yang aku bisa. Tapi dia malah tertawa lagi.
“Kamu tidak punya buktikan?” ejeknya lagi.
Meninggalkan aku yang mengepalkan tanganku menahan amarahku dan tentu menahan mulutku untuk tidak mengomel.
“Sekarang kamu sudah taukan kalo saya mengikuti kemana pun kamu pergi dan di mana pun kamu berada. Jadi kamu tidak butuh lelaki mana pun selain saya” katanya lagi dan buat aku terbelalak lagi menatapnya yang justru tersenyum penuh kelicikan.
Apa apaan coba?. Kok malah buat aku seperti tidak punya privacy.
“Kamu faham Abby?. Jadi jangan sampai saya temukan kamu dengan lelaki lain. Siapa pun itu atau saya akan….”
“Bapak akan apa?” potongku jadi tidak sabar.
“Saya tidak akan apa apakan kamu, tapi tidak tau apa yang saya akan lakukan pada lelaki yang berada dekat kamu, dan saya tidak suka. Mengerti?” jawabnya.
Astaga…nih o mom gila kali ya??. Apa malah psikopat??. Setauku banyak orang kaya yang sakit jiwa macam si om. Setidaknya dari apa yang aku baca di internet lewat ciri ciri orang psikopat. Salah satunya ya gila macam si om,yang niat banget celakain orang yang tidak dia suka tanpa alasan, atau mengganggu kesenangannya.
“Abby…”tegurnya pada diamku.
Entah kenapa aku jadi tidak suka lagi saat dia panggil aku dengan nama itu.
“Saya permisi pak” putusku sebelum aku ikutan gila.
Dan pastinya buat aku was was terus tiap kali aku selesai kerja dan berniat pulang ke rumah. Terutama malam hari menjelang tengah malam atau malah lewat tengah malam. Soalnya kalo aku pulang di jam yang masih cukup ramai, aku tidak merasa di awasi, walaupun aku harus terus memastikan itu dengan seringnya menengok ke belakang. Tapi kalo aku pulang malam hari menjelang tengah malam atau lewat tengah malam, memang akhirnya aku menemukan ada mobil sedan mewah yang aku tidak tau merknya mengikuti dari belakang lalu parkir cukup jauh di belakangku. Langsung aku yakin kalo itu si om, saat aku awasi diam diam sambil aku menutup pintu pagar rumahku. Merk apa ya mobil sedan itu?, kalo di kap depan mobilnya ada patung kecil berbentuk malaikat, dan bukan logo mobil sedan mewah macam Mercedes benz. Kalo merk itu aku tau, tapi mobil si om tidak aku tau apa merknya. Pokoknya kelihatan mahal, kalo warnanya hitam mengkilat.
Jelas aku semakin merasa takut dong, sampai aku memutuska untuk resign kerja dari kafe itu saat aku akhirnya dapat gaji. Soalnya semakin buat aku tidak nyaman dan cukup ketakutan, walaupun sejauh ini aku baik baik saja. Tapikan gak enak kalo kerja dengan perasaan hati was was terus. Sampai kalo aku lihat si om datang ke kafe, rasanya aku ingin sekali lari menjauh pergi. Setakut itu loh aku pada si om.
“Resign?” tanya managerku saat aku utarakan keinginanku untuk berhenti kerja.
Aku langsung mengangguk.
“Alasannya?” tanya managerku lagi.
“Hm…saya mau ikut pindah rumah dengan keluarga saya pak, dan jadi jauh kalo saya tetap kerja di kafe ini” alasanku.
Pak manager langsung menghela nafas.
“Tapi saya bersedia kok menunggu sampai bapak dapat pengganti saya” kataku lagi.
Baru pak manager mengangguk lalu mengizinkan aku keluar dari ruangannya untuk kembali kerja lagi. Ada kali seminggu aku bertahan tetap kerja dan malah si om tidak pernah datang lagi, sampai aku merasa menyesal sudah mengajukan resign. Kalo tau si om tidak akan datang lagi ke kafe, tentu aku akan bertahan kerja di kafe, mengingat agak susah dapat pekerjaan.
Tapi ternyata aku salah, kalo kemudian ternyata dia muncul lagi. Dan kali ini bukan kafe lagi tapi di ruangan kantor kafe. Jelas aku kaget saat pak managerku memanggilku ke ruangannya. Aku pikir akan mengajakku bicara soal karyawan baru penggantiku ternyata….
“Silahkan kamu kembali kerja, biarkan Abby bicara dengan saya” perintahnya dari kursi di depan meja kerja besar yang managerku aja tidak pernah duduki.
Katanya kursi dan meja kerja pemilik kafe. Tapi masa iya si om yang punya kafe?.
“Kaget?” tanyanya setelah pak manager pamit keluar ruangan dan meninggalkanku dengannya berdua saja.
Aku memilih diam dan menunduk.
“Saya yang lebih kaget karena kamu memilih resign dari kafe ini” lanjutnya.
Masih aku bertahan diam.
“Saya sengaja membeli kafe ini, supaya kamu tidak perlu bekerja sesuai jadwal tapi bisa kamu atur sekehendak hatimu, kapan kamu mau datang ke sini dan kapan kamu mau pulang” katanya lagi.
“Maksud bapak?” tanyaku bersuara.
“DREY!!!. Panggil saya DREY!!” pintanya agak keras.
Sampai aku menciut lagi.
“Duduk!!” perintahnya kemudian.
Tidak ada alasan untuk aku kabur atau pamit keluar ruangan. Apalagi dia pemilik kafe sekarang ini, seperti pengakuannya. Jadi aku menurut duduk di kursi di depan meja kerja dan berhadapan dengannya.
“Saya beli kafe ini, supaya kamu bisa datang bekerja sesuka hatimu. Dan cukup kamu bilang pada saya, mau jam berapa kamu datang ke kafe dan jam berapa kamu mau pulang” katanya lagi.
“Mana bisa begitu, memangnya kafe ini punya saya?” protesku.
“Bisa saja,kalo kamu bersedia jadi istri saya. Kafe ini akan jadi milikmu” jawabnya.
“HAH!!!” pekikku spontan.
“Why not?. Tapi untuk bisa jadi istri saya, saya harus pastikan dulu kalo kamu masih perawan” katanya lagi.
Astaga….balik lagi ke soal keperawananku dong. Ini laki , udah om om, kenapa keukeuh banget sih cari tau aku masih perawan atau gak. Lalu kalo pun aku masih perawan, dia gak mikir apa, mana mungkin aku mau jadi istri dari lelaki sakit jiwa yang buat aku takut terus. Hadeh…ada yang bisa tolong aku gak lepas dari si o mom sakit jiwa?.