Rasanya aku ingin sekali kabur dari si om yang semakin buat aku takut. Tapi entah kenapa, aku cukup penasaran juga kenapa harus aku yang dia kejar kejar. Iya gak sih??. Yakan banyak sekali gadis lain seumuran aku yang masih perawan tentunya. Kalo tidak ada di kota besar macam Jakarta, kenapa si om tidak cari di kampung gitu sih??.
“Kenapa mesti saya sih pak?” tanyaku memberanikan diri.
“Ya karena yang saya mau itu kamu. Just a simple” jawabnya.
Menghela nafaslah aku.
“Kalo saya ternyata sudah tidak perawan?” tanyaku lagi.
Gantian dia menghela nafas. Aku sampai meringis, saat dia justru berdiri untuk mendekat padaku. Salah deh kayanya aku tanya yang belakangan.
“Kamu pernah pacaran sebelumnya?” tanyanya kemudian setelah dia berdiri bersandar di pinggir meja kerja dan menghadapku.
Agak buat aku terintimidasi sih kalo posisi kami sedekat ini. Sampai aku tidak berani menjawab pertanyaannya. Yang ada, aku malah semakin ketakutan.
“Waktu kamu sekolah maksud saya” katanya lagi.
Aku bertahan diam.
“Karena atas aduan orang kepercayaan saya, selama ini setelah kamu lulus sekolah lalu bekerja di kafe ini, kamu tidak pernah kelihatan dekat apalagi pacaran dengan lelaki mana pun” lanjutnya lagi.
“Bapak segitunya mencari tau soal kehidupan pribadi saya?” protesku berubah kesal.
Malah tertawa pelan menanggapi.
“Salahmu sendiri, kenapa tidak jawab pertanyaan saya soal keperawananmu saat saya tanya itu padamu” jawabnya santai sekali.
Malah aku rasanya mau menampar wajahnya yang jadi terlihat menyebalkan.
“Abby…tenang…saya tidak punya maksud jahat sama kamu” katanya masih tertawa.
Padahal aku sudah menatapnya segalak yang aku bisa.
“Gak punya maksud jahat menurut bapak. Tapi bapak udah berhasil buat saya ketakutan, karena saya merasa bapak kuntit terus” protesku lagi.
Dia menghela nafas lagi sebelum akhirnya beranjak bangun untuk duduk di kursi kerja lagi di hadapanku. Dan buat aku menghela nafas lega, walauapun sedikit. Agak takut aku tuh pada sorot matanya yang seakan mengintimidasiku. Jadi bukan sepenuhnya sorot mata jahat, atau malah sorot mata sadis ya??.
“Lagi bapak, kalo mau cari cewek muda dan masih perawan, kenapa gak cari di kampung aja sih?. Kenapa cari di kota besar macam Jakarta gini?” kataku terlanjuran bersuara sebelumnya.
“Saya tidak punya banyak waktu” jawabnya.
“Kalo gitu kenapa mesti banget cewek muda dan masih perawan?. Kenapa bukan cari cewek yang seumuran bapak, dan gak mesti perawankan??. Bapak aja belum tentu perjaka” kataku lagi.
Dia malah tersenyum miring yang hampir menyeringai.
“Salah saya ngomong?” kataku pada tatapan meledeknya.
“Ternyata kamu lebih pintar dari yang saya pikir” jawabnya.
Sialan!!. Memangnya dia pikir aku sebodoh apa?, sampai tidak bisa membaca situasi?. Sekarang dengan penampilannya yang keren, ganteng, dan kaya, perempuan mana yang tidak tertarik padanya. Mau perempuan dewasa, apalagi perempuan muda seumuranku, gampang kalo dia mau, tinggal tunjuk, dan gak harus repot cari cari yakan??. Mau pakai alasan karena dia gak suka?. Lah kalo memang dia butuh perasaan untuk suka pada perempuan yang suka dirinya juga, kenapa mesti banget perawan?. Itu sama aja, ngadi ngadi. Atau pasti karena alasan m***m doang.
“Saya tidak suka perempuan dewasa yang memungkinkan mengatur hidup saya nantinya” alasannya.
“Oh terus jadi bapak cari cewek ABG, yang bisa bapak atur atur sesuai hati bapak, kaya b***k gitu?” tembakku.
“TEPAT!!, tapi tidak dengan bagian jadi b***k saya” sanggahnya.
Malah buat aku semakin sewot. Supaya dia bisa atur atur, tapi nolak di bilang perbudakaan??. WHAT TH HELL???.
“Tentu saya tidak mungkin menyiksa perempuan, malah akan saya manjakan sepanjang dia menurut pada apa yang saya mau di lakukan, dan menurut untuk tidak melakukan apa yang tidak saya suka” katanya memberikan alasan.
Aku diam dulu mendengarkan apa yang di katakan.
“Saya juga akan menjamin semua kehidupannya termasuk keluarganya sampai dia tidak merasa kekurangan. Dan saya akan berikan semua yang di inginkan. Kamu tertarik Abby?” tanyanya di akhir.
“Kasih semua yang saya mau kalo saya bersedia jadi istri bapak seandainya saya masih perawan?” tanyaku.
Dia mengangguk.
“Kalo saya mau bapak mati setelah nikah sama saya, bapak bakalan lakuin bunuh diri gak supaya bapak mati?” tantangku.
Malah tertawa. Nyebelinkan?!.
“Abby…kalo saya mati setelah kamu nikah sama saya, nanti kamu jadi janda. Dan jadi janda kaya di usia semua kamu, tentu akan buat kamu jadi target kejahatan lelaki di luar sana. Pada akhirnya kamu menyesal minta saya bunuh diri, kalo akhirnya kamu tidak punya suami atau punya lelaki yang akan selalu melindungimu dari orang jahat di luar sana, apalagi kamu yatim piatu” sanggahnya.
Aku jadi diam.
“Bukankah perempuan butuh sosok lelaki, bukan hanya untuk memberikan kehidupan yang layak, tapi juga melindungi diri dan kehormatannya dari orang jahat mana pun di luar sana?. Jadi kamu harus pikirkan benar soal meminta saja mati setelah jadi suamimu” katanya lagi.
Mungkin benar kali ya??. Soalnya kadang aku mikir, kalo sesuatu terjadi pada diriku dan aku yatim piatu, apa om aku bisa melindungi aku dengan baik?, kalo kehidupan yang layak untukku aja dia tidak bisa berikan sampai aku mesti bekeja keras untuk menanggung hidup om tanteku.
“Abby…gunakan pikiran dan logikamu. Sekarang kalo pun kamu menolak menikah dengan saya, pada akhirnya memungkinkan untuk kamu di bersama lelaki tua lain mengingat betapa miskinnya kamu saat ini” katanya lagi dan lagi.
Aku langsung terbelalak menatapnya.
“Jangan marah. Saya bicara soal fenomena gadis muda saat ini. Terutama gadis muda yang punya paras menarik dan cantik sepertimu. Sekarang kamu mau berharap apa pada lelaki muda seumuranmu saat mereka jadi pacar atau suamimu, apalagi lelaki muda itu bukan dari kalangan keluarga berada. Yang ada kamu harus tetap bekerja keras untuk dirimu dan keluarga kecilmu kelak kalo kalian akhirnya menikah, karena lelaki muda tidak mungkin langsung mapan dan harus berjuang untuk jadi mapan dulu. Tapi lalu ada fenomena lain yang mungkin terjadi pada diri seorang lelaki yang akhirnya jadi mapan di kemudian hari, karena bantuanmu sampai kamu tidak punya waktu mengurus diri dan kecantikanmu, lalu buat kamu tidak lagi terlihat menarik. Apa mungkin lelaki yang jadi pasanganmu setelah dia mapan dan punya uang, akan tetap akan setia padamu??” katanya lagi.
Hadeh….
“Jangan bodoh Abby, seperti banyak gadis muda sepertimu yang akhirnya memilih mengorbankan diri untuk lelaki yang belum tentu bersedia berkorban untuk dirimu juga. Bullshit kalo ada lelaki baik baik di luar sana. Lelaki semuanya sama, hanya akan memikirkan kepentingannya sendiri dan egonya. Mungkin saja ada lelaki baik di luar sana, tapi itu berlaku untuk lelaki yang tidak punya banyak uang. Tapi tidak mungkin lelaki baik itu akan tetap baik saat dia punya uang. Ingat Abby, harta, tahta, dan wanita. Dan jangan abaikan kenyataan kalo lelaki punya hak untuk memilih yang tidak di punyai perempuan….”
“Termasuk bapak juga dong lelaki tidak baik, kalo bapak punya harta dan tahta” potongku.
Dia malah tertawa lagi.
“Mungkin. Tapi sekarang, saya sedang berusaha jadi lelaki baik dengan berniat menikahi kamu. Dan tentu karena saya sedang berusaha jadi lelaki baik, saya tentu inginkan perempuan baik baik untuk jadi istri saya. Saya punya hak memilih perempuan baik menurut versi saya, dan kebetulan menurut saya, kamu perempuan baik baik, terlebih lagi kalo kamu masih perawan” jawabnya.
“Kenapa mesti banget perawan sih pak??. Bisa aja perempuan baik gak lagi perawan karena di tipu lelaki b******k” protesku.
Dia langsung menghela nafas menanggapi.
“Anggap saja ini soal ego saya, yang tidak mungkin mau perempuan yang akan jadi istri saya, sempat di sentuh lelaki lain sampai akhirnya tidak perawan” jawabnya.
“Kalo sempat di cium apa di pegang pegang lelaki lain tapi tetap perawan?” tanyaku lagi.
Dia diam dulu.
“Untuk itu saya tanya, apa kamu sebelumnya pernah punya pacar?. Cukup jawab” jawabnya.
Aku jadi diam.
“Jawab Abby, karena saya tidak bisa cari tau itu sendiri setelah saya ketemu kamu di saat kamu yang sekarang ini, dan bukan bertemu kamu beberapa tahun lalu. Dan jawabanmu akan berpengaruh pada penilaian saya atas dirimu” katanya menjeda diamku.
“SAYA BUKAN BARANG!!. Jadi saya tidak butuh penilaian bapak atas diri saya” protesku kesal sampai tengah menjerit di awal.
Sontak dia memijat keningnya.
“Jangan sok suci deh pak. Mana mungkin juga bapak belum pernah tidur apa di sentuh perempuan lain sebelum bapak ketemu saya” kataku lagi.
“Memang!!, saya memang pernah tidur dengan perempuan lain sebelum kamu, tapi hanya untuk memastikan mereka masih perawan atau tidak” jawabnya.
“Terus?, mereka kemana setelah bapak tidurin?” tanyaku lagi.
“Ya saya tinggal karena mereka berbohong soal keperawanan mereka” jawabnya santai banget.
Beneran om om c***l.
“Tapi kamu tenang saja. Saya sudah pastikan benar kalo mereka tidak hamil anak saya, karena saya memang tidak mau punya anak. Lalu kamu tenang saja, karena mereka tidak akan ganggu kamu, kalo saya sudah berikan semua yang mereka mau dari mulai uang, rumah sampai kendaraan supaya mereka tidak ganggu saya dan kamu nantinya setelah kita nikah” katanya lagi.
Astaga….
“Jadi kalo kamu bersedia jadi istri saya. Cukup bersedia tidur dulu dengan saya, untuk saya memastikan benar kalo saya lelaki pertamamu, lalu kita menikah….”
“Terus kalo ternyata saya tidak perawan?” potongku.
Dia menghela nafas dulu.
“Kafe ini akan jadi milikmu sepenuh, dan terserah kamu mau apa lagi dari saya kecuali kematian saya, karena saya akan cari gadis lain yang masih perawan untuk jadi istri saya. Lalu seperti saya yang tidak akan ganggu hidupmu lagi setelah itu, kamu juga jangan ganggu hidup saya nantinya dengan siapa pun akhirnya saya menikah, dan semua di seselaikan lewat perjanjian tertulis” jawabnya.
Gantian aku menghela nafas.
“Abby….gimana?” tegurnya pada diamku.
Aku malah menghela nafas lagi.
“Apa bapak bisa saya percaya?” tanyaku.
“Bagian mana?. Bagian saya tidak akan ganggu kamu seandainya kamu batal jadi istri saya?” tanyanya menjawab.
Aku menggeleng bagian ini. Kalo soal itu, pasti dia akan cari gadis lain kalo ternyata aku tidak perawan mengingat dia punya uang dan kekuasaan. Tapi masalahnya aku masih perawan, jadi memungkinkan sekali dia akhirnya menikahi aku. Tapi lalu apa dia akan setia padaku setelah aku jadi istrinya dengan segala yang dia punya, termasuk soal uang dan kekuasaan?. Yakan bisa aja dia selingkuh dari aku dan cari gadis muda lain.
“Abby…”tegurnya lagi sampai berdiri lagi dari duduknya lalu mendekat padaku.
Lagi lagi aku menghela nafas tepat dia berdiri bersandar lagi di tepi meja kerjanya.
“Saya tidak akan mengkhianatimu setelah kita menikah. Jadi kamu bisa percaya sama saya” katanya setelah meraih kedua tanganku untuk dia pegang.
Aku tertawa pelan menanggapi.
“Dengan apa yang bapak punya sekarang, uang, kekuasaan, dan wajah bapak yang ganteng” jawabku.
Dia gantian tertawa pelan.
“Jangan bilang kamu juga suka sama saya, karena saya ganteng menurut versimu” ledeknya.
Buru buru aku tarik kedua tanganku yang dia pegang sebelumnya.
“Hei!!” protesnya.
Aku berdecak menanggapi.
“Bapak gak pernah ngaca ya, sampai gak tau kalo bapak punya muka ganteng?. Jadi bukan saya yang suka bapak” jawabku.
Dia tertawa.
“Tapi kamu panggil saya bapak terus, jadi menurut saya, mana ada lelaki tua yang ganteng Abby” jawabnya.
Gantian aku tertawa dan dia tersenyum menatapku. Entah kenapa aura menyeramkan sebelumnya mendadak hilang, sampai aku jadi diam membalas tatapannya.
“Percaya sama saya Abby. Saya bukan lelaki yang saya bilang padamu, macam lelaki yang akan berselingkuh dan mengkhianatimu. Saya kaya dan banyak uang semenjak saya lahir, dan tanpa perlu berusaha banyak seperti lelaki banyak uang lainnya, karena saya terlahir dari keluarga kaya” katanya.
Aku bertahan diam menatapnya.
“Saya mungkin bisa saja jadi lelaki b******k dan b******n seperti banyak lelaki kaya dan beruang lain, tapi tidak saya lakukan” katanya lagi.
“Kenapa memangnya?” tanyaku.
Dia menghela nafas dulu.
“Karena punya wanita lain selain wanita yang jadi istri sah, justru akan memberikan masalah di kemudian hari. Sekalipun sebagai perempuan pengganti saat perempuan yang di nikahinya meninggal sekalipun” jawabnya.
Aku mengangguk saja.
“Dan saya tidak mungkin tertarik pada perempuan lain kalo saya sudah punya kamu sebagai istri saya, karena saya yakin perempuan yang menginginkan lelaki yang sudah beristri, jelas hanya bertujuan pada uang saya aja” katanya lagi.
“Kalo sebagai istri ternyata saya cuma mau sama uang bapak gimana?” tanyaku lagi.
“Wajar kalo sebagai istri menginginkan uang suaminya. Dan sudah seharusnya suami memberikan uang yang cukup, dan memenuhi semua yang istrinya inginkan dan butuhkan, baru bisa di bilang lelaki sejati Abby” jawabnya.
Lagi lagi aku mengangguk saja.
“Pada akhirnya semua yang saya punya akan jadi milikmu kalo kamu jadi istri saya, Abby” katanya lagi.
“Walaupun saya tidak punya anak dari bapak?” kataku karena dia bilang tidak ingin punya anak.
Dia mengangguk.
“Bapak gak ngerasa rugi?” tanyaku lagi.
“Kamu rugi gak kalo akhirnya jadi istri saya, dan manghabiskan semua hidupmu bersama saya sampai saya akhirnya mati?” jawabnya bertanya.
Benar juga, jadi aku diam.
“Tolong pikirkan permintaan saya. Saya punya banyak waktu untuk menunggu jawabanmu, karena saya orang yang sabar. Tapi tetaplah kamu bekerja di kafe ini, jadi saya tetap bisa memastikan kalo kamu baik baik saja” katanya lagi.
Ya mungkin sekali aku menerima tawarannya sebagai istri, tapi masa iya mesti dia tiduri dulu sebelum nikah sih??. Iya kalo beneran bisa aku percaya, dengan tidak meninggalkanku setelah aku sudah di tiduri, kalo ternyata ninggalin aku??. Terus kalo ternyata aku hamil setelah dia tidurin gimana?.