Dan karena si om kasih aku waktu untuk berpikir soal tawaran untuk jadi istrinya, jadi aku pamit dong. Mau ngapain juga lama lama bersamanya di dalam satu ruangan, yang ada aku semakin takut.
“Okey, sambil menunggu kamu kasih jawaban ke saya, silahkan kamu kembali bekerja seperti biasanya. Dan lupakan niatmu untuk resign dari kafe ini” pesannya padaku sebelum akhirnya melepaskan aku keluar ruangan kerjanya.
Yakan kafe ini sudah dia beli, jadi ruangan kerja dia dong.
“Sudah ya Di, lanjut kerja lagi aja kamu di kafe ini. Tolong jangan buat saya terkena masalah oleh pak Drey” kata managerku.
Pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk dan pasrah. Aku pikir lagi, di bandingkan rasa ketakutanku bertemu atau berurusan dengan si om, tentu lebih menakutkan kalo aku tidak punya pekerjaan dan berujung dengan aku yang tidak punya uang.
Tapi lalu aku harus sekali menanggapi perhatian si om yang menurutku kadang berlebihan. Sampai aku merasa risih sendiri. Soalnya lagi lagi si om nogkrong di kafe seperti biasanya dan hanya mau aku layani pesanannya. Walaupun dia tetap kelihatan sibuk dengan handphone dan laptopnya, dan terkadang sama sekali tidak mengajakku bicara selain pesan sesuatu lalu bilang makasih setelah aku antar pesanannya, tetap aja aku bisa merasakan kalo aku di awasi terus.
“Jangan makan siang di luar kafe. Makan siang sama saya Abby” katanya bersuara juga setelah beberapa hari nongkrong di kafe untuk mengawasiku.
“Jangan pak, gak enak sama yang lain” tolakku.
“Kamu malu makan siang sama saya?” tanyanya malahan.
Tuhkan??. Udah mah aku harus hadapi mulut karyawan yang pastinya membicarakan aku di belakangku, masih juga harus hadapi mulut dan kemauan si om yang ngadi ngadi.
“Kita makan di kantor, kalo kamu malu terlihat makan siang dengan o mom seperti saya” katanya lagi seperti tau apa yang aku pikirkan.
Apa aku bisa menolak kalo kemudian dia memanggil manager kafe untuk menyiapkan makan siang untuk kami berdua di dalam kantor atau ruang kerjanya.
“Ayo Abby” paksanya sampai menarik tanganku.
Aku hanya bisa meringis dan menunduk menghindari tatapan banyak mata. Baik tatapan mata pengunjung atau karyawan kafe. Benar benar si om seenaknya aja, mentang mentang dia punya uang dan kuasa.
“Saya merasa tidak adil, kalo saya makan siang dengan menu makanan yang pastinya enak dan bersih, sementara kamu makan siang di pinggir jalan dan menu makanan yang belum tentu bersih” katanya saat kami duduk berhadapan dan bersiap makan siang bersama.
Kalo makanan yang aku beli di pinggir jalan gak bersih, kenapa aku baik baik saja sampai hari ini?. Alasan doang kayanya supaya bisa berduaan denganku.
“Ayo makan” perintahnya setelah dia mulai makan duluan.
Aku menurut makan setelah aku mengangguk.
“Kenapa kamu masih bekerja sesuai jadwal yang di berikan manager padamu?. Saya sudah bilang, kamu bisa datang ke kafe ini dengan jam kerja yang kamu inginkan, Abby” katanya kemudian.
“Saya tetap karyawan pelayan di kafe ini, tentu harus tetap mengikuti aturan” jawabku.
“Siapa bilang kamu karyawan di kafe ini?. Kamu calon istri saya” sanggahnya.
Hadeh…calon istri dari mana coba?. Aku iyakan tawarannya untuk jadi istri aja belum kok.
“Rasanya kamu doang, orang yang di beri segala kemudahan, malah memilih tetap bersusah payah” keluhnya menjeda diamku.
“Harus pak. Kalo saya berhenti berusaha, nanti saya malah jadi manja” kataku.
“Memang saya berniat memanjakan kamu kok. Jadi kamu jangan keras kepala” jawabnya.
Astaga…si om gak mikir apa. Belum tentu dia beneran akan memanjakan aku terus. Gimana kalo dia bosan padaku atau bertemu gadis muda lain yang lebih menarik??. Apa mungkin aku tidak akan dia tinggal?.
“Kamu pasti tidak tau, keras kepalamu itu justru menyusahkan saya” keluhnya lagi.
Aku jadi diam. Aku gak pernah bermaksud menyusahkan siapa pun kok, termasuk si om. Kok ya dia malah mikir aku justru menyusahkannya??.
“Kenapa kamu tidak mau lagi menerima uang kembalian dari apa yang saya harus bayar?. Apa uang itu kurang untukmu?” tanyanya lagi karena aku diam saja.
“Pak, udah dong jangan terlalu banget kasih perhatian sama saya. Dan soal uang kembalian, bukan uang kembalian kalo bapak hanya harus bayar sekian ratus ribu untuk apa yang bapak minum dan makan di kafe bapak sendiri, lalu kembaliannya malah bisa dua kali lipat dari total tagihannya. Itu sih bukan kembalian namanya” jelasku setengah ngomel.
“Karena saya yakin, kamu akan menolak kalo saya kasih kamu uang secara cuma cuma. Itu yang kamu tidak mengerti, sampai saya cari cara supaya kamu mau menerima uang yang saya berikan padamu” jawabnya.
Hadeh….ampun nih si om. Duitnya meteran kali ya?. Masa niat banget kasih aku uang tiap hari sampai ratusan ribu dan berkedok uang kembalian?.
“Ya sudahlah nanti saya cari cara lain supaya kamu mau atau terpaksa menerima uang pemberian saya” katanya lagi.
“Pak…jangan begitu” jedaku.
“Kenapa memangnya?. Apa saya salah kalo saya tidak mau kamu kekurangan uang?. Kamu calon istri saya” sanggahnya.
Balik lagi ke soal calon istri. Seakan lupa, kalo aku belum jawab tawarannya untuk jadi istrinya.
Tapi mungkin seharusnya aku terima uang pemberiannya dalam bentuk kembalian, kalo dia malah transfer uang ke rekening bankku dan buat aku kaget saat mengecek saldo uangku di rekening tabunganku, setelah aku mengambil uang yang di minta tanteku untuk uang belanja sehari hari.
“10 juta….” desisku meringis saat menatap layar mesin ATM di tambah sisa uang gajiku yang tinggal beberapa ratus ribu.
Sampai aku cek mutasi lewat mbangking rekeningku untuk tau, dari mana uang yang tiba tiba ada di rekening tabunganku. DREYFUS KRAMA itu nama si om kan, dan jelas terbaca di laporan mutasi pengiriman dana ke rekening tabunganku. Dan uang segitu, tentu sama dengan uang dua bulan gajiku.
“Kasih tau saya kalo memang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan rumahmu. Om kamu sudah tidak bisa maksimal bekerja lagikan??, karena sudah tua dan sakit sakitan. Jadi pakai uang itu untuk mengcover kebutuhan di rumahmu. Saya yakin kamu bijak menggunakannya. Tapi jangan lalu kamu menahan diri untuk pakai uangnya. Kamu harus beli makanan yang bergizi dan cukup untuk kamu makan bersama om dan tantemu” katanya saat aku protes soal uang yang dia kirim ke rekeningku secara diam diam.
“Pak!!” protesku.
“Abby, tentu saya lakukan itu bukan tanpa alasan. Pakai logika berpikirmu. Kalo kamu merasa punya cadangan uang untuk memenuhi kebutuhanmu dan untuk biaya tidak terduga, macam kalo om dan tantemu jatuh sakit karena mereka sudah tua, kamu jadi tidak perlu pusing mencari uang untuk mereka berobat atau apa pun. Kamu juga tidak perlu begitu kerja keras bekerja, karena kamu juga mesti memikirkan kesehatanmu” katanya lagi.
Kenapa benar banget sih?. Suka tidak suka, harus aku akui, karena aku merasa tidak punya uang yang mengendap di rekening tabunganku sebagai dana cadangan kalo terjadi sesuatu, jelas membuatku terpaksa bekerja keras.
“Terima kasih pak” jawabku akhirnya.
Lalu si om tersenyum menatapku.
“My pleasure …” jawabnya kemudian.
Aku sampai tertawa menanggapi. Baik gak sih si om?. Terlepas dia ada maunya dari aku. Aku gak minta apa pun loh, tapi kok ya di kasih tanpa aku minta.
“Sana bersenang senang dengan tantemu. Kamu bisa mulai dengan mengajaknya berbelanja isi kulkas, atau apa pun yang kamu merasa butuhkan untuk di rumah kalian” katanya menjeda tawaku.
“Tapi…saya masih kerja…” jawabku menolak.
“Hei, kamu lupa kalo saya yang punya kafe ini?. Jadi saya bisa kasih kamu izin pulang sekarang” katanya lagi.
Langsung dong senyum di wajahku merekah. Kapan lagikan?.
“Makasih pak” jawabku girang sampai aku tanpa sadar mencium tangannya dan buat dia tertawa.
“Have fun Abby” jedanya pada langkah girangku setelah aku pamit untuk pulang ke rumah.
“Pasti” jawabku.
Tentu buat tanteku kaget karena aku pulang kerja cepat sekali di jam masih jam 1 siang.
“Pergi belanja?. Kamu punya uang dari mana?” tanya tanteku pasti tanya soal ini.
“Aku dapat bonus dari kafe tante, karena aku karyawan rajin masuk kerja. Dan aku juga di angkat jadi supervisor” jawabku.
“ALHAMDULILAH” cetus tanteku lalu tertawa girang.
Tidak perlu taulah ya, dari mana aku dapat uang. Toh aku punya uang bukan hasil maksiat atau jual diri. Jadi termasuk halal dong uangku, karena di berikan cuma cuma oleh si om. Soal gimana nanti kedepannya, biar aku pikirkan nanti. Senyum tante sudah cukup buat aku happy.
“Di, minta antar om kamu aja ya kalo memang mau belanja ke supermarket” kata tante kemudian.
“Ya udah, enak lagi naik mobil” jawabku.
Sibuklah tanteku menelpon om untuk pulang mengantar kami belanja. Dan girang juga om aku karena tau aku naik jabatan. Elah naik jabatan dong, padahal bohong. Ya sudahlah yang penting kedua orang tua ini happy, sampai aku biarkan mereka beli apa pun yang mereka mau saat sampai supermarket besar di dekat rumahku.
Aku malah sibuk beli kebutuhan rumah macam deterjen, cairan pembersih lantai, sampai karbol. Juga bahan makanan dan buah tentunya. Dan tentu menyenangkan rasanya kalo belanja tanpa perlu takut tidak bisa bayar belajaan setelah kami mengantri di kasir.
“Di cukup gak uang kamu buat bayar belanjaan sampai dua troly gini?. Om gak ada uang buat tambahin kalo memang uang kamu kurang” malah om aku cemas sendiri.
“Udah sih pak, kalo Diah aja santai, artinya punya uang” kata tanteku.
Aku tertawa saja.
“Eh, jangan gitu, nanti kalo uangnya malah habis gimana?. Nanti aja ribut gak punya uang terus Diah mesti lembur kerja terus sampai tidak punya waktu untuk libur kerja” kata om aku lagi.
“Tenang om, kan nanti sedikit lagi aku gajian. Jadi pasti aku langsung punya uang lagi kalo pun uang yang ada sekarang habis” jawabku.
“Tuh dengar” jawab tanteku.
Om aku hanya menghela nafas menanggapi.
Tapi ternyata tidak menghabiskan semua uang yang si om berikan, karena hanya habis setengahnya aja gak sampai. Itu sudah termasuk untuk membayar biaya makan kami di di restoran setelah selesai belanja.
Yang paling girang tentu tanteku sekalipun harus sibuk membereskan belanjaan sepulang kami belanja.
“Untuk pertama kalinya tante tidak perlu pusing mau masak apa, kalo semuanya ada di kulkas. Jadi tinggal beli sayurnya aja Di. Ayam ada, daging, ikan, walaupun tante lebih suka belanja di pasar karena masih segar” katanya padaku.
“Nanti kalo aku punya rezeki lagi kita belanja di pasar aja kalo buat bahan masak tante” jawabku.
“Memang kamu bakalan naik gaji Di?” tanyanya lagi.
Nah aku gak tau soal ini. Tapi ya aku mengangguk saja.
“Alhamdulilah” jawab tanteku.
Namanya ibu ibu, pasti hal yang paling menyenangkan kalo mendapati kulkasnya penuh oleh bahan makanan. Lemari dapurnya penuh juga oleh perlengkapan untuk mencuci baju, cairan membersihkan rumah, sampai cairan untuk mencuci piring. Aku juga sih. Jadi tidak perlu ribet beli eceran di warung, termasuk beras yang sering tante beli mengecer. Sekarang tidak lagi, kalo aku belikan juga sekarung besar beras untuk stok kami makan.
“Udah om jangan narik lagi hari ini. Istirahat di rumah aja” cegahku saat om aku malah pamit narik lagi.
“Tapi Di, belum dapat uang buat tante” katanya.
Buru buru aku berikan uang untuk pegangan tanteku. Untuk aku mah gampang, kalo setiap hari aku selalu di berikan makanan kafe untuk makan siang sekalipun di om tidak ada saat jam makan siang. Awalnya aku tidak enak pada karyawan lain, tapi lama lama aku bodo amat. Aku pikir, kalo mereka punya kesempatan seperti aku yang dapat perhatian dari si om yang mereka kenal sebagai pemilik kafe dan mereka tau benar kalo si om suka aku, pasti mereka juga tidak akan melewatkan kesempatan. Ini Jakarta bosque!!. Tidak semua orang perduli pada kesusahan orang lain. Malah cenderung meledek kalo ada orang lain yang kesusahan, seakan mereka tidak berpikir kalo mereka mungkin saja kesusahan seperti orang yang mereka lihat kesusahan.
“Uang kamu memangnya masih ada Di?” tanya tanteku sebelum menerima uang satu juta dariku.
Dan aku abaikan tatapan om aku.
“Masih tante. Dan aku tidak butuh banyak banyak, kalo semua kebutuhan rumah sudah ada. Aku paling butuh ongkos aja kok” jawabku.
“Pak?” tanya tanteku pada omku.
“Udah pegang aja sama tante, mumpung ada. Tapi hemat hemat ya, sampai aku gajian lagi, jadi om gak perlu narik taksi online sampai malam banget, jadi om gak kecapean terus malah sakit” kataku memaksa.
Akhirnya tanteku terima setelah om aku mengangguk pelan.
“Kamu memang anak baik, om dan tante doakan semoga rezekimu selalu lancar ya Diah” kata om.
“Aamiin” jawabku.
Menyenangkan rasanya bisa memenuhi tanggung jawabku, sekalipun aku harus kesampingkan keinginanku sendiri. Ya namanya gadis muda sepertiku tentu punya keinginan yang sifatnya hedon sesekali. Ya macam ingin handphone bagus atau baju bagus. Tapi terpaksa aku lupakan soal itu setidaknya sampai keuangan keluargaku stabil dulu sampai tidak perlu merasa kekurangan.
Tapi lagi lagi si om seperti mengerti soal keinginanku sebagai gadis muda. Tiba tiba saja dia mengajakku pergi, dengan alasan menemaninya makan yang berujung dengan aku di biarkan belanja apa pun yang aku mau. Gimana aku bisa menahan diri untuk tidak baper dengan segala bentuk perhatiannya. Mana selalu bilang aku istrinya lagi di depan semua orang, ampun bangetkan??.