“Kamu happy hari ini??” awalnya si om tanya itu lewat telpon di hari aku selesai menemani tante dan om aku berbelanja kebutuhan rumah.
“Ya, makasih ya pak. Saya happy banget” jawabku jujur.
“Good” jawabnya.
Lalu buat aku tertawa.
“Kamu merasa cape gak?” tanyanya lagi.
“Kenapa memang?” tanyaku menjawab.
“Kamu bisa libur kalo memang cape setelah selesai belanja” jawabnya.
“Saya bisa istirahat dan tidur pak. Lagian memangnya boleh kalo saya libur kerja?. Besok bukan jadwal saya libur kerja” kataku.
“Kenapa tidak, kalo yang menyuruhmu libur kerja adalah saya pemilik kafe tempat kamu bekerja” jawabnya.
Sontak aku tertawa lagi.
“Benar juga” jawabku mendadak happy.
“Jadi tunggu apa lagi?. Besok kamu istirahat di rumah dan tidak usah kerja, Abby” aturnya kemudian.
Enak sih bisa libur kerja, dan lagian aku masih punya cukup uang di rekening tabunganku. Libur kerja sehari gak apa kali ya. Aku juga tidak pernah ambil jatah liburku, dan selalu masuk terus menggantikan siapa pun yang berniat libur bekerja, supaya gajiku bertambah dari hasil lemburan.
“Lagipula, besok saja ada urusan pekerjaan, jadi tidak bisa datang ke kafe dan menemani kamu bekerja” katanya lagi.
“Memangnya mesti pak, bapak datang terus ke kafe?” tanyaku bodoh.
Dia yang punya itu kafe, terserah dong dia mau datang setiap hari juga. Siapa yang bisa larangkan??. Si om aja jadi menghela nafas berat, karena pertanyaanku.
“Kalo saya tidak temani kamu kerja, siapa yang akan melindungimu kalo ada orang yang berniat jahat padamu?” jawabnya.
Masa iya ada yang berniat jahat sama aku??. Memangnya aku siapa?.
“Okey Abby. Better kamu libur kerja besok, dan bekerja lagi kalo saya sudah bisa menemanimu di kafe. Tolong menurut kali ini” pintanya.
“Iya pak…” jawabku setengah terpaksa.
Soalnya kalo aku menolak permintaannya, aku merasa tidak enak, karena dia sudah kasih aku uang cukup banyak.
Jadilah aku libur kerja esok harinya dan aku pakai untuk tidur selama seharian, dan hanya bangun saat tanteku menyuruhku makan.
“Tumben sih kamu libur kerja. Tapi memang kamu butuh libur Di. Jadi tante biarkan kamu tidur seharian ini. Dan sekarang makan dulu kalo kamu memang mau tidur lagi” kata tanteku yang melayaniku aku makan.
“Biar aku yang ambil sendiri tante” kataku malah tidak enak.
“Udah tante aja. Kamu duduk aja, kamu udah cape sekali kerja selama ini. Dan semua yang tante masak, semua tersedia karena kamu. Jadi wajar kalo tante mengurus kamu makan dan temani kamu makan. Tante kasihan sama kamu Di” jawab tanteku.
“Makasih tante” jawabku tidak menolak lagi.
Mungkin itu cara tanteku menghargai apa yang aku usahakan. Kami juga jadi punya waktu untuk mengobrol, menonton TV sampai jajan dari pedagang keliling yang lewat rumah. Tidak usah mengkhayal soal tante tante jahat macam di sinetron deh, hanya karena aku anak yatim piatu. Tanteku baik kok, sebaik om aku. Kalo pun suka minta uang sama aku, ya karena dia butuh dan kebetulan hanya aku yang bisa di pintail tolong. Andai om dan tanteku tidak bersedia mengasuhku, pasca kedua orang tuaku meninggal, pasti aku tidak punya keluarga sekarang ini.
“Sudah cukup belum istirahatmu, saya besok sudah bisa datang ke kafe, kalo kamu besok sudah mau kembali masuk kerja” kata si om saat menelponku lagi malam harinya menjelang aku tidur.
“Kalo pun bapak tidak datang ke kafe, saya akan tetap masuk kerja kok. Tidak enak pak sama yang lain kalo saya libur kerja terus” jawabku.
“Astaga…keras kepala. Ya sudah terserah kamu” malah ngomel lalu memutuskan sambungan telpon.
Kenapa marah sama aku ya?. Sampai aku takut saat bertemu dengannya lagi di kafe besok harinya. Bagusnya dia bersikap seperti biasa yang datang lalu memesan kopi lalu sibuk dengan laptop dan handphonenya di meja biasa dia duduk. Aku juga tidak berani bicara banyak selain diam menurut, karena wajahnya terlihat tidak bersahabat.
“Makan siang nanti, makan siang lagi dengan saya” pintanya menjelang makan siang dengan nada suara dingin dan tidak menatapku.
Ini bagian resiko saat aku menerima uang pemberiannya. Langsung ada rasa tidak enak untuk menolak apa yang dia mau. Laki tuh gitu gak sih?, karena merasa sudah memberikan sesuatu pada perempuan, pasti merasa berhak mengatur perempuan semaunya. Itu kenapa aku sejak awal takut menerima apa yang dia berikan dan tawarkan. Aku jadi seperti tidak bisa apa apa, sekalipun hanya untuk mengungkapkan apa yang aku mau atau pendapatku, dan harus menurut pada apa yang dia mau dan dia minta. Dan dia juga seperti tau kalo aku memang butuh uang. Menyebalkan bagian ini tuh. Jadi buat aku duduk tegang di hadapannya untuk makan siang bersama.
“Hari sabtu besok temani saya makan di luar. Saya bosan makan di kafe ini terus” pintanya padaku.
Aku langsung menatapnya.
“Kamu tidak mau?. Apa kamu menolak permintaan saya?” tanyanya padaku.
Aku buru buru menggeleng.
“Kalo gitu kamu bersedia temani saya makan di luar kafe?. Tidak apa setelah kamu selesai bekerja, atau malah lebih bagus kalo kamu libur kerja hari itu, jadi kamu tidak pakai alasan cape saat menemani saya makan lalu minta pulang” katanya lagi.
Aku diam kali ini.
“Abby…” tegurnya pada diamku.
“Kita makan doangkan pak?” tanyaku dulu memastikan.
Mendadak aku takut dia mengajakku lebih dari sekedar menemaninya makan.
“Tidak juga, kita bisa jalan jalan menghabiskan waktu bersama, dan beli sesuatu yang mungkin kamu inginkan” jawabnya santai sekali karena sambil melanjutkan makan.
“Beli sesuatu yang saya mau?” tanyaku lagi.
Dia mengangguk.
“Uang yang saya berikan padamu kemarin sudah kamu pakai untuk memenuhi kebutuhan keluargamu. Tapi kebutuhanmu belum kamu belikan??. Jadi besok saat kamu menemani saya makan, bisa sekalian beli apa yang kamu butuhkan untuk dirimu sendiri atau kamu mau” jawabnya.
Aku gantian mengangguk. Lebih ke supaya cepat selesai pembicaraan kami.
“Better kamu tidak usah bekerja hari itu. Nanti saya jemput kamu ke rumah” katanya lagi.
“JANGAN!!!” sampai aku mesti memekik.
Dan wajahnya langsung berubah kaku menatapku sampai aku meringis.
“Saya belum pernah di jemput lelaki mana pun sebelumnya dan belum siap menjawab pertanyaan om atau tante saya soal siapa bapak. Saya kan belum jawab permintaan bapak jadi istri bapak” jelasku.
Dia menghela nafas menanggapi.
“Kenapa saya harus menurut pada apa yang kamu mau?” tanyanya.
Aku langsung cemberut menatapnya.
“Kenapa?” tanyanya lagi.
Aku buru buru menggeleng.
“Bapak bilang punya banyak waktu nunggu jawaban saya, dan bapak orang yang sabar. Tapi kenapa bapak terburu buru?” jawabku.
Dia menghela nafas lagi.
“Okey, saya akan menuruti mau kamu. Tapi turuti mau saya dengan tidak perlu kamu bekerja di hari saya ingin kamu pergi bersama saya. Tidak usah bawa motormu juga untuk kita bertemu di kafe ini, kamu punya cukup uangkan untuk naik taksi dari rumah sampai ke kafe?” jawabnya.
Aku buru buru mengangguk lagi.
“Good” pujinya entah untuk apa.
Walaupun bilangnya menemaninya makan saja, tapi tetap aja aku deg degan. Yakan bisa aja dia berubah pikiran lalu ngajak aku hal lain selain menemaninya makan doang. Namanya laki sedewasa dirinya pasti punya otak kotor juga. Atau malah aku yang malah punya otak kotor terhadap dirinya dan justru salah menilai niatnya pada diriku.
“Kita sudah makan, ayo kita keliling mall ini untuk beli apa pun yang kamu mau” ajaknya setelah selesai aku temeni makan lalu menarik tanganku.
“Beli apa pak…” rengekku menjeda langkahnya yang justru terlihat tidak sabar.
“Bisa gak kamu latihan panggil aku DREY, dan bukan bapak lagi?” tanyanya dulu.
Aku langsung meringis menatapnya.
“Coba, kamu gak akan terbiasa kalo gak coba panggil aku, DREY!!. Dan bukan bapak lagi” pintanya memaksa.
“D…rey…” desisku.
“Nah itu bisa. Awas panggil aku bapak lagi” komennya lalu menarik tanganku lagi.
Ampun bangetkan??. Sampai aku jadi pusat perhatian di mall kelas 1 yang kami datangi.
“Kamu mau handphone baru?” tanyanya setelah kami di depan grai handphone merk apel terkenal.
Aku meringis dulu.
“Astaga Abby…” desisnya bersuara lalu menarik tanganku masuk ke toko handphone tanpa meminta persetujuan aku lagi.
Bisa apa aku selain pasrah menurut pada apa yang dia mau.
“Tolong berikan apa pun handphone yang istri saya mau. Kalo ada versi yang paling baru” pintanya pada SPG yang menyambut kami.
ISTRI!!!, what the hell??. Jadi buat SPG yang menyambut kami mendadak sumringah.
“Silahkan kak…” katanya padaku karena si om juga melepaskan cekalan tangannya pada tanganku.
“Come on sayang, gak usah ngambek sama aku, hanya urusan handphone doang” jawabnya.
Astaga…..maksa banget ya??. Harus nurut lagi aku dengan apa yang dia mau, karena dia malah sibuk menjawab handphonenya yang berdering. Sampai aku kesal sendiri lihatnya karena aku merasa di abaikan.
“Jadi mau ambil yang mana kak?” tegur mas SPG.
Tuhkan??. Jadi bingung harus jawab apa kalo si om malah sibuk telpon terus. Gak tau apa harganya mahal banget, terus siapa yang mau bayar?.
“Udah kak ambil yang model terbaru aja jadi gak harus ganti ganti lagi sampai keluar model baru lagi” kata SPG lain yang ikutan merubungku.
Semakin aku merasa tidak nyaman dong. Taukan rasanya kebingungan hadapi SPG yang suka banget maksa supaya kita beli barang jualan mereka, padahal kita sekedar tanya doang dan tidak niat membeli. Mentalku tidak sekuat itu hadapi SPG suatu barang di mall, karena tau aku tidak sanggup beli. Jadi selalu aku hindari.
“Bilang aja kak sama suaminya, kalo kakak mau hape ini” kejar SPG yang satunya lagi.
Ampun…
“Itu…” tuhkan aku jadi gelagapan.
Suamiku aku aja bukan, gimana bisa seenaknya minta?. Makin maksa dong nih 3 SPG. Mungkin karena lihat penampilan si om yang kelihatan banyak uang dan bule pula kali ya??.
“Yang, sudah belum?” tanya si om tau tau memeluk pinggangku dari belakang sampai aku gelagapan.
“Ini pak, istrinya mau yang model baru” malah si SPG cewek yang jawab dan yang tadi maksa aku.
Langsung dong si om menatapku yang memang menoleh ke arah belakang karena wajahnya tepat di bahuku.
“Kamu mau itu?. Ya sudah saya ambil handphone yang istri saya mau, mba” jawab si om.
Gak bisa aku cegah lagi kalo kemudian si mba SPG langsung berlalu meninggalkan kami lalu sibuk mengurus handphone baruku.
“Kamu mau apa lagi, wifey?” tanyanya setelah memutar tubuhku sampai kami berdiri berhadapan dan lengan kokohnya bertahan memeluk pinggangku.
Kok ya macam mengambil kesempatan karena aku diam saja dengan kelakuannya.
“Laptop mau?. Kamu kan suka nonton drakor gitu” katanya lagi padaku.
“Eng…” bingung aku jawabnya.
“Ayo sekalian aja beli, nanti kamu ngambek lagi sama aku” malah memutuskan sendiri dengan bergerak menarik tanganku ke pajangan laptop yang memang ada juga di toko yang sama.
Bisa apa aku selain diam menurut. Dan better sih, kalo kali ini dia yang menangani SPG yang melayani kami. Aku memilih diam menyimak saat si om serius mendengarkan penjelasan mas SPG dan dua SPG lain yang menjelaskan speck product laptop yang terpajang. Mau gerak kemana mana juga susah kalo dia bertahan menggenggam tanganku.
“Yang ini aja ya Sayang?. Cukuplah untuk kamu pakai browser atau nonton drakor” katanya padaku setelah serius mendengarkan penjelasan mas SPG.
Aku mengangguk saja sebelum aku melihat harga yang tertera di kertas kecil dekat pajangan laptop. Astaga…hampir 60 juta hanya untuk laptop doang. Mau syok, tapi si om santai bayar setelah semua siap di bungkus. Aku malah sibuk mikir. Bagus juga kali aku punya gadget mahal, jadi kalo suatu waktu aku butuh uang dan si om berhenti kasih aku uang, karena sudah bosan padaku, jadi aku bisa gadai atau aku jual. Jadi diam diam aku tersenyum tanpa si om lihat karena dia sibuk menelpon supir untuk datang ke toko kami berada, untuk membawakan laptop yang aku beli ke mobil. Kalo handphone dia biarkan aku bawa sendiri.
“No say thank you sama aku?” tanyanya setelah memberikan bungkusan berisi handphone baruku.
Aku langsung tertawa menanggapi.
“Kamu memang istri yang tidak tau terima kasih” keluhnya lagi.
Entah sengaja karena kami memang di awasi banyak orang atau memang berharap aku bilang terima kasih.
“Makasih sayang” jawabku lalu berjinjit mencium pipinya.
Dia sempat terbelalak sebentar lalu tertawa. Gak apa kali ya, cipok pipi si om, kan orang taunya aku istrinya, dan bukan ani aninya.
“Ayo kita beli lagi apa yang kamu mau. Mumpung aku punya waktu temani kamu belanja” ajaknya lalu menarik tanganku lagi.
Entah kenapa aku malah tertawa kali ini, mengikutinya yang juga tertawa pelan saat mengajakku keluar toko handphone. Dan karena dia yang mau sendiri membelikan apa pun yang dia pikir aku suka dan aku perlukan, jadi aku nurut aja. Yakan aku gak minta di belikan. Dari mulai sepatu, tas, sampai perhiasan emas putih lengkap dengan berlian. Sampai aku sibuk berhitung berapa banyak yang uang yang dia keluarkan untuk membelikan semua barang yang aku punya sekarang.
“Cukup ya untuk hari ini. Aku cape jalan jalan terus keliling mall, dengan kamu yang diam saja dan hanya menjawab dengan mengangguk atau menggeleng. Masih bagus kamu masih bersuara bilang terima kasih dan cium pipiku” katanya setelah selesai belanja.
Sontak aku tertawa, dan dia juga sih. Ya pasti capelah, keliling mall dengan dia yang terus bicara menanyakan apa aku mau beli yang lain, dan aku diam saja selain menurut pada apa yang dia mau.
Yang lalu buat aku bingung, gimana jawab pertanyaan om dan tanteku kalo aku belanja dan beli barang mewah sebegitu banyak. Akhirnya aku bilang kalo di belikan pacarku walaupun si om tidak ikutan mampir dan hanya mendropku di depan rumah. Tapi efeknya, baik om atau tanteku jadi seperti semakin mengandalkan aku dalam urusan uang. Ya gak apa sih, aku kasih terus kalo mereka butuh uang, tapi jadi aku bohong terus ke si om supaya dia kasih aku uang terus. Belum lagi aku harus hadapi omongan orang sekitar lokasi kerjaku. Ampun deh, kadang orang tidak tau keadaan yang sebenarnya langsung berasumsi sendiri gitu. Jadi aku seperti di fitnah kalo di tuduh macam macam untuk sesuatu yang tidak aku lakukan.