6.Lampu Hijau

2250 Kata
“Tidak ada acara kamu nolak, aku antar kamu pulang sampai depan rumahmu. Tidak apa kalo kamu tidak izinkan aku mampir kali ini. Sudah malam juga. Tapi jangan harap aku izinkan kamu naik taksi untuk pulang ke rumahmu” itu kata si om yang buat kepalaku pusing memikirkan pertanyaan tante dan om aku soal barang barang yang di belikan si om padaku. Ya bisa pasrah doang juga akhirnya dengan aku duduk manis di bangku belakang mobil bersama si om. “Kamu marah sama aku?” tegurnya pada diamku. Aku memilih diam sekalipun menoleh ke arahnya. “Harusnya kamu senang kalo saya perhatian sama kamu, dan bukan menghargaimu seperti perempuan muda simpanan pria tua kaya, dengan membiarkan kamu pulang naik taksi. Kamu harus mengerti itu” katanya padaku. “Tapi aku bingung nanti harus jawab apa kalo di tanya om tante aku soal barang yang kamu belikan” jawabku bersuara. “Tinggal bilang di belikan pacarmu. Masalahnya di mana?” jawabnya santai. Aku justru meringis menatapnya. “Jadi kamu masih belum bisa menganggap aku pacarmu, dengan kedekatan kita yang seperti sekarang ini?” tanyanya kemudian. Ya benar sih. “Aneh….” desisnya. “Gak gitu maksudku…” sanggahku karena dia bilang aku aneh. “Sekarang apa yang buat kamu ragu bilang kalo aku pacarmu pada om dan tantemu?. Sekalipun aku pria dewasa, dan umurku jauh di atasmu, tapi aku single dan tidak punya istri atau pacar lain. Aku bahkan belum pernah menikah sebelumnya. Aku rasa om dan tantemu malah akan merasa senang kalo tau kamu pacaran dengan lelaki kaya dan loyal padamu. Percaya sama aku, sekalipun menurutmu aku pria tua, karena gap umur kita yang jauh” katanya lagi. “Emang iya?” jawabku. “Kamu bisa bawa kepalaku kalo tidak percaya” jawabnya lalu diam. Ya aku diam, karena merasa mood si om jadi drop karena sikapku. “Aku sudah waktuku untuk membuatmu happy, kalo aku singkirkan soal uang yang aku habiskan untuk membelikan semua barang yang menurutku kamu inginkan dan kamu mau, tapi kenapa sedikit pun kamu tidak bisa hargai itu” keluhnya dan buat aku merasa tidak enak. “Drey…” rengekku sampai merasa perlu memeluk lengannya. Kenapa mood happy yang sebelumnya dia tunjukkan sebelumnya saat menemaniku berbelanja?. Padahal dia habiskan uangnya sampai ratusan juta hanya untukku. “Kalo kamu memang tidak bisa menjawab pertanyaan om dan tantemu nantinya saat pulang berikut barang barang yang aku belikan padamu. Sudah tinggal aja barang barang itu, dan tidak usah kamu bawa pulang” katanya setelah berdecak menanggapi rengekanku. “Terus kamu kemanakan?” tanyaku menanggapi. “Aku akan berikan pada gadis mana pun yang bisa menghargaiku lebih dari kamu. Sepele…” jawabnya. Sontak aku langsung cemberut dan melepaskan pelukan tanganku pada lengannya. “Salah lagi aku. Perempuan kenapa sesulit ini sih?” keluhnya lalu memijat keningnya. “Ya kamu lagian…” “Apa?!!. Aku kenapa?. Kamu yang tidak bisa bersikap santai menerima semua perhatianku. Asal kamu tau, semua yang aku lakukan dan sikapku padamu, tentu sudah aku pertimbangkan baik baik, karena aku semakin mengenal karaktermu dengan baik. Tapi kamu malah mengajakku berdebat” potongnya. Aku diam saja dan melengos menatap ke jendela mobil. Dan aku abaikan helaan nafasnya. Bodo amat deh soal barang belanjaanku yang dia belikan. Aku gak minta juga, jadi gak masalah juga kalo dia batal berikan padaku. Tapi…sayang gak sih???, kalo barang barang itu malah di kasih cewek lain. “Abby…” desisnya lalu meremas tanganku. Aku jadi menoleh ke arahnya. “Please, trust me!!. Percaya sama aku, walaupun sedikit. Sekalipun aku belum bisa bilang kalo aku jatuh cinta padamu, tapi aku tidak bisa mengabaikan kamu, apalagi di saat aku tau kalo kamu punya kesulitan” katanya padaku. Luluh dong aku pada sorot matanya yang kelihatan tulus, sekalipun di keremangan jok belakang mobil yang tidak ada sorot lampu. “Kamu masih muda, kamu belum punya banyak pengalaman menangani lelaki. Aku jadi cukup mengerti dengan rasa takutmu padaku. Tapi harus kamu tau, sedikit pun, aku tidak punya niat jahat padamu, sekalipun misal akhirnya kita tidak jadi menikah karena satu dan lain hal. Jadi tolong coba terima semua perhatianku padamu sebagai jalan keluar dari kesulitanmu selama ini” katanya lalu meremas tanganku. Dengan kepasrahan aku akhirnya mengangguk. “Good girls” pujinya lalu mengusap kepalaku dengan tangan lain. Mungkin memang harus aku abaikan dulu segala bentuk pikiran jahatku padanya, dengan aku terima semua dulu kebaikan dan perhatiannya padaku. Kalo akhirnya dia berniat jahat padaku, pasti suatu hari akan ketahuankan??. “Sudah sampai. Aku masuk rumah dulu” pamitku setelah sampai depan rumah omku. “Don’t you say thanks, and kiss me?” jawabnya bertanya. Aku langsung menghela nafas dulu sebelum akhirnya mencium pipinya lalu dia tersenyum menatapku. “Thanks Drey…” ungkapku kemudian. Dia hanya mengangguk lalu memerintahkan supir untuk membukakan pintu untukku dan menurunkan semua barang barang di bagasi mobil. Dianya santai duduk bersandar di dalam mobil setelah menutup kaca mobil dan melambaikan tangannya ke arahku. “Selamat malam nona Abby” pamit supir setelah semua barang belanjaanku di turunkan dari bagasi mobil. Aku mengangguk saja lalu membiarkan pak supir berpakaian safari masuk mobil lagi, lalu membawa si om menjauh dari depan rumahku. Aku yang lalu semakin deg degan saat berniat masuk rumah dengan membawa sekaligus barang barang belanjaan yang si om belikan. Tapikan tetap harus masuk rumah juga. “Di…dari mana?. Ini barang barang juga?” tanya tanteku bersuara dan aku harus hadapi tatapan mata om aku yang sudah pulang narik taksi online tentunya. “Hm….” jawabku lalu sibuk menaruh barang belanjaan yang di belikan si om dulu lantai lalu mencium tangan om dan tanteku dulu lalu aku duduk di sofa ruang tengah tempat mereka berdua berada. “Dari mana kamu?” tanya tanteku mengulang. “Aku baru pulang pergi sama pacarku tante…” jawabku takut takut lalu menunduk menghindari tatapan keduanya. “Dan barang barang ini pacarmu yang belikan?” tanya tante lagi. Aku buru buru mengangguk. “Siapa pacarmu nak?” tanya om bersuara. Aku langsung mengangkat wajahku menatapnya. “ Itu om….” desisku ragu. “ Siapa Di?” kejar tanteku memotong. “Om baru tau kamu punya pacar” tambah omku. Aku sampai meringis menatap mereka. “Pacarku yang punya kafe tempat aku kerja…” jawabku masih takut takut. Tanteku langsung menoleh menatap omku yang menghela nafas menanggapi. “Pantas kamu naik jabatan, lalu di kasih uang bonus. Dan kelihatan santai bekerja belakangan” komen om yang ternyata memperhatikan aku juga selama ini. Tanteku malah tertawa. “Pacarmu kaya ya?” ledek tante masih tertawa menanggapi. Aku jadi ikutan tertawa. “Mah, kamu tuh, malahan matre” omel om aku. “Loh, zaman sekarang pak. Ngapain cari pacar yang gak ada uangnya?. Bagus dong kalo Diah punya pacar kaya dan loyal begini” komen tanteku. Kok ya seperti yang si om bilang ya. Aku jadi lebih tenang sekarang. “Ya memang, tapikan tetap mesti cari tau apa pacar Diah punya istri atau gak. Jangan gara gara tuh lelaki kaya, lalu Diah jadi bini muda, apalagi simpenan doang” sanggah omku. “Dia gak punya istri kok om, dan malah ajak aku nikah” jawabku. “Tuh!!, untungkan jadinya Diah” komen tanteku. Omku berdecak lagi. “Kalo memang begitu, kenapa gak kenalin sama om dan tante?” tanya om padaku. Aku menghela nafas dulu. “Kamu gak yakin ya kalo dia gak punya istri?” tanya tanteku malahan. “Gak sih tante, kayanya beneran gak punya istri” jawabku memang agak ragu. “Ya kalo begitu kenalin sama om dan tante. Kamu ragu gitu, jadi biar om yang mengenali lelaki itu sudah punya istri apa belum” kata omku. “Nah itu om kamu udah tidak masalah kalo kamu punya pacar, dan bos kamu sendiri. Ajak aja ke sini mampir” kata tante malah kompor. Aku yang malah meringis lagi menatap mereka. “Kamu malu dengan keadaan kita yang seperti ini?.Kalo tuh lelaki beneran suka kamu, harusnya bisa menerima apa pun kondisimu Diah” kata om bersuara lagi. “Masalahnya dia lebih tua dari aku om…” akhirnya aku jujur juga bagian ini. Malah tanteku tertawa lalu diam saat om menatap protes padanya. “Jadi kamu malu kalo ketahuan pacaran dengan bosmu yang sudah tua??. Memang seberapa tua?” tanya om aku lagi. “Beda 15 tahun mungkin” jawabku ragu. “Belum tua itu mah, pria dewasa” komen tanteku. Dan om aku mengangguk membenarkan. “Ajak ketemu om, kalo kamu memang bisa menerima dia sebagai pacarmu. Tapi kalo ternyata kamu gak bisa menerima dia jadi pacarmu, lebih baik lepas sebelum terlanjur jauh” kata om. “Memang kenapa?” tanyaku. “Kok ya kenapa. Sekarang kamu aja gak suka di permainkan lelaki, pasti lelaki itu juga tidak akan suka kalo kamu permainkan” jawab om. Aku langsung diam. “Jangan barang barang dan uangnya bisa kamu terima, tapi orangnya tidak bisa kamu terima. Itu salah Diah. Dan om tidak akan biarkan itu terjadi, karena kamu akan terkena masalah nantinya, karena etitudemu sebagai perempuan tidak baik. Kamu macam perempuan pengeretan” kata om aku lagi. Aku buru buru menggeleng. “Ya sudah, om tunggu kamu kenalkan lelaki itu ke om dan tante” jawab final omku sebelum menyuruhku istirahat. Tapi tanteku tentu tetap kepo soal sosok si om Drey yang sudah kasih aku uang dan barang barang mahal. Makanya dia cecar aku saat bantu aku bawakan barang belanjaanku ke kamar. “Sebagai orang tua, dan pengganti ibumu, tentu tante senang kalo kamu ketemu dengan lelaki baik padamu Diah. Karena lelaki yang punya niat menikahimu itu pasti lelaki baik, dan bukan berniat main main. Apalagi dia tidak punya istri atau pacar lain” kata tanteku bukan kepo banget kali ya. “Tapi udah tua gitu tante kalo buat umuran aku” sanggahku. “Terus kamu mau sama lelaki muda yang tidak ada uangnya?” tanya tanteku lagi. “Tante dulu kenapa mau sama om?” tanyaku. Tanteku malah tertawa. “Sudah jodoh mau gimana lagi?. Dan dulu tante tidak punya kesempatan di sukai pria mapan dan kaya sepertimu. Beda sama kamu” jawab tanteku. “Jadi menurut tante gak apa nikah sama pacarku, sekalipun aku gak cinta?” tanyaku. Malah tertawa lagi. “Diah…perempuan mah, gampang banget untuk jatuh cinta sama lelaki. Apalagi si lelaki terbukti bertanggung jawab dan gak neko neko. Kalo di tambah dia mapan dan banyak uang, pasti mudah buat kamu akhirnya jatuh cinta pada lelaki itu saat dia jadi suamimu” jawab tanteku. Iyakah??. “Jangan bodoh Diah. Yang menikah sama sama cinta aja, bisa saja cerai saat rumah tangga mereka kekurangan uang” kata tanteku lagi. “Tapi tante sama om bisa awet rumah tangga sampai sekarang” sanggahku. “Ya memang, karena om masih berusaha tanggung jawab pada kebutuhan hidup tante. Dan om bukan tipe lelaki yang tidak neko neko juga sejak dulu, saat dia punya uang sekalipun” jawab tante. Aku jadi diam lagi. “Tapi gimana kalo akhirnya kamu menikah dengan lelaki yang kamu cintai, lalu lelaki itu jadi banyak lagak atau neko neko saat dia punya uang??. Apa mungkin dia tidak selingkuh di belakangmu dan mengkhianatimu?. Yak arena banyak lelaki yang seperti itu, dan tante yakin kamu tau” kata tante lagi. Iya sih, jadi aku mengangguk. “Jadi kalo pilihannya, lelaki beruang tapi kamu tidak cinta, dengan lelaki yang kamu cintai sepenuh hati lalu tidak punya banyak uang, tante sarankan kamu pilih pacarmu yang sekarang untuk jadi suami. Nantinya setelah kalian berumah tangga setelah menikah, kamu akan tau sendiri, kalo semakin kamu dewasa, biaya hidup itu akan semakin besar. Jadi kamu akan lebih membutuhkan uang dari suamimu di banding soal cinta cintaan” katanya lagi memberikan aku masukan. Atau malah sedang mencuci otakku??. “Matre dong tante?” keluhku. “Bukan matre, kalo kamu akhirnya sadar kalo untuk hidup memang butuh uang. Kalo nanti kamu meninggal baru butuh kain kafan, itu pun mesti di beli” jawab tante. “Tante…” rengekku protes. Malah tertawa. “Loh benarkan?. Orang mati aja butuh biaya, apalagi orang hidup, Di” jawabnya. Ya benar sih. “Jadi kamu jangan bodoh dengan melewatkan kesempatan untuk punya suami kaya. Nanti aja kalo dia di samber perempuan lain, lalu segala bentuk perhatiannya sama kamu beralih ke perempuan lain, kamu yang nyesel sendiri” kata tanteku lagi. Bisa jadi sih. Soalnya banyak cewek seumuranku yang memilih jadi perempuan simpanan atau menjual diri mereka untuk tetap bertahan hidup atau malah hidup enak. “Iya udah tante, nanti aku bilang sama pacarku untuk ketemu om dan tante. Aku pasrah deh sama penilaian om. Kalo memang menurut om dia lelaki baik dan punya niat baik sama aku, aku pasti nerima tawarannya untuk jadi istri” jawabku. Ya memang akhirnya si om yang jadi pacarku bertemu juga dengan om dan tanteku. Tapi aku tetap deg degan dengan penilaian om dan tanteku. Kalo mereka setujukan, artinya aku harus terima tawaran si om jadi istrinya. Tapi untuk syarat jadi istrinya, dia mesti tau aku beneran perawan. Aku memang masih perawan, aku yakin itu, karena aku tidak pernah tidur dengan siapa pun karena tidak pernah pacaran. Ciuman aja gak pernah kok sama lelaki mana pun. Cuma….masa mesti tidur bareng dulu sih sama si om??. Belum lagi saat semua tau aku dan si om resmi pacaran lalu diam diam membicarakan aku di belakang, seperti aku bilang sebelumnya. Terus belum lagi, om tanteku yang semakin mengandalkan aku kalo ada urusan uang, pusing rasanya aku. Kalo aku kemudian merasa terjepit. Satu sisi aku terus butuh uang si om, satu sisi aku takut kalo harus tidur bareng dulu dengan sih om.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN