7.Nikahin Aku, Om

2512 Kata
Udah dong ya urusan soal si om Drey dan barang barang yang di belikan tidak di bahas lagi oleh om dan tanteku. Mereka terlihat biasa aja juga saat kami kumpul besok paginya untuk sarapan. Sampai omku pamit berangkat narik taksi. “Di, handphone lama kamu buat tante ya?” pinta tanteku. “Okey tante” jawabku karena memang sudah pakai handphone baruku, jadi handphone lamaku jelas jadi nganggur dong. Langsung girang dong tanteku dapat lungsuran handphone milikku, hasil aku kredit selama setahun dan masih cukup bagus. Sampai aku telat datang ke kafe karena mengajari tanteku pakai handphone bekas aku pakai. Dan sempat buat deg degan, kalo saat aku siap bekerja, si om sudah anteng duduk manis di bangku biasa dia duduk. “Buruan layani pak Drey, Di. Cari kamu tuh dari tadi. Kamu sih mesti banget telat di hari minggu macam ini. Kamu kan tau pak Drey kalo hari minggu pasti datang dari pagi” omel managerku. Jadi bukan ngomel karena aku telat masuk kerja deh kayanya, karena aku pernah telat masuk kerja sebelumnya dia kelihatan biasa saja. Tapi tidak dengan rekan kerjaku tentunya, pasti cemberut menatapku yang telat datang, jadi terbebas dari urusan bersih bersih kafe sebelum buka. “Selamat pagi….” sapaku agak takut karena si om langsung mengangkat wajahnya menatapku. “Dari mana kamu?. Apa di marahi om dan tantemu semalam lalu kamu telat bangun tidur?” tanyanya padaku. Aku buru buru menggeleng. “Maksudmu?” tanyanya masih dengan sorot mata galak. “Gak marah kok om sama tante aku. Malah mereka mau ketemu kamu, setelah aku bilang kamu pacarku” jawabku. Kok ya tiba tiba tersenyum gak jelas dengan jawabanku. “Oh…” jawabnya lalu pura pura sibuk dengan laptopnya. Ngapa jadi gak jelas gini, tadi aja kaya marah, kenapa sekarang malah kelihatan tenang. “Mau minum apa?. Udah sarapan belum?” tanyaku lagi. Lalu dia memesan minum dan menu sarapan padaku. “Anta raja ke ruangan kantor, jadi kamu bisa temanin aku sarapan” jawabnya. “Aku lagi kerja” protesku. “Yang jadi bosmu siapa di sini??” balasnya. Ampun…gak minta persetujuan apa pun, lalu bangkit begitu saja dari duduknya. Ya aku di paksa nurut duduk menemaninya sarapan, setelah melarangku membawakan pesanan makanan dan minuman untuknya ke dalam ruangan kantor. “Makan!!, masa aku doang yang makan, dan kamu nggak” perintahnya. “Aku udah sarapan di rumah” jawabku tapi ya tetap terpaksa aku makan juga. Setidaknya separuh atau semampunya aku menghabiskan makanan yang dia pesankan. “Setelah makan, kita ke rumahmu” katanya menjedaku. “HAH!!” cetusku kaget. “Aku lelaki gantleman, masa menolak undangan om dan tantemu untuk bertemu mereka?. Aku bukan lelaki pengecut” jawabnya. Aku langsung menghela nafas. Ngapa jadi sat set gini sih om??. “Lagipula, minggu depan aku cukup sibuk dengan pekerjaan, nanti malah aku tidak bisa menemui om dan tantemu, lalu mereka pikir aku tidak serius soal ajakanku untuk menikah sama kamu” katanya lagi. “Tapikan kamu mengajukan syarat , aku harus tidur sama kamu dulu, untuk memastikan kalo aku masih perawan” sanggahku. Dia langsung berhenti makan lalu menatapku. “Iyakan?, jadi ada kemungkinan kalo aku tidak perawan, terus kamu batal nikahin aku” lanjutku telanjuran walaupun aku merasakan benar kalo wajahku memanas. Bukan jawaban yang aku dapat, malah si om santai minum air putih lalu melap mulutnya dengan serbet makan. “Mau apa?” tanyaku karena dia lalu bangkit dan mencekal tanganku untuk ikutan bangkit sepertinya. Pasti tidak akan jawab kalo pemaksa sekali. Dia tarik tanganku lalu membuatku bangkit dan menarikku untuk duduk di sofa ruangan kantor kafe. “Kamu mau apa?” tanyaku jadi takut karena dia sudah ikutan duduk di sebelahku lalu memepetku sampai aku tidak bisa bergerak. “Kamu belum punya pacarkan sebelumnya?” tanyanya penuh penekanan kalo jari tangannya sibuk menyusuri bibirku. Jelas aku gelagapan sampai aku menggeleng dengan mode takut takut. “Jadi tidak pernah ciuman sebelumnya?” tanyanya lagi masih dengan gerakan jari tangannya pada bibirku dan tatapan matanya yang intens ke arah bibirku juga. “Drey…” rengekku semakin takut. “Sweet….” desisnya menjawab sebelum akhirnya mencium bibirku. ASTAGA!!!!, di cipok om om juga dong akhirnya. Tapi tunggu!!!. WAIT!!!, kok ya….rasanya… “Gadis bodoh!!” ungkapnya dengan tawa mengejek setelah melepas ciumannya di bibirku. Gak tau apa kalo sudah buat aku sesak nafas. Buat aku jadi emosi, di tambah mengatai aku bodoh. Jadi jangan salahkan aku kalo aku justru menarik tengkuknya dan gantian mencium bibirnya tanpa aba aba lagi. Dia terima kok, dan malah tangannya juga memeluk tengkukku untuk memperdalam ciumannya di bibirku. “NO!!!” cetusku sampai menahan dadanya setelah melepaskan diri dari ciumannya karena dia mendorongku rebahan di sofa ruangan kantor. Tapi mana bisa aku lawan tenaganya kalo dia langsung dengan mudah menyingkirkan tanganku yang menahan dadanya. Ujungnya aku setengah di tindih di sofa. “Drey…” rengekku saat dia ganti menyerang area leherku. Dan sulit aku hentikan kalo tubuhku di tindih di sofa oleh si om yang bobot tubuhnya jelas berkali lipat dari bobot tubuhku. “Shut up Abby….” jawabnya sebelum mencium bibirku lagi dengan penuh nafsu. Sudah hanya bisa pasrah tubuhku di gerayangi lelaki yang pantas jadi om aku di banding jadi pacarku apalagi jadi suamiku. Beneran pengalaman juga kalo dia tau bagian mana dari tubuhku yang harus di sentuh dan buat aku justru terbuai sampai aku merintih dan mendesah. Mulutnya yang menciumi leherku sampai ke area telingaku saja, sudah buat aku merinding. Belum lagi tangannya yang mengusap pahaku sekalipun aku memakai celana panjang, lalu ganti meremas dadaku. GILA!!!, jadi seperti ini rasanya di sentuh lelaki??. “Holy Shitt!!!” cetusnya ketika tiba tiba berhenti menyentuhku lalu bangun terduduk kemudian bersandar di sofa yang sama. Aku masih ngos ngosan akibat serangannya sampai aku melemas, jadi aku butuh waktu untuk bangkit terduduk sepertinya. “You drive me crazy, Abby…” desisnya saat menoleh ke arahku. Sampai aku tidak bisa berkata apa apa, selain menjawab dengan nafas terengahku dan kami saling tatap. “Come!!” katanya lalu mengulurkan tangannya padaku. Aku sambut uluran tangannya supaya aku bisa ikutan duduk. Dan berujung dengan kami yang seperti dua orang bodoh karena sama sama diam dengan pikiran masing masing. “Telpon om kamu, dan suruh pulang, di mana pun dia berada saat ini. Kita ke rumahmu sekarang” perintahnya kemudian. “Mesti sekarang banget?” tanyaku tepat dia bangkit berdiri dari sofa. “Mau nunggu aku tidurin kamu sekarang, baru bertemu om kamu?” jawabnya. Gak deh, mending nurut daripada aku di acak acak lagi. Jadi aku telpon om aku untuk menyuruhnya pulang karena kami akan pulang ke rumah. Aku dan si om Drey maksudnya, berikut supir juga mungkin. Mana mungkin dia mau setir mobil sendiri. Bos macam diakan belagu. “Sana ambil barang barangmu, aku tunggu kamu di sini” perintahnya setelah aku menelpon om aku. Bisa gitu ya, abis ngacak ngacak aku, terus santai melanjutkan makan seakan tidak pernah terjadi apa pun?. Ya dia doang yang bisa begitu, sampai aku kesal sendiri lihatnya karena mesti banget menunggunya selesai makan. “Ayo kita ke rumahmu, dan biar motormu di bawa orangku” aturnya lagi dan aku tidak bisa menolak. Duduk manislah aku di sebelahnya di dalam mobil, dan aku memilih diam, karena dia juga sibuk menelpon dengan bahasa inggris lewat handphonenya. Sampai tiba di rumahku baru deh aku deg degan. Tidak hanya aku sih, om dan tanteku juga, karena dia kelihatan canggung menerima si om yang ternyata mengerti caranya mencium tangan orang tua. “Saya Drey, pacar Abby, dan bos Abby sekaligus” katanya memperkenalkan diri pada om dan tanteku. “Ya Dia…eh Abby sudah banyak cerita” kata om Emir menjawab. Tersenyumlah si om Drey. “Ayo silahkan masuk” undang tanteku. “Terima kasih tante” jawabnya lalu mempersilhkan aku masuk lebih dulu dengan cara yang sopan lalu dia menyusul masuk. “Gak apa kalo mau pakai sepatu, belum saya pel lantainya” cegah tanteku pada si om Drey yang berniat membuka sepatunya. Emang beda kali ya aura bos macam si om Drey, masa om dan tanteku mendadak canggung dan grogi terus. Padahal si om Drey terus berbicara basa basi sebelum akhirnya duduk di kursi ruang tamu rumah. “Biar aku bicara dengan om kamu, kamu masuk sana, temani tantemu di dalam” malah aku di usir setelah tanteku menyediakan kopi untuk om Emir suaminya dan om Drey tentunya. Aku menatap om aku dulu. “Udah ayo sama tante aja” ajak tanteku melihat anggukan omku padanya. Kenapa aku mesti selalu nurut sih sama si om Drey??. Katanya pacarku, kok aku gak boleh ikutan bergabung?. Mau ngomong apa coba?. “Gak usah kamu pikirin, pacarmu mau bicara apa dengan om kamu. Pria dewasa seperti dirinya pasti tau harus bicara pada orang tua dari gadis yang dia pacari dan mau dia jadikan istri” kata tanteku malah santai mengajakku nonton TV. Ya tetap aja aku tidak tenang. Rasanya kok ya lama sekali om ku bicara dengan si om Drey. Ada kali sekitar sejam sampai om Emir memanggilku keluar ruang tamu lagi. “Aku pamit pulang dulu. Dan aku sudah bicara pada om kamu, kalo sekarang kamu berada di bawah pengawasanku dan tanggung jawabku. Jadi kamu cukup menurut pada apa yang om dan tantemu atur. Juga nurut sama aku tentunya” katanya padaku. Aku mengangguk saja karena melihat senyum om Emir padaku. “Nanti bakalan main lagikan ke rumah tante, Drey?” tanya tanteku mendadak sok akrab. “Pasti tante, kalo saya tidak sibuk. Dan tolong jaga Abby untuk saya” jawabnya. Jaga aku, memang aku mau kemana. Kadang kadang masih aja seenaknya di depan orang lain. “Ya udah ya Abby, aku pamit pulang. Kamu gak perlu lagi datang ke kafe, aku juga ada pekerjaan jadi tidak bisa temani kamu kerja” pamitnya padaku sampai mengusap kepalaku. Hadeh…bagus aku tidak di ledek om dan tanteku karena si om Drey juga sibuk cium tangan untuk pamit. “Udah masuk rumah Abby, jangan macam macam mulai sekarang” perintah om Emir setelah si om Drey berlalu dengan mobil mewahnya. Ya aku menurut masuk rumah. Yang aku heran, kenapa tidak ada bahasan soal si om Drey sama sekali, malah aku di biarkan di dalam kamar dan sibuk nonton drakor. Besoknya baru aneh dong kalo om Emir malah mengantar aku kerja. “Drey yang menyuruh om antar jemput kamu kerja karena dia bayar om untuk itu. Lumayan Abby, om jadi tidak perlu cape narik taksi online lagi, kalo pacarmu bayar om cukup besar setiap bulannya” jelas om Emir. Ya aku senang aja dengarnya kalo jadi rezeki untuk om Emir. Tapi ya gitu deh, kalo kemudian aku jadi merasa di jual, kalo apa pun jadi minta sama aku. Dari mulai bayar tagihan listrik, air, sampai bayar biaya servis mobil. Itu om aku. Kalo tanteku lain lagi. Minta uang untuk pergi ziarah dengan ganks pengajiannya, beli baju seragam pengajian juga, sampai undang anak dan cucunya ke rumah. “Sana minta jajan sama tante Abby, tante Abby sekarang punya pacar kaya” kata tanteku padaku. Ya aku senang aja kalo uangnya ada, kalo uangnya gak ada, atau menipis yang aku bingung. Kan aku jadi mesti bohong ke si om Drey supaya kasih aku uang. Sampai aku drama tidak enak badan supaya di beri uang saat kami bertemu, karena jadi jarang datang ke kafe. “Ya ke dokter Abby. Mau aku antar?” tanyanya kalo aku mulai drama sakit. “Aku aja, kamukan sibuk urus kerjaan” jawabku. “Ya udah ke dokter minta antar om kamu” perintahnya. Aku memilih diam. “Kamu gak punya uang?” tanyanya kemudian. Masih aku diam. “Tinggal minta sama aku, kok kamu diam aja” keluhnya lalu santai mentrasfer aku uang lagi dan lagi. “Aku malu minta terus” keluhku setelah bilang terima kasih. “Terus menurutmu aku tidak cukup mengerti kebutuhanmu?” jawabnya bertanya lagi. “Gak gitu…” desisku menjawab lalu aku diam. Dia langsung menghela nafas menanggapi. “Come” perintahnya mengundangku bangkit dari dudukku. Ya aku harus menurut saat dia menyuruhku mendekat sekalipun sedang aku temani makan. Sampai aku harus bersedia juga duduk di pangkuannya. Bagian ini yang aku harus merayunya dan pasrah membiarkan dia mencium bibirku, atau menciumi bagian dadaku. Bagian dari resiko gak sih?, karena mana mungkin lelaki mau rugi setelah dia memberikan aku banyak uang. “Jadi istriku aja, kalo kamu malu minta uang terus sama aku. Kalo sudah jadi istri pasti kamu gak malu lagi minta apa pun sama aku. Aku kan suamimu” katanya setelah selesai menciumku atau menggerayangi tubuhku. Kadang aku merasa murahan sekali. Tapi aku pikir lagi, memang begini kalo orang pacaran kali ya. “Iya nanti. Udah ah makan. Habiskan. Aku mau pulang ya setelah kamu makan, aku cape” rengekku. Pasti dia izinkan kok, kalo aku minta pulang, dengan menelpon om aku menyuruh menjemput aku. Mungkin hal itu yang buat rekan kerjaku membicarakan aku di belakang, sampai mereka satu persatu menjauh. Alasannya enggan berurusan denganku yang jadi simpanan bos kafe. Padahal jelas jelas tau kalo si om Drey belum menikah. Buat aku suntuk aja, sekalipun tidak aku perdulikan omongan mereka. Tapi ada hal yang akhirnya buat aku kesal sekali, melebihi cara mereka membicarakan aku di belakang. Apalagi kalo buat soal uang. Iya UANG!!!. “Pinjam uang Di, nanti gajian di ganti. Anak gue sakit” nyebelinkan. Terlepas anaknya beneran sakit atau karena alasan lain pinjam uang padaku. Mereka gosipin aku loh, yang simpenan bos, ani ani, sampai bilang aku sugar baby om Drey, tapi kok ya gak malu pinjam uang sama aku. Padahal mereka tau, kalo aku pasti punya uang terus karena di kasih oleh om Drey. Munafik bangetkan orang orang sekelilingku??. Akunya di gosipin, tapi uangnya mau. Akhirya buat aku tidak nyaman kalo orang sekelilingku jadi melihatku seakan aku mesin ATM yang mereka bisa pinjami uang. Jadi bukan aku happy di manjakan uang oleh om Drey, malah aku sering nangis sendiri. Aku merasa tidak ada lagi ketulusan dari orang sekelilingku sekalipun mereka baik dan ramah di depanku. Keluarga om tanteku juga gitu, kalo kemudian anak anaknya berusaha banget pinjam uang padaku dengan alasan untuk modal usaha. “Bilang aja sama pacarmu, masa iya gak di kasih. Uang segitu receh buat dia mah” pasti bilangnya itu. Tanpa pernah berpikir, kalo aku tidak enak karena merasa memanfaatkan si om Drey. Sementara akunya sendiri merasa tidak pernah benar benar menikmati uang yang di berikan terus oleh si om Drey. “Abby…” tegur om Drey saat menemukan aku menangis diam diam di ruangan kantor. Sampai aku kaget karena menemukannya datang, setelah beberapa hari pamit kerja padaku. “Drey….” desisku malah berhambur memeluknya. “Ada apa?” tanyanya panik lalu malah melepaskan pelukanku. “Ayo nikahin aku. Mau apa pun syaratnya aku akan lakukan. Ternyata aku butuh kamu lebih dari yang aku pikir” jawabku entah dari mana datangnya keberanianku. Tiba tiba aja datang. Bisa jadi aku merasa sudah terlanjur tercebur, lebih baik menyeburkan diri sekalian. Sudah kepalang tanggung, kalo aku yang berusaha menahan diri, malah orang orang sekelilingku justru mendorongku ke arah om Drey. “Kamu yakin?” tanyanya malahan. “Aku yakin” jawabku tidak pernah seyakin ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN