8.Menceburkan Diri

2138 Kata
“Minum!!” perintah om Drey setelah membiarkan aku menangis di pelukannya lalu mengajakku duduk di sofa ruang kantor kafe. Aku menurut minum karena sudah merasa sedikit lega setelah puas menangis. “Sekarang cerita sama aku, apa yang mendasari keputusanmu sampai bersedia menikah sama aku” pintanya setelah menaruh gelas di meja di depan sofa yang kami duduki bersama. “Memangnya mesti?. Bukannya yang penting untukmu jawabanku untuk kamu nikahi?” tanyaku. “Memang. Tapi kamu tentu tau resiko yang harus kamu ambil sebelum memutuskan bersedia aku nikahi. Kamu ingat syaratnya kan?” jawabnya. Aku langsung menghela nafas. “Sekalipun kamu bilang kamu masih perawan, tentu aku tetap butuh bukti” katanya lagi. Lagi lagi aku menghela nafas setelah bersandar di sofa yang kami duduki bersama. “Sudah terlanjuran aku tercebur, ya lebih baik sekalian tercebur” jawabku tanpa menatapnya. Jadi aku tidak tau apa reaksinya akan jawabanku. “Kamu kan bilang, kalo akhirnya kamu batal menikahiku karena ternyata aku tidak perawan, kamu akan berikan kafe dan juga menjamin hidupku asal aku tidak ganggu hidupmu lagikan?” jawabku lalu menolah menatapnya. Dan aku lihat senyumnya. “Alasan lain?. Adakah?. Atau ceritakan apa yang buat kamu menangis di saat aku merasa kamu akan baik baik saja, sekalipun aku tidak menemanimu bekerja di sini” jawabnya. “Aku cape” keluhku karena kami masih saling bertatapan. Tapi lalu aku memutus tatapan kami setelah melihat tatapannya yang penuh selidik padaku karena alis sebelah kanannya terangkat. “Semenjak mengenal kamu, lalu kamu beri aku uang terus, aku semakin merasa kalo orang orang di sekelilingku hanya melihatku sebagai mesin ATM yang kapan saja bisa mereka pintail uang. Tidak hanya keluarga om tanteku, tapi rekan kerjaku juga” lanjutku. “Lihat aku Abby, kamu sedang bicara denganku kan?” pintanya malahan. Ya aku turuti dengan menatap wajahnya lagi. Walaupun malah buat aku jadi mau nangis lagi. “Aku memang bisa saja menolak saat mereka minta uang padaku, sampai mereka memakai alasan minjam uang itu dari aku. Tapi…aku selalu tidak tega, apalagi aku memang punya uangnya” keluhku lagi. Dia tertawa pelan menanggapi. “Iya aku tau, memang uang yang aku punya dari kamu. Tapi memang itu yang akhirnya jadi masalah kalo aku akhirnya mesti selalu memutar otakku mencari alasan supaya kamu beri aku uang terus. Sampai akhirnya aku jadi sering bohong sama kamu” keluhku lalu mulai menangis lagi. “Hei…” tegurnya lalu meremas tanganku. “Aku gak enak sama kamu Drey…Aku jadi merasa memanfaatkan kebaikan kamu. Apalagi uang yang kamu kasih ke aku, lebih sering aku berikan pada orang orang yang minta uang sama aku, jadi aku tidak pernah benar benar menikmati uangmu untuk diriku sendiri” keluhku malah masih menangis. “No problem Abby….” desisnya lalu mengusap air mataku. Tapi ya aku menggeleng. “Iya aku tau kamu banyak uang, tapikan kamu kasih uang itu ke aku, sebenarnya untuk aku dan bukan untuk orang lain. Jadi aku semakin merasa tidak enak, Drey” jawabku semakin meleleh juga air mataku. “Come!!” undangnya pada pelukannya. Ya aku menurut memeluknya dan aku rasakan usapan tangannya di kepalaku. Dan entah kenapa buat aku tenang. “Pada akhirnya memang aku tidak salah memilihmu jadi calon istriku, Abby” katanya lalu buat aku melepaskan pelukanku padanya. “Maksud kamu?” tanyaku. “Kenyataannya uang tidak merubahmu. Tapi justru merubah orang orang di sekelilingmu, dan tentu membuat kamu tidak nyaman, karena kamu punya ketulusan yang tidak di punyai orang orang yang kamu maksud” jawabnya. Aku gak ngerti sih, jadi aku diam saja menatapnya. “Anggap ini pelajaran untukmu yang aku coba berikan. Kamu akhirnya taukan, karekter orang di sekelilingmu yang mendadak berubah padamu saat mereka tau kamu punya uang. Termasuk keluargamu sendiri” katanya lagi pada tatapanku. Aku mengangguk. “Itu yang aku alami juga, saat orang tau kalo aku punya banyak uang. Jadi aku harus selalu berhati hati. Dan harus kamu tau, jangan kamu pikir hanya orang miskin yang berambisi pada uang, tapi orang yang sudah punya banyak uang pun, berambisi trus punya uang lebih banyak lagi, dan lebih parah lagi di banding orang miskin” katanya lagi. Aku mengangguk lagi walaupun aku tidak mengerti. “Sampai akhirnya aku berusaha mencari pasangan sehati hati mungkin. Mencari istri maksudku. Kamu harus tau alasanku juga kenapa memilih gadis muda sepertimu untuk jadi istriku, selain aku tidak mau bekasan pria lain, juga supaya aku tidak berada di bawah kendali perempuan nantinya. Perempuan dewasa pasti punya kemampuan itu, karena mereka punya pengalaman lebih banyak darimu yang masih remaja atau gadis muda. Dan tentu perempuan dewasa berambisi pada uang juga yang berujung dengan mereka yang tidak puas hanya memilikiku sebagai pasangan tapi juga ingin menguasai uang dan kekayaanku” tambahnya lagi. Makin aku gak ngerti sih. Jadi aku diam kali ini. “Padahal saat seorang perempuan aku nikahi, pasti apa yang aku miliki akan jadi miliknya juga. Tapi kenapa tidak cukup puas dengan uang yang aku berikan selama jadi istriku, sampai merasa perlu menghalalkan segala cara untuk mengusai uang dan kekayaanku. Atau bersabar menungguku mati, lalu semua uang dan kekayaan yang aku punya pasti akan aku wariskan padanya sekalipun dia tidak punya anak dariku” katanya lagi. “Aku gak perduli berapa banyak uang atau kekayaanmu. Bukan punya aku juga” sanggahku. Dia tertawa pelan menanggapi. “Aku serius. Kamu kasih aku uang terus aja malah buat aku susah” kataku lagi menjeda tawanya. “Jadi kenapa kamu mau nikah sama aku?” ledeknya. “Soalnya kalo aku gak nikah sama kamu, atau kalo orang tau akhirnya aku gak sama sama kamu lagi, entah gimana nasibku nantinya. Mereka terutama keluargaku mulai terbiasa dengan aku yang punya uang terus, kalo nanti tiba tiba aku tidak punya uang lagi setelah kita tidak sama sama lagi, bisa aja mereka gak akan perduli sama aku lagi. Lalu aku mesti gimana kalo aku yatim piatu Drey” jawabku. Dia manggut manggut dulu. “Tapi kalo ternyata kamu tidak perawan, artinya aku gak bisa lagi juga bersamamu, karena aku akan cari gadis lain untuk jadi istriku, Abby” sanggahnya. Aku langsung berdecak menanggapi. “Kamu amnesia ya?. Kamu kan bilang kalo pun aku akhirnya tidak jadi istrimu, kamu akan kasih apa pun yang aku minta dan memberikan aku hidup layak. Ya aku akan tinggalinlah keluargaku dan orang orang yang memanfaatkan aku sebelumnya lalu mulai hidup mandiri sampai bertemu lelaki yang akhirnya bersedia nikahin aku. Yang penting aku punya cukup modal untuk memulai hidup baruku setelah kamu tinggalin aku. Gitu aja gak ngerti” jadi ngomel akunya. Kenapa si om malah tertawa?. “Smart Girls” pujinya mengusap rambutku. Tapi aku bertahan cemberut. “Ya okey…Sekarang aku tanya kapan kamu siap untuk kita….” “Terserah kamu, aku siap kapan pun. Aku bilang tadikan kalo sudah terlanjur aku tercebur, ya sekalian aku menyeburkan diri” potongku. “Okey. Malam ini kamu tidak usah pulang ke rumahmu. Keluargamu biar jadi urusanku. Jadi kamu ikut aku ke hotel” aturnya. Aku langsung meringis menatapnya. “Kamu berubah pikiran?” tanyanya lagi. Aku buru buru menggeleng. “Kamu tinggal di hotel?” tanyaku bodoh. Si om Drey aja tertawa. “Apa salahnya kalo aku tinggal di hotel milikku sendiri Abby” jawabnya. Tuhkan, kenapa jadi lupa kalo si om banyak sekali uang, jadi wajar punya hotel dong. Hotel punyanya bagus banget lagi, ada di pusat kota dan bintang 5 deh kayanya kalo hotelnya besar sekali. Pegawainya aja langsung menunduk dan mengucapkan salam pada si om yang malah focus pada langkahku yang lambat karena aku mendadak tegang dong di ajak masuk hotel. “Kamu sering ya bawa cewek cewek check in?” tanyaku setelah kami masuk lift dan hanya ada kami. “Kenapa?” tanyanya santai sekali. “Ya kamu punya hotel gini, tinggal cari cewek untuk kamu bookingkan?” jawabku. Malah tertawa. “Atau gak perlu kamu cari cewek lagi, pasti banyak cewek yang mau jadi teman tidurmu kan?” tanyaku lagi. “Kamu cemburu?” ledeknya. Aku langsung memutar mataku dan dia tertawa lagi. “Bukan jawab, malah nuduh aku cemburu” protesku kemudian. “Abby…Kamu belum cukup mengenalku” jawabnya lalu menarik tanganku keluar lift, di lantai paling atas hotel. Masa sepi banget, sampai aku beneran takut deh. Pintu kamarnya cuma ada dua atau tiga deh. Tidak banyak macam pintu kamar hotel yang aku lihat di film. “Drey…” rengekku baru berani lagi mengejar jawabannya setelah dia berhasil membawaku masuk ke kamar hotel yang luas sekali. Soalnya langsung macam ruang tamu gitu dan ada satu meja makan, di depan pintu kamar kali ya, yang berderet gitu. Ada dua kamar di dalam kamar hotel. Kok ya jadi mirip aparteman. “Apa?” tanyanya menjawab sambil tolak pinggang di depanku. “Jawabanmu tadi gak jawab pertanyaanku” protesku. Dia malah tertawa lagi. “Abby…kamu harusnya faham kalo aku pernah cerita sebelumnya, kalo kamu bukan gadis pertama yang aku tawari jadi istriku, lalu mereka ternyata tidak perawan. Itu sama artinya aku pernah meniduri perempuan lain selain kamu, tapi aku lupa berapa banyak” jawabnya. Aku kenapa juga mesti kesal ya??. Ya kali aku cemburu. “Tapi bukan berarti aku pria murahan yang bersedia tidur dengan perempuan murahan juga. Aku punya standart tinggi untuk menilai perempuan. Jadi p*****r dan ani ani tidak masuk daftar perempuan yang bisa jadi teman tidurku. Ingat Abby, aku lelaki yang tidak suka bekasan lelaki lain” jawabnya. Oh gitu??. Terus aku mesti percaya gitu aja, dengan segala yang dia punya?. Dia ganteng loh, kaya banget juga. Masa iya seperti yang dia bilang?. Pria dewasa macam dia pasti butuh s*x kan??. “So…silahkan kamu istirahat dulu di kamarmu sampai aku cari kamu. Aku punya pekerjaan yang masih aku urus” katanya lalu menunjuk ke kamar yang dia bilang kamar untukku. Ya aku menurut. Aku merasa cape juga dengan drama hari ini yang buat aku menangis. Jadi jangan salahkan aku kalo aku langsung tidur setelah tubuhku menyentuh kasur dan bantal. Aku baru terbangun saat si om mengusap kepalaku. “Hei…cupcake” sapannya. Aku tertawa pelan menanggapi karena masih reyep reyep. “Ayo makan dulu, sebelum kamu mandi dan bersiap untuk…” “Okey” jawabku menjeda supaya aku tetap punya selera makan sebelum akhirnya aku menyerahkan tubuhku untuk si om gagahi. “Come on!!, cupcake” ajaknya membantuku bangkit dari ranjang. Manis sebenernya dari cara si om perlakukan aku. Tapi aku menahan diri untuk tidak baper. Bisa aja dia lakukan itu untuk membuatku merasa nyaman atau malah berniat merayuku sebelum aku harus menurut pada apa yang dia mau. Sudah pasti begitu. Rasanya tidak mungkin si om beneran sayang aku. Paling sekedar suka, karena dia belum dapat apa yang dia mau dariku. “Aku random aja pesan makanan untukmu. Kamu bisa pesan makanan lain kalo kamu tidak suka” katanya setelah aku duduk di kursi makan di hadapannya karena memang hanya ada dua kursi makan. “Aku suka kok” jawabku supaya tidak perlu pesan lagi. Sudah terlalu banyak apa yang dia sediakan untukku, sekalipun ini hotel miliknya tetap aja sayang kalo tidak di makan. Lalu kami makan dalam mode diam sampai selesai tentunya. “Sana mandi. Dan semua yang kamu perlukan untuk mandi dan bersiap ada di kantung belanja ini” perintahnya saat memberikan aku paper bag yang aku belum tau isinya. Aku mengangguk saja lalu menerima paper bag yang dia berikan lalu masuk kamarku sebelumnya lagi. “Abby, jangan lupa bercukur di bagian…” jedanya sebelum aku menutup pintu kamar. “Iya…” jawabku menahan malu. Aku ngerti kok maksudnya. Aku kan tidak punya kumis atau bewok sepertinya. Pasti aku di suruh cukur bagian… Elah sampai aku malu sebutnya. “Astaga…” desisku tertahan karena paper bag itu isinya lingerie deh. Aku sampai meringis dan malu sendiri lihatnya. Selain ada peralatan mandi macam sabun cair, handbody, parfum, sikat gigi dan pasta giginya. Juga pisau cukur. Beneran niat amat ya?. Sampai aku mesti pakai lingerie berwarna putih pendek dan menerawang. Dan pastinya aku harus wangi dong. Aku lakukan semua perintahnya sampai butuh waktu lama di kamar mandi. Lalu setelah aku rapi bersiap, malah aku bingung harus gimana. Jadi aku menunggu di kamar sampai si om menyusul masuk kamar dan menutup pintunya. “Hei…kenapa?” tegurnya setelah berdiri di dekatku yang duduk di tepi ranjang tidur menunggu perintahnya berikutnya. Teganglah aku, karena dia menyusulku masuk kamar hanya menggunakan handuk putih yang melilit di pinggangnya dan rambutnya juga agak basah. Habis mandi juga dan pastinya wangi. Wangi khasnya yang laki banget. “Kamu deg degan?” tanyanya saat aku mengadah menatapnya karena dia memaksaku menatapnya setelah mengangkat wajahku. Aku mengangguk. “Relax Abby…aku janji akan selembut mungkin…” katanya lagi sebelum duduk di sebelahku lalu mulai menciumi bahuku. Ya memang lembut sekali menciumi bahuku, tapi kenapa aku malah lebih menegang lagi?. Apalagi saat dia menurunkan tali lingerie yang aku pakai sampai dadaku terekspos, lalu wajah cabulnya perlahan terbit. Ya Tuhan…beneran waktunya aku di gagahi om om ini mah….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN