9.Semanis Cupcake

2163 Kata
Masih di moment aku bersiap di gagahi om Drey, yang statusnya pacarku. Asli deh, sudah tidak bisa lagi aku definisikan gimana perasaanku saat ini. Ada rasa jijik karena untuk pertama kalinya tubuhku di sentuh lelaki yang belum jadi suamiku. Ada rasa tegang, karena aku tidak tau akan seperti apa nantinya aku, atau akan di perlukakan seperti apa oleh si om Drey. Tapi ada rasa enak gimana gitu, karena hal seperti ini baru untukku. “Your are sweet Abby….” desis om Drey sebelum melahap sebelah kanan dadaku setelah dia puas remas dengan telapak tangannya yang besar dan setelah mulutnya puas menciumi leher, bahu dan wajahku. Dan efeknya buat aku terengah sampai limbung kalo kemudian aku harus memakai kedua tanganku untuk bertumpu ke belakang. Tapi seperti memberikan akses lebih luas lagi untuk om Drey mengeksplor dadaku dengan mulut dan tangannya. Kalo akhirnya aku menggeram, sebenarnya separuh menggeram kesal, karena aku memilih pasrah tubuhku di jamah om Drey sesuka hatinya. “Enak?” tanyanya setelah melepasku yang masih terengah dan wajahnya sendiri memerah dengan nafas memburu juga. Bukti kalo dia sudah kelewat nafsu gak sih??. “Buka lingeriemu!!” perintahnya tanpa menunggu jawabanku. Boro boro aku bisa menolak, kalo dia sudah langsung menarik keluar lingerie putih yang aku pakai. Kalo memang akhirnya di buka, kenapa aku mesti pakai ya??. Lebih baik aku langsung telanjang ajakan??. Tapi masih aku masih pakai celana dalam, pasangan lingerie yang aku pakai. “Rileks Abby….” pintanya karena mungkin dia melihatku menegangkan dudukku lagi di tepi ranjang. Gimana aku bisa rileks kalo kemudian telapak tangannya yang besar dan berbulu di bagian lengan perlahan bergerak mengusap perutku sampai aku menahan nafas karena pikiranku menebak kemana lagi arah tangannya bergerak. Bener ajakan, kalo telapak tangannya perlahan bergerak maju lalu menyusup ke balik celana dalamku. “Rileks Abby…” pintanya lagi tanpa menatapku karena sibuk mengawasi telapak tangannya yang masuk di balik celana dalamku. Semakin teganglah aku lalu reflek kedua tanganku bertumpu lagi ke belakang saat perlahan jari tangannya mengusap pelan…Sampai aku mau nyebutnya. c***l banget gak sih yang di lakukan om Drey?. “Oh gosh….getting wet early…” desisnya lagi lalu lebih kelihatan bernafsu lagi kalo dia yang malah merintih dan suaranya bersautan dengan desahan nafas yang aku berusaha tahan. “Nice Abby?” tanyanya malahan saat menoleh menatapku juga. Menyenangkan apaan?, kalo cuma di towel towel jari telanjungnya, aku sudah megap megap. Laki seumuran dia pasti pengalaman gagahin cewek yakan??. Kelihatan banget malah senyam senyum gak jelas saat aku menemukan aku megap megap karena pergerakan jarinya di balik celana dalamku. Dan entah berapa lama kelakuannya, aku tidak tau pasti. Aku terlalu sibuk dengan rasanya. Seperti apa ya?. Enak tapi gregetan, tapi sekaligus nyiksa sekali, kalo rasanya seperti mau pipis tertahan gitu. “ACH!!!” cetusku tanpa sadar bersamaan gerakan bokongku sendiri yang terangkat naik lalu rasa ingin pipis itu menghilang bersamaan dengan melemasnya seluruh tubuhku. “You are mine Abby!!” katanya lalu santai mencium bibirku seakan tidak tau kalo nafasku masih terengah saat dia menarik keluar tangannya dari balik celana dalamku. Bagus tidak lama lama cium bibirku, jadi aku bisa kembali bernafas. “Tiduran Abby” perintahnya kemudian. Dan masih sempat aku lihat menjilat jarinya yang tadi di masukkan ke balik celana dalamku. JOROK!!!. c***l!!!, umpatku dalam hati pada kelakuannya. Tapi kesalku tidak bisa lama lama kalo kemudian dia menarik keluar celana dalamku. “Wow!!” pekiknya lalu mengusap kedua sisi pahaku karena refleks aku merapatkan kedua kakiku. Malu banget rasanya, punyaku di awasi sambil senyam senyum gak jelas “Come on Abby, open!!” perintahnya setengah mengeluh. “Aku malu” jawabku dengan wajah yang pastinya memanas menahan malu. Dia menghela nafas dulu lalu menggeleng pelan. “Kita nantinya akan menikah, masa kamu malu sama aku yang akan jadi suamimu?” protesnya. Masalahnya sekarang dia belum jadi suamiku. Ya aku malulah. “Abby…jangan sampai aku pinta dua kali…” desisnya memaksa. Nurut dan pasrah lagi dong aku pada perintahnya. Kalo tidak di turuti malah aku takut di macam macamin atau malah di bunuh kali ya?. “Good girls…” pujinya saat aku perlahan membuka kakiku. Pujian yang tidak tepat. Masa di bilang gadis baik kalo malah buka kakinya untuk di gagahi o mom macam dirinya. “Untuk pertama kalinya aku baru melihat milik perempuan seindah ini Abby” katanya tanpa menatapku karena malah focus pada titik pusat organ intimku. Pertama kalinya?. Kesekian kali yang benar. Mana mungkin dia tidak pernah tidurin perempuan lain sebelumnya. Jadi buat aku mendadak kesal gak jelas gini ya??. Yakan dia menang banyak kalo dapat aku yang perawan dan dia sudah tidak perjaka. “Kamu benaran manis Abby…” katanya lagi sebelum menenggelamkan kepalanya di antara kedua kakiku yang terbuka lebar. Astaga…sampai aku mengangkat pinggulku saat dia mulai ciumi bagian itu. “Diam Abby” pintanya berhenti sebentar supaya aku menurunkan lagi pinggunglku. Gimana aku bisa diam, kalo lidahnya mulai bergerak menjilat, lalu mulutnya mulai menciumi lagi bagian itu. Tak lama malah satu jarinya ikutan di masukan juga. Megap megap lagi dong aku. Dan kali ini, karena aku tidak bisa bertumpu pada apa pun, jadi aku seperti kejet kejet gak jelas gitu. Si om malah sibuk sendiri. Ampun…kapan siksaan ini berakhir???. Eh cepat juga kok aku di lepas, lebih cepat dari sebelumnya. “Leg shaking o*****e…” cetusnya malah terdengar girang, lengkap dengan senyum cabulnya melihatku kejang kejang sebentar lalu aku melemas sampai tidur meringkuk dengan nafas terengah tentunya. Kalo tau akan seperti ini ritual di gagahi si om, mungkin aku akan mikir dua kali. “Cape?” tanyanya yang ternyata menyusulku rebahan di kasur dan aku punggungi. Kenapa mesti tanya terus sih?. Gak lihat apa, kalo aku sudah kehabisan nafas dan melemas tidak berdaya. “Okey kita istirahat dulu.Rileks Abby….” katanya di bahuku karena dia menyingkirkan rambutku. Gimana bisa rileks kalo tangannya terus gerayangi tubuhku setelah dia memelukku dengan mode gemas sampai menggigit bahuku. “DREY!!!” protesku kesal jadinya. Malah tertawa. “Kamu buat aku gemas” jawabnya. Memangnya aku anak kecil?. Tapi dia tertawa lagi saat aku sikut perutnya sebagai protesku. “Okey, kamu diam aja, biar aku usaha sendiri. Paling sakit di awal, tapi pasti kamu suka setelahnya” katanya lagi. Entah apa maksudnya, aku memilih diam mengistirahatkan tubuhku. Tapi ternyata gak bisa kalo di belakang punggungku, si om Drey malah sibuk gesek gesek miliknya di bokongku. Dia ngapain sih??. Mau aku tengok ke belakang tapi aku takut. Tapi sempat aku tengok juga ke belakang tepat dia melempar handuk yang dia pakai. Dan justru buat aku tegang. “Rileks okey?. Selama kamu tidak lawan, dan turuti perintahku, pasti kamu akan baik baik saja” katanya hampir berbisik sebelum akhirnya menciumi leherku lagi. Lalu tangannya mulai meraba dadaku lagi, perutku, lalu ke bawah tentunya. Lalu aku rasakan sesuatu yang mengeras yang perlahan si om arahkan ke sela selangkanganku setelah dia menekuk satu kaki bagian atasku yang bertumpuk. “Oh gosh…” desisnya saat perlahan punya deh berusaha masuk ke punyaku. Aku mulai menggigit bibirku saat gerakan mendorong masuk yang di lakukan si om. Tapi kok seperti susah masuk, padahal aku tidak merasa sakit. Hanya terasa aneh gimana gitu. Sampai aku menoleh ke arah si om yang ternyata gantian megap megap, lalu dia sempat senyum dulu sebelum focus lagi pada gerakan mendorong yang dia lakukan. Aku juga mulai menggigit bibirku lagi saat berbalik lagi ke arah depan tatapanku lalu memilih pasrah pada apa pun yang dia lakukan si om. Aku yang mintakan?, dan ini sudah terlanjuran. “Sakit Abby?” jedanya di tengah fokusku menebak apa yang dia lakukan atas diriku dan gerakan mendorong yang lalu berhenti sebentar. Aku buru buru menggeleng, supaya cepat selesai. Aku sudah merasakan punyanya sudah masuk ke dalam punyaku, tapi gak tau sejauh mana. Aku kan gak tau punyanya seperti apa. Aku takut. Tapi kayanya gede deh, kalo rasanya seperti punyaku di sumbat gitu. “Abby….” desisnya lagi bercampur rintihan dan berusaha aku abaikan. Bodo amat om, buruan apa!!. Supaya cepat rapi. Bukan aku tidak nikmati, tapi memang aku rasanya gemas pada rasanya. “ACH!!!” pekikku cukup keras setelah gerakan menghentang dari belakang yang si om lakukan. Bukan berhenti dulu, malah dia lakukan terus sampai aku terus memekik. Gak sakit sih, hanya kaget akunya. Eh perih deh dikit, lalu aku merasa ada yang merembes keluar bersamaan tawa pelan si om. “You are mine Abby….” desisnya lalu memelukku erat dari belakang dan menciumi bahuku terus menerus. Kapan aku jadi milik dia?. Dia aja belum nikahin aku. Setelah itu aku terus memekik bersamaan dengan gerakan mendorong yang cukup keras yang si om lakukan sampai aku kewalahan. Rasa perihnya sudah hilang sih, tapi kenapa mulutku tidak bisa aku kendalikan lagi sih??. Hayo aja jerit jerit sampai aku cape sendiri dan beneran lemas sekali rasanya. “ABBY!!!!” jerit si om lalu menggigit punggungku sampai aku meringis bersamaan gerakan mendorong yang keras tadi melemah lalu berhenti. Ada yang merembes keluar dari deh kayanya. Sampai aku rasa aku pipis di kasur. Tapi masa iya di gagahin gitu, buat pipis??. “Sebulan lagi dari sekarang kita nikah ya cupcake?” nanya atau pernyataan sih?. Jadi aku menoleh ke arah wajah si om yang wajahnya di bahuku. “Tepat dugaan aku Abby, kamu memang masih perawan” katanya lagi pada tatapanku. “HAH!!!” pekikku spontan. Dia malah tertawa lalu melepasku di tempat tidur lalu bangkit berdiri. “Look at that Cupcake!!. My c**k bleeding” katanya sambil menunjukan miliknya yang ternyata beneran besar karena belum sepenuhnya tidur dan berlumuran darah. Aku langsung meringis menatapnya yang santai tertawa lalu mengambil tissue di meja samping tempat tidur. Aku sampai bangun terduduk untuk melihat punyaku yang ternyata masih berlumuran darah lalu menatap si om. “Jangan bilang kalo kamu sebenarnya tau kalo aku masih perawan?” tanyaku menjeda kelakuannya. “Yes, I am cupcake” jawabnya lalu tertawa lagi. Nyebelinkan??. Kalo udah tau kalo aku masih perawan kenapa gak nikahin aku aja langsung dan bukan gagahin aku dulu sebagai syarat untuk dia nikahi. “I HATE YOU!!!” jeritku lalu melempar bantal padanya yang tertawa menanggapi. Aku sampai cemberut menatap kesal padanya karena merasa di jebak. “Yakin kamu benci aku karena berhasil nidurin kamu tadi?” tanyanya semakin menyebalkan. Aku bertahan cemberut menatapnya karena lagi lagi dia tertawa. “Jangan bohong Abby…Kamu nikmati jugakan hal tadi?” malah ledek aku. Jadi aku lempar terus sisa bantal di kasur ke arahnya lalu dia terbahak sambil bergerak masuk kamar mandi meninggalkan aku yang menggeram kesal. Aku memang bodoh, jadi bisa di bodohi oleh lelaki seumuran om om, macam om Drey. Mau nangis rasanya saat aku tiduran di ranjang lagi dan menatap nanar darah kesucianku yang di rengkut lelaki yang belum jadi suamiku. “ABBY!!!. SINI SAMA AKU!!!” jerit si om menjedaku yang sebelumnya berniat tidur. Mau apalagi sih??. “ABBY!!!” jeritnya lagi memanggilku. Dengan mode kesal, aku turun juga dari ranjang lalu memungut handuk yang dia pakai sebelumnya untuk menutupi tubuh telanjangku lalu menyusulnya ke kamar mandi. Dan aku temukan dirinya yang sudah berada di dalam bathtube dan santai merokok. “Sini, kamu harus mandi, jangan tidur dulu. Mumpung airnya masih hangat” undangnya. “Kita gak ngapa ngapain lagikan??” tanyaku dulu. “Aku tidak sekejam itu sama kamu yang baru pertama kali make love, Abby” jawabnya. Awalnya aku ragu, tapi dia lalu mengulurkan tangannya padaku dari dalam bathtube, jadi aku bergerak juga menyusulnya masuk bathtube. “Come on, rileks Abby. Kita sekarang benar benar sudah jadi pasangan” katanya lalu menarik pinggangku supaya aku merapatkan tubuhku pada tubuhnya yang santai bersandar di bathtube dan masih merokok. Vibenya benar benar seperti om o*******g atau pria c***l di film film yang aku suka tonton dengan mode bos banget tentunya. Kalo aku di biarkan santai juga bersandar memunggunginya dan kepalaku di bahu kirinya, karena tangan kanannya memegang rokok. “Rileks cupcake…” katanya lagi dengan mataku yang justru reyep reyep menahan ngantuk. “Kenapa bilang aku cupcake terus?” tanyaku dengan mata setengah terpejam. “Karena kamu semanis cupcake” jawabnya. Aku masih sempat tertawa sebelum akhirnya memejamkan mataku karena memang terasa benar ketenangan bersamanya berendam di bathtube berisi air hangat lengkap dengan aroma therapy yang memanjakan penciumanku. Enak juga jadi orang kaya ya??. Aku sempat terhentak kaget saat si om menggendongku keluar bathtube dengan tubuhku yang telanjang tentunya. “Sleep cupcake” perintahnya sebelum menggendongku seakan aku seringan kapas menuju kamar satunya lalu aku di baringkan di ranjang. Lalu aku merasakan tubuhku dia selimuti dengan bed cover sebelum akhirnya dia mengusap rambutku yang basah. “Sleep tight cupcake…” desisnya dan buat aku terpejam lagi. Tapi aku masih rasakan kok ciumannya di pucuk kepalaku dan buat aku terlelap dengan tenang. Aku sampai berpikir si om beneran sayang aku, andai besoknya dia tidak menyuruhku memasang kontrasepsi karena tidak mau aku hamil. Memang aku tau sebelumnya kalo dia tidak ingin punya anak sekalipun dia menikah dengan siapa pun, terus dia nikahin aku untuk apa ya??. Bukankah menikah untuk punya keturunan??. Apa aku di nikahi hanya demi status atau sebagai istri pajangan??.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN