Cukup siang aku bangun tidur esok harinya, sekitar jam 8 pagi dan aku langsung bangun untuk mandi. Dan aku temukan si om sudah berpakaian jas rapi duduk manis di kursi meja makan yang ada di kamar hotel.
“Morning cupcake” sapanya berhenti makan dulu untuk menyapaku.
“Morning…” jawabku lalu mendekat dan masih menggunakan bathrobe handuk berwarna putih seperti yang suka aku lihat di film film.
“Ayo sarapan…kamu pasti laper” perintahnya setelah aku duduk di kursi makan di hadapannya.
Memang hanya ada dua kursi makan juga. Jadi aku menurut makan, sekalipun aku tidak beneran laper.
“Aku ada meeting jam 11 nanti, jadi kemungkinan kamu akan sendirian dulu di sini. Kamu bisa tidur lagi, dan aku sudah belikan kamu baju ganti, ada di paper bag di sofa kamar tadi” katanya bersuara.
Aku mengangguk saja. Aku lihat memang ada paper bag di sofa kamar. Tapi aku tidak lihat isinya.
“Kamu gak tidur?” tanyaku karena sewaktu aku berniat pipis di jam tengah malam, aku tidak menemukannya di tempat tidur, begitu juga saat subuh datang.
“Tidur!!, aku tidur di sofa itu” jawabnya sambil menunjuk sofa di ruangan mirip ruang tamu di kamar hotel yang kami tempati.
Itu alasan pertama yang buat aku berpikir, kalo aku nantinya di nikahi hanya untuk status saja. Masa tidak bersedia tidur bareng aku?. Dia bilang kami pasangan sekarang. Teruskan semalam kami habis…
“Abby…are you okey?” tanyanya sampai mengusap kepalaku.
Aku buru buru mengangguk lalu dia berhenti mengusap kepalaku.
“Habiskan makanmu kalo gitu, lalu kamu tidur lagi setelah ini” perintahnya lagi.
Aku mengangguk saja lagi. Lalu melanjutkan menghabiskan nasi goreng yang jadi menu sarapanku. Si om mah makannya ala ala bule gitu, macam roti bakar, telur mata sapi setengah matang dan daging asap kali ya??. Dan karena sudah selesai makan, lalu dia merokok sambil mengawasiku makan.
“Tunggu aku pulang, lalu kita ke rumah sakit” katanya bersuara lagi.
“Aku gak sakit kok” tolakku.
“Aku tau, tapi kita mesti ke dokter kandungan” jawabnya.
Aku jadi menatapnya.
“Kamu mesti pasang kontrasepsi Abby, supaya kamu tidak hamil” jawabnya pada tatapanku.
Dan aku bertahan menatapnya.
“Aku sudah bilangkan, kalo aku tidak mau punya anak?, sekalipun akhirnya kita menikah?” katanya malah bertanya pada tatapanku.
Aku masih bertahan menatapnya.
“Anak merepotkan Abby, nanti kita tidak bisa bersenang senang setelah kita menikah” tambahnya.
Aku langsung menghela nafas lalu memutus tatapan kami lalu melanjutkan makanku. Sejak kapan kehadiran anak merepotkan??. Anak anak itu lucu. Apa merepotkan soal uang?. Dia kaya raya loh. Bisa pekerjakan suster juga kalo memang tidak mau repot mengurus anak.
“Kenapa kamu jadi diam?. Kamu….”
“No…terserah kamu mau gimana…” potongku.
Aku tidak berhak berpendapat di sini, terserah dia aja. Dan aku dengar helaan nafasnya.
“Well, kita bicara pernikahan saja sekarang. Kamu mau pesta pernikahan seperti apa?. Biar aku urus” katanya lagi.
“Pernikahan biasa aja. Cukup datang ke KUA, atau nikah sirih aja” jawabku asal.
“BODOH!!, kamu tidak akan dapat apa pun dari aku, kalo kamu bersedia aku nikahi sirih” omelnya.
Aku tertawa pelan menanggapi. Buat apa juga pesta pernikahan mewah sampai mengundang banyak orang, di saat aku merasa pernikahan kami tidak akan berlangsung lama. Tidur aja gak mau bareng aku, terus gak mau punya anak dari aku juga. Artinya dia hanya butuh status menikah dengan aku, trus dia bosan terus aku di ceraikan. Kira kira seperti itu deh. Walaupun aku masih muda, aku tidak bodoh bodoh banget juga.
“Kamu mau ninggalin aku ya, setelah kamu bertemu pria kaya lain untuk jadi suamimu??” tanyanya malah jadi marah.
Ya aku tertawa lagilah.
“ABBY!!!” bentaknya sampai memukul meja dan buat aku tersentak.
Dan aku temukan kilatan matanya yang terlihat marah sekali saat dia bangkit berdiri lalu begitu saja menjambak rambutku dari belakang.
“Jangan pernah sedikit pun kamu punya niat khianati aku. Aku gak akan biarkan itu terjadi Abby” katanya bercampur geraman.
Entah kenapa, aku tidak merasa takut sama sekali. Ya soalnya aku tidak berniat seperti yang dia bilang juga. Boro boro mikir cari lelaki kaya lain. Punya dia aja, rasanya sudah buat aku sakit hati. Padahal dia belum nikahin aku.
“FAHAM???!!!” bentaknya lagi dan bertahan menjambak rambutku ke belakang.
Aku buru buru mengangguk. Lalu perlahan dia lepaskan juga jambakan tangannya pada rambutku lalu duduk lagi di tempatnya dan mengawasiku lagi.
“Habiskan makananmu. Cepat!!!” perintahnya lagi.
Ya aku lanjutkan makanku di bawah pengawasannya. Mungkin dia takut mainannya hilang, soalnya kalo dia beneran sayang aku, gak mungkin perlakukan aku dengan kasar seperti tadi.
“Sekarang aku tanya, kenapa kamu mau pernikahan kita seperti itu?” tanyanya kemudian sudah lebih menurun tensi suaranya.
“Aku malas di manfaatkan lagi oleh keluargaku kalo mengadakan pesta pernikahan mewah. Bisa sajakan mereka merengek minta di belikan ini itu. Belum lagi mengundang banyak orang demi uang amplop, seakan mereka yang mengadakan pesta. Aku tidak mau aja mereka memanfaatkan uangmu lagi” jawabku.
Perlahan aku lihat senyum di wajah si om, walaupun sedikit.
“Lagi pula aku yatim piatu. Om aku tidak bisa jadi waliku juga karena keluarga dari ibuku. Kamu juga tidak butuh wali, karena kamu lelaki. Tapi kamu muslimkan?” kataku jadi ingat tanya soal agama si om.
Dia lalu menghela nafas.
“Aku tidak tau agamaku, tapi di KTP aku, tertera kata MUSLIM” jawabnya.
“Maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.
“Aku Agnostic” jawabnya.
Aku sampai mengerutkan dahiku menatapnya.
“Aku percaya ada Tuhan, Abby. Tapi aku tidak percaya agama apa pun, jadi aku tidak menjalani ritual agama apa pun. Kalo pun aku muslim, karena orang tuaku muslim, just that!!. Dan selebihnya untuk kepentingan administrasi identitasku saja” jelasnya.
Ada ya orang yang berfaham begitu??.
“Waktunya aku harus berangkat. Tunggu aku pulang. Dan soal pernikahan yang kamu mau, aku setuju dengan kamu” katanya lalu bangkit berdiri.
Bisa bisanya cium pucuk kepalaku setelah sebelumnya dia jambak rambutku. Beneran orang aneh. Lebih baik tidak aku pikirkan kelakuannya, dan apa yang akan dia lakukan berikutnya. Cape hati rasanya. Jadi lagi lagi aku pasrah pada apa yang di putuskan soal kontrasepsi yang harus aku lakukan.
“Suntik saja dokter. Tinggal nanti dokter beri kabar, kapan istri saya harus melakukan penyuntikan berikutnya” katanya saat akhirnya kami ke dokter kandungan.
Kenapa tidak tanya kami beneran suami istri atau bukan, dan malah menurut juga melakukan perintah si om untuk memberikan aku suntikan kontrasepsi per 3 bulan sekali nantinya.
“Nanti kalo kamu mesti kembali di suntik kontrasepsi, aku akan sediakn supir dan orang yang akan mengawalmu. Tapi kalo aku nanti sempat dan punya waktu menemanimu, aku yang akan menemanimu” katanya setelah kami di dalam mobil lagi menuju rumah om aku.
Aku mengangguk saja lalu memilih menatap keluar jendela mobil lagi. Dia juga sibuk menjawab panggilan telpon, entah dengan bahasa apa. Bukan bahasa Inggris yang aku kenali, tapi bahasa Jerman, Perancis, entah bahasa apa, pusing juga aku dengarnya karena aku tidak mengerti. Ternyata pintar juga si om, makanya dia kaya kali ya. Kami lalu diam setelah dia selesai menerima telpon sampai akhirnya tiba di depan rumahku.
“Aku tidak mampir, aku masih ada urusan lain. Tapi kalo tante atau om kamu marah, beritahu aku” katanya padaku sebelum aku keluar mobil sedan mewah miliknya.
Kemarin kemarin semangat sekali bertemu om dan tanteku. Sekarang aja, setelah dia dapatkan apa yang dia mau, sudah tidak perlu lagi mampir ke rumah om dan tanteku. Pada akhirnya aku beneran seperti ani ani atau gadis muda yang selesai di booking lelaki b******n lalu cukup di turunkan di depan rumah.
“Kamu sama pacarmu dari mana Abby?. Kamu terus di kasih uang gak?. Soalnya sampai nginap gitu” kepo langsung tanteku.
Dan selalu berujung dengan uang. Kalo om aku tidak banyak bicara sih, selain menanggapi ciuman tanganku lalu santai main handphone di temani segelas kopi. Rasanya om aku memang semakin santai di rumah, dan tidak segitu ngoyo lagi narik taksi online, kalo apa pun yang dia butuhkan, pasti minta uang sama aku.
“Memangnya kenapa tante?. Tante butuh uang?” tanyaku malas menanggapi lama lama.
Dia langsung cengar cengir gak jelas juga.
“Itu Abby, cucu tante, anak masmu yang paling bontot, yakan sudah mau setahun umurnya. Masa kecil kecil minta ulang tahun. Sampai mamanya pusing cerita sama tante, soalnya uangnya untuk ulang tahun kecil kecilan di rumah aja gak ada” jawabnya.
Nahkan, uang lagi ujungnya.
“Berapa duit memangnya untuk ulang tahun begitu?” tanyaku.
“1 juta setengah cukuplah, atau satu juga. Kamu mau kasih uangnya?. Nanti tante bilang itu hadiah dari tante Abby” jawab tanteku.
Semenjak si om panggil aku Abby, memang jadi semua ikutan. Carmuk banget gak sih??.
“Okey” jawabku.
“Kamu mau kasih?” tanya tanteku mendadak sumringah.
Aku mengangguk lalu mencari dompetku. Seingatku ada uang segitu karena aku sempat ambil uang di rumah sakit tadi untuk pegangan uang cash di dompetku.
“Nih satu juta 3 ratus, dua ratusnya buat pegangan aku ya tante. Soalnya pacarku belum kasih uang lagi” dustaku.
Padahal uangku ada di rekening sekitar beberapa juta, sisa pemberian si om juga, dan aku awet awet awalnya karena aku yakin tidak mungkin dapat gaji lagi dari hasil aku kerja di kafe kalo aku sering tidak masuk kerja. Aku kerja kalo si om datang aja lalu cari aku. Aku malas juga hadapi teman kerjaku yang juga money oriented kalo lihat aku. Bawaannya mau pinjam uang terus. Masih mending kalo mereka tidak bicarakan aku di belakang, lah gosipin aku terus. Tanpa mereka sadari, kalo mereka ada di posisi aku, pasti mereka akan memanfaatkan kesempatan.
“Makasih Abby. Udah bobo deh, kamu capekan??. Apa mau tante masakkan air untuk kamu mandi?” tanyanya mulai menjilat.
“Kalo gak repotin tante” jawabku mengambil kesempatan.
“Gak, tunggu ya, nanti tante bilang kalo air panas untuk mandi kamu sudah siap” jawabnya lalu keluar kamarku.
Dia senang dapat uang dari aku, tanpa perlu aku di ajak pergi si om sampai menginap, aku di apain aja?. Seperti tidak mau tau, kalo pun aku di apain aja sam si om. Yang penting uangkan??. Pada akhirnya aku memang di manfaatkan sana sini, termasuk oleh si om juga.
“Aku tunggu kamu di kantor kafe besok jam 3 sore Abby, dan kamu gak perlu datang dari pagi kalo kamu masih cape. Sekalian bawa surat surat yang aku chat ke kamu, untuk mengurus persiapan pernikahan kita” perintah si om setelah aku selesai mandi lalu bersiap tidur.
Ternyata kedok doang soal surat surat macam foto kopi akte kelahiran, KK, KTP aku, kalo begitu kami bertemu, dia langsung mengunci ruangan kantor.
“Aku suntuk sekali dengan pekerjaanku cupcake” awalnya bilang itu sebelum mendudukkanku di meja kerja yang ada di ruangan kantor kafe.
“Lalu?” tanyaku yang tidak perlu kalo dia sudah sibuk menciumi leherku.
“Aku menginginkanmu cupcake” jawabnya lalu santai menelanjangiku di ruang kantor.
Apa aku bisa menolak saat dia sudah kelihatan sekali bernafsu menciumi dan menggerayangi tubuh telanjangku. Sementara aku malah merasa jijik pada setiap ciumannya, gerakan tangannya yang meraba dan meremas apa pun yang dia bisa remas, lalu dia membuat aku tidur telentang di meja kerja, lalu dia menurunkan celana panjang yang dia pakai, lalu menggagahi aku lagi.
Kalo ini dosa, tolong maafkan aku, TUHAN!!!.
“Kamu memang semanis Cupcake” katanya setelah selesai menggagahiku lalu mencium keningku.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang lalu bangkit terduduk setelah dia sendiri sibuk memakai celananya lalu masuk kamar mandi yang ada di ruangan kantor. Aku menyusul kemudian setelah memunguti bajuku yang berserakan dulu tentunya.
“Come, Abby!!” undangnya setelah aku selesai pakai baju lagi dan keluar dari kamar mandi.
Kenapa mesti banget sambil merokok sih??. Benaran vibenya macam lelaki c***l atau b******n soalnya. Tapi ya aku menurut mendekat lalu duduk menyamping di pangkuannya dengan vibe perempuan perayu lelaki juga. Dia juga santai merokok.
“Kamu mau apa, minta sama aku. Uangmu habis?” tanyanya.
Aku menghela nafas dulu sebelum membalas tatapannya.
“Perempuan dia mana mana sama Abby. Pasti akan lesu dan hilang gairah saat kehabisan uang” katanya lagi berasumsi sendiri.
Jadi aku diam saja dan bertahan duduk menyamping di pangkuannya sekalipun dia bergerak mematikan rokok yang dia hisap lalu mengambil handphonenya juga.
“Kamu masih malu malu terus sama aku. Aku sudah bilang, kita sudah jadi pasangan sekarang” katanya lagi.
Aku bertahan diam dan mengawasi pergerakan satu tangannya yang membuka aplikasi M bangking sebuah bank swasta karena tangannya yang lain memeluk pinggangku supaya aku tetap duduk di pangkuannya. Padahal tanganku sudah memeluk lehernya juga supaya aku tidak melorot ke lantai.
“Senyum dong Abby, aku sudah transfer uang untukmu dan terserah kamu mau belikan apa” katanya setelah menunjukkan bukti transfer padaku.
50 juta????!!!!. Tapi aku berusaha tetap diam dan menahan diri untuk tidak memekik kaget. Gak ada gila gilanya si om.
“Kalo habis aku pakai beli apa pun yang aku mau?. Nanti kamu malah marah” gimmickku.
Mana mungkin juga aku habis uang 50 juta begitu saja. Malah tertawa si om.
“Minta lagi sama akulah. Menurutmu, aku akan membiarkan kamu minta pada lelaki lain?” jawabnya.
Aku sontak tertawa pelan. Enak banget ya jadi aku??.
“Dan tidak hanya uang yang bisa kamu minta sama aku. Kamu bisa minta apa pun sama aku, sepanjang kamu menurut dan tidak buat aku marah” katanya menjeda tawaku.
“Apa pun?” tanyaku memastikan.
“Apa pun, kecuali waktu dan nyawaku” jawabnya.
Aku diam menatapnya.
“Selain kamu, aku masih punya tanggung jawab pekerjaan, jadi jangan minta waktuku kecuali memang aku bisa menemanimu. Dan jangan minta nyawaku seperti yang kamu yang sebelumnya minta aku mati. No Abby, jangan minta aku mati sekarang, nanti kamu tidak punya siapa pun yang bisa kamu andalkan lagi” jawabnya.
Aku tertawa lagi menanggapi.
“Begitu dong tertawa kamunya. Aku tidak suka lihat wajah cemberutmu, kamu jadi tidak semanis cupcake lagi” komennya tertawa juga mengikutiku.
“Okey darling….” jawabku.
“Darling…” desisnya sambil mengerutkan dahinya menatapku.
“Sayangku maksudku” ralatku.
Baru dia terbahak sebelum akhirnya menciumi wajahku lagi sampai aku ikutan tertawa. Hubungan kami memang sifatnya transaksional kali ya??. Aku beri yang dia mau, lalu dia berikan yang aku mau. Sudah tidak perlu di bawa baper. Dan rasanya memang sepanjang aku punya uang terus, aku akan baik baik saja. Lupakan soal kebahagiaan dulu deh, kalo aku masih harus berjuang bertahan hidup dengan dukungan uang dan segala yang si om punya. Kami belum nikah juga. Pada akhirnya aku juga mesti pasrah kalo pun akhirnya ada orang bilang aku ANI ANI.
Welcome Ani Ani newbie, dan namanya ABBY.