Udah selesai dong urusan melayani si om yang sebelumnya bilang suntuk terus berujung dengan dia yang memberikan aku uang lagi.
“Aku mau berhenti kerja” jedaku pada kesibukannya di depan laptop dan aku temani di ruang kerja kafe miliknya.
Dia langsung mengangkat wajahnya menatapnya dengan dahi berkerut.
“Gak boleh ya?. Kamu bilang, aku bisa minta apa pun yang aku mau dari kamu” kataku pada tatapannya.
Dia menghela nafas dulu.
“It’s okey kalo kamu mau berhenti bekerja di kafe ini. Tapi tetap kasih aku alasan” pintanya.
Aku berdecak dulu menanggapi lalu melengos menanggapi pertanyannya.
“Cupcake…just give me a reason!!” pintanya mengulang.
“Aku malas menghadapi orang orang di sini yang membicarakan aku di belakang semenjak aku bersamamu, tapi kemudian mereka tidak tau malu dengan minjam uang sama aku” jawabku.
Si om bertahan menyimak dengan diam saja dan tetap mengawasiku.
“Lebih baik aku di rumah, bersantai, kalo apa yang aku butuhkan cukup minta padamu. Jadi saat kamu butuh aku temani, aku akan selalu punya waktu juga” kataku lagi.
“Keluargamu?. Kamu tidak malas menghadapi mereka juga, kalo kamu berada di rumah dan tidak punya kesibukan?” tanyanya bersuara.
Aku diam dulu. Benar juga.
“Kalo keluargaku, sekalipun mereka minta uang sama aku, masih wajar karena mereka keluargaku. Lagian tidak perlu banyak kasih uang juga, paling ratusan ribu atau sejuta dua juta paling banyak” jawabku.
Si om langsung manggut manggut dulu.
“Bisa janji kamu akan di rumah terus dan bukan hunting lelaki lain?” tanyanya.
Aku langsung memutar mataku.
“Abby…” tegurnya.
“Dengan kesediaanmu jadi pacarku dan memenuhi kebutuhan hidupku dan memberikan semua yang aku mau, sudah menghabiskan semua keberuntuanganku, Drey. Jadi aku gak yakin punya keberuntungan lain kalo aku berniat mencari lelaki lain, belum tentu juga lelaki lain bersedia melakukan semua yang kamu lakukan untukku selama kita bersama, jadi cukup aku bersamamu” jawabku.
Benarkan aku bilang?. Terlepas si om memanfaatkan aku sebagai pemuas nafsu sexnya, yang dia lakukan untukku belum tentu di lakukan lelaki lain. Jadi ngapain aku cari lelaki lain. Dan sepertinya dia setuju dengan perkataanku, kalo aku lihat senyumnya perlahan terbit.
“Okey!!. Memang lebih baik kamu berhenti kerja dan di rumah saja menungguku mencarimu dan membutuhkanmu” jawabnya lalu santai bersandar di kursi kerja yang dia duduki.
“Beneran??” tanyaku mendadak girang dong.
Dia mengangguk.
“Tapi awas kalo kamu macam macam” ancamnya menjeda sorak soraiku.
“Ay ay captain” jawabku lengkap dengan gimmick hormat.
Dia tertawa menanggapi.
“And you don’t say thank you??” tanyanya kemudian.
Elah nih om om, demen banget di rayu. Jadi aku mesti sekali bangkit dari dudukku lalu mendekat padanya lalu dia menarik pinggangku supaya duduk menyamping di pangkuannya.
“Thanks you, darling…” kataku lalu menciumi wajahnya.
Baru dia terbahak girang. Begini amat punya sugar daddy?. Mendadak aku mesti banget pintar merayu.
Lalu di mulailah kehidupanku yang menyenangkan sekali sebagai ani ani newbie di Jakarta. Apa yang aku pusingkan lagi?. Gak ada tuh. Aku punya uang, dan banyak. Jadi aku mau jajan apa pun, bisa. Bahkan kalo jajan aku tidak perlu memikirkan kembaliannya, setelah aku merasa kenyang jajan sesuatu yang aku mau makan. Tidak ada yang ganggu aku juga di rumah, kalo setiap tante atau om aku minta uang, pasti aku berikan. Mereka juga tidak tanya kenapa aku tidak pergi kerja lagi. Mau aku tidur terus di kamar dan pasang AC yang aku beli sampai aku bangun sendiri pun tidak di tegur. Paling kalo aku bangun tidur, tanteku minta jajan di tukang jualan gerobak yang lewat depan rumah, atau pesan online lalu kami makan bersama sambil nonton TV.
Si om juga gak merepotkan aku dengan chat dan telponnya. Lelaki sibuk kerja macam dia, pasti tidak punya banyak waktu untuk melakukan itu. Tapi ya tetap telpon aku,lalu tanya aku ada di mana. Setelah aku bilang ada di rumah, ya sudah, dia diam lagi. Dan gak usah over acting dengan gimmick kasih perhatian macam tanya dia sedang apa atau sudah makan belum. Percuma!!.
“Gak usah tanya aku di mana. Yang penting kamu selalu jawab tiap kali aku tanya kamu ada di mana. Dan gak perlu tanya aku sudah makan atau belum. Aku sudah dewasa, kalo aku lapar pasti aku akan segera makan, Abby” jawabnya nyebelin bangetkan??.
Jadi mending gak usah banyak tanya. Dan cukup jawab apa pun yang dia tanyakan. Bukan urusan aku juga dia sedang melakukan apa, termasuk kemungkinan dia bersama perempuan lain. Pakai logika aja, pria dewasa sepertinya, terus setengah bule dan ganteng dari sisi penampilan, di tambah dia banyak uang, mudah untuk dia, kalo mau perempuan mana pun, tinggal tunjuk dong, pasti siapa pun perempuannya pasti bersedia kok temenin si om. Jadi gak usah buang energy dan pikiran untuk sekedar menebak si om sedang apa kalo sedang tidak bersamaku. Ingat aja, hubungan kami, sifatnya transaksional, dia beri yang aku mau, dan aku beri yang dia mau. Selesai!!. Gak usah baper, cukup tunggu aja sampai dia cari aku. Malah bahaya kalo aku kepo cari tau, yang ada aku semakin sakit hati. Kalo ternyata aku bukan satu satunya perempuan yang dia perlihara sebagai ani ani.
“Berapa lama waktu yang kamu butuhkan Abby?. Aku jadi tau kapan harus jemput kamu?” tanyanya kalo sedang butuh aku.
Atau,
“Aku akan kirim supir untuk jemput kamu, jadi kamu siap siap, dan beritahu kalo kamu sudah siap di jemput” katanya yang lain kalo sedang minta aku temani.
Tidak setiap hari juga. Bisa dua hari, tiga hari, bahkan seminggu sekali. Dan berujung dengan aku yang aku menemaninya di mana pun dia berada, sampai dia mengantarku pulang. Tentu including aku yang melayani nafsu sexnya. Bagus selalu dia ajak aku makan dulu. Mungkin tau kalo aku butuh energy untuk melayani keberingasannya di tempat tidur sampai kadang aku melemas sampai tidak punya tenaga.
“I need you, cupcake..” desisnya selalu setiap kali sebelum menggagahiku di ranjang.
Dan aku hanya bisa pasrah menerima. Mau dia jilat jilat semua tubuhku, di cium, sampai berbagai posisi yang dia inginkan dan harus aku lakukan. Beneran tidak ada capenya. Kalo setiap kali selesai bersih bersih, pasti duduk merokok di sofa kamar dan mengawasiku pakai baju lagi setelah aku bersih bersih atau malah mandi.
“Kamu gak cape?” tanyaku karena dia suka sekali memanggilku lagi supaya mendekat padanya.
“Come!!” jawabnya.
Apa aku bisa menolak?. Tentu aja tidak bisa. Pasti aku mendekat dengan apa pun pakaian yang aku pakai sebelumnya dan sempat di lepas sebelum aku di gagahi di ranjang.
“Drey…” rengekku menjeda kegilaannya yang lain.
Kenapa suka banget mengusap kakiku dari telapak kaki sampai pangkal pahaku. Selalu dia ciumi sesekali juga, seakan tidak cukup dia lakukan saat kami di tempat tidur.
“ I like your legs, cupcake” akhirnya dia jawab pertanyaanku setelah sering aku tanya.
Sampai aku tatap pantulan diriku di stand cermin yang ada di kamar saat ini. Kenapa dengan kakiku?. Malah cebol banget kalo di banding kakinya yang panjang karena dia tinggi sekali. Kalo tidak salah, ada kali tingginya 190 cm gitu deh. Sementara tinggiku hanya 160 cm sekian.
“So sexy cupcake” katanya lagi menjeda tatapanku di cermin dan bertahan menciumi pahaku.
“Udah dong, aku cape…” rengekku menjeda sampai aku jenggut rambutnya.
Tapi dia tertawa sih.
“Okey…sini temani aku dulu, aku belum mau tidur” pintanya.
Berujung dengan aku yang tiduran memanjang di sofa kamar dan berbantal pahanya lalu dia intens mengusap kepalaku setelah menyalahkan TV. Diam dulu, karena dia melanjutkan merokok juga sih, jadi aku semakin reyep reyep.
“Aku sudah kirim uang untukmu” katanya bersuara dan aku jadi mengadah menatapnya lalu buat dia berhenti mengusap kepalaku.
Ternyata diamnya sedang sibuk mengirim uang padaku dan lagi??. Uang yang dia berikan sebelumnya juga masih ada.
“Memang kalo uang yang kamu berikan sebelumnya masih ada, aku boleh minta lagi sama kamu?” tanyaku mencari tau.
“Kamu mau beli sesuatu?” tanyanya lalu mulai mengusap dahiku sampai ke rambut belakangku lagi.
“Kamu tidak jawab pertanyaanku” protesku lalu berbalik badan memungguinya karena kesal mendengar tawanya.
“Aku hanya berinisiatif, takut kamu malu minta uang sama aku, sementara sebenarnya kamu butuh uang” jawabnya.
Kenapa masih aja usap usap rambutku sih, om??. Yakan aku jadi nyaman.
“Abby…aku tidak berharap dapati kamu yang malah marah setelah aku kasih kamu uang lagi” protesnya.
Aku menghela nafas dulu sebelum aku bangkit terduduk lalu beringsut memeluk tubuhnya.
“Makasih darling…” mesti aku rayu lagi malahan.
Baru dia tertawa karena aku menciumi wajahnya.
“Okey enough cupcake. Time to you sleep well” perintahnya.
Baru aku berhenti menciumi wajahnya.
“Kamu mau tidur juga?” tanyaku.
“Nanti, tapi kamu boleh tetap peluk aku sampai kamu tidur” jawabnya.
Ya sudah, aku bertahan memeluknya sampai aku terlelap dalam pelukannya yang bertahan duduk di sofa. Aku seperti anak kecil aja. Bodo amat deh. Dan gak usah baper kalo akhirnya aku tidur di ranjang sendiri, dan entah dimana si om. Ingat!!, aku hanya ani ani.
Lebih baik aku menikmati uang yang dia berikan lagi setelah dia mengantarku pulang esok harinya ke rumah. Udah gak usah tanya juga gimana reaksi om tanteku sepulang aku bersama si om dan mengnginap. Cukup kasih uang titipan dari si om untuk mereka yang sebenarnya uang aku yang di berikan si om, supaya mereka tidak ganggu aku di rumah. Malah tanteku yang berusaha meredam omongan dan mulut tetangga yang membicarakan aku.
“Masa tetangga pada kepo By tanya tanya, kalo kamu di jemput mobil pacarmu yang bagus banget itu” lapor tanteku.
“Masa tante?” tanyaku.
Tanteku mengangguk.
“Tenang aja kamu, urusan tante. Mereka tuh iri sama kamu, soalnya mereka gak bisa kaya kamu. Zaman sekarang, siapa sih yang gak mau punya pacar ganteng, baik dan kaya macam pacarmu” jawab tanteku.
Aku tertawa menanggapi. Bagus ya aku tidak pernah kenal akrab tetanggaku karena dari dulu sibuk kerja. Tapi ya aku tertawa miris sih. Tante gak tau aja kelakuan si om ke aku. Tapi kalo pun tau, rasanya tidak perduli, selama aku kelihatan baik baik aja dan menghasilkan uang. Ya sudahlah, semua bagian dari resiko keputusanku karena menceburkan diri jadi ani ani si om. Soalnya gak ada lagi tuh bahasan soal nikahin aku, padahal sudah mau tiga minggu semenjak aku bersedia tidur dengannya sebagai syarat jadi calon istrinya.
Udah deh, memang lebih baik menikmati apa yang aku jalani sekarang, belum tentu juga untuk selamanya. Dan karena aku bosan menghabiskan waktu di rumah saja, jadi aku mulai pergi ke salon untuk memanjakan diriku. Salon salon dekat rumah aja sih. Buat apa salon di mall yang harga pelayanannya mahal. Menurutku nih ya, salon salon kecil dekat rumahku juga sama aja sih, kalo hanya untuk dapat pelayanan creambath, hair spa, medicure, pedicure sampai luluran gitu. Malah lebih lama saat mereka memberikan pelayanan. Tapi kalo potong rambut atau mewarnai rambut dan smoothing mungkin lebih baik di salon mahal kali ya, biar resiko gagalnya kecil. Kan butuh keterampilan khusus untuk itu, dan setahuku di salon mahal pekerjanya pasti professional dong.
Tapi kalo pendapat kalian beda karena lebih suka perawatan di salon mahal, ya silahkan aja. Kembalikan aja pada kondisi isi dompet, kira kira sanggup atau gak. Aku pribadi, sekalipun sanggup bayar karena di beri uang oleh si om, tetap aja sayang uangnya. Kalo dapat pelayanan yang sama dengan harga yang lebih murah kenapa gak??. Aku jadi bisa saving money untuk modal aku mandiri nantinya, jaga jaga kalo si om sudah tidak perduli aku lagi terus aku di tinggal.
Dari pada aku berakhir dengan jadi ani ani yang menyedihkan, lebih baik bijak pakai uang yang aku miliki sekarang, berikut barang barang macam handphone, laptop mahal yang aku punya saat ini. Yakan kalo kepepet banget bisa aku gadai untuk dapat uang, atau aku malah jual. Itu maksudku gaes. Tapi kayanya ribet juga si om, saat dia cari aku terus aku bilang sedang di salon.
“Kamu ngapain di situ?” tanyanya.
“Aku perawatan doang, creambath, hair spa, sama luluran” jawabku.
Mau ngapain lagi?. Masa iya dia tidak ngerti kalo perempuan ke salon ngapain?. Yakali aku datang ke dokter kecantikan untuk melakukan sulam alis, pasang bulu mata palsu atau tanam benang. Sekalipun aku punya uang, aku tidak suka melakukannya. Pertama tentu aku tidak mau merasakan sakitnya saat melakukan sulam air, sulam bibir, atau apa pun itu namanya. Kedua aku tidak mau ribet takut bulu mata palsuku rontok lah, kalo aku pasang bulu mata palsu. Soalnya ada teman kerjaku yang pasang bulu mata palsu malah ribet kalo mandi, naik motor hanya takut bulu matanya rontok karena palsu tadi. Ketiga aku tidak merasa perlu tanam benang, suntik silicon segala, nanti macam artis siapa gitu, yang silikonnya bocor lalu buat wajahnya tampak menyeramkan. Yang alami lebih baik dan tidak buat ribet. Ke empat ya sayang uangnya. Ngapain amat hanya untuk dapat sebutan cantik terus harus buang buang uang. Lagian aku yang biasa aja dan tidak cantik, ternyata jadi piaraan om Drey, artinya masih ada laki yang menyukaiku dengan penampakanku sekarang.
“Habis itu kamu pulangkan??” tanyanya lagi.
“Iya, aku mau kemana lagi?” jawabku.
“Ya sudah kabari aku kalo kamu sudah pulang” perintahnya dan aku turuti.
Tapi saat besoknya kami bertemu, malah dia yang happy karena aku pergi ke salon.
“Kamu lebih fresh cupcake, dan lebih kiyut dengan potongan rambut barumu” pujinya.
Aku tertawa saja. Padahal aku hanya memotong sedikit rambutku supaya berlayer aja.
“Tapi jangan merubah apa pun. Kamu begini saja. Supaya kamu tetap berbeda dan punya daya tarik sendiri” jawabnya sambil menciumi rambutku yang dia puji wangi karena aku hair spa juga.
“Maksud kamu?” jedaku pada kelakuannya.
Dia menghela nafas dulu setelah berhenti menciumi rambutku lalu menatapku.
“Banyak gadis muda sepertimu yang melakukan sesuatu pada wajah mereka dengan tujuan supaya mereka terlihat cantik dan menarik. Tanpa mereka sadari apa yang mereka lakukan di lakukan gadis muda atau perempuan dewasa lain sampai aku melihat mereka seragam dan justru buat aku bosan, saking banyaknya gadis muda atau perempuan dewasa sekalipun yang melakukan hal sama” jawabnya.
Aku diam menyimak.
“Seperti templet atau malah trademark, terutama pada gadis muda atau perempuan dewasa yang berprofesi menjajakan tubuh mereka pada lelaki hidung belang, Abby” katanya lagi.
Aku masih bertahan diam.
“Kamu bisa lihat di luar sana, kalo hidung mereka sama hasil operasi bedah plastic atau tanam benang. Alis mereka sama sama di sulam, begitu pun bibir mereka. Belum lagi wajah mereka yang rata rata di buat tirus hasil tanam benang juga atau apa pun istilah lainnya. Intinya mereka seragam, sama!!. Jadi jangan heran kalo siapa pun lelaki yang akhirnya berhasil mereka jadikan teman kencan akan merasa bosan. Termasuk d**a mereka yang di buat besar hasil suntik silicon, Abby” katanya lagi.
“Maksud kamu, ani ani?” tanyaku.
Dia tertawa menanggapi.
“Termasuk itu. Jadi kamu tidak usah seperti mereka, karena kamu bukan bagian dari mereka. Kamu calon istriku, hanya waktunya saja belum tepat” jawabnya.
Apa bisa aku percaya perkataan si om??. Soalnya perkataan dia soal keseragaman tampilan ani ani, memang seperti yang dia bilang. Aku jadi bingung…
“Kamu sudah benar dengan jadi dirimu sendiri, yang buat kamu mirip cupcake. Yang tampilannya menarik, lucu, menggemaskan, dan manis….Sweet Abby….my cupcake” jedanya pada diamku…
Cupcake?. Kenapa gak ke toko bakery aja ya si om kalo suka cupcake??.