Jangan baper!!!. Aku ingatkan lagi soal itu pada diriku sendiri. Kalo aku malah jadi bingung karena si om bilang aku calon istrinya, sementara di satu sisi, dia tidak juga menikahi aku. Jangan terlalu berekpektasi terlalu jauh, kalo si om bakalan nikahin aku, toh belum kejadian juga dia nikahin aku. Kalo aku pikirkan terlalu dalam, malah nanti timbul harapan dalam diriku untuk beneran bisa jadi istrinya. Itu sama aja, aku mulai baper dengan dengan segala bentuk perhatiannya padaku. Nanti ujungnya aku tidak focus pada rencanaku mengumpulkan uang sebanyak yang aku bisa, sebagai persiapan kalo suatu hari aku malah di tinggal si om. Jadi lebih baik focus pada kemungkinan terburuk, jadi aku tidak terlena oleh segala bentuk perhatian si om padaku. Lagian kalo aku masih butuh uang, gak usah melibatkan perasaan deh, nanti malah aku susah sendiri atau malah sakit hati. Aku lanjutkan aja kelakuanku yang mirip ani ani, karena tampilanku jauh dari standart gadis atau perempuan yang memang seorang ani ani.
Mulai bosan lagi nih aku dengan sering ke salon, karena tidak mungkin juga creambath setiap hari apalagi hair spa. Luluran juga tidak mungkin setiap hari. Jadi aku pergi ke salon untuk menata rambutku kalo aku memang mau menemui si om, atau pergi ke mall. Iya pergi ke mall.
Terkadang aku seperti orang yang kurang kerjaan dengan luntang lantung di mall dari menjelang siang sampai sore lagi. Tidak selalu beli sesuatu juga kalo aku sudah punya semua yang aku butuhkan. Masa beli terus tiap hari macam kosmetik, baju, tas atau sepatu. Gak akan ada habisnya juga kalo aku ikutin terus. Dari situ aku menyadari sesuatu. Kenapa orang kaya tidak segitunya ke salon, shopping terus, karena ya bosan, atau memang mau beli apa lagi kalo semua sudah mereka punya, atau karena sudah biasa mereka ke salon, atau shopping. Belanja bulanan ke supermarket aja, malas banget dan lebih baik menyuruh pembantu, karena hal yang justru buat cape. Belum lagi kalo sekalian membereskan apa yang mereka sudah beli.
Berbeda dengan perempuan dari kalangan mendang mending, yang ke salon atau shopping saat punya uang aja. Jadi selalu antusias atau malah berharap bisa lakukan itu sesering mungkin. Macam pergi belanja ke mini market aja happy banget. Coba kalo akhirnya mereka punya banyak uang. Pasti akan seperti aku yang akhirnya bosan atau bingung mau beli apa lagi, kalo semua sudah aku punya. Jadi kalo pergi ke mall, paling aku jalan jalan aja sampai aku cape atau lapar, lalu makan di restoran trus nongkrong di coffee shop. Setelah itu aku pulang. Tapi saat si om tau kelakuanku, malah dia ngomel.
“Di mall?” tanyanya setelah aku jawab pertanyaannya soal keberadaanku.
Aku memang tidak suka bilang kalo tidak di tanya. Dan dia memang selalu menghubungi di malam hari, mungkin setelah dia lepas kesibukan. Mana ada dia cari aku pagi pagi, siang siang, atau sore hari. Orang sibuk macam si om, mana punya waktu. Jadi gak usah ribut soal prioritas ke si om, nanti malah aku baper, karena merasa tidak masuk skala priotas untuk dia cari atau dia telpon. Kalo dia mau kami bertemu dan aku temani, baru dia bisa cari aku dari pagi, atau menjelang siang.
“Emang kenapa?” jawabku.
“Sendirian?” tanyanya lagi.
“Kalo aku gak kenal orang sekeliling mall, ini artinya apa?” jawabku.
“Astaga…Abby…” desisnya bercampur geraman.
Kenapa mesti marah sih??. Aku ke mall doang.
“Kamu mau aku temuin kamu ya?” tanyaku gantian.
“Tunggu situ, cepat bilang kamu di mall mana dan berada di bagian mana mall” perintahnya.
Ya aku nurut dong kasih tau, di mana keberadaanku. Dan tidak ada satu jam, tau tau dia sudah muncul di hadapanku.
“Ini seriusan kamu luntang lantung di mall doang?” tanyanya sampai tolak pinggang segala.
“Kenapa sih?” jawabku jadi kesal sendiri.
Memangnya aku bocah SD. Bocah SD aja banyak yang jalan jalan ke mall masih dengan seragam mereka dan tanpa orang tua, tapi bersama teman mereka.
“Beneran tidak ada yang kamu beli, atau niat kamu beli?” tanyanya mulai melepaskan tolak pinggangnya tapi bertahan berdiri sampai aku malu karena jadi pusat perhatian.
Dia pikir orang, aku sedang di marahi bapakku kali ya??. Soalnya dia masih pakai stelan jas yang dasinya sudah dia buka.
“Uangmu habis untuk beli sesuatu yang kamu mau?” tanyanya lagi.
Aku bertahan diam, karena malas menimpali.
“Ayo aku temani kamu mau beli apa dan aku yang akan bayar. Jangan buat aku malu dengan kamu luntang lantung di mall tanpa beli apa pun” paksanya karena dia menarik tanganku.
Mau nolak apa berontak, tentu tidak bisa. Udah lebih baik nurut mengikuti langkahnya menyusuri mall, dengan dia merangkul bahuku. Yang lucu, aku beneran seperti anak bocah dari sisi penampilanku yang hanya pakai celana hotpants jeans, kaos dan sepatu kets, sementara si om rapi dengan setelan kerjanya berupa jadi. Fiks!!, aku dan dia seperti anak dan ayahnya.
“Ayo Abby, mau beli apa?. Jangan buat aku semakin kesal” omelnya lagi.
Dan karena lewat toko perhiasan, jadi aku bilang mau beli perhiasan.
“Sana pilih perhiasan apa yang mau kamu beli, nanti aku bayar kalo uangmu kurang atau habis. Gak usah ngambek” perintahnya setelah mengajakku masuk toko perhiasan.
“Beneran?” tanyaku memastikan.
“Astaga…Abby…Kamu beli sekalian cincin pernikahan buat kita nikah juga boleh” jawabnya.
“Kamu aja itu mah. Urusanmu, masa aku yang pilih sih” jawabku.
Dia geleng geleng dulu.
“Iya okey, buruan Abby. Aku harus jawab telpon ini” katanya karena lalu handphonenya berdering.
Ya di suruh, ya aku nurutlah. Bagian milih cincin pernikahan, kenapa aku tolak?. Nikahnya aja belum tau kapan, ngapain aku pilih sekarang?.
Dan beneran aku di biarkan memilih, kalo si om malah sibuk menjawab telpon dan agak menjauh dari aku. Ya aku pilihlah, gelang, kalung juga anting anting dan aku lewatkan bagian cincin. Dan aku tidak tanyakan berapa harga gelang, kalung atau anting anting yang aku pilih. Gak usah takut tidak di bayar oleh si om, uang dia banyak, sekalipun aku tidak berniat minta di belikan cincin, kalung atau gelang sekaligus. Salah satu juga cukup kok, kalo selain perhiasan emas, juga ada berliannya kok. Pasti harganya mahal juga. Lumayankan untuk simpanan asset atau harta benda versi aku, kalo perhiasan juga bisa di jual atau aku gadai saat aku butuh uang cepat nantinya. Kalo memang aku butuh dan sudah tidak bersama si om lagi.
“Istri saya mau perhiasan yang mana?” tanya si om setelah bergabung denganku lagi setelah dia selesai menjawab telpon.
“Ini pak” lapor pelayan yang melayaniku sejak tadi menunjuk baki berisi dua pasang anting, tiga gelang dan dua kalung berikut bandulnya.
Si om lalu mengangguk.
“Ada lagi gak yang kamu mau pilih, sayang?” tanyanya menoleh ke arahku.
Aku diam dulu lalu menggeleng.
“Kamu yakin?, mumpung kita di sini” tanyanya.
Aku mengangguk saja, dan tidak ekspektasi kalo si om minta semua pilihanku di bungkus. Aku pikir hanya akan di pilih satu satu atau malah belikan satu jenis aja, anting, kalung atau gelang yang aku pilih. Sampai aku tidak bisa berkata apa pun sejenak.
“Kamu beliin semua yang aku pilih?” tanyaku menjedanya mengeluaran kartu hitam di dompetnya.
“Tadi aku tanya masih ada yang lain yang kamu mau pilih atau beli gak?. Kamu malah menggeleng. Jadi mau kamu gimana sih?” malah ngomel.
Aku sontak tertawa menanggapi. Dan dia geleng geleng menatapku sebagai reaksi.
“Abby….” tegurya menjeda.
‘’Kalo gitu aku boleh beli semua yang ada di toko ini gak?” gurauku sambil merangkul lengannya.
Dia berdecak menanggapi.
“Silahkan saja, aku tinggal bayar. Tapi janji sama aku, kamu akan pakai perhiasan yang sudah aku belikan, boleh secara bergantian, yang penting kamu pakai semua” jawabnya.
Aku tertawa lagi.
“Bercanda sayang…udah cukup kok” jawabku lalu ganti memeluk pinggangnya.
Apa yang dia belikan saja sudah seharga ratusan juta atau malah sampai 1 milyar. Aku kan lihat notanya. Tapi receh kali buat si om, kalo dia santai aja merangkul bahuku keluar toko perhiasan dan ikutan tertawa saat aku tertawa senang menenteng paper bag berisi perhiasan yang dia belikan.
“Besok lagi ya kalo masih ada yang mau kamu beli. Aku cape, Abby baru selesai mengurus pekerjaanku dan aku suntuk sekali” katanya padaku.
Ya pasti suntuk makanya cari aku untuk buat dia senang.
“Besok kamu gak ada kerjaan?” tanyaku dulu.
“Dua hari aku free sampai lusa, jadi temani aku ya?” pintanya.
“Waktuku selalu ada untukmu sayang” jawabku lalu mencium pipinya.
Dia sontak terbahak lalu mengeratkan rangkulan tangannya di bahuku. Siapa juga mau temenin dia dua hari doang, kalo di belikan perhiasan seperti aku. Iya gak sih?.
“Wait, darling!!” jedaku.
“Apalagi Abby…Aku cape…Please jangan buat aku pusing dengan kelakuanmu yang susah aku tebak” protesnya.
“Aku mau beli itu” tunjukku pada sebuah toko lingerie.
Langsung tertawa dong.
“Boleh?” tanyaku.
“Dengan senang hati, cupcake” jawabnya.
Pasti bolehlah minta di belikan lingerie. Memang kalo kami hanya berduaan di kamar hotel, aku hanya di perbolehkan memakai lingerie dengan dia yang hanya pakai celana piama atau celana traning dan tidak pakai baju.
“Cupcake…kamu semakin mengerti caranya menyenangkan aku…” komennya setelah kami berada di kamar hotel dan aku sudah siap memakai lingerie yang aku beli dan dia suruh pakai.
Aku tertawa saja sambil mendekat padanya yang menungguku dengan bersandar di kepala ranjang.
“Karena kamu selalu berusaha juga menyenangkan aku, darling…” jawabku sebelum akhirnya aku di gagahi lagi oleh si om sampai dia merasa puas lalu aku di biarkan tidur sendirian lagi di ranjang.
Bodo amat dia tidur di mana. Untuk apa aku pikirkan atau aku tanya. Aku juga tidak pernah melihatnya tidur dan selalu sudah terjaga tiap kali aku bangun tidur. Yang penting harta benda dan aseet versi aku untuk persiapan kalo suata saat dia meninggalkan aku, semakin bertambah banyak, terutama uang di rekeningku.
“Jangan sekali sekali luntang lantung di mall sendirian lagi, dan tidak ada yang mau beli. Buang waktu!!” dan aku anggap ini sebuah perintah, jadi aku turuti.
Lebih baik pergi ke mall dengan si om jugakan??. Mau beli apa aja, berapa pun harganya tinggal aku minta. Jadi aman saldo di rekeningku yang juga terus bertambah sampai jumlahnya ratusan juta. Suntuk sih jadinya kalo mesti di rumah trus dan di dalam kamar trus, kecuali aku berniat jajan atau beli makan. Soalnya aku semakin malas juga kumpul dengan om dan tanteku, kalo ujungnya uang. Jadi jangan salahkan aku kalo malah senang tiap kali si om minta aku menemuinya, dan mengirim mobil jemputan.
“Kita mau kemana Yang?” tanyaku karena arah jalannya tidak menuju hotel miliknya tempat kami biasan bertemu.
“Temani aku clubbing ketemu teman temanku” jawabnya.
“Clubbing?” tanyaku karena bajuku tidak cocok untuk masuk club.
Masa pakai celana pendek, karena si om suka aku pakai hotpant apa pun, karena suka kakiku. Tapikan atasan yang aku pakai saat ini, crewneck oversize yang sedang hits di kalangan anak gaul Jakarta. Juga sepatu kets. Sudah malam juga saat si om jemput aku, itu alasanku pakai crewneck. Dia juga tidak pernah komplen atau mengomentari penampilan aku, mau aku pakai baju apa pun.
“Iya Abby, gak akan lama kalo kamu ikutan. Aku nantinya bisa jadikan kamu alasan untuk cepat pulang” jawabnya.
“Tapi bajuku?” tanyaku lagi.
“Astaga…memang kamu mau pakai baju apa?. Sudah begitu sudah bagus, supaya kamu tidak kedinginan di dalam club nantinya” jawabnya.
Tapikan buat aku seperti ada di tempat dan waktu yang salah, kalo cewek cewek yang di bawa teman teman si om, yang separuhnya bule, rata rata keren keren sekali dengan dress mini, tanktop dan skiny jeans, lengkap dengan high heels di kaki mereka. Jadi aku cemberut trus setelah duduk manis di sebelah di om yang tertawa terus bersama teman temannya semasa kuliah di London.
“Hei…jangan ngambek sekarang cupcake” bisik si om menyadari juga kalo aku diam saja.
Gak ada yang ajak aku bicara, cewek ceweknya terutama. Pasti mereka pikir aku anak kecil, sementara mereka wanita dewasa, walaupun mereka semuda aku.
“Aku macam bocah SD, Yang. Kamu juga gak bolehin aku ikutan minum” keluhku.
Malah tertawa. Buat aku makin kesal aja. Gak tau aja dari tadi tuh cewek cewek lihatin si om terus seakan aku tidak ada, dan mereka tidaka degan lelaki yang membawa mereka bergabung. Ada kali sekitar 6 pasang. 4 orang lelakinya bule, termasuk si om, dan 2 lainnya berparas lokal. Tapi semua ceweknya produc lokal sepertiku. Eh, satu cindo deh.
“Nanti kamu mabuk. Aku juga yang repot cupcake” jawab si om.
“Tapi aku jadi ngantuk” protesku.
Malah lihat jam tangannya.
“Sebentar lagi kita pulang” jawabnya lalu ngobrol lagi dengan teman temannya.
Beneran buat aku kesal. Soalnya aku semakin tidak di anggap oleh cewek cewek yang lain, dan mereka malah sibuk lirik lirik si om. Maksudnya apa coba??. Gak cukup apa sama laki yang bersama mereka?. Dasar ani ani!!!, dan mereka serupa seperti yang si om bilang sebelumnya padaku. Jadi aku mesti cari cara supaya mereka tidak ganggu si om, punya aku sista!!.
“Mau kemana, sayang!!” jeda si om mencekal tanganku saat aku bangkit berdiri.
“Aku ngantuk” jawabku.
Malah aku di tertawakan, termasuk si om yang bertahan mencekal tanganku dan dia tetap duduk.
“Astaga!!!” pekik salah satu teman lelakinya saat aku malah merangkak naik ke pangkuan sih om lalu duduk mengangkang di atas pangkuannya.
Si om juga tertawa menanggapi kelakuanku, mungkin lucu kali. Bodo amat. Kalo dia marah, pasti tidak akan membiarkan kelakuanku dan malah memelukku juga setelah aku memeluk tubuhnya dan menyandarkan kepalaku di bahunya, persis anak kecil yang memang sudah ngantuk. Bodo amat juga sofanya kotor karena aku tidak melepas sepatu yang aku pakai.
“Calon istriku memang semanja ini, dan aku semakin terbiasa” kata si om lalu mulai mengusap punggungku.
Gak marah berartikan pada kelakuanku?. Terus malah sesekali mencuri cium pipiku. Temannya pun ikutan tertawa seperti si om.
“Untuk itu aku memanggilnya cupcake, karena memang menggemaskan seperti ini” kata si om lagi dan teman temannya tertawa lagi.
Udah fiks gak marah dong.
“Sudah bobo, cupcake. Sebentar lagi kita pulang” perintah si om dan bertahan mengusap punggungku lalu santai melanjutkan obrolan.
Jadi beneran ngantuk akunya. Mending aku tidur beneran, gak mungkin juga aku di tinggal si om juga, yakan??. Dan yang terpenting, aku sudah kasih sinyal ke cewek cewek berlebel ani ani lain, kalo si om segitu perhatiannya sama aku, jadi jangan ganggu om aku ya sista. Cari yang lain sana!!, om aku gak suka cewek dengan label ani ani yang buat dia bosan.