13.Cantik Versi Om Drey

2585 Kata
“Abby….” suara si om. Tapi lalu aku abaikan. “Cupcake…ayo bangun….” katanya lagi bersamaan ciumannya di bahuku. Baru deh aku mengerjapkan mataku dan ternyata aku beneran ketiduran dan bertahan di pangkuan si om seperti posisiku semula sebelum aku terlelap. “Jam berapa?” tanyaku sambil melepaskan pelukanku pada tubuhnya lalu menatap sekelilingku. Masih di ruangan private club yang kami datangi, dan yang lain sudah bersiap pulang. “Jam 3 pagi. Ayo pulang, kamu mau aku gendong atau bisa jalan sendiri?” tanya si om. Bilangnya sebentar lagi pulang sebelum aku tidur tapi malah pulang hampir subuh dan club bersiap tutup. “Aku bisa jalan sendiri” jawabku mengabaikan genk cewek yang di bawa teman temannya. Mau ketawain aku terus kali??. “Okey…” jawabnya dan buat aku harus bangkit dari pangkuannya. “Hup!!” pekik si om menangkap tubuh limbungku. Yang lain tertawa lagi, dan pasti tertawakan aku. “Ayo buruan pulang, aku masih ngantuk” ajakku menarik tangan si om untuk menjauh dari teman temannya. Bodo amat dia tidak pamitan karena dia menuruti kok dengan ikut kemana pun aku bergerak. Tapi ya tetap mesti pamitan juga. Dan aku sebenarnya tidak masalah si om pamitan dengan teman temannya, tapi kenapa tuh cewek cewek teman temannya mesti banget peluk dan cium pipi si om. Mau bilang itu pamitan ala bule?. Aku aja tidak melakukan itu pada cowok yang bersama mereka. Aku hanya salaman doang. “Are you okey, cupcake?” tegur si om. Aku mengangguk saja lalu bersandar di jok mobil lalu menatap keluar kaca jendela mobil. Si om juga tidak bicara lagi setelah menyuruh supir segera bergerak ke hotel miliknya dan tempat biasa kami tinggali bersama. “Sana lanjutkan tidurmu” perintah si om setelah kami masuk kamar hotel. “Kamu?” tanyaku padanya. “Nanti aku menyusul” jawabnya. Pasti gara gara ketemu tuh rombongan cewek cewek ani ani. Masa sampai gak minat melakukan hal yang biasa kami lakukan saat kami bertemu?. Sampai buat aku kehilangan kantukku. Jadi jangan heran kalo kemudian aku menyusul si om keluar kamar yang biasa aku tempati setelah aku bersih bersih, dan memakai lingerieku. “Hei…kenapa kamu tidak lanjut tidur?” tanyanya ternyata masih santai merokok dan minum lagi. Aku menghela nafasku dulu. “Aku gak ngantuk lagi” jawabku dan bertahan berdiri di hadapannya yang santai duduk bersandar di sofa paling ujung. “Okey…aku temani sampai kamu ngantuk” jawabnya lalu bergerak mematikan rokoknya di asbak dan menaruh gelas tinggi berisi minuman beralkohol pastinya karena warnanya seperti air pipis. Langsung aku bergerak berlutut lalu mengusap pahanya. “Abby…” tegurnya mencekal tanganku mencegahku mengusap pahanya sambil tertawa. “Aku kepengin, masa kamu gak” jawabku dengan wajah cemberut. Dia tertawa menanggapi dan aku yakin dia tau maksudku. “Not now cupcake” jawabnya masih tertawa. “Kenapa memangnya?. Bukannya kalo kamu cari aku, artinya kamu kepengin juga?” jawabku. Soalnya gak pernah juga si om secara vulgar bilang mau tidurin aku. “I know cupcake…” jawabnya lalu melepas tanganku yang dia cekal dang anti meraup wajahku dengan kedua tangannya lalu mencium bibirku. “Ayo makanya” rengekku memaksa dengan berusaha membuka gesper yang dia pakai. Dia tertawa lagi menanggapi jadi aku pikir dia tidak marah dengan kelakuanku. “Abby….” tegurnya saat aku menarik keluar gesper yang dia pakai lalu aku abaikan dengan melempar asal gespernya tidak tentu arah. Aku lalu membuka kancing celananya dan menurunkan resleting celananya. “Buka!!, jangan kamu aja yang bisa buat aku menurut pada apa yang kamu mau” omelku. Dia tertawa lagi lalu menurut juga mengangkat bokongnya sampai aku bisa menarik keluar celana yang dia pakai. Kalo sepatu berikut kaos kaki sudah dia lepas sebelumnya. “Abby!!” tegurnya menjeda gerakan tanganku yang berhasil mengeluarkan miliknya dari balik boxer. Aku jadi menatapnya setelah aku hinderi terus tatapannya dari tadi. “Aku sedang mabuk cupcake!!. Aku bisa saja berlaku kasar saat kita…” “Aku mau tau, kamu bisa sekasar apa” jawabku sebelum menyerangnya dengan mulutku. “Here we goes…” desisnya lalu membiarkan kelakuanku. Malah dia mengumpulkan rambutku yang tergerai supaya tidak mengganggu pergerakan mulutku membangunkan miliknya. “You full of surpise cupcake” komennya sebelum akhirnya bersandar di sofa dan menikmati kelakuanku. Ya tetap satu tangannya memegang rambutku lalu sesekali mengawasi kelakuanku dengan mulut yang terangang atau malah megap megap. Sampai aku berhenti saat aku malah mulai menegang juga. Alamih bukan??. “Buka bajumu!!” kataku. Tapi ujungnya aku juga yang membuka satu persatu kancing kemeja yang dia pakai, karena dia malah tertawa lagi. “Okey, kita pindah ke kamar” ajaknya menjeda saat aku berniat naik ke pangkuannya. Yang penting dia tidak nolak aku, jadi aku biakan dia menggendong tubuhku ke kamar lalu mendudukan aku di tepi ranjang. “Jangan salahkan aku, kalo akhirnya aku mengasarimu. Dan jangan berharap aku akan berhenti sebelum aku merasa puas” katanya sambil melepas kemeja yang kancingnya sudah aku buka. “Aku tidak takut!!” jawabku. Dia tertawa dulu sebelum akhirnya menarik keluar lingerie yang aku pakai lalu menindihku di ranjang. Tentu bersamaan gerakan tangannya melakukan penyatuan kami. “ACH!!!” pekikku karena seperti di paksakan masuk. “Aku sudah bilang, bisa saja mengasarimu. Tapi kamu malah menantangku” jawabnya sebelum bergerak cepat dan lebih kasar dari biasanya. Sakit dikit di awal doang kok, setelahnya biasa aja. Atau karena aku semakin terbiasa dengan ukuran si om. Tapi ya memang lebih kasar dari biasanya kalo aku seperti tidak di beri jeda walaupun untuk sekedar bernafas. Hayo aja terus bergerak cepat, dalam dan menusuk sampai aku tidak sadar jerat jerit tidak jelas. Dan tidak saja pergerakannya yang cenderung lebih kasar, ciumannya juga kasar juga, begitu juga pergerakan remasan tangannya, sampai dia sempat mencekik leherku. Belum lagi urat di dahinya yang mencuat keluar, dengan wajah yang memerah. Ternyata pengaruh alcohol memang sekeras ini ya??. Tapi anehnya malah aku tersulut gairah juga, kalo aku malah punya keberanian membalik posisi kami saat si om melemah sebentar untuk mengambil nafas. Jadi aku yang berada di atasnya tanpa melepaskan penyatuan kami. “Berani melawanku?” ejeknya sambil tertawa. “Aku sudah bilang, aku tidak takut” jawabku. Malah dia tertawa lagi saat aku bergerak semakin liar layaknya penunggang kuda di atas tubuhnya. Gantian dia yang kelihatan kewalahan sampai tangannya seperti berusaha menghentikan pergerakan liarku. Tapi tentu tidak berhasil sampai aku merasa cape bergerak. Ini bukan soal aku yang berusaha mengejar lagi titik kenikmatan yang memang aku rasakan tiap kali aku di gagahi si om. Aku tidak focus di situ, kalo fokusku malah berusaha membuat si o*******g. “Cape?” ledeknya padaku. Dan malah buat aku geram. Yang harusnya cape itu dia, karena dia lebih tua dari aku. Aku masih muda. “No, aku hanya mau ganti posisi” jawabku lalu berbalik memunggunginya dengan posisi yang buat aku harus jongkong setelah aku melakukan penyatuan kami. “Oh…cupcake…” desisnya setelah aku bergerak lagi. Dan tangan si om akhirnya bergerak meremas bokongku. Dia bisa lakukan itu, karena memang bokongku jadi menghadap wajahnya. Itu sebelum akhirnya dia berhasil bangkit terduduk untuk meremas dadaku dari belakang. “Argh….Abby…kamu memang semanis ini…” komennya sebelum menggigiti bahuku atau punggungku. Sesuka dialah. Aku bisa juga abaikan rasa sakit gigitannya di bahu atau punggungku. Bukan mode gigit aku yang gimana gimana juga. “STOP!!” jedanya tak lama kemudian dan buat aku berhenti. “Kenapa?”tanyaku sambil menoleh ke belakang mencari wajahnya. Bukan jawab, malah mencari bibirku untuk dia cium. “Ganti posisi” pintanya. Okey, siap juragan. Jadi mesti banget aku nungging di ranjang lalu membiarkan dia intens meremas bokongku. Tentu tetap dengan penyatuan kami. Kenapa suka banget di posisi aku mesti nungging terus di hajar dari belakang sih??. Dan kali ini, aku mesti membiarkan rambutku di jambak ke belakang, setelah aku biarkan juga tangannya meremas dadaku kencang sekali. Tidak cukup sampai situ, kalo tanpa bicara lagi, dia menarik tanganku sampai aku turun dari ranjang lalu memposisikan tubuhku nungging lagi, tapi kali ini dari posisiku berdiri memunggunginya dan tanganku bertumpu pada tepi ranjang. Ampun ampunan kalo sekarang. Asli deh,beneran aku di hajar tanpa ampun oleh si om. Sampai aku sibuk mikir, sampai kapan si om berhenti bergerak. Soalnya jadi lama sekali, dan bukan enak lagi rasanya, kalo tidak hanya milikku yang mulai terasa sakit, tapi perutku juga rasanya mulai kram karena berusaha menerima atau menahan gerakan mendorong si om yang kuat sekali. Jadi jangan heran kalo begitu si om selesai muntah sampai menetes di lantai kamar, lalu aku beneran pipis di lantai kamar juga, lalu aku melorot di lantai kamar, dengan tubuhku yang benar benar terasa lemas. “Abby!!!” jerit si om terdengar panik saat meraup tubuhku di lantai dengan nafasnya yang terengah. Sampai aku tidak bisa berkata kata lagi selain nafas tersengalku. “Cupcake…so sorry…” desisnya lalu mencium wajahku. Beneran aku di buat tepar kali ini oleh si om. Dan sebelumnya tidak pernah. Untuk itu aku lebih pasrah lagi pada apa yang dia lakukan kemudian. Ternyata dia menggendongku ke ranjang lalu membaringkan aku. “Abby…” panggilnya lagi sambil sibuk memeriksa setiap bagian tubuhku sampai ke bagian bawah tubuhku. Aku sudah tidak berdaya sama sekali. “I hurt you?” tanyanya setelah beralih menatapku lalu menciumi wajahku lagi. “No…cape…” jawabku susah payah. Lalu dia lepas aku juga, entah kemana. Kamar mandi mungkin, karena ada suara keran air yang di buka lalu tak lama dia kembali. Ternyata membasahi handuk kecil mirip handuk olah raga lalu mengelap tubuhku. “Aw…” desisku tepat dia mengusap bagian bawah. Dia lalu meringis saat tatapan kami bertemu. “So sorry Abby…” ungkapnya lalu bergerak mencium wajahku lagi. “I’m okey…cape doang…” jawabku menjeda kelakuannya. Dia menghela nafas menanggapi. “Okey…pakai bajumu dulu, baru kamu tidur dan aku gak akan ganggu kamu sampai kamu bangun sendiri” jawabnya. Aku mengangguk. Biasanya juga gitu. Aku selalu di biarkan bangun sendiri. Lalu aku biarkan dia mencari baju gantiku juga celana dalam untukku, tanpa bra. “Buruan Drey…aku cape…” rengekku menjedanya yang sempat berhenti memakaikan aku celana dalam. Dia menghela nafas dulu lalu bergerak memakaikan celana dalam untukku lalu memakaikan aku baju. Lingerie juga sih ujungnya. Betterlah dari pada aku telanjang. “Okey, sekarang kamu tidur” perintahnya setelah menyelimuti tubuhku dengan dia yang masih telanjang. “Aku mau kamu temani tidur” jawabku. “Okey…aku ke kamar mandi dulu. Just for a minute” jawabnya. Aku mengangguk lalu dia bergerak ke kamar mandi. “Drey…” rengekku menjeda langkahnya keluar kamar setelah dia dari kamar mandi. “Aku hanya cari baju ganti, sebentar aku kembali” jawabnya. Kirain mau tinggalin aku. Tapi ternyata beneran balik ke kamar lagi setelah dia pakai celana piama dan telanjang d**a tentunya. Lalu bergabung denganku di ranjang. “Come Abby…” undangnya sambil menarik tanganku supaya bisa dia peluk. Aku menurut menyusup dalam pelukannya lalu aku rasakan ciumannya di pucuk kepalaku. “Sleep tight cupcake” katanya. Aku mengangguk dalam pelukannya lalu memejamkan mataku. Boleh gak sih minta ke si om mabok trus kalo akhirnya dia bersedia menemaniku tidur?. Soalnya saat pagi datang lalu aku terbangun untuk pipis, dia ternyata masih temanin aku tidur dengan tidur juga. Nyaman juga tenyata tidur di temanin si om. Tenang banget gitu cara tidurnya. Tidak ngorok juga. “Abby…mau kemana?”tanyanya ternyata ikutan bangun tepat aku turun dari ranjang. “Aku mau pipis” jawabku. “Okey…kembali lagi ke tempat tidur setelah itu. Aku masih ngantuk dan kamu butuh istirahat” jawabnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. Artinya dia beneran tidur jugakan?. “Memangnya aku mau kemana?” jawabku. Eh malah susul aku ke kamar mandi. “Are you okey?” tanyanya menjedaku pipis. “Ya…” jawabku. “Okey…” jawabnya lalu gantian pipis setelah aku selesai. Jadi aku tinggal keluar kamar mandi lalu naik ke ranjang lagi lalu dia bergabung. “Kamu lapar?” tanyanya setelah memelukku lagi di tempat tidur. Aku menggeleng. “Okey, ayo bobo lagi cupcake” ajaknya tapi sempat mencium pipiku dulu. Ya pasti aku menurut. Kapan lagi juga bisa tidur di temani si om. “Hei…” protesnya saat aku justru berbalik memunggunginya. “Mau di peluk kamu dari belakang” jawabku. Dia tertawa pelan saat aku menarik tangannya untuk memeluk pinggangku. “Drey…” tegurku menjeda matanya yang bersiap terpejam. “Hm…” jawabnya. “Janji jangan bangun duluan dan tinggalin aku bobo sendiri” pintaku. “Hmm…bobo” jawabnya. “DREY!!!” jedaku lagi karena dia tidak jawab permintaanku. “Astaga Abby…ya aku janji” jawabnya kesal. Aku jadi tertawa lalu berbalik lagi untuk melanjutkan tidurku. Dia juga bertahan memeluk pinggangku, malah sempat merapatkan tubuhku ke tubuhnya lalu kami terlelap lagi. Tapi malah aku tetap di tinggal dengan dia bangun lebih dulu. Jadi aku cemberut saat akhirnya menemukannya sudah duduk di meja makan dan sedang makan. “Come!!, ini sudah waktunya makan siang” undangnya padaku. Aku bergerak mendekat lalu duduk di kursi makan di hadapannya dengan wajah cemberut. “Aku kelaperan, jadi gak usah ngambek, kalo aku sebelumnya berniat menemanimu tidur lagi setelah aku selesai makan” jawabnya pada tatapan cemberutku. “Kamu memangnya gak kerja?” tanyaku. “Hari ini waktuku untukmu cupcake” jawabnya. Tertawalah aku dan dia geleg geleng. “Ayo makan. Kamu pasti kelaperan juga kalo sampai bangun tidur sendiri” perintahnya. Ya makanlah aku. Memang aku lapar. “Abby!!, dengar aku” pintanya setelah dia selesai makan lalu selesai merokok juga. Aku mengangguk karena mulutku penuh makanan. “Kamu harus tau, kalo aku tidak suka perempuan bergaya, tapi tentu aku suka perempuan cantik” katanya lagi. Sontak aku berhenti makan lalu menatapnya. “Maksudmu?” tanyaku jadi deg degan. “Kamu ngerti perbedaan perempuan bergaya dan perempuan cantik?” tanyanya. Aku menggeleng masih dengan debaran jantungku. “Aku tidak suka perempuan yang bergaya supaya mereka kelihatan cantik. Sampai mereka memaksakan diri sampai melakukan apa pun untuk kelihatan cantik. Itu yang buat aku memilihmu yang memang dasarnya sudah cantik dalam versiku” katanya lagi. Aku tersenyum dulu menanggapi. “Rasanya aku sudah bilang padamu, supaya kamu jadi dirimu yang seperti sekarang tanpa kamu perlu berusaha kelihatan cantik dengan berdandan berlebihan, atau merubah apa pun yang ada pada dirimu sekarang, karena versi kecantikan perempuan di mata lelaki jelas berbeda. Jadi jangan kamu paksakan hal itu. Jadi tetaplah kamu percaya diri karena kamu sudah masuk kategori cantik versiku. Tidak perlu kamu merasa inscure saat berdekatan atau berhadapan dengan perempuan yang menurutmu cantik, karena belum tentu perempuan yang menurutmu cantik masuk kategori cantik versiku” katanya lagi. Aku jadi tersenyum menatapnya. “Memang tidak banyak perempuan yang menyadari kecantikan dirinya karena mindset mereka terlajur terbentuk untuk ikut mengakui standart kecantikan yang di akui banyak orang. Perempuan seperti itu bodoh, Abby. Kamu jangan sebodoh mereka. Untuk apa mengikuti standart kecantikan yang di akui banyak orang, kalo kamu berniat kelihatan cantik hanya untuk satu orang lelaki. Nantinya kamu akan buang waktumu dan merasa cape, karena seperti aku bilang, setiap lelaki punya versi sendiri menilai kecantikan seorang perempuan. Dan tidak akan aku biarkan kamu melakukan hal bodoh dengan berusaha cantik untuk lelaki lain juga apalagi berusaha cantik untuk banyak lelaki lain di luar sana. Kamu milikku Abby. Jadi jangan kamu lalu protes kalo aku lebih suka kamu menjauhi keramaian, yang berpotensi membuatmu bertemu dengan lelaki lain yang bisa saja punya versi kecantikan perempuan yang sama sepertiku” tutup si om. Aku tidak ngerti sih, jadi aku mengangguk saja. Apa mungkin itu yang buat si om malah marah saat tau aku keluyuran di mall lagi seorang diri, sementara akunya merasa bosan dan kesepian saat kami harus terpisah sementara waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN