Setelah makan siang yang hampir ketelatan, lalu dia mengajakku mandi. Tidak sepenuhnya mandi bareng sih, dan dia mengajakku masuk kamar yang selalu dia pakai saat kami berada di hotel. Yakan kamarnya terpisah, dan aku tidak pernah tanya kenapa harus begitu.
“Abby…kamu mau berendam gak??” jedanya saat aku mengawasi keliling kamar yang pastinya lebih besar dari kamar yang biasa aku tempati.
Ada meja kerja juga lengkap dengan laptop dan setumpuk map berisi berkas kali ya. Alat tulis dan gulungan kertas yang aku tebak itu kertas gambar.
“Okey” jawabku lalu menurut menyusulnya ke kamar mandi.
Ternyata kamar mandinya lebih bagus lagi. Dua atau tiga kali lebih luas dari kamar mandi di kamarku. Bathtubenya aja besar banget mirip kolam renang kecil. Dan aku biarkan si om sibuk mengisi bathtube itu dengan air dan sabun juga.
“Come cupcake!!” undangnya setelah air mandiku siap.
Aku mendekat setelah melepaskan lingerie yang sebelumnya aku pakai. Aku tuh udah hilang rasa malu di depan si om. Percuma juga, kalo kami sudah terbiasa telanjang bersama.
“Kamu tidak ikutan berendam?” tanyaku karena dia hanya mengawasiku berendam.
“No…take your time Abby. Aku hanya akan mandi biasa saja” jawabnya lalu mengusap rambutku.
Ya udah kalo gak mau gabung berendam. Aku jadi terbebas dari kemungkinan di gagahi lagi di bathtube. Mulai nyanyi nyanyilah aku sambil main sabun di air mandiku, dan si om tertawa dulu sebelum masuk bilik shower untuk mandi. Sempat sikat gigi dulu sih dan mencuci muka juga mencukur bewoknya. Hal biasa yang dia lakukan, jadi aku biarkan.
“Cupcake, aku duluan ya!!. Jangan terlalu lama berendam. Setidaknya sampai airnya berubah dingin” katanya saat setelah mandi dan sudah handukan lalu mendekat padaku di bathtube.
Aku mengangguk saja supaya dia cepat keluar kamar mandi. Soalnya menyenangkan sekali bisa berendam tuh. Tapi ujungnya di susul juga oleh si om setelah dia sudah berpakaian santai, macam kaos dan celana pendek.
“Hei, ayo udahan, nanti kamu masuk angin” omelnya menjeda keasyikanku berendam sambil tolak pinggang.
“Sebentar lagi” tolakku.
“Sudah hampir satu jam. Dan aku rasa kulitmu sudah cukup keriput karena kelamaan berendam” jawabnya.
Sontak aku melihat kedua telapak tanganku yang jarinya mulai keriput. Aku jadi tertawa.
“Kamu tau loh, hebat banget sih” komenku.
Tapi dia berdecak menanggapi.
“Bukan prestasi kalo aku tau soal itu tadi. Ayo Abby” jawabnya memaksa.
“Ya…” jawabku setelah sempat tertawa lalu aku bangkit untuk keluar bathtube.
“Sana bilas dulu” perintahnya.
Suka banget perintah apa pun padaku, dan herannya aku selalu menurut. Tapi baik sih si om tuh, kalo selesai aku mandi, baju gantiku sudah ada di atas ranjang tidur yang sprainya masih rapi. Dianya malah sibuk dengan laptop yang terbuka dan juga handphonenya.
“Kalo kamu mau tidur lagi, di sini saja. Kamarmu sedang di bersihkan” katanya tepat aku selesai pakai tanktop tanpa bra dan celana pendek, pakaian yang dia suka aku pakai kalo sedang bersamanya.
Ingatkan kalo si om suka sekali dengan penampakan kakiku yang telanjang??.
“Kamu sibuk?, kamu bilang waktumu hari ini buat aku?” protesku pada kesibukannya di meja kerjanya.
“Wait, hanya ada email yang harus aku balas” jawabnya tanpa menatapku.
Enak aja, udah bilang waktunya untuk aku, kok ya malah urus kerjaan. Jadi aku bergerak mendekat padanya dan ganggu kesibukannya.
“Abby….” tegurnya tapi membiarkan tubuhku menghalanginya dari laptop.
Dan gak jelas kapan dia panggil aku, cupcake dan kapan panggil aku, abby. Sesuka dia aja.
“Gak mau. Lagian kamu kerja terus, kamu gak bisa santai sedikit apa?. Uangmu udah banyak, gak enak sama orang kalo kamu semakin kaya. Nanti malah banyak orang yang iri sama kamu” tolakku menyingkir dari hadapannya yang bertahan terduduk di kursi kerjanya.
Tuhkan dia tertawa menanggapi lalu bersandar di meja kerjanya mengawasiku.
“Mindset kamu itu, yang buat kamu jadi bagian orang miskin” komennya masih tertawa.
Aku cemberut aja menatapnya.
“Loh, kenyataankan??. Orang orang yang akhirnya masuk kategori orang miskin itu, selalu merasa perlu bersantai sebentar tanpa pernah berpikir, apa waktu kerja mereka lebih banyak dari waktu mereka bersantai. Kalo mereka kerja 8 jam sehari, lalu bersantai dua atau tiga jam saat mereka harusnya bekerja, itu sama artinya mereka hanya kerja 5 sampai 6 jam sehari. Mereka dapat apa??. Aslinya setiap orang punya waktu 24 jam sehari yang terpisah per 8 jam untuk mereka gunakan untuk bekerja selama 8 jam, untuk melakukan hobi atau bersantai atau melakukan aktivitas untuk diri mereka sendiri sebanyak 8 jam, dan 8 jam sisanya untuk istirahat atau tidur” katanya lagi.
Aku jadi diam menyimak.
“Jadi jangan berharap jadi orang sukses dan punya banyak uang, kalo mereka tidak bisa memanage waktu yang mereka punya dalam satu hari dan sama porsinya untuk setiap orang yang lain. Aneh sebenarnya kalo ada orang masuk kategori miskin atau kekurangan uang, lalu iri pada kesuksesan orang lain, tanpa berusaha mencari tau apa mereka sudah bekerja keras seperti orang yang mereka anggap sukses, sampai mengorbankan waktu mereka untuk istirahat, waktu mereka untuk keluarga, juga waktu mereka untuk bersenang senang” kata si om lagi.
“Kalo sudah segitu bekerja kerasnya seperti orang yang di sebut sukses dan banyak uang, lalu kesalahannya ada di mana?” tanyaku.
Si om tertawa dulu.
“Salah dari cara mereka memanage keuangan” jawabnya.
“Maksudnya?” tanyaku.
“Ya salah, kalo begitu mereka akhirnya punya uang dari hasil kerja keras mereka, lalu uang itu berujung untuk bersenang senang atau menyenangkan orang lain” jawabnya.
Aku sampai mengerutkan dahiku menatap si om yang tertawa lagi.
“Abby…orang yang bisa memanage keuangan, tentu tidak akan begitu saja memakai uang hasil jerih payah mereka bekerja keras dengan mudah hanya untuk pergi liburan, makan enak, yang menghabiskan uang mereka dengan cepat dengan alasan healing. Healing dari apa?, dari tumpukan pekerjaan?. Nonsense Abby. Manusia memang harus bekerja sepanjang hidup mereka untuk bertahan hidup. Jadi kalo sedikit sibuk atau cape sedikit karena pekerjaan lalu ribut butuh healing, ngapain hidup, mati aja” kata si om.
Aku sontak tertawa.
“Atau uang mereka hasilkan dari hasil bekerja keras lalu mereka beli barang barang branded yang sebenarnya tidak mereka butuhkan dengan alasan self reward. Nonsense!!, self reward terpenting untuk diri manusia itu makanan sehat dan tidak harus mahal, olah raga supaya tubuh tetap sehat, dan ketenangan pikiran yang selalu bersumber pada uang. Pada akhirnya untuk apa beli dan punya barang mewah atau branded kalo berujung dengan uang tabungan habis, atau malah punya hutang, pasti buat pikiran tidak tenang, kalo lalu sibuk berpikir gimana caranya dapat uang lagi” jeda sih om pada tawaku.
“Benar lagi, banyak yang akhirnya ke jebak pinjol atau pay later” komenku setuju kali ini.
Si om tertawa sambil mengangguk.
“Kerja keras yang akhirnya percumakan??” tanya si om padaku.
Aku mengangguk membenarkan.
“Lalu kerja keras yang akhirnya tidak buat seseorang jadi sukses dan kaya, ya karena uang mereka di pakai untuk menyenangkan orang lain termasuk keluarga. Persis kamu sebelumnya yang bekerja keras, tapi hasilnya kamu berikan pada om tantemu. Padahal mereka bukan tanggung jawabmu, dan kenyataan lain, jelas karena om dan tante kamu sebenarnya masih productive bekerja menghasilkan uang untuk diri mereka dan bukan membebani kamu” kata si om lagi.
Iya lagi…
“Lalu di mana anak anak mereka, kalo om dan tantemu mengklaim diri mereka sudah tua lalu tidak bisa maksimal bekerja karena alasan kesehatan??. Semua kembali ke om dan tante kamu saat mereka muda. Ngapain aja, selama mereka muda sampai di usia mereka sekarang lalu tidak punya tabungan atau aseet berharga untuk masa tua mereka atau untuk jadi modal anak anak mereka berusaha?. Jadi yang repot kamu atau anak anak muda lain yang terpaksa jadi generasi sandwid yang hasil mereka bekerja keras akhirnya harus di bagi ke orang lain atau keluarga?. Itu kenapa penting sekali punya kemampuan memanage keuangan semenjak muda dan bisa bekerja menghasilkan uang” kata si om lagi.
Benar lagi aja, kalo zaman sekarang banyak anak seumuranku terpaksa jadi generasi sandwid atau tulang punggung untuk keluarga. Terlepas soal rezeki orang tua mereka atau karena factor bukan terlahir di keluarga kaya, tentu bisa jadi karena orang yang di sebut orang tua, saat mudanya tidak punya kemampuan memanage keuangan.
“Abby…orang yang punya mindset gimana caranya jadi sukses, pasti akan menggunakan uang yang mereka punya untuk menghasilkan uang lagi, dan bukan di habiskan begitu saja untuk hal yang tidak penting” jeda si om pada diamku.
“Macam kamu yang gampang sekali kasih uang tanpa pernah berpikir lagi?” tanyaku.
Dia malah terbahak lalu menarik pinggangku sampai aku duduk menyamping di pangkuannya.
“Uangku banyak Abby…walaupun aku tidak akan pernah merasa cukup dengan uang yang aku punya sekarang. Makanya aku tetap bekerja dengan memakai uangku untuk menghasilkan uang lebih banyak lagi” jawabnya.
“Tapi aku malah habiskan uangmu”komenku.
Dia tertawa lagi.
“Tidak masalah, karena kamu nantinya bagian dari asset berharga yang aku miliki sepanjang hidupku” jawabnya.
“Maksudnya?” tanyaku.
Dia berdecak menanggapi.
“Bodoh!!. Kalo nanti kamu jadi istriku, artinya kamu akan bersamaku terus sepanjang hidupku di samping aku punya banyak uang, property, tanah, unit usaha, dan juga harta bergerak lainnya. Aku butuh kamu sebagai pelengkap kesuksesanku cupcake, karena yang aku punya sekarang semua benda mati yang tidak bisa jadi teman untukku” jawabnya lalu mencium bibirku.
Jadi gitu. Tapi aku kenapa tidak puas ya??.
“Kalo gitu aku minta uang” kataku setelah ciumanya terlepas.
“Astaga…kenapa ujungnya minta uang sama aku” protesnya.
Aku langsung cemberut lalu bangkit berdiri.
“Hei!!, kenapa mesti ngambek sih?” protesnya.
“Gak, kalo kamu gak kasih aku uang, gak apa juga kok” jawabku lalu bergerak menjauh menuju tempat tidur.
Belum kejadian dia nikahin aku, ngapain baper. Lagian aku masih butuh uang terus darinya, kan aku sudah buat dia senang.
“Abby…” tegurnya ternyata menyusulku ke tempat tidur tepat aku rebahan.
“Udah sana kerja. Perbanyak aja uangmu, jangan peduliin aku” jawabku.
“Astaga…” keluhnya lalu menjambak rambutnya yang mulai mengering.
Bodo amat, lebih baik aku nonton TV.
“ABBY!!. FINE!!!” jeritnya.
“Apalagi sih?. Kamukan mesti balas email kerja kamu. Udah sana, aku bisa tidur lagi. Tapi lain kali gak usah janji kasih waktumu buat aku” jawabku.
Dia menghela nafas dulu sambil bertahan menatapku, dan aku abaikan dengan pura pura nonton TV. Lalu dia malah bergerak ke meja kerjanya lagi dan sibuk dengan laptop dan handphonenya lagi. Jadi benarkan keputusanku untuk tidak usah baper?. Pake bilang aku asset berharga dalam hidupnya karena bakalan nemenin dia sepanjang hidupnya kalo aku jadi istrinya, gak mungkin banget sekalipun dia akhirya nikahin aku. Masa waktu aja gak bisa dia kasih sih??. Gak usah t***l deh jadi perempuan, dengan percaya kata kata lelaki yang belum kebuktian.
Eh, wait!!. Kok si om sebentar doang dengan urusan kerjaannya, karena menutup laptop lalu sibuk dengan handphone di tangannya sambil bergerak mendekat padaku. Walaupun tatapanku ke arah TV yang menyala, tetap aja diam diam aku awasi si om terus.
“Kamu ngapain?” tanyaku saat dia bergabung denganku di tempat tidur.
“Aku sudah transfer uang yang kamu minta” jawabnya sambil menunjukkan bukti transfer dari mbangking miliknya.
“Okey. Makasih” jawabku sambil berusaha menutupi senyumanku melihat nominal 50 juta yang dia transfer ke rekeningku.
“Bisa gak jangan cemberut lagi kamunya?. Aku udah selesai juga urus kerjaanku” omelnya.
Sontak aku tertawa sampai aku dengar geramannya sebelum dia menyerangku dengan ciumannya di wajahku.
“Di banding pekerjaanku,kamu tuh lebih sering buat kepalaku pening” komennya menjeda tawaku setelah dia menyerangku dengan ciumannya.
“Tapikan aku buat kamu senang” sanggahku.
Dia berdecak menanggapi tapi bertahan menindihku di kasur.
“Yaelah, cari lagi aja sana, cewek yang tidak buat kamu pusing. Aku gak apa kok” ledekku.
Malah terbelalak menatapku.
“Apa?” tanyaku pura pura tidak faham dengan wajah kesal yang tampak jelas di wajahnya.
“Terus kamu mau pergi tinggalin aku?. Jangan harap cupcake!!. Di banding aku mesti lihat kamu dengan lelaki lain, lebih baik aku bunuh kamu, jadi kamu tidak bisa dengan lelaki mana pun sekalipun kamu tinggalin aku” jawabnya.
Aku tertawa lagi menanggapi.
“Abby…come on” protesnya kesal.
“Jangan bunuh aku, nanti kamu sedih kalo aku mati” jawabku sambil mengusap pipinya dengan mode merayu.
“Kamunya jangan bicara seperti tadi lagi” pintanya.
“Iya…sayang ya kamu sama aku?” tanyaku bercanda sih.
“Kamu terlalu banyak bicara. Ayo kita tidur, nanti malam baru kita keluar” jawabnya lalu malah dia yang tidur sambil memeluk tubuhku.
Tidak bisa jawab atau malah menghindari pertanyaanku??. Udah aku bilang gak usah baper. Ini bukan soal perasaan suka sukaan, hanya hubungan transaksional. Atau usahanya menepati janji atau usahanya mengambil simpatikku dengan berusaha bersikap baik terus sama aku. Dari perhatiannya, sikap loyalnya yang kasih uang terus, sampai usahanya buat aku happy.
“Sana kalo kamu mau bersenang senang, dengan joget joget gak jelas dengan gadis seusiamu. Aku izinkan sepanjang perginya sama aku” katanya saat akhirnya setuju aku ajak pergi ke kafe viral yang selalu ada acara DJ night tapi tidak menjual minuman keras.
Jadi jangan heran kalo isinya anak anak muda gaul Jakarta yang memakai kerudung yang di juluki the Nurul. Santai aja gitu si om duduk bersandar sambil ngopi dan mengawasi aku bersenang senang sampai aku cape lalu duduk lagi menemaninya.
“Kok kamu gak marah sih?. Tadi aku joget joget sama laki juga” tanyaku mencari tau.
Dia langsung berdecak.
“Laki muda bukan lawanku yang seimbang. Mereka punya apa yang bisa di tawarkan padamu?. Cinta!!, bullshit, Abby!!, kalo kamu sudah ngerti soal uang dan aku berikan kamu uang terus” jawabnya.
Aku langsung tertawa.
“Kalo gitu kenapa gak kamu cari gadis muda seumuran aku di sini, pasti salah satunya ada yang sesuai seleramu. Aku gak akan marah kok” kataku.
Dia malah menggeram kesal lalu bangkit berdiri dan mencekal tanganku.
“Ayo pulang!!. Biar aku kasih tau kamu, gadis muda seperti apa yang jadi seleraku” jawabnya lalu membawaku kembali ke hotel.
Udah gak usah aku kasih tau lagi ya, yang di lakukan si om untuk memberitahu gadis muda seperti apa yang jadi seleranya. Pasti gadis muda itu aku, yang pasrah membiarkan dia menggagahiku lagi lalu membiarkan aku tidur setelahnya, lalu aku tidak protes saat dia tinggal aku tidur sendiri. Gadis lain atau perempuan lain pasti marah dong, kalo habis di gagahi lalu di tinggal begitu saja di tempat tidur. Aku sih gak ya??. Bodo amat si om mau ngapain. Kalo pun aku berusaha menyenangkan hatinya, semata mata karena uang yang dia punya. Orangnya mah mau ngapain kek. Waktu membuktikan padaku, sepanjang aku punya uang, aku happy happy aja tuh, sekalipun tidak bersama si om. Malah kalo aku bersamanya, dia buat aku cape trus.
Kalo aku terlepas dari dirinya yang harus kerja lagi, aku bisa ke salon, pijat, makan enak yang aku mau, sampai luntang lantung di mall. Punya duit mah bebas mau ngapain juga, dan gak ada yang larang termasuk om dan tanteku yang semakin tidak perduli aku mau melakukan apa di luar ruang sepanjang aku kasih mereka uang yang mereka minta. Kurangnya cuma satu atau dua hal ya??. Yak arena aku tidak pernah punya teman akrab sampai bisa aku anggap bestie aku, jadi aku mudah bosan dan merasa kesepian saat si om sibuk kerja.
Dan ujungnya si om ngamuk saat tau aku luntang lantung sendirian di mall seperti aku bilang sebelumnya. Ya aku ngamuk jugalah. Dia enak banyak duit, dan dia lelaki. Jadi dia bisa bayar perempuan mana pun termasuk ani ani kalo dia kesepian. Sementara aku perempuan dan uangku terbatas, gak mungkin juga aku bayar orang jadi temanku sekalipun perempuan juga, apalagi bayar lelaki untuk temenin aku. Yang ada uangku yang tidak seberapa di banding si om malah habis. Gak deh.