15.Jealous

2480 Kata
“Sudah sana masuk rumah, dan jangan kemana mana kalo kamu tidak butuh sekali keluar rumah. Tunggu aku aja sampai kesibukanku mereda lalu cari kamu” perintah si om begitu sampai di depan rumah om tanteku, yakan aku numpang di rumah mereka. Itu setelah 3 hari dua malam kami bersama dari pergi ke club bertemu teman temannya, lalu kami ke café yang aku mau, lalu besok malamnya aku di antar pulang. “Kalo aku beli makan keluar?” tanyaku. “Boleh Abby, kan tadi aku bilang kalo kamu merasa perlu sekali keluar rumah, ya silahkan aja. Tapi buru buru pulang lagi” jawabnya. “Kalo aku ke salon dekat rumahku?” tanyaku lagi. “Boleh…Astaga…Pokoknya jangan kamu keluyuran jauh dari rumah. Memangnya kamu gak cape?” jawabnya lagi mulai kelihatan kesal. “Iya…aku tanya doang” jawabku. Si om langsung menghela nafas menanggapi. “Ya udah aku masuk dulu” pamitku lalu mencium pipinya kanan kiri, supaya dia segera melepasku masuk rumah. Udah dong, malam itu si om akhirnya pergi meninggalkan aku sendiri lagi, karena harus urus pekerjaannya yang aku tidak tau, pekerjaan macam apa. Bukan urusanku juga. Hari pertama, aku bertahan di rumah karena memang malas keluar kamar kecuali aku lapar dan tanteku menyuruhku makan. Semakin rajin masak kalo aku di rumah. Mungkin malu kalo dia tidak masak, karena alasannya selalu untuk belanja bahan masakan setiap kali minta uang padaku. Kalo om aku minta uang dengan alasan untuk bayar listrik, air, sampai uang keamanan dan uang kebersihan dari pak RT. Padahal bilangnya narik trus sama aku, uangnya kemana coba??. Oh apa karena dia seperti santai narik taksi onlinenya kali ya, dengan alasan sepi penumpang, makanya selalu ribut tidak punya uang. Gak tau deh aslinya kenapa?. Pokoknya memang jadi sering minta uang sama aku. Dan si o*******g mendapati laporanku kalo aku di rumah saja saat dia telpon malam malam. Hari kedua, aku mulai keluar mencari makan yang aku mau, karena bosan makan masakan tanteku untuk menu makan siang dan makan malam juga sekalian. Itu pun aku keluar rumah pada sore hari untuk makan malam di luar rumah, dan warung soto lamongan jadi tujuanku. “Pergi cari makan?” tanya si om saat aku laporan lagi karena dia tanya lagi keberadaanku. “Iya, beli soto lamongan dekat rumah, karena aku bosan makan masakan tanteku. Tapi dari tadi jam 7 malam, aku udah di rumah kok” jawabku. “Good” jawabnya. Sebenarnya bisa aja aku bohong, karena si om tidak pernah video call juga, untuk memastikan dimana keberadaanku saat itu. Aku melakukan permintaan video call aja, tiap kali dia menelpon,selalu dia tolak kok. “Aku percaya padamu, Abby. Jadi tidak perlu video call. Cukup kamu yang percaya juga sama aku. Lagian gak usah tau aku berada di mana saat ini. Aku bisa jaga diriku sendiri tidak seperti kamu” omelnya malahan. Aku juga tidak segitunya mau tau di berada di mana saat telpon mencariku. Tapikan aku mau dia tau,kalo aku tidak pernah bohong soal keberadaanku saat dia telpon. Lalu hari ketiga aku di rumah, aku mulai butuh pergi ke salon. Awalnya karena aku pikir, kemungkinan dia mencariku,mengingat selalu butuh tiga hari atau 4 hari paling lama untuk kami masing masing dengan hidup kami. Dan karena aku pergi ke salon siang hari sampai sore, lalu dia telpon aku malam hari lagi saat aku di rumah lagi, ya dia tenang tidak ngomel. “Abby, aku masih sibuk sekali dengan pekerjaanku. Jadi aku belum bisa temuin kamu, jadi kamu jangan kemana mana ya, di rumah aja sampai aku cari kamu” katanya padaku. “Okey,memangnya aku mau kemana” jawabku menurut. Sampai aku pesan makan online, kalo aku mau jajan atau mau makan sesuatu. Tapikan kalo sampai malam weekend lalu dia bilang masih juga sibuk dengan pekerjaannya, ya aku tidak betah juga di rumah. Soalnya aku selalu di kamar terus juga kalo sedang di rumah. Aku soalnya tau juga jadwal si om kalo mau ketemu aku dalam seminggu tuh. Kalo minggu malam aku di antar ke rumah, lalu rabu malamnya pasti dia temuin aku, lalu hari kamis pagi, dia akan antar aku pulang. Lalu lanjut jumat malam atau sabtu pagi cari aku lagi, lalu minggu malam lagi aku di antar pulang. Jadikan dalam seminggu kami pasti bertemu dua kali. Lah sekarang malah sudah mau sabtu lagi,malah belum cari aku. Aku tunggu sampai sabtu siang, tidak ada tanda dia cari aku. Ya udah, aku kaburlah ke mall untuk menghilangkan rasa suntukku. Eh, malah sore harinya dia cari aku. “Tunggu di situ, aku jemput kamu sekarang” perintahnya tanpa basa basi lagi. Ya aku nurut, tapi lalu tanpa basa basi lagi juga, langsung bawa aku pergi dari mall. Terus diam aja tidak bersuara saat kami di dalam mobil. Ya aku diam lagi juga sampai kami tiba di hotel seperti biasanya. Sampai kamar hotel baru dia meledak. “Kamu bisa gak sedikit aja ngerti, kalo aku gak suka kamu luntang lantung di mall macam orang tidak punya kerjaan?” tanyanya. Aku memang pengangguran kok, masa si om lupa?. Jadi aku abaikan omelannya. “ABBY!!” bentaknya keras. “Apaan sih?. Aku bosan di rumah terus!!” jawabku jadi ikutan meninggi. “Tapi gak bisa kamu jadikan alasan dengan kamu pergi ke mall tanpa tujuan apa pun” balasnya. Aku langsung berdecak menanggapi. “ABBY!!” bentaknya lagi. “Gak usah bentak bentak aku. Aku juga dengar kamu panggil aku” protesku. Dia akhirnya diam dengan tatapan yang masih marah padaku. “Makanya, kamu jangan ngerti kasih kasih aku uang doang. Kasih waktu kamu juga dong, biar aku punya teman” kataku lagi. Dia lalu menghela nafas menanggapi. “Aku kerja loh, bukan sedang main main. Jadi waktuku habis untuk kerja” bantahnya bersuara dan lebih pelan. Aku menghela nafas. “Memang gak bisa ajak aku saat kamu kerja?” tanyaku. “Mana mungkin Abby….” desisnya menjawab. “Aku gak akan ganggu kamu kerja kok” kataku lagi. “Aku tau, tapi kamu akan merasa cape dengan rutinitas dan jadwal kerjaku, dan aku gak mau kamu ikutan kecapean seperti aku yang sebenarnya cape sekali kalo sedang menyelesaikan pekerjaanku” jawabnya. Aku jadi diam, karena lalu dia duduk juga di sofa lalu bersandar dalam. Jadi kasihan sih lihatnya. “Yang…” usapku pada rambutnya saat dia mulai memijat keningnya. “Apalagi…” desisnya menjawab lalu menoleh ke arahku. “Atau boleh gak, aku di sini aja sekalipun kamu gak ada di sini?. Selain bosan, aku juga semakin malas berada di rumah om dan tanteku. Mereka jadi bisa memanfaatkan aku terus” tanyaku. “Di hotel ini?” tanyanya menjawab. Aku mengangguk. “Kamu tinggal di aparteman aku aja deh, gimana?” tanyanya menjawab lagi. Aku menggeleng kali ini. “Kenapa?” tanyanya. “Aku akan bosan lagi kalo tinggal di aparteman sendirian” jawabku. “Apa bedanya dengan kamu tinggal di hotel ini sendirian, saat aku gak ada?” jawabnya masih bertanya juga. “Setidaknya aku masih ketemu orang lain kalo aku sedang keluar kamar untuk makan atau nongkrong di tepi kolam renang. Aku juga malas kalo tinggal di aparteman. Pesan makan aja mesti turun ke loby, aku gak bisa masak juga” jawabku. “Ada pembantu yang akan temani dan urus kebutuhanmu Abby” sanggahnya menjawab. Aku menggeleng lagi. “Ujungnya aku hanya bertemu orang yang sama” jawabku. Si om menghela nafas menanggapi. “Ya udah kalo kamu gak kasih izin. Aku gak akan maksa” kataku lagi. “Terus kamu mau luntang lantung di mall lagi kalo kamu bosan?” tanyanya. “Mau kemana lagi?. Cuma ke mall yang memungkinkan aku bertemu orang lain, sekalipun aku tidak di ajak atau aku ajak mereka bicara” jawabku. “Astaga…” desisnya lalu memijat keningnya lagi. Aku abaikan kelakuannya. “OKEY!!, FINE!!” jerit si om menyerah juga. “Beneran?” tanyaku jadi antusias. Dia mengangguk juga. “Silahkan kamu tinggal di hotel ini selama yang kamu mau. Tidak perlu pusing soal urusan makanmu dan lain lain. Semua karyawan di sini toh tau kalo kamu bersamaku terus, dan aku akan bilang juga soal ini pada pimpinan hotel untuk melayanimu layaknya mereka melayaniku sebagai pemilik hotel ini” jawabnya. Aku langsung bersorak menanggapi dan dia geleng geleng melihat kelakuanku. “Jangan senang dulu!!. Aku belum izin pada om kamu. Jadi kalo om kamu tidak izinkan, kamu jangan ngambek sama aku” jedanya. “Elah, om aku mah, kasih uang aja, pasti kasih izin. Om dan tanteku tidak segitu perdulinya sama aku, karena yang mereka perdulikan cuma uang” sanggahku. “Abby…kita nikah, kamu lupa?” jedanya lagi. “Cuma soal buku nikah doang, kita toh sudah macam suami istri, bedanya di situ doang” jawabku. “Pinter ya kamu sekarang?” tanyanya dengan wajah yang kesal lagi. Aku langsung tertawa. “Sayang….” rengekku lalu bergerak naik kepangkuannya. “Semakin bisa rayu aku ya kamu?” protesnya tapi membiarkan juga aku duduk mengangkang di pangkuannya. “Harus dong…supaya kamu berhenti marah marah juga” jawabku lalu mencium bibirnya dan dia tanggapi. “Ayo pindah ke kamar. Kamu bilang kita sudah seperti suami istri. Jadi berlakulah kamu macam istriku yang melayani aku sebagai suamimu” ajaknya setelah ciuman kami terlepas. Aku sontak tertawa. Bisa aja si om memanfaatkan aku lagi. Kalo butuh aku layani, dari kemarin juga aku layani. Jadi gak usah marah marahlah sama aku. Eh, apa malah kami sudah seperti suami istri beneran yang selalu menyelasaikan masalah apa pun di tempat tidur lalu baikan dan mesra mesraan lagi?. Setidaknya itu hal yang selalu aku dengar dari orang orang di sekelilingku yang sudah menikah. Si om juga suka langsung baik banget sama aku, atau memanjakan aku kalo sudah aku layani kebutuhannya di ranjang. Masa apaan aja yang aku mau, pasti dia turuti. Dia lagi ngapain aja, lalu aku ganggu pasti dia bersedia juga melakukan yang aku mau. Apalagi kalo aku panggil sayang sekalian. “Sayang…” rengekku padanya. “Sini….kamu mau apa?” undang dan tanyanya padaku. Ya aku pasti menurut mendekat padanya. “Mau keluar kamar. Aku bosan, Yang…” rengekku dan membiarkan tangannya menarik tanganku supaya bisa dia pangku. Itu kali ya, yang buat aku merasa seperti anak kecil yang berhak manja manjaan. “Kamu gak rayu aku dulu?”tanyanya. “Caranya?” tanyaku. “Kamu semakin pintar rayu aku, masa masih tanya gimana caranya rayu aku?” jawabnya. Mesti banget aku cium bibirnya lalu dia tertawa menanggapi saat ciuman kami terlepas. “Cupcake…kamu memang selalu berhasil buat aku gemas” komennya lalu aku mesti pasrah tubuhku di raba, di usap, di remas, sampai dia ciumi dulu, baru dia lepas aku. Ampun banget sih om. Padahal minta keluar kamar doang. “Kita renang aja ya?. Aku malas keluar hotel. Aku masih cape” katanya kemudian. “Aku gak bisa renang dan gak ada baju renang” jawabku. “Aku ajari kamu renang, atau kamu main air aja sambil nonton aku renang. Soal baju renang, pakai dulu aja tanktop dan celana pendekmu yang agak ketat. Siapa juga yang berani tegur kamu” jawabnya. “Okey” jawabku jadi girang dong. “Bawa handuk dan bathrobe untuk kamu sekalian” perintahnya lagi. Aku nurut dong membawa yang dia perintahkan. Lalu kami pergi ke area kolam renang hotel. Memang jago sekali renang kalo langsung buka kaos yang dia pakai dan tetap pakai celana pendek lalu lepas sandal juga sebelum nyemplung ke kolam renang. “Ayo Abby!!, gabung sama aku” undangnya dari dalam kolam renang menjeda fokusku pada tubuh atletis dan perut ratanya yang kotak kotak. Aku rasa perempuan yang ada di area kolam renang juga sama. Emang pesona di om luar biasa sekali, sampai aku malas ikutan nyemplung ke dalam kolam. “Kamu aja yang renang” jawabku lalu duduk di tepi kolam renang mengawasinya. Kalo aku ikutan masuk kolam, nanti malah aku tidak bisa mengawasi cewek cewek yang diam diam mengawasi di om. Enak aja!!. Lagian kemana aja ya aku selama ini, kalo sering melihatnya telanjang tapi baru sadar kalo si om punya bentuk tubuh yang keren dan menggiurkan. “Kenapa Abby?” tanyanya sampai mendekat padaku lalu mengusap kakiku yang yang separuhnya masuk kedalam kolam renang. “Terlalu ramai, gimana caranya kamu ajarin aku renang” jawabku. Dia lihat sekeliling kami. “Bisa gak matamu jangan malah jelalatan?” omelku. Malah tertawa. “Kamu jeaulos ya?” ledeknya kemudian. Nyebelinkan??. “Udah sana renang!!” usirku mendorong tubuhnya dengan tanganku. Malah terbahak dengan mode menyebalkan. Jadi buat aku semakin kesal aja dan buat moodku yang tadinya baik baik aja, jadi drop. Si om juga sih, seperti menikmati saat dirinya di awasi banyak mata perempuan saat dia bolak balik renang di depanku lalu sempat merengek minum lalu renang lagi. Mau mauan juga jawab sapaan cewek cewek di kolam renang, sampai aku eneg lihatnya. Lalu aku bangkit berdiri dan pindah duduk di kursi malas yang ada di dekatku dan berderet dua dua di sepanjang kolam renang besar. Tapi ternyata si om menyadari kalo aku sudah tidak duduk di tepi kolam renang lagi, lalu keluar juga dari kolam renang lalu mendekat padaku. “Hei…kamu kenapa?” tegurnya sambil handukan karena aku malah hindari tatapannya. Gak ngerti aku juga, kenapa jadi malas lihat muka si om. “Udah belum renangnya?” tanyaku. “Kamu kenapa?” tanyanya mengulang. “Aku mau masuk kamar” jawabku lalu bangkit dan mengambil tote bag yang aku bawa untuk membawa apa yang dia pinta si om sebelumnya. “Abby….” kejarnya lalu menyusul langkahku. Aku abaikan terus panggilannya sampai dia cape sendiri. “Hei!!” protesnya saat kami masuk lift menuju kamar dan aku menolak dia rangkul. “Kamu masih basah, kenapa malah rangkul rangkul aku” jawabku. Kenapa malah ketawa. “Iya okey, maaf cupcake” jawabnya lalu mencium pipiku. Aku abaikan lagi, lalu aku buru buru keluar lift begitu sampai di lantai kamar hotel kami. “Abby…” kejarnya lagi sampai aku masuk kamar yang pintunya aku buka sendiri. “Apaan sih?. Kamu bawel banget, panggil aku terus” omelku. Malah tertawa lagi. Semakin nyebelinkan??. “Aku sebenarnya mau tanya, kenapa kamu buru buru sekali masuk kamar, setelah sebelumnya rayu aku supaya mau keluar kamar” jawabnya. Aku berdecak menanggapi. “Kamunya nyebelin sih jadi orang, jadi aku kesal sama kamu” jawabku. “Bagian mana aku buat kamu kesal?” tanyanya seperti menahan tawa. Jadi jangan salahkan aku kalo jadi tolak pinggang di depannya. “Kamu mesti banget ya show off kamu jago renang di kolam renang tadi?” omelku. “Memang aku jago renang, jadi bukan aku bermaksud show off” jawabnya semakin menyebalkan. “Oh…begitu…OKEY!!!” jeritku di akhir. Malah terbahak menanggapi dan buat aku semakin menatapnya kesal maksimal. “Are you jealous cupcake?. Ayo ngaku aja, gak usah malu. Soalnya aku tau kok, tadi cewek cewek di kolam renang berusaha banget narik perhatian aku” katanya lagi. Aku jealous??. Mana mungkin. Kalo gak suka lihat si om pamer di depan cewek cewek tadi, baru benar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN