“Selamat siang tuan, apa ada yang bisa aku bantu kali ini?”
Kay saat ini sedang melihat-lihat bagian dalam ruangan yang berisi kain-kain yang menggantung di sana, “Hhmm, bisa tolong beri aku peta-peta kerajaan yang memiliki jalan tikus tanpa harus di ketahui penjaga?”
Pria yang di datangi oleh Kay sebenarnya seorang pedagang busana khusus untuk seorang kalangan menengah hingga kalangan atas, “Mari tuan … ikuti aku.” Pria tua yang berpakaian serba panjang, menuntu ke arah bagian dalam rumahnya yang ternyata memiliki tempat tersembunyi dan hanya di ketahui beberapa orang saja yang berniat melakukan transaksi secara rahasia.
Ruangannya mengarah ke bawah, lorong kecil di balik lantai tepat di bawah kakinya, yang tertutupi karpet mahal. Namun, sebelum itu si pemilik rumah menyalakan obor yang menggantung di atas meja. Di sela-sela menunggu Kay memandangi isi ruangan yang berada di balik pintu bagian timur, ia melihat ada beberapa pria lain yang tengah melakukan transaksi. Setelah menyala, Kay mengikutinya menuruni anak tangga yang di bangun menggunakan bambu.
Kay menemukan ada seseorang selain dirinya berada di tempat itu. Sepertinya tempat ini memang sudah menjadi transaksi yang sangat rahasia dan hanya di ketahui orang-orang tertentu. “Kesini tuan,” tunjuknya seorang pria yang tengah membuka sekotak laci yang berjejer dan menumpuk seperti lemari. “Mungkin saja ini peta yang kamu maksud, ada beberapa jalan yang keluar dan masuk melalui kerajaan, terutama melalui gunung. Di sana memang tidak terlalu ketat penjagaannya karena banyak warga yang mencari makanan melalui gunung itu. Gunung itu terkenal curam sudah ini lebih layak di sebut tembok alami.
Kay merogoh sekantung koin perak yang yang berada saku kirinya. “Apa segini cukup?” Pria tua itu segera memandangi wajahnya orang yang mengeluarkan uang banyak. “Beri tahu aku apa kau mengenalnya? Sebelum aku datang kesini?” sambungnya demikian bertanya.
Pria tua itu mencoba mengingat bermodalkan lukisan sketsa yang berada di dalam sana. “Aku tidak terlalu yakin, dia pernah ke sini atau tidaknya …” Pria tua itu memandangi sekelilingnya, “Kau lihat, sebelum kamu ke sini saja, tempat ini penuh dengan orang-orang banyak.”
“Lalu apa kau mengenal atau tahu sesuatu? Di balik lukisan yang aku beritahu ini?” demikian Kay bertanya kepadanya. Meski ia tahu kemungkinan kecil, b***k itu ada di sini ia tetap mencoba bertanya.
“Percuma aku tidak tahu, pria seperti yang kau cari di dalam lukisan ini.” Jelasnya kepada Kay, kemudian ia kembali berniat menggulung kembali peta yang baru saja di keluarkannya.
“Kenapa kau memasukkannya lagi?”
“Aku kira kau hanya berniat untuk bertanya saja.” Pria tua itu kemudian memasukkan peta itu kedalam laci.
“Tapi aku berniat membeli.” Balas Kay demikian sembari menunjukkan sekantung koin yang belum di ketahui jumlah aslinya.
“Baiklah kalau kau memang berniat membeli barang ini.” Ia membuka kembali lacinya dan memberikannya kepada Kay. “Seratus koin perak.” Sambungnya demikian.
“Mahal sekali!” ucap Kay demikian yang membuatnya mencuri perhatian orang-orang yang berada di dalam sana.
“Tuan sepertinya memang baru pertama kali ke sini. Seratus koin perah termasuk biaya pemberian informasi yang tuan inginkan, meski informasi yang tuan inginkan tidak sesuai.” Jelas Pria tua yang berada di sana, pembicaraan mereka berdua tentu saja menuai perhatian.
Suara tarikan pedang terdengar nyaring, pak tua sedikit menelan ludah. Ia tahu pelanggannya akan emosi, jika ia menjawabnya begitu. Namun, ternyata berbeda, dari apa yang di pikirkannya. Kay mengurungkan niatnya kembali untuk menarik pedangnya, hal itu membawa sedikit rasa lega bagi Pria tua yang sedari tadi melayaninya. Kemudian, Kay memberinya koin perak berisikan seratus koin.
“Ini bayarannya, akan aku ambil petanya.” Papar Kay lalu kembali keluar dari tempat itu tanpa banyak bicara. Setelah mendapatkan peta yang di mintanya, ia langsung memberi tahu para penjaga dan menyuruh mereka untuk mencari lokasi-lokasi yang telah di sebutkan.
***
Kakek yang melihat Feng Ying pagi-pagi sekali tengah menempa, “Apa yang kau lakukani di pagi-pagi begini?” tanya Kakek kepada Feng Ying, di tanyai seperti itu tentu saja menuai berbagai hal yang ada di dalam pikirannya.
“Membuat pedang untuk diriku sendiri.” Balas Feng Ying sambil terus menempa.
Kakek pun duduk di teras sambil memandangi langit yang belum terlalu terang, “Apa kau paham? Sebenarnya kegunaan pedangbukan hanya untuk menyelesaikan suatu perang saja, lebih tepatnya sebagai alat perdamaian. Pedang pun tidak mempunyai kehendak sendiri, tergantung pemakainya, beberapa orang untuk membela negeri, atau dirinya sendiri dan beberapa yang lain menggunakannya untuk hal kejahatan.” Jelas Kakek menjelaskannya.
Asap tebal muncul setelah Feng Ying menjelupkan besi panas yang mulai terbentuk sesuai kemauannya. Kakek mulai menyadari hal aneh, pada bentuk pedang yang di buatnya. “Apa yang sebenarnya kau lakukan? Apa itu sebuah tongkat besi?” tanya kakek dengan rasa penasaran yang menghinggapi dirinya saat ini.
Feng Ying berhenti sesaat dari kegiatan menempa, “Aku berniat membuat tongkat besi.” Demikan ucapnya.
“Aku sempat mengira kau akan membuat pedang. Tapi, yang jadi masalah saat ini adalah mayoritas orang akan menggunakan pedangnya. Apa kamu mengerti maksudku?” ungkap Kakek kepada Feng Ying. “Sepertinya aku tidak perlu menceramahimu soal pedang, karena yang kamu buat saat ini bukanlah pedang seperti yang aku bayangkan.” Kakek sedikit tertarik dengan niat tujuan Feng Ying yang saat ini sedang menggunakan semua peralatannya.
“Apa kamu akan kembali ke tempat itu? Tempat p********n kembali?” tanya Feng Ying yang berada di sana. Setelah kakek mengatakan hal itu, Suara tempaannya terhenti sejenak.
Feng Ying mengangguk kecil, “Iya aku akan kembali ke sana, aku ingin menyelamatkan kakakku yang masih tertinggal di neraka itu.” Demikian balasnya, sambil termenung sesaat.
“Aku akan mendukung niat baikmu untuk menyelamatkan kakakmu.” Balas Kakek, ia pun beranjak dari kursi kayu dan mendekatinya. “Apa mau aku bantu? Sepertinya aku mempunyai ide yang menark dan patut di coba.” Sambung kakek, ia menyentuh pundaknya Feng Ying dan membuatnya menghentikan kembali menempa. “Bentuk yang bagus.”puji kakek setelah melihat lebih jelas setelah mencelupkan kembali ke dalam air.
“Aku sepertinya mempunyai ide yang bagus. Bolehkah?” tanya Kakek, Feng Ying menuruti saja permintaan kakek dan ia melihat dari dekat.
***
Dua minggu setelahnya, mereka berhasil menyempurnakan pedang sesuai keinginan Feng Ying, di samping itu. Feng Ying membantu kakek membuat pedang seperti biasa agar memenuhi setiap pesanan empat ratus buah pedang dari kerajaan.
Pedang Feng Ying memakan waktu sedikit agak lama karena cara pembuatannya terlalu banyak perbedaan terutama pedang yang dibuat lebih seperti tongkat besi. Namun, bukan hanya itu saja yang membuatnya rumit, tapi pedang itu sengaja di buat sanggup memotong pedang lainnya atau benda lainnya meski pun tidak mempunyai dua buah bilah mata tajam.
---=------------------------------------------------------------------------------------
Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku.
Mohon di mengerti, kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE.
Riyuu Way