“Aku sepertinya pernah mengenal orang ini, mungkin salah satu dari orang yang sering mengantar pedang pesanan.” Jelas seorang penjaga kerajaan.
“Apa kau yakin begitu? Coba diingat lagi, soalnya ini sangat penting bagiku.” tanya seorang penjaga yang juga seorang bawahan langsung Dong zhu. Para bawahannya, menyebar untuk mencari informasi lebih tentang b***k yang bernama Feng Ying.
“Aku yakin, penglihatanku tidak pernah salah sebagai seorang penjaga yang telah mengabdi lima belas tahun lebih.”
“Kalau begitu, dimana aku bisa menemui orang yang berada di lukisan ini?”
“Besok sore, di tempat ini.”
Mendengar kabar segar itu yang keluar dari mulut seorang penjaga dengan apa yang di lihatnya, kemudian kabar baik itu di laporkan langsung kepada Kay, ini sengaja di lakukan olehnya agar informasi itu di saring terlebih dahulu kebenarannya.
***
Keesokan harinya pada sore hari, beberapa orang penjaga membantu mereka bertiga dan membuat semua yang ada di sini. Melakukan tugasnya sesuai perintah yang ada, Kay melakukan penjagaan secara langsung setelah mendengar kabar itu dari rekannya.
Mereka menyebar dan mengawasi di sekitar penjagaan tersebut, “Ini tuan mi, daging yang tuan minta dan juga sebotol air putih serta anggur.” Kawanan Kay memutuskan mengawasi di kedai kecil terbuka. Mereka juga mengawasi tanpa mengenakan pakaian khas mereka sebagai seorang penjaga.
“Ini sudah sore hari, apa benar orang yang di sebut penjaga kemarin memang akan kemari?” racau seorang rekan Kay yang juga ikut bertugas. Ia meracau dalam kondisi setengah sadar karena meminum anggur yang di pesannya sudah lebih dari lima kali.
Berbeda dengan Kay, ia begitu fokus memilah orang-orang yang lalu lalang keluar masuk gerbang sambil memanggul keranjang. Dari sekian banyak orang, ciri-ciri yang di sebutkan oleh penjaga itu belum keluar juga.
Rasa pasrah mungkin sudah tepat di sebutkan di sini, mereka tidak merasakan adanya hal yang bagus, dari kata menunggu. Namun tidak lama, sesuatu menarik perhatian Kay. Ia langsung berjalan cepat mencari sebuah jawaban untuk meyakinkannya. Langkahnya menuju gerbang, membuat beberapa rekannya secara tidak sadar mengikutnya meski tidak tahu apa yang membuat Kay sampai beranjak dari kursinya, karena orang yang mereka cari belum di lihatnya saat ini.
Larinya kencang ketika salah satu orang yang di tangkapnya ternyata bukan orangnya. Wajah ketakutan tergambar jelas darinya, Kay menodongkan senjata ke leher pria muda. Tentu saja itu menarik perhatian penjaga yang berada di dekatnya yang kembali menodongkan tombak ke arah Kay. Akhir rekan-rekan Kay pun juga ikut menarik pedangnya dan melindungi Kay, secara terang-terangan. Namun, salah satu penjaga mengenali wajah rekan Kay yang sempat bertanya kepada dirinya.
“Apa kau yang waktu kemarin?” tanya penjaga, ia menarik tangan seorang rekan Kay. “Ternyata betul.” Turunkan senjata kalian, mereka juga seorang penjaga.
“Apa kamu yakin? Coba buktikan kalo mereka adalah seorang penjaga.”
“Tunjukkan.” Rekan-rekan penjaga gerbang sepertinya masih belum mempercayai penuh ucapan rekan Kay. Kemudian, Kay menunjukkan logo tanda bukti ia adalah seorang penjaga b***k yang bertuliskan inisial nama tuannya.
Semua penjaga akhirnya menurunkan senjatanya, suasana kembali ringan seperti biasa. “Apa orang ini sudah datang.” Kay langsung memanfaatkan keadaan itu dengan menunjukkan lukisan yang di pegangnya.
“Ah, kalian telat. Kali ini orang itu datang lebih awal dari biasanya, dan baru keluar setelah kalian kesini.”
“Jadi orang itu belum jauh dari sini?” demikan Kay bertanya, lalu respon penjaga mengangguk dan menujuk ka arah timur.
“Dia pulang ke arah timur, ah aku lupa. Mereka tinggal di atas gunung sendirian, bersama kakeknya.” Terangnya demikian.
“Kalau begitu terima kasih.” Kay akhirnya permisi dan keluar dari suasana itu, ia pergi menuju ke arah barat gerakan langkahnya sempat di perlambat karena mengambil sesuatu yang tidak lain adalah peta. “Tidak sia-sia aku membeli peta ini.” Batin Kay yang kemudian di ikuti beberapa orang rekannya. Mereka berjalan menyesuaikan dengan peta yang ada saat ini.
***
Sinar menyalak kembang api yang keluar dari besi yang di tempa langsung oleh kakek, Feng Ying pulang ketika sore menjelang petang. “Kakek kenapa masih bekerja?” tanya Liu Jun, ia bertingkah khawatir ketika kakek bekerja terlalu keras pada hal yang di sukainya.
“Tidak apa, kakek hanya senang seperti melihat sebuah hal hebat yang akan lahir di pedang milik Feng Ying ini.” Demikian ucap kakek sambil mencelupkan besi panas itu ke dalam air yang kemudian berubah menjadi asap tebal. Feng Ying yang merasa saat itu merasa namanya terpanggil secara tidak langsung ikut mengamati kakek membuatkan pedang untuknya.
“Ya sudahlah. Kalau begitu, biar aku bawakan makan malam kali ini untuk kalian berdua kesana.” Paparnya kemudian, pergi memasuki rumah. Lalu Liu Jun kembali sesuai dengan yang di ucapkannya sambil membawa makanan. “Ayo kek, kita makan dulu. Biar Feng Ying yang melanjutkannya.” Kakek dan Liu Jun makan malam terlebih dahulu sedangkan Feng Ying dari awal memang ingin terjun langsung untuk membuat pedang yang sedang di buat kakek untuk dirinya itu.
Sela-sela menempa Feng Ying secara perlahan mulai merasa ada sesuatu di pedang buatan kakek, lalu ia pun melihat sebuah besi seperti roda di bagian gagang pembatas pedang. “Ini apa kek?” tunjuknya menggunakan palu, karena pedang milik Feng Ying belum benar-benar kering.
“Oh, itu … masih rahasia, nanti kamu akan tau sendiri kegunaannya. Sebentar lagi pedang itu juga akan menjadi bagus, kamu tinggal merapihkan saja … kalau ingin terlihat bagus silakan ukir namamu sendiri.” Ujar kakek sambil memakan malamnya yang sebentar lagi habis.
Feng Ying tampak bingung, “Aku belum bisa membaca dan menulis.” Ungkap Feng Ying demikian tersenyum tipis.
Kakek menaruh piringnya yang telah habis dan berkata. “Baiklah, biar aku saja yang mengukirkan namamu …” paparnya sambil menyuruh Feng Ying menyingkir dan bergantian untuk mengerjakannya.
Kakek sepertinya sangat bersemangat kali ini, karena bentuk pedang yang di buatnya bukanlah pedang yang biasa dia buat melainkan bentuk seperti balok kayu persegi panjang serta sangat kokoh. Karena perannya sebagai pembuat pedang, terkadang para perajin pedang di haruskan bisa membaca karena pedangnya biasa di pesan langsung oleh para petinggi atau orang biasa yang hanya ingin menjadikan pedang sebagai tanda mata.
“Sudah jadi … kakek menunjukkan pedang itu kepada Feng Ying.” Pedang itu bertuliskan, ‘Feng Ying’ jika setiap sisinya di putar dan juga di sampingnya bertuliskan ‘Xin Liu’
“Kenapa ada namaku di pedan Feng Ying?” tanya Xin Li sedikit kebingungan.
“Anggap saja ini hadiah untuk kalian berdua, benarkan?” Kakek sepertinya sedang menjahili cucunya itu, dengan sedikit menggelitik sesuatu yang hanya di ketahui mereka berdua.
“Kakek!” Xin Liu tampaknya marah begitu saja, dan tidak dapat di pahami oleh Feng Ying saat itu.
“Tidak usah marah, nanti cepat atau lambat Feng Ying akan mengetahui kebenarannya.” Balas kakek demikian. Kakek tertawa lepas, ia tidak bisa menghentikan rasa ingin tertawanya saat itu.
Suara langkah terdengar jelas, dari arah jalan yang biasa mereka lewati. “Jadi rupanya kau berada di sini?!” kejut Kay yang memergoki Feng Ying bersama dengan kakek dan juga Xin Liu.
“Apa kau berniat menjemputku?” tanya Feng Ying bergegas maju.
Feng Ying tidak dapat melihat jelas wajah Kay, “Tentu saja, aku terpaksa mengeluarkan biaya lebih hanya untuk mencari keberadaanmu kali ini. Padahal apa sulitnya menerima tawaran bagus tuanku?” Wajah Kay perlahan tampak jelas setelah sedikit mendekat ke arah cahaya obor. “Jadi pak tua dan pria kecil itu teman baikmu? Kalau begitu, sepertinya ini akan menjadi hadiah yang bagus untuk tuanku, terutama pria kecil yang berada disampingmu. Bagaimana kalau pria kecil itu kau ajak untuk bergabung di pertandingan yang sama denganmu? Wajah Kay yang kalem kini berubah seperti orang yang kehilangan akal, ia menyeramkan.
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
RIyuu Way