“Bagaimana kau bisa tau tempat ini?!” kejut Feng Ying setelah mengetahui mimpi buruk sedang mendatanginya.
“Bagaimana liburanmu selama dua bulan belakangan ini? Menyenangkan atau sebaliknya?” demikian ucap Kay sembari melihat dua orang kakek dan juga seorang remaja yang berada di samping Feng Ying. “Sepertinya kau sudah memiliki keluarga baru di tempat yang sunyi ini? Lalu bagaimana dengan kakakmu yang masih berada di sana? Apa kamu tidak peduli padanya?” Kay memberi berbagai pertanyaan yang tertuju langsung pada Feng Ying.
Feng Ying menahan diri, ia sangat memahami ucapannya hanya untuk menyulut emosinya, pengalamannya dulu yang sering sekali bertarung dengan Saling memancing emosi membuat Feng Ying memahami akan hal itu. “Kakek, Liu Jun … ini urusanku, jangan terpancing atau melakukan gerakan sia-sia.” justru Feng Ying menahan kedua orang yang berada di dekatnya untuk tidak mengambil tindakan gegabah.
“Percuma sepertinya, jika aku hanya memancing amarahmu yang sudah terlatih. Apa aku perlu menyuruh kawan-kawanku untuk mengambil kedua kenalanmu dan di jadikan b***k pula?” demikian yang di ucapkan Kay kepada Feng Ying, sepertinya ia telah salah hanya untuk membawa kembali Feng Ying.
“Tidak perlu …” Feng Ying memutar badannya, lalu menyobek pakaian berlengan panjang di sebelah kirinya. Kemudian, ia melilitkannya kain sobekan lengan ke gagang pedang yang baru saja selesai di buat oleh kakeknya. “Kakek, sepertinya aku sudah punya target yang akan ku jadikan uji coba buatanmu.” Feng Ying menenteng pedang. Lalu menjadikannya sendiri sebagai tameng hidup untuk kedua orang kenalannya.
Feng Ying belum pernah bertarung menggunakan pedang dan kakek menyadari hal itu karena gaya posisi bersiapnya tidak seperti seharusnya. “Roda besi yang menjadi pembatas, antara mata pedang dan gagang memiliki fungsi. Gunakan itu.” Jelas kakek setelah Feng Ying berdiri di depannya.
“Mengerti, aku hanya cukup memutarnya saja kan? Baiklah, mari kita coba.” Feng Ying mengangkat kedua pedangnya dan mensejajarkan gagang pedang dengan wajahnya, tangan kiri memegang gagang dan tangan kanan memegang roda besi yang menjadi pembatas. “Majulah.” Wajah Feng Ying berubah menjadi sangat serius kali ini.
Rekan-rekan Kay yang merasa di remehkan dengan nada suaranya, akhirnya maju terlebih dahulu “Aa!” jerit sekumpulan rekan Kay yang menyerang Feng Ying secara bersamaan. Seolah sudah mengerti arah mana saja rekan Kay akan menyerang, Feng Ying menyerang dengan cara sederhana namun sulit di hentikan. Roda besi Feng Ying putar, membuat bunyi lembut tapi secara tiba-tiba membuat suara yang memekik telinga. Feng Ying sendiri pun saat itu sedang terjadi ia juga terkejut, namun yang lebih mengejutkan lagi adalah pedang lawan sesaat setelah bunyi nyaring itu berbunyi dan bergesekkan dengan pedang lawan, pedang musuh akhirnya patah menjadi dua.
“Berhenti!” teriakan suara yang menyalak dari Kay. Ia menghentikan seluruh pertaungan Feng Ying dengan beberapa rekannya. Namun, sayangnya sebagian rekan Kay, masih tetap melanjutkan pertarungan dengan Feng Ying. Meski Feng Ying sudah sangat terlihat jelas bahwa ia tidak terlalu pandai memainkan senjata yang di pegangnya, tapi ia sanggup mendominasi. Karena hal itu yang membuat Kay segera mengambil keputusan bijak untuk menghentikan pertarungan.
Serangan Feng Ying yang begitu mencolok karena berani melawan lima sekaligus orang yang berada di hadapannya tanpa ada rasa gusar sedikitpun ketika melawan orang-orang bersenjata sekali pun. “Kenapa berhenti?” tanya Feng Ying demikian kepada Kay, lalu melihat rekan Kay yang lebih memilih mundur. Beberapa senjata rekan Kay berubah menjadi rongsokan setelah terbelah menjadi dua, meski pun berbahan besi bagus sekali pun.
“Aku tau kau kuat. Aku menyadari hal itu, setiap kali kau melawan musuh yang lebih besar dari tubuh kecilmu sendiri …” Kay mengambil kedua bilah nunchaku. “Apa itu tongkat besi? Aku belum pernah melihat sekali pun senjata seperti itu.” Kay memainkan nunchaku yang berada di tangan kirinya, lalu menjepit di antara lengan bahu. Kedua besi nunchaku di hubungkan langsung dengan besi, membuatnya senjata itu terlihat sangat fleksibel. Sedangkan yang berada di tangan kanannya memegang kedua besi nunchaku menggunakan tangannya. “Aku tidak ingin ada yang terluka hanya demi menangkap manusia rendahan seperti dirimu.
“Itu sebenarnya yang aku tunggu-tunggu.” Feng Ying memasang kuda-kuda seperti tadi. Lalu Kay segera menyerang Feng Ying yang sudah memasang kuda-kuda. Ayunan nunchaku lebih flesksible dan sulit di tebak pada setiap arahnya. Feng Ying hanya menangkis sedari tadi, itu yang membuatnya kewalahan di awal saja.
Kai Kay menendang ke samping beriringan dengan serangan nunchaku yang tidak berkesudahan membuat Feng Ying kebingungan. Gerakan Kay ternyata lebih lincah dari pada Feng Ying yang hanya terpaku pada gerakan dasar dari pertarungan yang biasa dia lakukan ketika melawan b***k-b***k bertubuh lebih besar darinya. Seolah sudah terbiasa dengan semua kejadian ini Feng Ying merasa ada yang aneh, karena tendangan dan serangan yang di lancarkan kepada Feng Ying seperti tidak memiliki rasa sakit lebih dari apa yang di bayangkan biasanya.
Tendangan memutar ke belakang di lancarkan langsung oleh Kay kali ini benar-benar membuat Feng Ying terdorong jauh hingga tersungkur. Untungny ada sebuah pedang yang ia pegang membuatnya bisa meredam kekuatan itu dengan sempurna. Setiap kali Feng Ying berniat menyerang dengan pedang yang ia pegang, Feng Ying selalu kesulitan menebas karena nunchaku yang dipegangnya selalu melilit kemudian di arahkan pedang di luar target.
Feng Ying tidak tinggal diam mengetahui semua gerakan pedang yang baru di ketahuinya malam itu selalu di tahan. Semua kemampuan Feng Ying seperti tertaha pada saat itu, kecepatannya dalam bertindak tertahan habis karena belum terbiasa. Kay cukup pintar memanfaatkan kelemahan Feng Ying yang belum cukup handal memainkan pedang baru jadi itu.
“Kau bersukur karena kau tidak akan membunuhmu, melainkan akan membawa menghadap tuan kita kembali.” Demikian ungkap Kay yang secara sadar melihat semua gerakan sia-sia Feng Ying terhadap dirinya.
Kekesalan Feng Ying belum berkesudahan, ia malah membuang pedang yang seharusnya menjadi alat pelindung diri. “Pedang yang merepotkan.” Tangannya langsung mengepal setelah membuang pedang ke arah Xin Liu. “Bersiaplah.” Feng Ying sudah tidak seperti dulu yang selalu cengeng, situasilah yang membuatnya menjadi pria yang di kenal ‘Ngengat kecil Feng’.
Tangan Feng Ying langsung sejajar dengan menyilang dengan pandangannya untuk melindungi bagian mata karena bagian vital dalam bela diri adalah matanya. “Majulah.”
Kay langsung menyerang bagian vital Feng Ying mengenai tepat di antara kepalanya menggunakan nunchaku, “Kau pikir aku akan mengikuti egomu yang konyol melepas senjata seperti tadi?” karena kedua gagang besi yang terhubung saling mengayun, itu malah membuat Kay semakin mudah untuk menyerang kay dari arah belakang meskipun ia berada tepat di depan lawannya.
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Riyuu Way