Bab 37: Akhir yang menjadi pemicu

1208 Kata
Pukulan keras nunchaku yang mengenai pinggang Feng Ying, beberapa tulang sepertinya telah mengalami retak, ia dapat merasakan rasa sakit. Secara bersamaan Feng Ying juga menangkap Nunchaku yang di pegang Kay hingga membuatnya terluka dalam, ia langsung mengambil alih benda yang berada di tangan kanan, tangan kiri beralih langsung menghajar d**a Kay yang terbuka celah itu. Kay langsung terdorong, Feng Ying lebih memilih membuang senjata yang berhasil di rebutnya.   “Lebih baik kau pulang saja, karena aku akan menghampiri tempat itu dan meratakannya dengan tanganku sendiri.” Demkian papar Feng Ying kepada Kay yang saat ini masih memegangi dadanya karena rasa sesak sesaat.   Suara berdecih, Kay tidak membalas Feng Ying ketika menyuruhn dirinya untuk kembali. “Jangan berkhayal jika belum berhasil mengalahkanku.” Ia langsung menepuk dadanya kemudian kembali tegapkan badan. Ia membuang salah satu nunchaku yang masih di pegangnya itu, “baiklah aku akan menuruti semua ucapanmu kali ini untuk bertarung dengan tangan kosong. Sebaiknya kau bersiap dengan kemungkinan buruk.” Kay mempringatkan kembali Feng Ying. “Cepat sudahi, aku memang membenci acara yang membuang waktu.” Feng Ying segera melakukan hal yang seharus. Kay segera menyerang dengan kaki bersamaan dengan memutar badan, gerakannya memang tidak bisa di pandang sebelah mata. Bahkan sepertinya memang lebih lincah, dari pada Feng Ying. Karena sebelumnya memang ia berlatih sebagai anggota militer pemerintahan.   Kaki Kay yang menyerang bagian kepala memebuat Feng Ying sudah sedikit dapat menebak kemana arah serangan itu akan berlanjut. Meski gerakannya sedikit lebih lambat, menangkis dengan kedua tangannya yang berada di samping tendangan Kay. Semua akan berlangsung sengit karena gerakan Kay dan Feng Ying benar-benar cepat.   Rekan – Rekan Kay lebih memilih menonton karena memang sudah di perintah oleh Kay. Kakek dan Xin Liu pun memilih berdiam diri saja. Namun tangan kakek, sepertinya sudah bersiap dengan memegang senjata yang berada di tangan kirinya, karena sejak dari tadi ia memegang erat sembari menunggu momen tepat.   “b******k kau!” teriakan mencuat begitu saja dari wajah seram dari Kay yang terus menyerang dengan secara beruntun, ia melakukan gerakan yang sangat lincah bahkan Feng Ying pun beberapa kali mengalami pukulan fatal, mengenai langsung wajah dan tubuhnya sendiri. Ini di sebabkan oleh gerakan yang sangat liar dari Kay, ia melepas dan meledak-ledak seluruh kekuatannya.   Kaki lincah dari Kay membuat Feng Ying harus terpaksa mengikuti semua gerakan lawannya. Feng Ying saat ini sudah terpancing dan masuk ke dalam sangkar, gerak tubuh Feng Ying semua sudah di batasi dengan cara yang sangat tidak biasa. Pukulan dan tendangan yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan, kini terpaksa harus merasakannya. Kelincahan Kay benar-benar berbeda dari lawan yang biasa dia lawan saat di arena, mungkin karena tubuh lawan yang besar sedangkan Kay memiliki tubuh yang tidak jauh beda dengan Feng Ying saat ini.   Tubuh Feng Ying terlempar jauh mengenai batang pohon jatuh yang nyaris saja membuat Feng Ying terjatuh ke dalam jurang curam. Lirikan Feng Ying yang memandangi jurang gelap, membuatnya menelan ludah beberapa kali. Melawan seseorang dengan gerakan yang terlampau cepat memang membuat Feng Ying merasa dirinya sudah berada di ambang batas kemampuannya. Namun, satu hal yang pasti. Ia melihat kedua orang yang telah menolongnya memandangi Feng Ying, cukup lama. Lalu secara mengejutkan Kakek Berdiri dan lari, meski dengan kaki pincangnya, hendak menyerang Kay yang telah mengungguli pertarungan.   Kaki pincang kakek menjadi sebuah hambatan besar, larinya tidak bisa secepat orang normal. Hal itu yang membuat Kakek mengalami kesalahan fatal karena di saat itu juga. Seorang rekanan Kay maju lalu menebas kepala kakek secara cepat di depan Xin Liu dan juga Feng Ying. Kay sempat menyadarinya, namun setelah menengok ternyata ada sebuah kepala yang sudah terpisah dari tubuh asalnya. Kemudian jatuh ke tanah kering berpasir kerikil. Wajah kakek sempat berekpresi sesaat dengan menarik garis kedua ujung bibirnya meski tipis - tipis yang kebetulan menghadap Xin Liu. “Kakek!” teriak Xin Lin yang sangat terkejut saat itu, ia hanya bisa menangis danberlari menghampiri kepala kakeknya.   Feng Ying dalam keadaan setengah sadar, pandangannya memang tidak terlalu jelas saat itu, tapi setelah mendengar teriakan Xin Liu. Feng Ying segera bangkit dan bangun, Kay sempat lengah karena teriakan pria kecil itu hanya mematung saat sambil masih tetap memandangi ke arah pria kecil itu. Bersamaan di saat itu juga, Feng Ying menjatuhkan Kay dengan menendang keras. Lalu Feng Ying bangkit dan menghajar dengan kakinya yang kini sudah berada di d**a Kay. “Feng Ying! Bunuh dia!” Xin Lin melempar pedang yang baru saja di buat Kakeknya, Feng Ying lantas menangkap pedang lalu secara sadar menggunakan ujung tumpul pedang, dan mengujamkan beberapa kali ke dadanya dengan cukup keras dan terakhir kalinya ia menghujamkan ke area leher.   Serangan brutal Feng Ying yang menghajar d**a dan juga leher Kay tentu saja membuat Kay terkapar. Sesudah kay terkapar, rekan-rekannya datang untuk menyerang Feng Ying. Lantas hal itu membuat Feng Ying makin mengamuk pula dan menyerang dengan membuat pedang-pedang yang mengarah padanya patah menjadi dua bersamaan dengan bunyi nyaring ketika roda besi yang di putar dan pedang saling menempel serta bergesekan. Setelah itu Feng Ying segera memukul rekan-rekan Kay yang terkejut untuk kedua kalinya melihat pedang patah, di saat itu juga Feng Ying langsung memukul lawannya yang mengenai tengku, beberapa mengenai perutnya ketika ujung pedang tumpul menghujam ke arahnya. Ketika Feng Ying di sibukan mengurus rekan-rekan Kay yang sudah terkapar, namun tidak di sadari oleh Feng Ying Kay mulai kembali menggenggam ujung mata pedang patah yang dan bangkit berniat untuk menusuk. “Awas!” menyadari peringatan itu Feng Ying segera berbalik badan, refleknya telat karena masih mengurusi lawannya. Tapi untung saja ada Xin Liu yang sigap langsung bangkit dengan menusukkan pedang bekas milik kakeknya yang tidak jauh dari arah badan milik kakeknya, karena jarak badan dan kepala tidak begitu jauh, ia masih sempat mengambil pedang tersebut. “Terima kasih.” Ungkap Feng Ying yang baru menyadari Xin Liu telah menolong dirinya, ia masih sibuk mengurus sisa lima orang yang masih belum tumbang. Karena Feng Ying masih lemah dalam menggunakan pedang, ia masih kewalahan mencari titik-titik pusat lawan dan pada akhirnya ia boros bergerak. Namun, untung saja Xin Liu langsung kembali membantu Feng Ying, serangannya sangat anggun dan terkesan feminim ketika memainkan pedang. Tapi di balik itu, sisi lain Xin Liu mulai terbongkar setelah tidak sengaja pakaian serba panjang yang biasa di gunakannya sobek, dan mulai ia memutuskan untuk melepaskan ikatan yang berada di pakaiannya. Menyisakan bagian d**a, yang terbalut dengan kain putih seperti perban. Xin Liu sempat memukul dadanya, “Sesak.” Ungkapnya sesaat lalu menyerang lawan, dengan sangat bringas. Kemudian, rumah nyaman itu menjadi tempat berdarah. Xin Liu memandang wajah Feng Ying, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi Xin Liu mengucapkan terlebih dahulu. “Aku tahu, apa yang akan kau tanya. Nanti saja.”   Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN