Bab 38: Tindakanmu menuai hasil

1165 Kata
Liu Jun sedang menabur bunga ke makam kakeknya yang tidak jauh dari rumah dan tempat kerjanya, kuburan dengan lubangny yang tidak terlalu dalam, di timbun kembali dengan pasir lalu di tutupi dengan batu-batu kerikil hingga besar. Mereka juga mengubur semua orang yang telah di bunuhnya, kuburan mereka semua juga tidak terlalu jauh dari rumahnya tapi tempatnya sengaja di pisah agar tidak berdekatan dengan kuburan kakeknya. “Lalu sekarang apa yang harus kau lakukan?” tanya Liu Jun pada Feng Ying yang berdiri sejajar dengannya sambil memandangi kuburan kakek sembari menabur bunga. Sesudah itu, menatap Feng Ying. Feng Ying menatap pedang yang berada di tangan kirinya,” aku akan mengambil kembali kakakku kembali.” Demikian balasnya, “Sepertinya aku butuh sedikit persiapan, karena belum bisa belajar menggunakan pedang dengan benar.” Tangannya meremas keras pedang buatan kakek yang khusus untuk dirinya. Liu Jun pun memandangi pedang yang di pegang Feng Ying, “Aku bisa mengajarimu berlatih pedang, bahkan saat ini pun aku bisa mengajarimu les singkat berlatih pedang.” Ia menunjukkan pedang yang di pegang dengan tangan kanannya. keduanya memandangi rumah, “Apa kamu masih mau tetap berada di sini?” demikian tanya Feng Ying setelah melihat kejadian tadi. “Cepat atau lambat mereka akan menemukan kita jika masih berada di sini.” Sambungnya menantap wajah Liu Jun. “Aku menyukai tempat ini, tenang dan banyak hal yang bisa aku lakukan.” Balas Liu Jun, melihat yang tengah mengambil sesuatu di tempat biasa mereka bekerja sebagai penempa. “Apa yang kau lakukan?” “Mengambil beberapa peralatan yang bisa membantuku masuk kembali ke tempat itu.” Balas Feng Ying. Kemudian, ia membawa jerami. Tentu saja itu membuat Liu Jun kebingungan, karena memang ucapannya tidak sesuai dengan tindakan. “Hei apa yang kau lakukan?” “Diam saja dan bantu aku membawa jerami ini dan masukan ini ke dalam rumah.” Feng Ying sepertinya tidak ingin mengatakan tujuannya terlebih dahulu, sebelum Liu Jun berhasil membantu membawa jerami. “Apa kau berniat untuk membakar rumah ini?”demikian balas Liu Jun yang telah ikut membantu Feng Ying. “Iya, seperti yang kau duga. Kau tidak punya tujuan lain bukan? Sebaiknya kau kabur sekarang juga sebelum di kejar oleh mereka yang belum menyadari beberapa rekannya menghilang tanpa kabar jelas.” Demikian ungkap Feng Ying. “Aku tidak tahu harus pergi kemana, jika aku kabur pun semua akan menjadi sia – sia kembali..” Liu Jun mengatakan itu dengan wajah bersedih. “Pergilah, bagaimana pun nyawamu paling utama. Mengerti?” Feng Ying bersikap dingin terhadap Xin Liu, ia melakukan itu dengan sengaja agar keputusannya untuk menyuruh Xin Liu berakhir sesuai rencanannya, jika pun ia harus di sini kemungkinan besar Xin Liu akan celaka dan itu tidak boleh terjadi. *** Pagi menyongsong, Feng Ying memegang obor, ia mulai membakar jerami dan kayu-kayu kering yang mengelilingi rumah. Perlahan, api merambat mengelilingi rumah, mereka berdua melihat rumah yang perlahan membakar. Feng Ying membiarkan Liu Jun melihat rumahnya terbakar, sementara itu Feng Ying sendiri kembali lagi ke tempat mereka biasa mengambil pedang. Feng Ying memberikan pedang untuk Liu Jun, pedang ramping yang sedikit dengan kedua mata pedangnya bergerigi di bagian punggung. “Aku pikir kau akan menyukainya, selain pedang yang di pegang olehmu sedari tadi.” Liu Jun memegang pedang bekas milik kakeknya, kemudian melihat kembali pedang yang sedang di pegang Feng Ying. “Apa pedang itu buatanmu sendiri?” tanya Liu Jun demikian, lalu mengambilnya. “Tentu, aku harap itu bisa melindungimu. Mungkin ini bisa menjadi perpisahan kita.” Papar Feng Ying sembari melihat rumah yang sedang terbakar menyalak-nyalak mengeluarkan asap tebal. “Terima kasih, apa kamu masih berpikir untuk pergi ke tempat itu?” Liu Jun bertanya sekali lagi, ia ingin memastikan tekad Feng Ying. “Tentu saja, dengan pedang yang di berikan kakek.” Ia memegang gagang pedang yang berada di belakang pundak kirinya. “Aku memang tidak terlalu handal menggunakan pedang ini, tapi sudah tidak ada waktu lagi untuk belajar menggunakan pedang.” Demikian balas Feng Ying, ia merasa sedikit bersedih hati karena kurangnya persiapan. “Aku bisa mengajarimu, dan membantumu … pedang yang kau pegang saat ini ada namaku yang tertulis di sana, lagi pula aku tidak mempunyai tujuan hidup lain, selain menjadi penerus kakek yang kini harapan itu terpaksa harus aku kubur.” Liu Jun, pun menuju tempat mereka biasa bekerja. “Ikuti aku, mungkin ada sesuatu yang cocok untuk kamu pakai saat ini.” Feng Ying mengikuti langkah Liu Jun. “Apa yang kamu lakukan?!” Feng Ying heran, karena ia mengeruk tanah yang berada di dalam tempatnya bekerja menggunakan cangkul. Kemudian, suara cangkul yang membentur sesuatu bernunyi, lantas Liu Jun langsung mengeruk menggunakan tangannya. Feng Ying akhirnya membantu. Kotak besar, mereka angkat bersama, Liu Jun memaksa membukannya dengan menggunakan palu. Hingga kayu pun menjadi jebol, sesuai dengan kemauannya. “Akhirnya.” Mereka berdua menyingkirkan serpihan, kayu serta jerami yang berada di dalamnya. “Semua senjata ini, hasil karya penerus terdahulu kakek, dan ada juga milik kakek yang berada di sini. Mungkin kau bisa memiliki salah satunya.” Senjata-senjata aneh tersimpan rapi di bawah tanah. “Aku yakin kau merasa bingung, dari turun temurun ketika sudah sah menjadi penerus, mereka di wajibkan membuat senjata aneh, dan yang paling penting adalah berguna jika di pakai.” Demikan ungkap Liu Jun, ia menumpah semua senjata yang berada di dalam kotak. “Cepat pilih, lalu bantu aku menyembunyikan ini yang jauh dari rumah ini.” Feng Ying melihat-lihat sesuatu yang berada di dalamnya, “Sepertinya ini tampak bagus” Ia memilih tameng berukuran kecil, tameng itu berbentuk oval di gabung bersama sarung tangan besi yang melekat, bagian ujung yang runcing serta. “memang terlihat aneh tapi ini lebih ringkas, aku menyukai ini.” Ia langsung memakainya, dan ternyata ukuran tangannya pun cocok, meski ukuran sarung tangan itu besar tapi bagian dalamnya ternyata sempit. Feng Ying tertawa, “aku seperti punya tangan yang besar sebelah.” Sepertinya ini memang cocok untukmu, “Aku memilih ini.” Liu Jun menunjukkan panah ringkas berukuran kecil yang berada di tangan kirinya, serta beberapa buah belati yang dia taruh melingkar di sekitar pahanya. “Baiklah, sekarang bantu aku merapikan ini, lalu membawanya ke tempat yang jauh dari gunung ini.” Liu Jun menunjuk jurang dalam, saat tempo malam kemarin Feng Ying hendak jatuh. “Kau gila? Bagaimana kita akan kesana?” *** Aa! Bagaiamana cara menghentikan ini?! Teriakan kencang dari Feng Ying ketika meluncur cepat ke bawah, bermodalkan papan kayu mereka berdua munuruni jurang yang curam. Sembari menggeret memegangi kotak kayu berisikan barang-barang spesial. Tidak ada, dan tidak bisa! Mereka akhirnya berhenti, setelah tercebur ke dalam aliran sungai kecil. Mereka mulai bangkit dan mengubur kotak itu. --------------------------------------------------------------------------------------- Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku. Mohon di mengerti,  kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN