Bab 39 : Rencana awal mula

1208 Kata
Feng Ying kembali dari dalam hutan dengan membawa seekor kucing hutan yang tengah pingsan karena racun bius serta Liu Jun yang sudah menyiapkan kayu dan ranting-ranting pohon yang berada di sekitarnya. Liu Jun membantu membakar kayu, sedangkan Feng Ying menguliti hewan hasi buruannya, kemudian menunggu api yang membakar kayu hingga menjadi arang, ia meletakan membalut daging-daging buruan ke dalam dedaunan. Feng Ying berniat mengasapinya, sedangkan sisanya ia bakar biasa, ia sengaja melakuakn itu agar sisa daging yang masih banyak dapat di makan kembali atau untuk perbekalan mereka nanti. Suasana tenang dengan di kelilingi arus kecil dari sungai jernih serta berbagai suara hewan yang saling bersahutan, Feng Ying dan Liu Jun saling diam fokus dengan kegiatannya masing – masing. Kemudian, beberapa saat setelah berlama-lama terdiam. “Feng, apa kamu sudah mempunyai rencana bagaimana cara masuk dan kabur dari tempat yang kamu maksud?” Feng Ying hanya tersenyum tipis, “Tempat itu sangat besar dan sedikit celah saja, untungnya aku sudah ada kemungkinan celah itu dapat di masuki.” Demikan balas Feng Ying dan kembali tersenyum hanyut dalam rencana yang berada di dalam bayangannya. “Berhentilah tersenyum aneh, aku butuh penjelasanmu secepatnya … lalu jauhkan pandangan mesummu ke arah dadaku!” Liu Jun langsung menampar setelah mengetahui tatapan Feng Ying yang mengarah pada bagian senitif jika di pandangi. Sialnya Feng Ying tidak dapat menghindar karena hal itu ia mendapatkan tamparan yang cukup keras dan merasakan sakit dalam beberapa saat sembari memegangi pipinya.“Aw! Aku bukan menertawakanmu.” papar Feng Ying, “lagi pula aku tidak terlalu tertarik … bahkan punya kakaku masih lebih besar dari pada punyamu.” pambung Feng Ying dengan rasa sombong yang berada di dalam hatinya. Tamparan baru saja terjadi untuk kedua kalinya, “Berhentilah!” wajah Liu Jun sedikit memerah atas pernyataan Fing Ying. “Baiklah, langsung ke inti saja.” Feng Ying mengelus kembali pipinya kembali saat baru saja di pukul. Kemudian, wajahnya kembali serius. “Mereka akan mencari anggotanya yang hilang secepat mungkin, kau tau bukan? Alasanku membakar rumah itu termasuk bagian dalam rencanaku, mungkin beberapa orang sekitar akan ke sana untuk mengecek lalu memberi kabar kalau ada rumah yang terbakar di tengah hutan serta tragedi hilangnya anggota yang beriringan.” Ia berkata seperti itu sembari tersenyum seolah semua sudah termasuk ke dalam rencananya “Jadi mereka nanti akan mencari ke rumah yang kita bakar, di saat keadaan tempat yang menjadi tujuan menjadi sepi?” ungkap Liu Jun sedikit memahami maksud Feng Ying, lalu Feng Ying mengangguk sembari tersenyum serta memakan daging yang baru saja masak, sesekali ia juga membalik daging yang di asapi. “Bagaimana cara kita memastikan para penjaga keluar kemudian kita?” sambung Liu Jun. “Kita datangi, menyewa penginapan yang tidak jauh dari tempat itu.” Balas Feng Ying, tersenyum karena ia mengingat semua jalan untuk ke sana sekaligus tempat penginapan yang tidak jauh dari tempat itu. “Kau gila?! Jika kita menginap, kita membutuhkan uang untuk menyewanya.” Liu Jun mengomel tidak habis - habis mendengarkan percakapan tersebut. Feng Ying menunjukkan, beberapa kantung uang yang dia simpan dan sembunyikan dari Liu Jun. “Kita punya sekarang.” Kemudian, ia membuka semua kantung, dan di kumpulkan di atas tanah. “Aku tidak tahu, berapa harga uang sewanya. Paling tidak ini terlihat banyak, kau yang membawanya.” Ia memberikan sekantung uang kepada Liu Jun, dan satu kantong lagi untuknya, berjaga-jaga.” Dua kali Liu Jun di kejut oleh jalan pikiran Feng Ying, “Apa kamu mengambilnya dari mayat-mayat tadi?” lalu ketiga kalinya, setelah Feng Ying berniat memberikan sebagian uang untuknya. “Kenapa tidak kau pegang semua?” “Kau tau kan? Aku tidak terlalu paham mengenai uang. Jadi bantu aku saat menyewa.” Feng Ying menepuk kantungnya, “Uang yang aku pegang ini, aku simpan sebagai cadangan jikat terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.” sambungnya, sembari memasukkan ke dalam sela kerah bajunya. Mereka memakai selendang pakainya yang cukup banyak melingkari bagian atas kepala dengan panjang sepinggang, hal itu membuat mereka seperti orang asing yang baru memasuki kerajaan. “Jadi kapan kita akan beraksi?” Liu Jun sedang memakan daging yang telah matang di bakar. “Setelah daging asap kita matang, baru kita pergi. Mungkin sore hari, jadi saat ini kita punya banyak waktu untuk bersantai.” “Bagaimana kita berlatih?” “Aku suka cara berpikirmu. Oke setelah makan.” Papar Feng Ying, memepercepat makannya. Kemudiian, mengambil air yang berada di sungai dan meminumnya. *** “Apa kamu sudah siap?” papar Feng Ying berkata demikian, kepada Liu Jun yang juga tengah bersiap. Mereka mulai mengatur jarak, kemudian secara bersamaan berari dan saling mengarahkan pedang. Feng Ying yang sudah jelas terlebih dahulu untuk melakukan untuk menyerang terlebih dahulu. Wajah Feng Ying sudah terlihat jelas bahwa ia akanmulai menyerang, Liu Jun sudah mengantisipasi hal itu dengan sangat jelas terlihat. Serangan demi serangan yang sengaja di arahkan ke Liu Jun di tangkis, terus menerus olehnya. Feng Ying sepertinya belum mengeluarkan urat jengkelnya, terlihat masih bermain main dengan pedangnya. Pedang kayu yang mereka berdua kenakan sepertinya, sedang di jadikan korban ketahanan, lihat saja mereka terus menerus saling menyerang dan menangkis serangan masing – masing. “Kemana serangan hebatmu sedari tadi bertarung denganku?” tanya Liu Jun terlihat seolah bersantai dengan setiap serangan, Feng Ying sepertinya belum terpancing dengan hasutan emosi yang di berikan langsung oleh Liu Jun. Namun setelah itu ia tersenyum, tipis. “Percuma melakukan hal itu padaku, aku sudah kenyang dengan hasutan seperti yang kau lontarkan denganku.” Feng Ying terus melakukan serangan beruntun, namun serangan itu sering di hentikan oleh Liu Jun yang mengandalkan penglihatan tajamnya, bola mata Liu Jun sepertinya memperhatikan arah ayunan pedang yang mengarah padanya. “Baiklah, sekarang giliranku.” Xin Liu terus melakukan serangan balik. Ia terus mulai membalik keadaan dari bertahan menjadi menyerang. Wajah Feng Ying berubah menjadi tegang, gerakan Liu Jun berubah menjadi makin lincah, ia seperti daun yang melayang sesuai dengan kemaunannya mereka, serangan Feng Ying dapat di hindari dengan mudah. Namun, berbeda dengan Feng Ying yang kesusahan untuk menghindari, setiap serangan yang di lancarkan lawan tandingnya. Semua semakin cepat berlalu, saat Liu Jun berhasil menggiring mundur Feng Ying yang tengah menghindari serangan. Pertahanan Feng Ying semakin handal saat itu, namun sial bagi Feng Ying, kakinya tersandung di antara rambatan akar pohon besar yang tidak dapat di lihat olehnya saat itu karena terlalu fokus memperhatikan arah serangan yang di lancarkan Feng Ying. “Sial!” umpat Feng Ying yang berusaha bangki namun ia, di depan wajahnya sudah di todong oleh pedang kayu. “Baiklah, aku mengaku kalah.” Sambungnya berlanjut tidur. Liu Jun akhirnya duduk setelah melihat Feng Ying yang merebahkan diri di tanah.“Perhatikan langkahmu, selagi kau bertarung, itu pertahanan utama yang harus kau lakukan.” Ia melihat ke atas, sepertinya kita masih punya banyak waktu.” “Istirahat terlebih dahulu, tenaga modal utama.” Feng Ying bangun lalu, pergi menuju tempat pengasapan daging dan membalik kembali daging. Liu JunLiu Jun. --------------------------------------------------------------------------------------- Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku. Mohon di mengerti,  kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN