Bab 40: Memulai rencana

1197 Kata
Mereka kembali membagi dua daging hasil buruannya, dan di bungkus dengan daun lebar. “Ayo Feng Ying kita berangkat.” Xin Liu memperhatikan Feng Ying sedang membuang pasir-pasir sisa pembakaran. “Apa yang kamu lakukan?” “Aku sedang menghapus beberapa jejak penting kita.” Beberapa kali Feng Ying memungut sisa pembakaran dan menghanyutkannya, “Sudah selesai, ayo kita cari jalan keluar menuju pemukiman.” Ajaknya. “Biar aku yang memimpin jalan, sudah pasti kamu tidak paham jalan yang aman atau sebaliknya.” Ungkap Xin Liu lalu memimpin perjalanan. Feng Ying tidak terlalu banyak protes dan memilih mengikuti arah yang di tempuh temannya. Mengetahui fakta Xin Liu seorang gadis, merupakan kejutan bagi Feng Ying. Ia tidak terlalu mempermasalahkan alasan Feng Ying sampai harus berpakaian menjadi seorang pria. Mungkin yang masuk akal adalah demi keamanan dirinya. Tapi, yang paling aneh lainnya. Xin Liu sepertinya mempunyai alasan tersendiri untuk melakukannya dan saat ini pun Xin Liu masih menggunakan pakaian yang membuatnya menjadi seolah – olah pria. Melawati hutan yang belum pernah di lewati orang - orang memang sudah seperti menjadi sebuah tantangan yang harus di selesaikan mereka berdua saat ini, “Berapa jam kita akan sampai ke sana?” tanya Feng Ying, setelah melewati hutan-hutan rimbun yang tengah di jadikan jalan keluar. Mereka sepertinya tidak bisa keluar cepat dari situasi yang menyengkelkan tersebut. *** Hari semakin sore, mereka masih berjalan menelusuri hutan dan rasa sabar mereka sepertinya sudah mencapai batas. “Apa sebentar lagi?” tanya Feng Ying seketika melihat sesuatu yang berada tepat di depan mereka. “Sepertinya kita hampir sampai.” Papar Xin Liu saat melihat rentetan pohon-pohon berisikan buah-buahan yang mungkin saja di tanam oleh penduduk tak jauh dari situ. Tidak lama setelah melhat tanda itu, mereka kembali menemukan rumah gubuk yang berdiri di tengah hutan. Lalu wajah mereka tampak tersenyum. Kemudian mereka mendengar suara orang – orang yang tengah lalu lalang menjelang malam hari untuk kembali ke rumah. Mereka pun akhirnya keluar, semua orang tampak sedang sibuk dengan pekerjaan sisa yaitu merapikan, beberapa dari mereka sedang membuka kedai, lampu – lampu, dan penginapan di malam hari. “Apa kita akan menginap di sini?” tanya Xin Liu. “Tentu saja tidak, tempat yang kita tuju masih sedikit jauh, di jalan ini kita hanya perlu luruh saja. Lalu saat kita masuk penginapan, jika ku rasa tidak terlalu jauh.” Balas Feng Ying berjalan beriringan dengan Xin Liu. Perjalanan yang singkat, tapi semakin malam. Kota semakin cerah dan menyala karena di kanan kiri mereka obor – obor menyala dan saling menerangi jalan yang mereka berdua lalui. Feng Ying pun sempat terheran karena tempat ini menjadi sedikit ramai, berbeda dengan dirinya ketika kabur. Semua orang menutup pintu dan jalanan menjadi sangat sepi, namun. beberapa tempat memang masih menyala. “Apa itu tempatnya?” tanya Xin Liu, seketika melihat sebuah tembok besar yang mengelilingi rumah-rumah yang berada di dalamnya, penjagaannya pun sangat ketat seperti biasa. Xin Liu berpikir negatif saat itu, “Apa kamu yakin kita bisa masuk dengan bebas?” sambungnya. Feng Ying pun melihat hal yang sama, “Iya itu tempatnya, kita tunggu saja sesuai rencana.” Lalu ia melanjutkan jalannya mencari sebuah penginapan, ia mengetahui dan dapat membedakannya, hanya dengan melihat obor – obor dan lilin yang berjejer di depan pintu serta beberapa orang yang tengah berjaga di luar. “Itu tempatnya, ayo kita masuk.” Meski tau ada penjaga, Feng Ying berusaha bersikap tenang. “Permisi …” ucap Feng Ying setelah melewati para pegawai yang sedang berjaga. Tempat penginapaan ini tidak terlalu besar, seperti penginapan milik Xue Jang, pemilik para b***k. Namun, hampir semua penginapan, berjejer dan tidak jauh dari lokasi. Mungkn karena, melihat peluang, ketika para pria hendak tidur dengan membawa wanita-wanita sewaannya yang tidak lain adalah seorang b***k pula. Suasana sepi di lorong dan hanya terdapat seorang pria yang juga seorang pegawai sedang menunggu pelanggan. “Kami mau pesan kamar dua di satu ruangan. Berapa harganya?” ucap Feng Ying kepada pelayan yang tengah berdiri di hadapannya. “Delapan koin perak untuk dua orang di satu ruangan.” Balasnya dengan nada yang sangat datar. Feng Ying dan Xin Liu saling menatap, “Apa tidak bisa di murahkan lagi? Oh iya, tolong, kamar yang menghadap ke tempat itu.” tanya Xin Liu sembari menunjuk ke arah tempat yang akan mereka tuju. “Tidak bisa, mengingat, barang-barang kami yang sering rusak … apa lagi jika ada pria membawa masuk wanitanya kemari, harga sewa bisa naik sewaktu-waktu. Kalau, anda berniat menyewa akan kami siapkan, sesuai yang tuan sekalian minta.” Papar pegawai penginapan menjelaskannya. Tanpa berpikir panjang dan mengingat lingkungan yang mereka berdua pilih termasuk dekat. “Baiklah, berapa malam kami bisa menginap?” tanya Feng Ying bertanya untuk memastikannya. “Dua malam, jika kalian mau. Tapi tanpa makanan, jika kalian mau dengan makanan, bisa satu malam.” Papar pegawai kembali serta berwajah datar yang tentunya wajah itu tidak ingin di lihat kembali. “Baiklah, kami memilih dua malam saja.” Xin Liu langsung menjawab, dan memberikan uang yang sesuai harga. “Terima kasih, baik pegawai kami akan menunjukkan kamarnya.” Paparnya dengan ekspresi yang tidak pernah berubah. Sepertinya Feng Ying sedikit tidak terima dengan jawab seenaknya dari Xin Liu, “Kalo kami ingin memesan makanan berapa tambahan harganya?” “Makanan untuk dua orang, satu perak dan lima perunggu sekali makan.” Jawabnya kembali. “Baik tolong pesanankan kami makanan.” Balas Feng Ying, setelah mendengar harga yang tidak jauh berbeda. “Apa yang kamu lakukan?” Xin Liu berkata demikian karena tindakan Feng Ying yang seenaknya. “Tenang saja, kita masih banyak sisa.” Balas Feng Ying, kemudian mereka bedua di tuntun dan mengikuti semua petunjuk dan arahan langsung dari pegawai, lalu menunjukkan kamarnya. Kamarnya tidak terlalu luas, namun sudah lebih dari cukup untuk mereka menginap, satu hal lagi jendela yang berhadapan langsung dengan jendela depan sudah sangat menguntungkan bagi mereka berdua. Mereka berdua masuk, Xin Liu memandangi jendela yang hanya menggunakan bambu sebagai pengaman. Feng Ying menaruh semua barang di dekat tempat tidur yang akan di tempatinya. “Kita akan berjaga satu sama lain, sambil mengawasi memperhatikan para penjaga yang nantinya akan keluar ramai-ramai. Kemungkinan, mereka akan keluar malam. Aku juga tidak bisa memastikan kapan.” Papar Feng Ying kemudian melepas bajunya, dan mengelap semua keringat yang ada di tubuhnya. Xin Liu masih memandangi Jendela sambil mendengarkan, “Jadi malam ini giliranku saja yang akan berjaga.” Tuturnya. “Tidak boleh, aku sudah terbiasa terjaga, berbeda denganmu. Jadi kau tidur lebih dahulu.” Ucap Feng Ying bersamaan mengibaskan pakaiannya yang sedikit basah karena keringatnya. Lalu menaruhnya di pinggir ranjang. Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN