Bab 29: Memulai kembali Bagian 1

1219 Kata
“Apa yang kau lakukan sampai bisa terjatuh seperti ini?” Liu Jun tampak khawatir atas yang baru saja terjadi para pria asing. Kemudian ia langsung membantunya menaiki ranjang suara keras dari Liu Jun terdengar hingga keluar, meski suaranya tampak samar karena lingkungan yang sepi. Kakek segera datang dan menemui mereka berdua di kamar. “Kenapa? Apa yang baru terjadi?” saat Liu Jun hendak ditanya, ia malah pergi keluar dari kamar. Kakeknya hanya melihat kepergian Liu Jun yang terburu, meski begitu kakek memutuskan mengecek sendiri kondisi pria asing itu. “Hmm, sepertinya kau baik-baik saja.” Ia mengecek nadi yang ada di tangan kiriny dan juga lehernya. Kemudian, Liu Jun datang membawakan obat yang di bawanya saat menuruni gunung bersama kakek. “Cepat minumlah obat ini, aku tidak mau kau mengalami hal ini lagi … mengerti.” nada Liu Jun memang terdengar datar. Namun ucapannya begitu tegas kepada pria asing yang belum di kenalnya, setelah itu orang yang disuruh meminum obat itu langsung menuruti ucapan Liu Jun. “Feng Ying …” ucap pria asing kemudian terlepas bisa bicara namun tidak terlalu ketara. Feng Ying mengatakan itu setelah meminum obat yang di berikan Liu Jun. “Aku mengerti, cepat tidurlah. Aku tidak ingin berlama-lama berbicara dengan orang sakit.” ujar Liu Jun kepada lawan bicaranya. “Apa kamu bisa memakan ini dengan tanganmu sendiri?” sambungnya bertanya sambil menunjukkan bubur kentang yang sudah di tumbuk halus. Feng Ying langsung mengangguk, “Bisa …” balasnya kembali lirih, kemudian tangannya berusaha menggapai sendok. “Hei apa yang kau lakukan? Senderkan dulu tubuhmu sebelum makan.” kejut Liu Jun kepada Feng Ying yang berusaha mengambil sendok di atas mangkok di pegang langsung olehnya. Sesudah itu, Feng Ying di bantu bangun olehnya. Perlahan tapi pasti Feng Ying mulai belajar memakan dengan sendok meski tangannya masih gemetar paling tidak ia bisa mengangkat sendok. Sesudah habis, Feng Ying langsung kembali tidur lelap. Keesoka harinya Feng Ying masih belajar menggunakan tangan ketika makan, tapi secara perlahan. Ia hendak bangun untuk buang air kecil dan buang air besar. Ia mulai bisa melakukannya sendiri meski harus di antar. hari yang konyol dan penuh dengan hal-hal baru. Satu minggu setelah, Feng Ying akhirnya bisa berjalan sendiri. Ia mulai membiasakan diri, meski terkadang kesulitan akibat kehilangan keseimbangan. Dua minggu sesudah ia benar-benar sembuh dari lumpuhnya, karena memakan buah beracun yang di kiranya dapat di makan. Kini Feng Ying mulai kembali lincah seperti dulu, semenjak insiden dua bulan lalu Feng Ying kabur dari tempat p********n yang mengurungnya. Feng Ying pun bisa membalas budi dan terkadang kala membantu mereka mencarikan makanan berupa hewan hasil buruannya yang sebelumnya pernah di pelajari saat ia kecil, tidak lupa pula ia juga mencarikan kayu bakar. Hal ini benar-benar membuat Feng Ying mengalami nostalgia yang amat mendalam setelah sekian lama menjadi korban p********n dan terus mengalami permainan yang mempertaruhkan nyawanya. Feng Ying baru saja mendapat giliran memasak setelah dia mendapatkan buruan kucing liar yang berada di hutan, beberapa buah dan juga kayu bakar juga di bawa secara bersamaan. Aromanya sampai masuk menyengat hidung, begitu harum khas bakar yang membuat siapapun ingin memakannya. “Feng Ying, apa yang kamu masak kali ini?” tanya kakek, setelah melihat dua hidangan berada di atas piring tanah liat dan juga kentang yang di tumbuk dengan bumbu pedas. Liu Jun pun sepertinya tertarik dengan aroma harum yang di hasilkan daging yang masak dengan sempurna. Satu gigitan daging, masuk ke rongga mulut kosong, kakek mengunyahnya dengan sangat lahap. Lalu ia pun mencoba kentang tumbuk dengan bumbu pedas. Saking terkejutnya dengan masakan Feng Ying yang tidak pernah habis memberikan kejutan membuatn mereka berdua bingung. “Bagaimana kamu dapatkan semua rasa ini?” tanya Liu Jun yang sangat penasaran dengan cara memasak yang belum pernah di ketahuinya. Padahal, cara memasak Feng Ying sangatlah sederhana. Namun cita rasa yang di hasilkan begitu enak. Satu hal lagi mereka berdua bisa memakan daging hampir setiap hari saat Feng Ying yang ternyata bisa berburu. “Caranya? Sangat mudah … mau aku ajarkan?” tawar Feng Ying kepada Liu Jun yang sangat tertarik dengan cara masaknya. “Benarkah?” Liu Jun langsung tersenyum senang, ia kembali menikmati makanannya. “Dimana kamu mempelajari cara memasak ini?” tanya Liu Jun langsung berkata demikian. Seketika senyum Feng Yin yang tadinya mereka kembali sayu, “Aku di ajarkan memasak oleh kakakku, kami berdua bukan berasal dari sini.” Ucap Feng Ying menjelaskan langsung kepadanya. Mengetahui Liu Jun tidak sengaja menanyakan hal yang sangat ringkih, ia memutuskan tidak melanjutkan bertanya. Kemudian kakek, seperti memiliki rasa yang sama ia langsung mengalihkannya dan berkata, “Nanti sore kami akan membawa pedang ini. Apa kau mau ikut dengan kami? Setidaknya mencari angin segar setelah berminggu-minggu memandangi pemandangan yang sama.” Tawar kakek kepadanya. Tawaran itu jelas sangat membuat Feng Ying tertarik, tapi ia memikirkan penjaga-penjaga yang saat ini sedang mencari dirinya. “Maaf, aku ingin ikut kalian tapi masih belum bisa mengikuti kalian untuk menuruni tangga.” papar Feng Ying, lalu ia kembali berkata. “Permisi, aku harus mengambil obat yang baru saja aku buat, seharusnya obat itu sudah matang.” Kemudian ia pun meninggalkan tempat ini. *** Sore hari pun datang, Seperti biasa kedua kembali mengantarkan barang pesanannya berupa pedang. Di saat, Liu Jun hendak memberi tahu kepada Feng Ying bahwa ia berniat untuk ikut. Feng Ying memakai tudung buatannya sendiri yang di sambung di pakaian berlengan panjang dengan mengorbankan pakaian khas penjaga yang ia ambil dari mayat. “Jadi kau mau ikut?” tanya Liu Jun , ketika di kejutkan dengan gaya berpakainnya sedikit aneh karena buatan tangan Feng Ying yang tidak terlalu rapi. Lalu Feng Ying mengangguk, dan ikut keluar. Liu Jun mengabari kakeknya, “Kakek, Feng Ying mau ikut kita.” Kakek menengok panggilannya, “Oh jadi, kau mau ikut. Kalau begitu syukurlah Karena stok pedang minggu lalu dan minggu ini mencapai lebih banyak dari minggu-minggu kemarin.” Paparnya, “Liu Jun tolong bantu dia ambilkan beberapa pedang yang akan di jual. Liu Jun membantunya, merapikan semua barang yan berada di tempat kerja. Feng Ying hanya melihat kemudian mendekati, ketika pedang yang akan di bawanya sedikit terisi penuh. “Sepertinya ini sudah cukup.” Ungkap Liu Jun kepada Feng Ying. Feng Ying tampak terkejut, “Aku bisa membawa lebih, jadi bawakan yang sedikit lagi.” ucapnya remeh. “aku tidak menyarankannya karena kau belum sembuh.” Balas Liu Jun kepada Feng Ying, yang tampak kecewa. Tidak bermaksud mengerjai, lalu Liu Jun berkata. “Mungkin sebaiknya kamu mau mencobanya terlebih dahulu.” Hal yang sudah di duganya pun terjadi, Feng Ying tidak bisa mengangkatnya meski sudah di bantu Liu Jun. Kemudan, Liu Jun kembali menurunkan beberapa pedang dan akhirnya Feng Ying berhasil mengangkatnya. “Apa aku bilang, kau belum terbiasa.” “Kau belum mengatakan itu.” ucap Singkat Feng Ying “Paling tidak aku sudah mengatakanya walau telat.” Liu Jun kembali melempar ucapan Feng Ying. “Sebaiknya kita harus bergegas.” Mereka berdua langsung mengejar ketertinggalan ketika kakek lebih dahulu menuruni gunung. Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku. Mohon di mengerti,  kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN