Bab 30: Apa Seperti ini rasanya bebas?

1174 Kata
Keinginan bebas kini sudah tidak menjadi sebuah mimpi belaka, kini ini sudah dapat di rasakan langsung oleh Feng Ying setidaknya ini yang di rasakannya saat ini. Wajah Feng Ying tampak antusias melihat penmandangan luar, tanpa perlu memikirkan orang-orang yang berada di sekitar yang memperhatikan karena keadaan di luar tidak terlalu ramai seperti sewaktu pertama kali di saat terbangun di tengah ramainya pasar Liu Jun dan juga kakek memperhatikan tingkah antusias Feng Ying, mereka tersenyum tipis tanpa sedikitpun mengganggunya. Mereka berdua hanya memandangai satu sama lain, di tengah-tengan beban berat keranjang berisi pedang yang di pikul, mereka berdua masih tetap menikmatinya. Langkah pertama mereka, ketika memasuki gerbang, penjaga kembali menyapa seperti biasanya dengan ramah begitu juga sebaliknya. Kakek pun membalas senyum ramah mereka berdua, gerbang di buka. Tapi kini sedikit berbeda, suasananya tampak begitu sepi karena mereka semua sedang libur latihan, dan saat ini para prajurit sedang melakukan kegiatan seperti biasanya yaitu berpatroli di area sekitar kerajaan dan luar kerajaan untuk menjaga keamanan jalur pasar antar pedagang kerajaan. Faktanya perang masih terus berlangsung namun tidak semua kerajaan mengalaminya, hanya meraka yang tidak bergabungan persatuan khusus kerajaan agar mereka dapat melakukan jalur perdagangan dengan bebas, namun karena biayanya yang sangatlah mahal. Beberapa kerajaan kecil yang hanya memiliki sedikit masyarakat, sangat sering di jadikan sasaran perang oleh kerajaan-kerajaan besar. Terutama kepada kerajaan yang tidak mengikuti kerajaan. Feng Ying terkagum ketika melihat bagian tersembunyi dari tembok tebal. Bagian dalam yang sangat luas dan juga mewah. Tanaman-tanaman yang sangat luas dengan perawatan baik membuat mereka menjadi tampak cantik. “Bagaimana cantik bukan? Ini kerajaan kami yang paling di hormati, nama kerajaan ini Jiao Yue. Memang kerajaan ini tidaklah terlalu sempurna karena,” Liu Jun tampak menengok situasi sebelum mengatakannya. “terlalu banyak orang-orang yang tidak panas menyadang gelar pemerintahan. “ demikian sambungnya. Kemudian mereka bertiga menemui kembali penjaga gudang yang tidak lain adalah seorang warga sipil yang memiliki keahilan dalam menilai suatu barang. Feng Ying kini benar-benar seolah-olah selayaknya orang bodoh yang baru mengenal situasi yang sangat damai ini. Suasana ini benar-benar berbeda tidak seperti biasanya, “Apa tuan membawa seorang cucu lagi?” tanya seorang penjaga, ketika melihat seorang remaja laki-laki diantara mereka sedang berbincang dengan seseorang yang sebelumnya telah datang kemari. Kakek pun melihat ke arah mereka berdua, “Oh, tidak dia salah satu gelandangan yang telah aku selamatkan di pasar kemarin.” balas kakek masih tetap memandangani merek berdua, “Sepertinya aku memang tidak salah telah menyelamatkannya.” Gumamnya, ketika Feng Ying dan juga cucunya mengobrol bersama, terutama pada Liu Jun ia seperti menemukan teman yang sebaya. “Oh, aku senang mendengarnya.” ungkap penjaga, lalu memberikan kayu berlogo yang sama seperti minggu lalu. “Terima kasih.” Kakek pun menerimanya, kemudian, kembali menyangking keranjang bambunya. “Kalian berdua, ayo kita pulang …” Feng Ying dan Juga Liu Jun pulang dengan senang hati mereka bergegas mengenakan tas keranjang bambu.” Keringat yang bercucuran membuat mereka terlihat sangat senang dengan apa yang terjadi saat ini, terutama Feng Ying yang lebih merasakan kebebasan setelah lama menjadi b***k, Feng Ying belum menceritakan secara detail alasan keberadaannya saat ini, ia masih belum mampu dan berani menceritakan hal ini. Mereka saat ini sedang menaiki gunung, lalu saat itu Feng Ying mendahului mereka berdua yang dan terlebih dahulu menanjak, “Feng mau kemana kau?” tanya Liu Jun ketika Feng Ying bertindak sendiri. “Aku mau mengecek buruanku.” Balas Feng Ying yang terllebih dahulu, walau baru dua bulan mereka saling mengenal, tapi Feng Ying tampaknya sudah saling akrab. “Oh yang tadi, aku ikut.” ungkap Liu Jun, ia mulai mengejar Feng Ying yang terlebih dahulu menanjak dan meninggalkan kakek yang masih berada di bawah. Kakek yang senang melihat mereka akur tampaknya tidak menyesal telah membawa Feng Ying ke dalam lingkungannya. “Woahh! Seekor biawak!” Feng Ying tampak senang karena buruannya kali ini mendapat daging yang banyak. Berbeda dengN Liu Jun ia tampak tidak terlalu menyukai keberadaan biawak yang berhasil di tangkap oleh Feng Ying. Malang bagi Liu Jun, karena Feng Ying menyadari ketakutannya. Feng Ying pun mengikat keempat kaki biawak dan juga mulutnya, meski beberapa kali melawan sepertinya ia berhasil menjinakannya. “Apa yang kau lakukan?! Tidak … tidak!” teriak Liu Jun, ia berteriak karena biawak yang telah berhasil di tangkap Feng Ying ia letakan di keranjang Feng Ying, tapi karena sifat takutnya yang telalu berlebih, ini mebuat Feng Ying terbawa suasana karena ke asikan. “Udah aku iket semuanya, tenang aja. “ papar Feng Ying kepada Liu Jun yang tampak senang menikmati mengerjai orang yang belum lama di kenalnya. Kakek pun sepertinya membiarkan saja ulah jail Feng Ying yang sedang mengerjai cucunya. Akhirnya, dengan rasa pasrah dan juga ketakutan, Liu Jun tidak bisa melawan perkataan Feng Ying. Keranjangnya pun kini terisi oleh biawak. Sela-sela perjalan Feng Ying dan Liu Jun serta kakeknya memang sepertinya mencari berbagai bahan makanan seperti jamur hutan. Kebiasaan ini, menjadi hal baru bagi Liu Jun dan juga kakeknya. Karena mereka jarang melakukan hal itu. Mereka sampai di kediaman, biawak yang di bawa Liu Jun, di kandangkan menggunakan keranjang bambu, tapi sebelum itu, Feng Ying meletakan papan kayu di bawahnya sebagai alas, agar biawaknya tidak dapat membuat lubang celah untuk kabur. Kemudian, setelah Biawak di kurung ia menahannya menggunakan batu besar dan menindih keranjang itu. *** “Tubuhku penuh keringat.” Keluh Feng Ying setelah berjalan seharian, kemudian ia pun melepas pakaiannya. Tubuhnya penuh luka, di beberapa titik tapi yang paling banyak memang di area punggung, seperti sebuah cakaran besar. “Kau kenapa?” tanya Feng Ying ketika melihat wajah aneh Liu Jun. “T-Tidak … cepat mandi sana!” Ia langsung mendorong tubuh Feng Ying, Liu Jun bisa merasakan guratan-guratan bekas luka yang berada di tubuh Feng Ying. “Iya … iya.” Balas Feng Ying demkian. Lalu Feng Ying segera menuju sumber mata air mancur yang berada di luar tidak jauh dari rumahnya. “Sana pergi!” ungkapnya dengan suara lantang, lalu setelah Feng Ying sedikit tidak terlihat di matanya, ia melihat kedua tangannya, yang masih bisar merasakan sensasi guratan bekas luka yang berada di tubuhnya. “Feng Ying dimana?” kejut kakek ketika Liu Jun tengah fokus melihat kedua tangannya, “Apa yang sedang kamu lakukan?” sambungnya bertanya. “A-A … Ada luka serpiha kayu di tanganku. Feng Ying sedang mandi.” Balas Liu Jun kepada kakeknya. “Oh kalau begitu, pakaian kakek bisa di pakainya.” Jelas kakek, lalu pergi keluar untuk memilah kembali pakaiannya. Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN