Feng Ying kini sudah menjadi bagian masyarakat, ia melakukan segala hal dengan leluasa saat ini. Rasa takutnya dan memori kelamnya sedikit terobati. Walapun masih sering mengalami mimpi buruk, terutama ketika ia memimpikan kakaknya yang masih berada di tempat itu.
“Feng Ying tolong bantu aku tiupkan bara api.” Pinta kakek, Feng Ying mulai memberanikan diri untuk membantu mereka. Kali ini mereka hanya berdua, karena Liu Jun sedang menyiapkan masakan daging biawak yang tengah di olahnya. Feng Ying membantu menggorok dan juga mengulitinya biawak pagi-pagi sekali sebelum di masak karena Liu Jun terlalu takut untuk menyentuh hewan buruan itu.
Mereka berdua sepertinya menerima keberadaan Feng Ying di lingkungan mereka setelah apa yang terjadi padanya, “Bagus pertahankan apinya tetap panas sampai aku bilang stop.” ucap kakek kepada Feng Ying yang tengah memompa angin untuk menjaga panasnya bara. Kakek beberapa kali menempa lalu menaruh kembali ke bara api sampai besi yang di tempa perlahan berubah bentuk menjadi sebilah pedang. Pakaian Kakek sengaja ia lepas dan hanya menyisakan celemek berbahan kulit yang menggantung di tubuhnya, ia sengaja melepas pakaiannya agar tidak cepat rusak karena bahan yang ringkih jika terkena cipratan panas, berbeda dengan celemek berbahan kulit yang memiliki ketahanan yang sangat tinggi. Feng Ying sedari tadi memperhatikan cara kakek mengolah besi mentah menjadi pedang yang sangat indah, dalam waktu beberapa jam saja, meski bentuknya masih kasar, namun itu bentuk yang sangat sempurna hanya untuk sebuah pedang.
Kakek menyadari Feng Ying memperhatikan kegiatannya, ia pun berkata. “Apa kamu mau mencobanya?” tawarnya, sembari tangannya sibuk menempa besi. Tadinya Feng Ying sempat menolak tawarannya karena tidak mau membuatnya berlama-lama karena tugas pesanannya masih sangatlah banyak. Tapi pada akhirnya, penolakan itu membuat Kakek seolah marah-marah.
“Begini caranya.” Kakek menunjukkan cara yang benar untuk menempa . Kemudian, secara perlahan membiarkan Feng Ying menempa. Awalnya memang, ia sendiri sedikit ketakutan karena bara cipratan dari besi, akan tetapi secara perlahan Feng Ying mulai terbiasa dan mulai berani memukul besi itu.
“Ternyata kau memiliki bakat menempa.” Ungkap kakek setelah melihat tangan Feng Ying yang begitu lentur mengayunkan palu secara tepat meskipun tenaga yang di gunakan tidaklah terlalu banyak ketika mengayun. Api yang panas membuat keringat Feng Ying bercucuran, rasa haus yang membakar kerongkongan ia rasakan. Karena Feng Ying duduk di samping tepat berada muut tungku api. Pinggangnya seperti terpanggang selama dia menempa, namun ia menahannya dan tetap berusaha fokus menempa.
Beberapa jam berlalu, Feng Ying ternyata orang yang sangat cepat beradaptasi, ia cepat belajar. Hal itu yang membuat kakek mulai menyukai dirinya. Pagi menjelang siang ini memang suasana sedikit dingin, untungnya karena mereka berdua berada di sekitar bara api. Rasa hangat itu mampu menahan rasa dingin yang menerpa masuk, karena ruangan tempat mereka bekerja sangat terbuka.
Kakek juga menempa, dan sesekali memompa dan memasukan bara api kedalamnya agar tetap hidup. Karena Feng Ying yang cepat belajar ia pun berani melepas pengawasan, meski sesekali memperhatikan cara kerja Feng Ying.
“Aku sudah membawakan makanan, untuk kalian. Setidaknya makan siang terlebih dahulu.” Tutur Liu Jun kepada mereka berdua yang tengah fokus menempa. Suara tempaan menjadi sedikit konsisten dan lebih keras karena mereka berdua menempa secara bersamaan. Liu Jun lalu menaruh makanannya ke kursi kayu. Lalu mendekati mereka berdua dan menyentuh pundak mereka. “Makan siang dulu.” ucap Liu Jun kepada kakek dan juga Feng Ying.
Mereka makan bersama, menikmati suasana hangatnya bara api serta sesekali samar-samar dingin karena angin yang menerpa masuk untuk menyapa. Rasa lapar memang obat terbaik jika lelah menghinggap. Karena keadaan diluar hujan deras, Feng Ying, Liu Jun dan kakek sempat menghentikan kegiatannya. Berdiam diri memandangi hujan yang turun, sesekali menatap ke atas langit yang mengkilat beberapa kali.
***
Tempat yang sama dengan susana yang berbeda, sudah dua bulan para penjaga mencari keberadaan seorang petarung sekaligus b***k. Mereka telah lama mencari tapi tidak pernah mendapatkan hasil yang maksimal. Inilah yang membuat beberapa kerugian di alami Xue Jang, karena tidak berhasil menemukan seorang petarung kesukaannya dan juga masyarakat yang mau membuang-buang uangnya hanya untuk melihat pertandingan ini. Para penjaga di keluarkan secara bertahan, inis sengaja di lakukan agar tidak terlalu membuat kegaduhan, dan para penonton semakin kecewa ketika mengetahui fakta itu.
Otak dari lolosnya seorang b***k petarung, yang tidak lain adalah Xin Liu, ia bertingkah seperti biasanya, dan masih tetap melakukan kebiasaan-kebiasaannya seperti merawat. Ia juga sering berpapasan dengan kakak Feng Ying. Dia yang merawatnya, terkadang berbincang kecil saat Xin Liu merawat dirinya.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Xin Liu kepada Xue mei. Ia tampak tidak berdaya, dan ia merasa kelelahan beberapa bulan terakhir karena kurang tidur. Meski pun tugasnya sebagai pramunikmat selesai di malam hari. Meski begitu, pekerjaannya menjadi pramunikmat bertambah ketika harus melayani pria-p****************g secara bersamaan. Tapi itu hanyalah bagian kecil saja. Xue mei juga terpaksa melayani, para penjaga yang bertugas menjaga di saat tengah malam. Ini yang yang membuat xue mei tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat.
Xue mei tidak menjawab pertanyaan Xin Liu, tapi itu tidak terlalu mengganggunya, karena sikap itu sudah terbiasa untuknya. “Sepertinya, kau cukup lelah kali ini.” Ia pun mengambil obat yang berwarna hitam pekat. “Buka mulutmu.”perintah Xin Liu kepada Xue mei, namun karena Xue mei tidak menggubris ucapannya. Xin Liu sedikit memaksa untuk membuka mulutnya.
Reaksi Xue mei pun sudah Xin Liu duga. Xue mei memberontak ketika mulutnya di buka dan di masuki sesuatu ke rongga mulutnya. “Tenanglah … ini bukan apa-apa Cuma obat untuk menyembuhkanmu saja.” Jelas Xin Liu sambil menunjukkan gelas bambu dan ia pun meminum agar Xue mei percaya ucapannya. Setelah Xue mei terdiam, Xin Liu melihat wajah sayu dan pasrah Xue mei yang saat ini terpejam di depan matanya. “Semoga kau bisa tetap bertahan sampai adikmu datang kembali kemari.” Batin Xin Liu, kemudian keluar dari kurungan dan menutupnya kembali.
Para perawat pun juga sudah selesai merawat b***k-b***k yang lainnya, Xin Liu pergi dari tempat iu meninggalkan Xue mei tertidur lelap. Sebenarnya obat yang dia beri setiap hari adalah obat tidur, agar ia tidak mudah sakit. Tapi sayangnya, itu adalah kesalahan besar, di tidur pulas Xue mei terkadang penjaga mempermainkannya di saat tidak sadarkan diri.
***
“Apa kalian sudah menemukan petarung favoritku?” tanya Xue Jang yang tengah menonton pertandingan. Ia saat ini sedang minum di temani beberapa wanitanya.
“Belum tuan, maafkan kami.” ucap Dong zhu, sambil menunduk di ikuti Kay yang berada di sampingnya. Kemudian, Xue Jang beranjak dari kursinya, sambil memegangi secangkir teh, ia secara sadar menumpahkan the itu ke kepala Dong zhu yang sedang menunduk saat itu.
“Apa yang selama ini kalian lakukan selama dua bulan?” tanya Xue Jang, meskipun nadanya terdengar biasa saja. Namun suasan di sekitarnya terasa mengancam.
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Riyuu Way