“Maafkan kami tuan, telah membuang waktu secara sia-sia selama dua bulan terakhir.” ungkap permintaan maaf Dong zhu kepada tuannya. Ia juga masih tetap menundukkan separuh tubuhnya.
‘Aku sedikit mengerti jadi biarlah, kita juga akhir-akhir ini memang memiliki banyak pekerjaan, ini yang membuat kita memiliki terus berdatangan masalah-masalah baru.” papar Xue Jang, “Angkat kepala kalian berdua.” perintahnya, Dong zhu dan juga Kay kembali menegakkan tubuhnya. tentu saja ini sesuatu hal yang sangat biasa.
Kedua bawahannya, menatap ke depan. Xue Jang berdiri tepat di depannya. “Kalian tau, uang yang ku simpan ini bukan hanya milikku saja. Tapi, sebagian kecilnya juga milik kalian para penjaga yang telah menjaga bisnisku dari hal-hal yang tidak aku inginkan …” Xue Jang membalikkan tubuhnya, menuangkan kembali anggur yang berada di dalam poci. “Perampokan, hal-hal yang memicu keributan di tempat usahaku, dan untuk menjaga keamanan para b***k agar tidak kabur,” kemudian ia membalik tubuhnya. “Salah satu dari yang aku sebutkan, kalian gagal menjaganya … mungkin pemotongan gaji merupakan salah satu cara agar kalian jera tanpa harus mengeluarkan biaya lebih untuk menyiksa kalian.”
“Kami janji minggu ini akan segera menemukan b***k yang kabur itu.” ucap Dong zhu menjanjikan yang seharusnya tidak ia ucapkan.
“Apa kau yakin dengan ucapanmu? Kau mengerti bukan arti kata janji? Apa kamu mengerti akibatnya jika melanggar janji apa lagi di hadapanku?” Xue Jang terus mengulangi ucapannya, ia mengancam secara mental, “Baiklah, sesuai kemauanmu. Jika kau sudah menekatkan hal itu. Pangkatmu akan aku turunkan dan di ganti oleh rekan yang berada di sebelahmu itu, kalau yang kau janjikan tidak sesuai ucapanmu. Apa kau sepakat?” Xue Jang kembali duduk di kursinya dan kembali menonton acara pertarungan yang sedari tadi tengah di mulai.
“Baik! Terima kasih tuan.” Dong zhu tersenyum setelah menyetujui permintaannya. “Permisi tuan …” lalu Dong zhu dan Kay meninggalkan ruangan itu sedangkan Xue Jang hanya membiarkan mereka cara pikir mereka saja.
Dong zhu dan Kay berjalan keluar melewati lorong ruangan setelah keluar dari ruangan tuan Xue Jang, “Apa kau gila?! Kenapa haru berjanji dengan tuan kita dan mengorbankan pangkatmu ini?!” seru Kay kepada pemimpin Dong zhu, ia menumpahkan emosi yang sedari tadi di pendamnya selama berada di ruangan itu.
Dong zhu sedikit menarik senyumnya. “Sudah lama aku tidak mendengar umpatanmu yang mengarah padaku ...” demikian ungkapnya, “aku lebih suka menghadapi tantangan seperti ini yang membuatku dapat terus merasa hidup.” sambungnya bernada tegas.
“Kalau begin memang sudah bukan urusanku lagi. Terserah kau akan melakukan apa apun, yang jelas libatkan aku dalam hal ini.” Ungkap Kay kepada rekannya yang berada di sampingnya.
“Tentu saja, sudah aku niatkan sejak awal.” Balas Dong zhu kepada Kay.
“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?”
“Tentu saja kita akan mencari informasi lebih di bagian dalam, sebelum kita mencari informasi di luar. Bagaimana orang kabur tentunya, dan bagaimana orang itu bersembunyi selama ini.” Papar Dong zhu kepada rekannya.
“Terdengar menarik bagiku, tapi yang paling penting adalah kakaknya berada di sini. Bukankah itu aneh jika ia hanya kabur sendirian?” ungkap Kay mengenai keberadaan Xue mei yang masih berada di tempat ini. “Apa mungkin ada orang lain yang menjaganya? Mungkin saja b***k itu kabur hanya untuk mencari rute aman untuk kabur dan nanti dia akan kembali lagi?” ujarnya kepada Dong zhu, begitulah opininya selama ini terhadap b***k bernama Feng Ying.
“Baiklah, semua pendapatmu aku terima. Jadi aku akan mencari seseorang yang begitu peduli dengan mereka tanpa di sadari siapapun termasuk aku dan kamu yang merupakan seorang penjaga.” Jelas Dong zhu.
***
Malam yang terang, begitu terang hingga hampir sebagian rumah terlihat jelas meski di lihat dari jarak yang jauh. Obor yang menyala di setiap rumah tidak sanggup menyaingi terangnya bulan pada saat itu,dan pemandangan ini menjadi sebuah awal mula dari mimpi buruk Feng Ying. Sekumpulan penjaga, saat ini semakin gencar mencarinya, karena pe
rannya sebagai petarung sangat mendominasi, dan pada akhirnya selama dua bulan terakhir keuntungan terus merosot.
Gaya pertarungannya melawan b***k-b***k petarung berbadan besar tidak banyak orang seperti dirinya. Karena hal itu ia arena pertarungan menjadi ramai. Meski pun Xue Jang telah memasukkan beberapa petarung yang memiliki ukuran tubuh sepertinya, akan tetapi mental dan gaya bertarungnya sangat berbeda. Akibatya banyak orang yang mati dengan cara yang mengenaskan.
Feng Ying! Tolong kakak ... kenapa kamu meninggalkan kakakmu di tempat seperti ini?” suaranya perlahan hanyut dan mengecil.
“Kakak! Apa yang kau bicarakan? Bukannya kamu yang tidak ingin mengikuti?” Namun, ia melihat kembali kakaknya sedang di gauli sekumpulan pria telanjang yang tengah menelanjangi kakaknya. “T-Tidak J-Jangan lagi!” Feng Ying pun langsung terbangun, seketika setelah menerima tamparan Liu Jun.
“K-Kau?” tubuh Feng Ying di penuhi keringat yang amat banyak. Ia terkejut setelah mendengar dan melihat Liu Jun yang berada di depan matanya. “Ah, mimpi yang sangat mengerikan.”
“Apa kamu bermimpi buruk lagi?” Liu Jun dan Feng Ying tidur di satu kamar yang sama, bedanya Feng Ying tidur di lantai beralaskan selimut.
“Iya, ini yang ke tiga kalinya dalam seminggu terakhir.” Ungkap Feng Ying sembari memegangi kepalanya, “Kenapa di dalam kamar ini terasa dingin?” papar Feng Ying merasa kegerahan, kemudian melihat bagian luar samar-samar melalui ventilasi. Lalu, ia pun beranjak keluar dari kamar dan membuka pintu keluar.
Liu Jun hanya memperhatikannya sampai keluar kamar saja, lalu mendengar suara pintu terbuka. Ia pun memejamkan matanya, lalu Liu Jun di kejutkan kembali suara nyaring besi-besi. “Ah, apa yang sedang di lakukannya di malam-malam begini?” Liu Jun, berusaha tidak terlalu memperdulikannya.
Tiga puluh menit kemudian, ia kembali mendengar suara itu yang berasal dari luar. “Gila apa ya ...” Liu Jun menutup kedua telingan setelah mendengar suara palu berdentang keras. Membuat suara nyaring di waktu yang salah. “Dasar pria gila!” Liu Jun bangun dari tempat tidurnya dan memutuskan menuju sumber suara yang di lakukan Feng Ying.
Besi berubah menjadi merah terang, kemudian berubah menjadi hitam setelah di tempa beberapa kali lalu dia kembalikan ke dalam bara api yang menyala terang. Feng Ying melakukan tiga tahap itu selama berkali-kali sampai menyerupai bentuk yang diinginkannya.
“Feng Ying! Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” tanya Liu Jun yang memergoki dirinya sedang menempa. Namun, bukannya berhenti Feng Ying malah terus melanjutkan menempa tanpa menghiraukan ucapnnya. Liu Jun memang tampak kesal setelah di amati, sepertinya Feng Ying berusaha membuat sesuatu dan juga berusaha melupakan hal yang mengganggu pikirannya. “Aku mengerti, baiklah ... pintu tidak akan aku kunci, jika kau membutuhkan sesuatu tinggal masuk ke dalam.” Ungkapnya lalu meninggalkan Feng Ying sendirian.
---=------------------------------------------------------------------------------------
Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku.
Mohon di mengerti, kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE.
Riyuu Way