Bab 24: Pria bodoh kabur tanpa rencana

1171 Kata
Ah … Terdengar ringkihan halus seorang wanita muda, yang tengah di jadikan pemuas nafsu dan juga di saksikan langsung oleh puluhan pria yang tidak lain adalah orang yang menyewa langsung wanita itu. Mereka benar-benar menikmati situasi yang di buat, bahkan sekarang mereka tidak peduli dengan privasi dan memilih terang-terangan ketika bermain dengan pramunikmat bersamaan. Dua wanita saat ini sedang melayani sepuluh p****************g, pesta gila yang baru saja di buka tapi malah di nikmati hampir sebagian pria-p****************g. Setidaknya mereka menjadi perbuatan yang sangat buruk. Pelayanan ini termasuk kategori baru setelah aksi kebakaran hebat yang terjadi seminggu lalu, lalu salah satu b***k kabur namun meninggalkan seorang wanita yaitu saudaranya disini. Awalnya wanita ini di jadikan bahan perloncoan atau di jadikan contoh. Sebuah siksaan berupa di jadikan boneka pemuas nafsu dan di gilir secara ramai-ramai oleh puluhan pria. Di pertontonkan oleh orang banyak, namun pada akhirnya. Hal ini menjadi lahan bisnis baru oleh saudagar Xue Jang karena permintaan yang cukup banyak, terutama harga untuk menyewa seorang pramunikmat cukuplah banyak, jadi para pria yang tidak mempunyai uang cukup banyak bisa menyewa secara ramai-ramai. “Haha, gila! Ternyata bagian ini lebih nikmat dari pada bagian sebelumnya.” Pria itu begitu kasar meraba dan mempermainkan tubuh pramunikmat seperti memainkan boneka. Beberapa kali percoban memasukan sesuatu di bukan tempat yang seharusnya benar-benar menyiksa seorang pramunikmat. “Aaa! To-Tolong! Jangan bagian itu …” napasnya tersengal-sengal merasakan rasa sakit yang amat luar biasa, beberapa bagian tubuhnya mengalami memar bahkan bagian memar itu berulang kali di kasari oleh pria yang sedang di layaninnya. Bagian itu menjadi membiru, namun tetap saja di jadikan alat pemuas tanpa memperdulikan rasa sakit wanita yang sedang melayani pria b***t. Pria b******k itu secara bergilir menikmati tubuh wanita itu, dan berulang kali hingga ia terdiam dan pasrah menghiraukan rasa sakit yang sedang di lakukan para p****************g. Para pria secara bergantian mulai merasakan puncak dari kenikmatan yang di idamkan saat menyewa pramusaji. Setelah mereka semua merasakannya titik puncak, di akhir pria-pria itu bergegas meninggalkan kamar dan membiarkan wanita itu tergeletak di lantai dalam posisi yang sangat memprihatinkan. Ia terkulai lemah, tenaganya habis untuk menjerit, memberontak, dan melakukan apapun untuk lepas dari siksaan itu. Namun tenaga yang kalah besar memaksanya, tidak dapat berbuat apa-apa. Pandangan wanita itu kabur, dan perlahan terpejam. Ia kehilangan kesadaran dalam kondisi tidak memakai apapun, serta ranjang yang begitu berantakan dengan pintu terbuka lebar dan hanya di tutupi hordeng kain membuat wanita itu dapat di lihat dari luar jika angin menerpa sedikit saja. *** Memeras kompres, yang saat ini di lakukan pria berperawakan kurus namun berwajah lembut kepada seorang pria asing yang tidak sengaja di selamatkan oleh kakek saat melintas sudut pasar sana tempat ia melintasi hendak menuju kerajaan rumah para prajurit untuk memasok pedang buatannya. Pria yang tinggal bersama dengan kakek, dan merawat pria asing yang tidak lain adalah Feng Ying. Ia juga membantu merawat dan memberinya obat begitu sangat telaten. “Li Jun …” kakek memanggil lirih namanya, ia masuk ke arah kamar di sana kakek melihat pria muda yang masih tertidur seolah telah lama ia tidak mengalami tidur yang lelap. “Apa dia sempat tersadarkan diri?” tanya kakek sambil mengenakan pakaian khusus penempa yang cukup tebal di bagian tubuh depannya. Liu Jun pun menanggapi ucapan kakeknya, “Belum, dia masih belum tersadarkan diri. Tapi, dia sudah tertidur selama seminggu penuh. Apa ia akan baik-baik saja kek?” demikian ucapnya. “Tenang saja, sepertinya dia memang bukan orang asli sini. Mungkin seorang b***k yang kabur … kakek sangat tahu, itu sudah jelas karena ada tanda di bau kirinya.” ucap kakek saat ia membawakan tubuh Feng Ying ke ranjang dan menggantikan pakaiannya. Setelah itu, Liu Jun sempat terdiam sebentar mengamati situasi kondisi Feng Ying. “Kakek …” lirih Liu Jun menunjuk tangan Feng Ying mulai bergerak. Namun, gerakan itu kembali terhenti seperti biasanya. Kakek yang melihat reaksi Liu Jun, ia pun menepuk bahunya dan berkata. “Tenang saja, ia akan sadar sebentar lagi … dia hanya tertidur sementara.” “Iya kek.” Balas Liu Jun melihat kakeknya tersenyum kepadanya lalu kembali keluar dari kamar dan membiarkan Liu Jun dan pria asing ini sendirian. Liu Jun menutup matanya sejenak lalu menghirup napas sebentar dagunya ia angkat sedikit ke atas, lalu setelah mata Liu Jun di buka perlahan tiba-tiba sepasang mata menatapnya sesaat ia terpejam. “Apa kamu dari tadi melihat aku saat terpejam?” pertanyaan aneh pertama yang di lontarkan Liu Jun kepada pria asing yang baru tersadar. Feng Ying masih menatap pria berwajah lembut itu dengan tatapan penuh tanya, namun ia tidak bisa melakukan itu untuk sementara. Tenaganya seolah hilang, bersamaan dengan suaranya yang senyap. Namun, tidak dengan Liu Jun. Ia bertingkah ane saat sedari tadi di tatap langsung oleh Feng Ying, wajahnya sedikit memerah seolah menahan emosinya yang hendak mengumpat. “Aku pergi sebentar, mau membawa ember ini ke sumur dan memberitahu kakek.” tuturnya dengan jelas sambil sedikit keberatan saat mengangkat ember yang berisi air keruh. Liu Jun bergegas cepat meninggalkan kamar, mungkin ia merasa risih setelah di tatap dengan wajah ekspresi datar yang tidak di duganya. Feng Ying kini berada sendirian di dalam kamar, ia melihat sekeliling ruangan kamar yang sangat sederhana berlapis kayu dengan atap jerami kering. Ia masih sedikit bisa melihat bagian silau matahari dari sudut jendela di sebelah kirinya. Kemudian, tirai pun kembali berkibas dan di masuki oleh pria tua penuh keringat di tubuhnya seolah baru saja keluar dari neraka yang panas dengan kulit kecoklatan. Pikirannya yang mengerti soal makanan memang sangat di senangi. “Oh, jadi kau sudah bangun …” ucap kakek sambil mengelap tangannya yang basah. Kemudian, disusul seorang pria yang tadi sempat keluar untuk membuang air keruh tadi, dia juga mengambil ember lagi yang berisi air dan kembali keluar. Kakek pun duduk di kursi dekat dengan pria muda yang di selamatkannya. Tangan besar kakek itu hendak memegang kepalan Feng Ying. “Sepertinya kau sudah baikan, bagaimana apa ada yang masih terasa sakit?” Setelah menunggu lama, ternyata pria muda itu tidak menjawab pertanyaannya. Namun respon matanya terasa sangat berbeda, ia seolah ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa mengatakannya. Tubuh lebam Feng Ying masih terlihat jelas. Terutama bagian dadanya yang sangat membekas. Luka-luka bekas saat bertarung di pertandingan masih belum juga menghilang meski sudah seminggu yang lalu. Memahami isyarat mata pria muda yang belum di kenal itu, ia pun berkata. “Tenang saja, istirahatkan tubuhmu sampai benar-benar sembuh … jika sehat nanti, kau bisa pergi kemana pun yang kau mau. Aku tidak akan menahan ataupun melaporkanmu.” demikian ucap kakek kepadanya lalu pergi meninggalkannya kembali, “Nanti, kau harus berterima kasih kepada Liu Jun dia yang sudah merawatmu.” Sambungnya saat terhenti sejenak ketika melangkah.  Mohon tinggalkan komentar, atau love jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku. Mohon di mengerti,  kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN