Suara-suara ramai yang berasal dari sekitar Feng Ying membangunkan tidurnya, entah apakah pantas di sebut tidur jika ia berada tersembunyi di bawah meja salah satu pedagang yang pagi ini kebetulan kosong.
Feng Ying hanya melihat sekawanan orang yang berada di luar sana sedang lalu lalang menjajahkan dagangannya dan ada pula yang sedang berniat membeli barang yang ada di pasar. Mereka juga melakukan jasa mengangkut barang untuk menuju lokasi pasar, beberapa gerobak memang sangat memadati jalan.
Feng Ying melihat semua gambaran itu melalui kolong meja tempatnya berlindung ketika hujan deras. Perlahan tapi pasti, untuk pertama kalinya Feng Ying keluar dari tempatnya bersembunyi. Ia mulai membaur dengan orang-orang yang berada di dalam sana.
"Ayo tuan-tuan dan nyonya-nyonya kami memiliki barang yang bagus, keramik-keramik ini memiliki harga murah dengan kualitas yang tidak main-main." seru salah seorang yang menjajah keramik kepada orang-orang yang sedang lalu lalang. Tidak mau kalah beberapa penjual keramik pun mempromosikan barang-barang jualan mereka dengan harga yang tak kalah mewah. Ini sudah biasa terjadi jika pasar pagi sedang ramai pengunjung.
Feng Ying saat itu benar-benar selayaknya orang bodoh yang baru pertama kali bertemu dengan ramainya orang-orang berlalu lalang dan juga menjajakan barang dagangannya. Dia terpukau dengan hal-hal kecil karena sudah lama tidak melihat ke luar dan bebas.
"Nak ... apa kau mau makanan? Kebetulan masih hangat." ucap salah satu pedagan bapau yang baru membuka tudung sajinya yang kemudian asap tebal keluar di sertai harumnya makanan. Tentu saja bau itu menarik Feng Ying karena belum makan pagi.
Pikirannya seolah masuk kedalam aroma harum bapau, "Boleh minta satu?" tanya Feng Ying langsung kepada si penjual.
"Apa kau punya uang?" si pedagang sedikit menaruh curiga karena bau tubuhnya yang sedikit menyengat, walaupun pakaiannya menggunakan seragam penjaga.
Feng Ying sempat kebingungan ketika di tanya soal uang, namun ia mengingat sesuatu yang di berikan langsung olehnya
Feng Ying telah lama berjalan, ia pun mengingat kembali isi kantung koin yang di berikan tabin Xin Liu tempo malam lalu, "Harganya?" ini pertama kalinya Feng Ying bertransaksi langsung dengan menggunakan koin, karena sebelumnya ia hanya di sibukkan bertarung dan berbagai hal yang berhubungan pekerjaan fisik.
"Oh syukurlah kalau kau punya uang." pedagang uang terlihat lega setelah mengintip sedikit uang yang tersembunyi di balik kantong. "satu perunggu untuk dua bapau." sambungnya sembari sibuk menyibukkan diri mengangkat bapau yang baru masak.
Feng Ying langsung memberikan satu perunggu, "betul?" demikian ucapnya memastikan.
"Terima kasih, ini dia bapaunya. Selamat menikmati." ucap Feng Ying begitu demikan.
Feng Ying memang terlihat sangat senang dengan pencapaiannya kecil yang sudah terlihat, ini pengalaman pertamanya dapat membeli barang. Sialnya Feng Ying mengalami hari terburuk, sekantung koin perak yang berada di saku kiri sedang menggantung tiba-tiba di potong dan di bawa kabur oleh sekumpulan bocah.
Wajahnya tegang, dan juga bingung langsung saja reflek mengejarnya. Baru segigit Feng Ying memakan bapau hangat dan parahnya ia tidak sengaja menjatuhkan makanan yang baru saja di beli karena terkejut.
Feng Ying lantas mengejar anak kecil yang terang-terangan lari ke arah kerumunan orang yang membuatnya perlahan kehilangan jejak karena Feng Ying berada di sana.
"Ternyata dunia yang bebas ini masih ada orang-orang brengsek." pikir Feng Ying setelah baru saja mengalami nasib sial yang tidak bisa di undur.
Feng Ying berakhir hanya memandangi pasar swalayan semakin sepi karena matahari yang mulai menjulang tinggi. Mereka lalu-lalang meninggalkan tempat dan pergi ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan Feng Ying ia belum bisa pergi kemana-mana karena masih siang hari dan kemungkinan penjagaan sangatlah ketat. Feng Ying pun memutuskan bermalam kembali di pasar ini, rasa laparnya tidak terbendung. Ia seperti kucing liar yang kehilangan buruan dan sedang mencari makanan pengganti lainnya. Menelusuri seluk beluk pasar yang luas membuatnya sedikit melupakan rasa lapar, tapi pandangannya pun terhenti setelah melihat seorang anak yang usianya yang lebih muda darinya sedang mengais makanan yang berada di tumpukan sampah berisikan buah dan sayuran yang sudah tidak layak jual.
Wajah pria kecil itu terlihat sangat senang setelah melihat buah yang masih layak makan dan masih terbungkus kulit buah, ia pun segera pergi sambil membawa buah-buahan yang dia temukan, lalu meninggalkan tumupukan sampah dengan cepat. Feng Ying yang melihat hal itu, langsung bergegas mengikuti caranya tanpa memperdulikan resiko yang terjadi, karena ia memakai pakaian prajurit penjaga.
“Sekarang aku mengerti kenapa mereka melakukan demikian.” Batin Feng Ying, “Ternyata niat kabur dari tempat tadi juga tidak ada bedanya.” sambungnya pikir dalam hati sembari tetap mengais buah yang berada di bawah.
***
Malam setelah terjadi kebakaran besar, para prajurit yang sibuk menangani api selama enam jam penuh, bekerja keras karena api yang terus membesar. Tidak ada yang korban jiwa yang berarti setelah kebakaran berhasil di padamkan. Kebakaran itu terjadi rata-rata membakar peralatan dan gudang perlengkapan para penjaga.
“Ini sedikit aneh, tapi aku tetap bersyukur karena tidak terlalu memakanan korban jiwa yang berarti.” Kay merasa ada yang berbeda dengan semua yang terjadi, semua begitu rapi seolah ada orang dalam yang sengaja membakarnya.
“Aku tidak peduli dengan rumah-rumah perlengkapan kita yang terbakar, dan yang paling penting adalah barang dagangan milik tuan kita. Karena, semua barang dagangan tuan kita tersimpan gaji yang harus di bayarkan ke para penjaganya.” ungkap Dong zhu, ia hanya peduli dengan uang. Pikirannya memang selalu begitu, selalu memikirkan bawahannya tidak peduli kesulitan apapun yang di alami selain memikirkan uang dan prajuritnya.
“Lalu bagaimana dengan salah satu b***k yang telah kabur?” tanya Kay dengan demikian, setelah mengingat kejadian tempo malam lalu, karena semua penjaga terlalu sibuk sampai mereka kecolongan dan membuat seorang b***k kabur. “Sepertinya b***k yang kabur adalah b***k kesukaan tuan kita tempo lalu.” Sambungnya setelah memeriksa secara detail. Menurut laporan anggotanya.
Mereka berhenti berhenti bicara sejenak, entah apa yang ada di pikiran mereka. Namun, salah satu dari mereka terbesit sebuah pemikiran yang sama. “Ku pikir salah b***k yang kabur itu memiliki saudara perempuan.” Cetus Kay yang terlebih dahulu mengungkapkannya.
“Aku pikir juga begitu.” ucap Dong zhu sambil berpikir demikian. “Apa kau tau siapa b***k yang berhubungan langsung dengannya?” tanya Dong zhu.
“Mereka di tempatkan di ruang yang sama dengan beberapa b***k lainnya.” jawab Kay mulai meng identifikasi menurut laporan yang sudah ada. Entah apa yang akan di lakukan mereka berdua setelah mengetahui Feng Ying memiliki saudara yang masih berada di sini. Bagaimana pun nanti, berharap semua tidak menjadi hal buruk.
Notice: Kalian baca ini ga ya? Aku ga tau kalian membacanya atau tidak, aku harap semua tulisanku mudah di mengerti. Jikapun tidak terlalu bagus dan ga nyambung di setiap babnya atau terdengar aneh jika di baca mohon di di tegur.
#Riyuu_Way