Bab 22: Malaikat Bernyawa

1104 Kata
"Tidak! Apa yang kau lakukan hingga tega membunuh mereka?!" tangisan Xue mei terdengar namun Feng Ying tidak dapat melihat jelas kakaknya yang sedang menangis. "Tapi ini semua demi kakak." ucap Feng Ying begitu bingung setelah mendengar tanggapan kakaknya yang sangat tidak dapat di pahaminya saat ini. Situasi semakin menggila di luar saling menyerukan teriakan "Kebakaran! Kebakaran!" beberapa kali. "Bodoh! Jangan membalas mereka dengan menghukum mati mereka! Biarkan saja tuhan yang membalasnya!" Feng Ying semakin tidak paham akan racauan kakaknya, "Tuhan?! Apa kakak mengerti kita sudah berapa tahun menjadi b***k dan terus berharap bisa keluar dari sini? Akuu sudah meminta tuhan untuk memberiku jalan keluar tapi tidak pernah di kabulkan! Hingga salah seseorang memberiku jalan keluar untuk kabur!" demikian Feng Ying pula ikut meracau. Tamparan kuat mengenai pipi Feng Ying, "Jangan pernah berkata seperti itu pada tuhanmu!" Feng Ying langsung sadar diri setelah menerima tamparan yang dilakukan kakaknya, sesudah itu ia mengulurkan tangannya. "Maafkan aku kak ... waktu kita tidak banyak jadi kita harus pergi dari sini." "Tidak! Aku harus bertanggung jawab karena ulahmu ..." Seruan Xue mei tiba-tiba di akhiri dengan suara lirih lalu di iringi suara yang sedikit mendayu serta rasa sesak yang tidak bisa di tahan. Suara di luar begitu ramai dan suara ramai itu semakin ketara mendekati arah Xue mei dan Feng Ying tinggal beserta beberapa b***k lainnya. Suara seruan kebakaran semakin jelas, pintu pun terbuka dari luar yang tadinya tertutup. "Ada yang kabur!" seru salah seorang penjaga memergoki adanya penjaga yang sudah kaku kehabisan darah. Ketika beberapa penjaga yang berasal dari luar masuk, Feng Ying langsung kembali menutup pintu utama, dengan cepat beriringan serangan yang di lancarkannya kali ini. Ia kembali di lancarkan akibatnya, Feng Ying membunuh para penjaga yang baru menyadari adanya hal aneh di ruangan itu. Hal itu tentu saja membuat Xue mei, kembali terkejut. Melihat kejamnya Feng Ying yang dengan mudah membunuh seseorang tanpa berpikir panjang. Kemudian Xue mei menatap takut terhadap adiknya sendiri yang telah menjadi monster berdarah dingin, sebenarnya ia sering melihat kejadian ini. Namun, Xue mei tidak ingin kengerian dan sikap tidak berperasaan ketika membunuh menjadi terlahir pula dalam diri Feng Ying yang tidak lain adalah adik laki-laki dan keluarga terkasih satu-satunya. Xue mei pun tidak bisa berkata apa-apa dan berpikir untuk menyudahi ceramahnya dengan adik laki-lakinya itu. "Kak, ini kesempatan terakhirku untuk mengajakmu pergi dari sini ... waktu kita tidak banyak jadi tolong ikutlah denganku." demikian ucap Feng Ying menatap mata kakaknya, tekad Feng Ying benar-benar tersampaikan dari matanya. "Tidak!" lagi-lagi penolakan terjadi kepada Xue mei. Ia bersikukuh untuk tetap menjatuhkan pilihannya agar tidak mengikuti Feng Ying untuk kabur dari tempat ini. "Kenapa?! Kakak mau tinggal di neraka ini lebih lama lagi?! Apa jangan-jangan kakak menikmati semua siksaan ini?!" ucap Feng Ying cukup tajam mengenai mental Xue mei. "Tentu saja tidak! Aku tidak ingin menjadi beban beratmu ketika kabur nanti ... tenagaku tidak sanggup untuk berlari lebih cepat darimu!" akhirnya Xue mei mengungkapkan pemikirannya sembari sedikit berkata lirih. "Aku tidak mempunyai cukup tenaga lebih untuk kabur bersamamu ... cepat pergilah dari sini sebelum semua orang menyadari kepergianmu!" seru Xue mei terhadap Feng Ying yang sedang berusaha membujuknya untuk kabur. Mengetahui fakta kakaknya masih berpegang teguh pada pendiriannya, "Baiklah, aku akan menuruti semua keinginanmu. Tapi ingat aku akan kembali kesini untuk membantumu, ingat itu!" Feng Ying lantas pergi keluar dari tempat itu dengan berat hati sambil beberapa kali melihat ke arah kakaknya. "Cepat padamkan apinya! Aku tidak mau terjadi masalah lebih besar dari ini!" Semua penjaga sedang sangat sibuk-sibuknya mengurus bangunan b***k yang terbakar oleh api. Karena terlalu sibuk, mereka sampai tidak menyadari adanya seseorang yang kabur dan itulah yang saat ini sedang terjadi. Feng Ying memakai pakaian layaknya penjaga bekas orang yang ia lumpuhkan. Penyamarannya benar-benar berhasil saat itu, dia berhasil melewati kawanan penjaga dengan sangat mudahnya. Sekarang tantangan yang sebenarnya, Feng Ying yang saat ini berada tepat di depan gerbang yang saat ini memang sedang menjaga ketat saat kebakaran sedang terjadi. Feng Ying menarik napas dalam lalu berusaha bersikap tenang ketika di sapa nanti. Ia pun mulai melangkah lambat. "Bagaimana keadaan di sana? Apa semua barang tuan kita mengalami kebakaran?" tanya salah satu penjaga yang berada di sebelah kirinya. Feng Ying sempat tertegun, namun berusaha menyembunyikan ekspresinya. "Beberapa terbakar, tapi untungnya mereka tidak terlalu memakan korban jiwa yang banyak." "Syukurlah kalau begitu, jadi kita tidak akan mengalami pemotongan gaji." balasnya dengan nada lega. "Lalu kenapa kau berada di sini?" salah satu penjaga menanyakan hal yang sangat sensitif. Feng Ying sempat kebingungan menjawab pertanyaan sederhana itu, sempat terbesit di pikiran Feng Ying untuk membunuh kedua penjaga yang berada di depan matanya. "Jadi kau berada di sini?!" seru seseorang yang tidak terlalu asing di telinganya. Feng Ying pun sempat menengok ke arah belakang, "Tabib Xin Liu ..." demikian batinnya ketika melihat samar-samar wajahnya. "Ini dia, kau hampir melupakan uangnya jangan lupa untuk kembali lagi." ungkap tabib Xin Liu sembari memberikan uang kepada Feng Ying. Feng Ying pun tidak bisa berkata apapun pada saat itu, ia belum bisa mencerna keadaan yang sedang terjadi. "Beberapa barang sudah aku pesankan di kain ini, kembalilah jika sudah menemukan barangnya." ucap tabib Xin Liu kembali memperjelas ucapannya. Feng Ying hanya mengangguk, "Siap tuan." Seorang penjaga bertanya dengan sedikit rasa penasaran, "Apa tuan memberinya tugas untuk membelikan obat?" "Bukan membelinya tapi mencarinya." balas singkat Xin Liu dengan cepat. Penjaga tidak berkata lebih banyak lagi, mereka memutuskan untuk membuat Feng Ying pergi. Wajah lega tersirat jelas dari Feng Ying, setelah melihat pintu besar yang tadinya terbuka. Kini tertutup dengan mudah selayaknya bernapas. Feng Ying kini benar-benar bebas, meski wajah cerianya kini tampak tersembunyi. Namun, ia menyadari saat ini belum bisa santai. Feng Ying tetap melangkah dan menjauh dari tempat itu. *** Feng Ying telah lama berjalan, ia pun memiliki rasa penasaran tentang kain yang terbalut tersembunyi di dalamnya yang tabib Xin Liu berikan. Ada sebuah tulisan dan juga sebuah balok kayu berlogo serta uang koin yang di berikan padanya. Feng Ying saat itu benar-benar tidak bisa membaca isi surat yang ada di dalamnya, ia hanya bisa menerka-nerka isi tulisan itu. Setelah melihat sebuah tanda pengenal yang selalu di bawa tabib Xin Liu. Malam semakin gelap saat itu, Fisik Feng Ying masih sanggup bertahan untuk berjalan kaki. Namun, ia terpaksa harus bersembunyi dan gagal untuk mencapai gerbang utama ketika pagi hari mulai menampakkan diri. Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku. Mohon di mengerti,  kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN