Feng Ying kembali di masukan ke dalam kandang sendirian, karena b***k petarung tidak boleh di satukan dengan b***k biasa. Peraturan ini di buat karena peraturan sebelumnya petarung yang di gabung dengan orang lain cenderung arogan dan akhirnya membuat kericuhan akibatnya b***k yang tidak bisa melawan tidak dapat di jual kembali karena mengalami cacat permanen.
Feng Ying masih dalam keadaan pingsan, dia tenggelam di dalam mimpi indahnya. Tidak seperti yang kakaknya alami saat ini. Mungkin kali ini Xue mei kakak Feng Ying sedang melakukan pekerjaan yang dia benci dan membuatnya merasa kotor.
"Nikmati minum kalian kali ini!" tawa dan seruan para saudagar kaya sedang menikmati segelas bir untuk menghangatkan tubuhnya yang kedingingan meskipun bara api di dalam menyala membara.
"Minum bir memang paling enak selepas mandi, apa lagi di temani wanita-wanita cantik yang tidak segan menemaniku semalam suntuk." paparnya dengan senang sambil meneguk minuman yang masih tersisa setengah gelas. "Benar-benar usaha Xue Jang melebihi ekspetasiku kali ini, padahal aku dengar dia mengalami kerugian besar setelah mendapat kabar tempat usahanya mengalami wabah cacar." ungkapnya yang juga sesama Saudagar b***k.
"Betul-betul ... aku juga mengingat betul bagaimana kejadiannya setahun lalu, hampir setengah b***k di bakarnya. Aku tidak bisa membayangkan kerugian seperti apa yang di alamin. Tapi yang paling membuatku terkejut saat dia kembali bangkit setelah satu tahun insiden itu." puji rekannya yang seorang pedagang obat.
"Baru saja di bicarakan, dia langsung muncul." bola matanya mengarah ke Xue Jang sebagai isyarat menunjuk, tangannya memang memegang gelas.
Perhatian penuh terhadap teman-temannya yang berada disana, pedagang-pedagang kelas tinggi dan beberapa bangsawan melirik Xue Jang yang tidak lain adalah pemilik tempat ini.
Xue Jang melambaikan tangannya dan berkata dengan penuh senyum rasis, "Apa kabar kalian? Apa kalian menikmati semua makanan dan minuman yang orang-orang sediakan untuk kalian?" demikian Xue Jang bertanya sembari mendekati mereka yang sedang duduk santai di temani wanita penghibur.
Xue mei tidak mengerti bagaimana atau apa yang di pikirkan mereka yang berada di kalangan atas. Tentang bisnis atau mengelola hal-hal asing yang karena tidak pernah mempelajari langsung dan hanya sekedar mendengar.
Para b***k memang tidak memiliki pendidikan formalitas yang hanya dimiliki orang di kalangan atas saja. Tapi terkadang karena memiliki pendidikan yang terlalu tinggi rasa simpatik mereka malah turun drastis.
"Umurmu panjang kawan ... kami baru saja membicarakanmu ..." ucap saudagar yang terdengar telah lama kenal dengan Xue Jang.
Tertawaan muncul sedikit membuat suasana sedikit keruh, karena tawanya penuh dengan makna tersembunyi. Semua kalangan atas dapat merasakan tertawaan tersebut. "Terima kasih ... lalu apa yang sedari tadi kalian bicarakan tentangku?" tanya Xue Jang meski sudah bisa menebak apa yang di bicarakan mereka berdua.
Semua lawan bicara Xue Jang hanya terdiam saja dan tidak berani memberitahu apa yang mereka bicarakan, padahal hanya mereka belum membicarakan hal-hal buruk tentangnya, terutama bagian Xue Jang yang tega membunuh ratusan b***k dengan membakarnya.
"Baiklah aku tidak memaksa kalian untuk membicarakan ini kepadaku." ungkap Xue Jang lalu secara cepat bawahannya yaitu Kay langsung bereaksi dengan menempelkan pisau belati di leher salah satu bangsawan.
"A-Apa yang kamu lakukan padaku? L-Lepaskan aku ..." perintahnya dengan nada tergagap lalu menatap Xue Jang dengan perasaan takut.
Ketika Kay melakukan aksinya, beberapa wanita penghibur merasa takut dan benar-benar menjauh dari tempat yang akan menjadi bercak darah yang sulit di hilangkan.
"Apa? Aku tidak melakukan apapun pada kalian bukan?" ucap Xue Jang tanpa sedikit pun perasaan melas terhadap lawan bicaranya. "Oh sepertinya kalian memang tidak terima jika aku mengatakan hal seperti ini. Tapi yang aku katakan memang kenyataan ... aku tidak melakukan apapun pada kalian tanganku pun bersih." sambung Xue Jang menunjukkan tangannya yang bersih.
Petinggi-petinggi yang berada di bawahnya memang tidak bisa berkutik jauh, karena memang hampir pemasukan mereka yang di pegang adalah Xue Jang. Ikatan kontrak itu juga yang memberatkan para bangsawan yang sedang bekerja sama dengannya.
Salah satu saudagar b***k membuka suara. "T-Tenang kami memang belum sama sekali membicarakan hal buruk tentangmu."
"Belum katamu?!" Xue Jang terlihat marah pada saat itu lalu, ia pun langsung menatap tajam dengan mendekati orang yang di hadapannya. "Apa kau mau menyusul ke alam baka terlebih dahulu?" sambungnya menatap dengan sedikit menarik garis bibirnya serta nada yang sedikit mengancam.
Suasana benar-benar tegang, sampai tidak ada suara tertawaan. Beberapa dari mereka mematung karena takut dari ancamannya.
Seketika suasana tegang itu menjadi pecah saat Xue Jang tertawa begitu keras di situasi tegang yang di buatnya sendiri. "Muka tegang kalian membuatku ingin tertawa lebih keras lagi, haha ... tapi sayang malah air mataku yang keluar banyak." demikian ucapnya dengan santai.
Para tamu Xue Jang hanya saling menatap melihat tuan rumah yang bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa dan hanya sekedar gurauan saja.
Kay yang bingung dengan situasi sekitarnya terutama dengan sikap tuan Xue Jang yang di luar dugaan akhirnya ia pun langsung melepas cengkraman kuat pada salah satu bangsawan yang ia todong dengan belati tadi.
"Sudahlah-sudahlah mari duduk, maafkan aku tadi berbuat aneh seperti tadi ..." ucap Xue Jang dengan penuh senyum yang cukup nampak jelas pada saat itu.
Rekan-rekan Xue Jang pun tertawa, "Benar-benar tampak nyata sekali, terutama bagiku." Meski tertawaan mereka tampak jelas terpaksa.
Xue Jang kembali tertawa, "Terima kasih, mungkin itu memang nyata." demikian ucapnya kembali dengan nada serius. "Jadi bagaimana kabar kalian? apa sudah merasakan untung yang berlipat ganda? Atau merasakan keuntungan lebih banyak dari kesepakatan awal?" Xue Jang memang sangat mengerti apa yang di bicarakan.
Wajah mereka tampak tersenyum ceria dan berkata secara berbarengan. "Luar biasa!" lalu setelah menyadari mereka mengucapkan kalimat yang sama mereka pun tertawa.
"Benar-benar melebihi ekpetasi kami saat ini, aku tidak menyangka keuntunganku akan berkali-kali lipat melebihi kontrak perjanjian yang ada saat ini." terang rekan Xue Jang dengan nada riangnya.
"Jangan terlalu senang, uang yang kalian terima saat ini hanya sebagian kecil saja."
Mereka tampak tertawa lepas pada saat itu, namun orang bodoh mengatakan hal aneh kepada Xue Jang.
"Apa kau tidak menjual lagi b***k-budakmu lagi?"
"Hhhm, aku tidak pernah menjual b***k-budakku lagi sejak saat itu. Yah anggap saja keuntungan yang aku terima tidak sebanding walau harga jual budakku memang memiliki kualitas tinggi." ungkap Xue Jang dengan nada serius.
Mereka tidak berani untuk bertanya kembali, dan hanya terdiam. Situasi itu tampak membuat Xue Jang tidak nyaman, "Baiklah aku akan pergi, aku ingin berisitirahat dan memijat tubuhku." ungkapnya pergi meninggalkan sekelompok anggota saudagar kaya dan juga para bangsawan. Tangan Xue Jang memberi isyarat kepada Kay yang sedari tadi bersiaga di belakang lawan bicaranya.
"Orang berpangkat tinggi memang tidak bisa di percaya."
***
Sudah larut malam, semua b***k kembali memasuki kandang.
Terdengar dengusan dan rintihan nikmat para penjaga yang sedang menggauli para wanita-wanita b***k. "Luar biasa nikmat!!" ia menggeram setelah mencapai puncak klimaks. wajah penjaga yang tadinya menegang kini meregang. Sebaliknya dengan wanita yang di gauli, ia tidak bisa merasakan apapun kecuali, bagian sensitivnya sedang di permainkan. Namun itu sama sekali tidak membuatnya menikmati setiap inci gerakan dan hujaman para penjaga m***m.
"Ayolah mana ekspresimu itu!" penjaga tampak menampar beberapa kali wajah Xue mei, namun tidak ada respon darinya.
Feng Ying lagi-lagi hanya melihat saja, walaupun sebenarnya ia memegangi kunci di tangannya sedari tadi. Ia juga sedari tadi menatap pintu luar, entah apa yang di pikirkannya.
Berjam-jam Feng Ying hanya memperhatikan tanpa bisa melakukan apapun.
Kebakaran! Kebakaran!
seruan kebakaran membuat semua terkejut, semua kegiatan b***t para penjaga berhenti.
"Dimana pria tadi?!"
Bunyi tulang yang cukup keras berhasil menarik perhatian beberapa penjaga. "Apa yang kau lakukan padanya? Bagaimana kau bisa keluar dari sini?!" kejutnya dengan nada ketakutan sambil menodongkan tombak ke arah pria yang tidak lain adalah Feng Ying.
Penjaga berusaha menghujamkan tombak ke arahnya, namun tombak itu hanya di tahan saja lalu menariknya sekuat tenaga hingga posisi penjaga yang memainkan tombak berada di jarak satu meter dari Feng Ying.
Ia mencengram leher penjaga dengan jari telunjuk dan jempolnya lalu secara bersamaan menjepit jakun penjaga itu, dia tekan serta di arahkan ke atas dan bawah.
Wajah merah dan ingin batuk itu yang di rasakan penjaga saat jakun di jepit sangat kuat. Feng Ying tidak bicara sepatah kata pun saat itu, Lalu ia langsung bergerak cepat memukul dagu penjaga dengan punggung telapak tangannya kuat-kuat.
Penjaga itu langsung jatuh begitu saja. Setelah salah satu penjaga tumbang tersisa dua penjaga yang sedari tadi mematung seolah menunggu giliran.
Feng Ying mengambil tombak yang dia pegang di tangan kirinya tadi. ia langsung menancapkan begitu saja saat lawannya terdiam mematung. Lalu gerakan cepat Feng Ying pula kembali melumpuhkan satu prajurit sisanya dengan memukul perut dan mematahkan kembali leher lawannya.
Seolah dendammya belum puas di salurkan, ia mengambil tombak dan menancapkan tombak itu ke dadanya.
Wajah Feng Ying benar-benar tampak seram pada saat itu.
Feng Ying mendekati Xue mei sambil mengulurkan tangannya. "Kak, ayo kita kabur dari sini."
"Tidak!" Xue mei tampak histeris, ia seperti baru pertama kali melihat dara segar.
Feng Ying benar-benar terkejut, dan tiba-tiba semua isi kepalanya tentang tahapan-tahapan kabur lenyap seketika, mengetahui jawaban kakaknya yang juga secara bersamaan terlihat takut dengannya.
Feng Ying hanya bisa berkata, "Kenapa?" dengan tatapan sayu dan mendayu menatap wajah kakaknya yang ketakutan.
Xue mei menjauhkan diri dari tangan Feng Ying yang hendak menggapai atau menyentuh dirinya. Xue mei yang saat itu telanjang bagian bawahnya, sempat beberapa kali berusaha menutupi.