Bab 25: Liu Jun dan Kakek bagian 1

1159 Kata
Suara palu berdesing hebat memenuhi ruang terbuka, di tempat itu ada seorang pria tua sedang menempa besi tua menjadi sebuah pedang cantik ciptaannya, keringat yang terus mengucur menandakan bila ia berada di tempat memanglah panas karena bara api terus menghembuskan panas yang amat terasa. Kakek melakukan pekerjaan ini semenjak ia pensiun menjadi prajurit kerajaan, meski hanyaseorang prajurit berpangkat rendah. Namun jasanya saat perang memanglah nyata buktinya adalah cacat pada kakinya yang menjadi saksi bisu akibatny ia tidak bisa melakukan aktvitas seperti semula. Karena hal itu, kakek kembali menjadi seorang penempa besi. Pekerjaan ini memanglah sudah lama di ketahuinya sejak sebelum menjadi seorang prajurit karena ini adalah pekerjaan turun temurun, sudah dua puluh generasi yang menjalankannya, sang kakek sendiri adalah generasi ke dua puluh satu. Usianya memang sudah tua, tapi secara mental dan kebugaran lebih muda dua puluh tahun dari umur aslinya yang sudah hampir delapan puluh tahun. Kakek memang tidak memiliki kerabat, ia tidak memiliki istri dia masihlah lajang hingga di umurnya saat ini. Namun, ia juga merawat seorang anak yang berusia enam belas tahun bernama Liu Jun. Meski bukanlah seorang cucu kandungnya tapi ia merupakan penerus bisnis penempa besi ini. Liu Jun sendiri memang anak yang dia temukan saat berusia sepuluh tahun, kedua orang tuanya meninggal akibat perang besar dan juga sakit parah. “Liu Jun! … tolong besarkan apinya!” perintah kakek beriringan dengan suara palu keras menghujam plat besi yang panas memerah. Gerakan cepat Liu Jun begitu cekatan saat di perintah langsung oleh kakek, ia memompa kedua tongkat di kanan dan kirinya angin pun keluar secara bertahap dan panasnya bara mulai menyambar besi panas. Suara desis api yang warnanya berubah menjadi biru begitu terasa panas hingga terasa menembus tulang. Liu Jun sudah terbiasa dengan suasana in, wajar saja jika ia sudah terbiasa dengan suasananya.  “Bagus … pertahankan.” ujar kakek sembari masih menempa besi tua yang berubah menjadi warna merah terang serta cipratan serpihan panas keluar bersamaan saat palu menghantamkan ke besi, dan di saat yang sama Liu Jun masih tetap memompa api untuk menjaga suhu panasnya. *** Pagi menjelang siang, mereka mengistirahatkan diri setelah setengah hari melakukan pekerjaan ini hingga tidak terhitung berapa liter keduanya meminum air, selama menempa besi. Setelah kegiatan menempa di hentikan sejenak, suara-suara angin kemudian menyambut, seolah memberi ucapan selamat dan semangat di hari yang cerah ini. Hembusan anginnya sangat terasa sejuk menyapa, mereka sempat terlena sesaat ketika melihat langit biru cerah tanpa awan sedikitpun. Liu Jun mengambil makanan yang berada di dalam rumah yang tidak jauh dari tempatnya bekerja bersama kakek. Menunya hanya kentang tapi dengan teknik memasak yang bervariasi, membuat kentang rebus ini terlihat mewah, walaupun hanya satu bahan utama saja. Beberapa kali Liu Jun menengok isi kamar, ia memberikan obat dan juga beberapa makanan di samping meja kecil dalam kamar yang di huni pria asing. Pria yang tidak mereka kenali, masihlah tidur lelap meski terkadang ia terbangun. Sempat malam tadi, ia berdengung dengan suara keras. Ternyata selama ini pria itu tubuhnya kaku dan tidak dapat bergerak. Kakek yang sedikit paham tentang obat-obatan termasuk racun meyakini Pria yang telah di selamatkannya berniat bunuh diri mungkin sebaliknya. “Jangan tatap aku dengan pandanganmu yang tidak mengenakan itu,” ucap Liu Jun kepada pria asing itu, ia sepertinya masih tampak kesal. Meski sudah tiga hari berlalu. “Jangan berpura-pura lumpuh, jika memang kamu sudah sehat.” Sambungnya ketus. Liu Jun menyendokkan sedikit demi sedikit obat kedalam mulutnya. “Minum semua jangan sampai sisa, jika kau ingin cepat sembuh. Kakek dan aku sudah merawatmu, paling tidak jika sehat nanti balas kebaikan kami.” Liu Jun sedari tadi berucap ketus, namun sangat telaten merawat pria yang tidak di kenalinya. “Akan aku tinggal, jika sudah merasa bisa bergerak gunakan lonceng ini untuk memberi tahu.” Liu Jun langsung pergi meninggalkan pria asing yang tidak lain adalah Feng Ying. Feng Ying kembali memperhatikan pria itu kembali keluar dari kamar, sifatnya kasar namun ada sedikit rasa feminim. Itu yang selama ini ia rasakan selama tiga hari yang lalu. Beberapa hari ini juga ia merasakan rasa nyaman yang telah lama tidak Feng Ying rasakan meskit tubuhnya tidak bisa bergerak sementara Itu yang di rasakannya saat ini. *** Liu Jun kembali ke tempat kerjanya bersama kakeknya. Ia tampak sedikit kesulitan membawa makanan. Kemudian kakek langsung membantunya membawa makanan itu. “Kenapa tidak bawa sedikit-sedikit saja?” “Aku hanya ingin cepat saja, kita punya pesananan yang banyak jadi, aku ingin mempercepat waktu.” ucap Liu Jun demikian dengan opininya, kemudian mereka langsung duduk di bawah pohon, mereka menaruh semua makanan di atas tempat duduk panjang dan lebar sebagai alasnya. Kakek terlihat sangat menikmati acara makan-makan yang di buat Liu Jun, padahal bahan dasarnya hanyalah kentang rebus saja yang di dapat hasil dari menanam di pekarangan rumah. Liu Jun tampak senang melihat kakeknya memakan lahap setiap kali ia masakan. Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara mereka berdua, yang ada hanyalah mereka saling fokus pada makanan yanga da di depan mereka. Kemudian kembali membereskan tempat makan dan kembali fokus melakukan pekerjaan yang sempat tertunda. Mereka berdua melakukan pekerjaan menempa besi dan kembali berhenti sejenak untuk mengantarkan pedang pesanannya ke mereka berdua, ketika warna awan berubah sedikit ke oranye. Mereka berdua langsung menaruh semua pedang yang sudah jadi satu minggu lalu dengan menggunakan keranjang bambu, semua pedang yang sudah di taruh kedalam ranjang langsung di tutupi kain agar tidak terlalu mencolok isinya. “Apa sudah semua?” tanya kakek setelah melihat seluruh pedang yang sudah jadi ada di dalam keranjang. Kali ini Liu Jun membantu membawakan pedangnya, “Sudah kek.” Balas Liu Jun langsung menyangking keranjangnya di bahu, ekspresinya tampak keberatan ketika berusaha mengangkat di awalnya. Setelah itu, Liu Jun membantu mengangkatkan ranjangnya saat kakek berusaha berdiri dan setelah itu Liu Jun kembali menuju rumah hendak menutup pintu. Kakek mendahuluinya pergi, dengan langkah pelannya. Memang tidak terasa tapi kakek sudah pergi jauh saat Liu Jun berusaha mengejarnya. Mereka menapaki jalan kecil becek karena malam kemarin hujan cukup deras membuat jalan setepak terasa sedikit licin, perlahan tapi pasti mereka melewati tanah yang licin itu dengan seksama. Suara dengung serangga sudah seperti alunan musik yang sedang mengiringi kepergian mereka selama perjalanan. Ini yang saat ini di rasakan Liu Jun, ia merasa semua berjalan dengan sangat sempurna, keseharian yang sempurna meski ada sedikit perubahan, di kala ia harus merawat pria asing yang bahkan belum di sebutkan namanya. Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN