Feng Ying merasa ada yang aneh semenjak ia tersadar dan terbangun di ranjang, orang yang tidak di kenalinya. Ke anehan yang ia rasakan saat ini, mungkin karena kebiasanya Feng Ying yang dulunya harus selalu memaksakan diri ketika ia sakit. Kini ia tidak memaksakan diri, karena bergerak pun tidak bisa di lakukannya. Makan pun ia di suapi, ini seperti surga tapi terjepit di dalam kesengsaraan karena tidak bisa bergerak. Tubuhnya, seperti bukan miliknya, menjerit tidak bisa kecuali melirik dan memandangi yang ada di sekitarnya.
Faktanya memang ada rasa gelisah, di dalam diri Feng Ying ketika ia mengingat kakaknya yang masih tertinggal disana. Bahkan, ia tidak dapat mengingat sudah berapa lama ia berada di sini ketika tidak sadarkan diri.
Suara hening inilah yang menemani dan mengingatkannya akan kejadian saat dirinya belum kabur tempat para p********n. Kemudian, ia mengingat satu hal setelah mengingat orang yang telah menyelamatkannya. Satu kalimat ini membuatnya ingin segera lepas dari rasa lumpuh ini. Pikirannya benar-benar keras sampai akhirnya, “Aaa …” jeritan ringkih keluar dari mulu Feng Ying setelah berpikir keras untuk menjerit. “Aaa!!” jeritannya kini tiba-tiba menjadi keras, lalu ia pun terbangun dari rasa lumpuhnya. Ia langsung reflek membunyikan lonceng yang ada di sampingnya, namun tidak ada balasan dari mereka berdua setelah ia berhasil bangkit. Kakinya yang masih lemah, ia angkat sedikit demi sedikit lalu menggesernya ke samping, Feng Ying hendak menuruni ranjang.
Kaki kirinya berhasil turun dan menyentuh lantai, dan kembali berganti kaki kanannya. Jari kakinya berusaha digerakan, “langkah awal yang bagus.” Pikir Feng Ying saat ini, kini bagian pentingnya. Ia harus berdiri. Baru saja hendak berdiri, Feng Ying kembali terjatuh mereka terlihat akan melakukan apapun agar ia dapat bergerak bebas. Namun sayangnya, awal yang di harapkannya tidak sesuai ekspetasi, ia pun sempat terjatuh ke lantai kayu beberapa kali, tangannya yang berusaha menopang tidak terlalu kuat untuk menahan terlalu lama.
Semua terjadi begitu saja setelah Feng Ying terjatuh, tidak ada yang menyadari satu pun kondisi FengYing. “Harusnya aku tadi, tidak memaksakan diri.” Batin Feng Ying lalu ia malah memejamkan matanya membiarkannya tidur di lantai. Semua memang tampak memaksakan diri tapi sebenarnya tidak, ia tidak akan memaksakan diri untuk melakukan hal yang tampak sepele ini dan memilih berdiam diri.
***
“Woi! Mana makanan yang aku pesan! Kenapa belum sampai dari tadi?!” seorang pria dengan berperawakan besar serta menenteng gelas besar, saat ini ia sedang dalam kondisi mabuk.
“Tuan …” ucap salah seorang pelayan berkata lembut. Ia juga memiliki logo di samping bahu kirinya, semua pelayan di tempat ini sepenuhnya di jalanankan oleh para b***k. Namun yang terjadi padanya saat ini malah menerima tamparan sebelum selesai mengatakan maksudnya kembali.
“Diam! Aku tidak butuh kau untuk melawan ucapanku dasar b***k b******k!” ucap pria besar itu dalam kondisi mabuk, tangannya begitu mudah melayangkan tamparan kepada seorang pelayan wanita. Tentu saja hal ini malah memancing keributan, lalu datang beberapa penjaga untuk menyingkirkan para sampah ini dari tempat busuk ini.
“Keluarkan dia dari sini! Aku tidak butuh pelayan yang akan merusakn nafsu makan pelanggan lainnya.” ucap Kay segera menyingkirkan pria mabuk dengan memerintah anak buahnya. Ia juga terlihat begitu tegas dan juga menjadi pusat perhatian para pelanggan khususnya memang para pelanggan wanita, gayanya sederhana namun memikat para kaum hawa.
“Pak penjaga!” seru salah seorang pelanggan hendak memanggil pria yang tak lain adalah Kay, sempat beberapa kali ia harus memanggilnya karena tidak mengenal namanya. Kay pun langsung menengok ke arah sumber suara.
Seorang wanita berpakaian rapi, berdandan mencolok, mungkin keturunan saorang bangsawan, atau lebih tepatnya seorang pedagang pengelana yang saat ini sedang ingin menikmati waktunya dengan berdandan cantik.
“Bagus, cepat kemarilah … biarkan para penjagamu pergi dari sini, bersamaan membawa pria mabuk itu.” ucap wanita itu dengan nada lembut ke arah Kay. Kemudian, Kay langsung memberika isyarat itu kepadanya, yang tidak lain adalah bawahannya.
Wanita itu memperhatikan, semua penjaganya keluar dari pintu yang berada di ujung ruangan. Ia pun berdiri, tubuhnya memang ramping, di tambah gaya pakaiannya yang melampaui kata seksi. “Ikut aku, ada yang harus kita bicarakan.” tentu saja Kay langsung menuruti perintahnya. Mereka memasuki ruangan khusus, tempat dimana para pria menikmati semua kegiatannya bersama dengan wanita sewaan kesukaannya. Hal itu, membuat Kay bingung, karena mereka melewati ruangan ini. Lalu langkahnya pun terhenti di sebuah kamar, tempat pria biasa menikmati malamnya bersama dengan wanita yang di sewa. “Masuklah.” Kay tidak terlalu protes saat itu, dan lebih memilih meladeni keinginannya.
“Ada yang perlu aku bantu?” tanya Kay dengan wajah sedikit heran. Karena ia melihat wanita ini menutup pintu dan juga mengkuncinya rapat-rapat. Setelah, di kunci sesuatu pun terjadi, semua terjadi sesuai dugaan Kay. Mereka berdua saling mencumbu, saat itu Kay tidak bisa menentang kehendak wanita itu. Wanita ini, terlihat seperti sudah terbiasa melakukannya bersama dengan pria-pria pilihan kesukaannya. “Kau tau, kadang aku bingung menyalurkan sifat ganasku saat berlama-lama berkelana, karena setiap orang yang aku temui semuanya kotor dan jorok.” ucap wanita ini dengan leluasa mencumbu, Kay pun tidak melawan. Ia hanya menginginkan keinginan egois wanita ini hanya karena kewajiban semata. Kay membiarkan wanita ini menikmati seluruh malam bersama dirinya.
Malam-malam penuh gairah, jeritan ringkihan. Ini yang saat ini Kay dengar dari wanita yang sedang bermalam dengannya, ia juga beberapa kali memang mendengar suara rintihan dan tertawaan dari kamar sebelah. Melihat wajah Kay yang begitu datar membuat wanita ini sedikit kesal. “Kau kenapa? Apa kamu tidak menikmati semua yang aku lakukan padamu.” Wanita ini sedang menimpa tubuh Kay yang sedang tidak berpakai, sama halnya dengan wanita yang sedang menindihnya.
Suara rintihan dari kamar sebelah kembali terdengar keras, “Apa yang kau pikirkan? Apa kau ingin aku menjerit sekeras itu?” wanita yang sedang menindihnya memegang dagu Kay, yang fokusnya teralihkan.
“Kenapa kau mau bermain denganku?” ucap Kay tampak ingin memahami tujuan wanita asing yang tidak di kenalnya itu. Ia menatap mata wanita itu yang hanya berjarang sepuluh centimeter darinya.
Wanita itu tampak tersenyum tipis, sepertinya pertanyaan yang di lontarkan Kay benar-benar di tunggunya. “Menurutmu? Apa yang membuatku mau tidur denganmu?” ia kemudian menempelkan separuh wajahnya ke d**a Kay yang hangat dan berdetak itu. Tubuh mereka berdua tertutup di balik selimut. Kay hanya tediam saja ketika lawan jenisnya menaruh separuh wajahnya ke d**a bidang miliknya.
“Ceritakan padaku, semua tentang tuanmu itu.” Cetusnya langsung berkata tegas, nadanya terdengar serius.
---=------------------------------------------------------------------------------------
Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku.
Mohon di mengerti, kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE.
Riyuu Way