Bab 27: Jin Liu dan Kakek bagian Bagian 2

1126 Kata
Letak rumah kakek dan Liu Jun memang jauh dari pusat desa, mereka harus menuruni gunung agar dapat menuju desa. Alasan rumah mereka terletak jauh, karena rumah itu lebih nyaman untuk di tinggali dan lebih bebas melakukan apapun serta tidak terlalu dekat dengan tetangga terutama saat menempa besi. Mereka menuruni gunung paling tidak satu jam dan lamanya saat menaiki gunung bisa sampai dua jam lebih. Mereka melewati salah satu sumber mata air yang terkenal di desa itu, letaknya sudah tidak jauh lagi jika sudah melihat sumber mata air. Beberapa ibu-ibu dan anak-anak saat ini sedang mandi dan juga mencuci pakain mereka. Liu Jun memperhatikan anak-anak yang terlihat senang dengan kesehariannya. “Liu Jun, apa kau mau mandi juga?” tanya kakek memperhatikan arah pandangan Liu Jun yang tengah fokus memandangi sekumpulan orang sedang berada di sumber mata air. Liu Jun yang sempat teralihkan pandangannya saat itu sedikit terkejut kakek berbiacara padanya setelah sekian lama berjalan yang tidak kurang dari satu jam lebih di saat mereka menuruni tangga. “T-Tidak, kebetulan aku menyukai suasana yang mereka bangun. Ini sedikit mengingatkanku … tentu saja suasana ini sangat mengenang.” Balas Liu Jun yang saat itu memang teralihkan. Ia kembali fokus melangkah, karena batunya sedikit licin mereka berdua berjalan di pinggir tebing. “Kalau kau mau, nanti kita mampir ke tempat itu sebentar setelah menaruh pesanan ini.” papar kakek, ia juga melihat sekumpulan ibu-ibu yang tengah fokus mencuci dan juga memandikan anak-anaknya. Aliran airnya juga tidak terlalu deras dari meski kemarin turun hujan deras. Suara air yang mengalir begitu sejuk di telinga, Liu Jun dan kakek terlihat menikmati suasana yang ada pada saat itu. *** Mereka sampai di pasar, pasar benar-benar sepi. Hanya hewan liar yang tinggal di tempat ini seperti kucing dan anjing. Mereka semua tampak tertidur lelap mengorek-ngorek sampah. Ia juga melihat beberapa gelandangan yang sedang tertidur di atas meja dagangan. “Kek, aku mau tanya sesuatu …” papar Liu Jun. “Iya, katakan saja.” balas kakek, yang masih tetap fokus memperhatikan jalan sambil kedua tangannya mencangking tali yang terkait pada keranjang miliknya. “Kenapa kakek menolong dia? Padahal banyak orang yang berada di sekitar sini butuh bantuanmu. “ tanya Liu Jun ia memang tampak memperhatikan setiap detail kilas sebelum melewati pasar. Kakek tersenyum tipis, menghela napas, “Semua terjadi begitu saja, kakek melihatnya. Anggap ini sebagai takdir.” jawab kakek dengan senyum ramah. “Aku masih tidak mengerti maksudmu kek.” balas Liu Jun, ia tampak berhenti sejenak setelah mendengar jawaban itu, “Lagi pula, sepertinya dia orang yang sangat berbahaya.” cetus Liu Jun mencurigai orang yang telah di tolong kakeknya. Kakek pun hanya terdiam tidak menanggapi semua ucapan cucunya itu, dan membiarkan Liu Jun mencari jawaban sendiri. Mereka sampai di gerbang kerajaan bagian belakang, dan bertemu penjaga gerbang. “Apa kabar kek … bagaimana pekerjaanmu kali ini?” ucap penjaga dengan senyum ramahnya. “Baik, semua berjalan lancar apa adanya.” balas kakek, ia terlihat ternsenyum balik kepada penjaga yang ada di sana, sedangkan Liu Jun tampak ikut tersenyum sapa kepada para penjaga disana. Lalu penjaga pun membukakan gerbangnya. Pintu terbuka, mereka berdua melihat sebuah lapangan yang luas di balik tembok besar dan seperti biasanya, para prajurit sedang melakukan aktivitas latihan sorenya, semua gerakan dasar dalam mengayunkan pedang, tombak, dan yang paling penting panah. Hampir semua perang, menang di bantu oleh panah. Pemanah di kerajaan ini sangat di andalkan, melebihi permainan pedangnya. Bahkan, kerajaan ini mempunyai pasukan khusus pengguna panah. Mereka punya keahlian tinggi di pertarungan jarak dekat ,dan tidak di ragukan lagi yaitu jarak dekat. Mereka berdua sudah biasa melihat, sesi latihan ini. Namun tetap saja, mereka berdua menyukainya, apa lagi di saat melihat pedang buatanya di pakai langsung oleh prajurit. Secara tidak langsung mereka menjadi prajurit tanpa tanda jasa. Kemudian, Liu Jun dan kakek kembali melanjutkan langkahnya menuju gudang. Mereka kembali di pertemukan oleh seorang penjaga, tapi kali ini yang menjaga adalah warga sipil yang di pekerjakan mengurus pedang dan merawatnya. “Wah, tidak seperti biasanya kau telat. Apa kau membawa banyak kali ini?” tanya penjaga kepada kakek, dan memperhatikan keduanya sedang menurunkan barang lalu membuka kain yang menutupinya. “Iya, minggu lalu kami mendapatkan banyak barang untuk dibuat.” Balas kakek, sambil menyeka keringatnya, Liu Jun juga terlihat mengamati sudut lapangan, para prajurit yang sedang berlatih memanah. “Oh begitu, baiklah aku hitung terlebih dahulu.” ucap penjaga, ia mengeluarkan semua pedangnya, lalu mengamati setiap detail pedang yang telah di buat kakek dan juga cucunya. Penjaga tampak tersenyum, ia pun berkata. “Pedang buatanmu memang luar biasa seperti biasanya, berbeda dengan penempa-penempa besi lainnya yang aku kenal.” papar penjaga dengan nada puas. Kemudian, ia melihat seorang remaja yang sedari tadi mengikuti kakek. “Apa dia cucumu? “ tanya penjaga. Kakek hanya tersenyum dengan rasa bangga dalam dirinya, setelah mendengar pujian penjaga itu. “Iya dia cucuku, calon penerus yang akan meneruskan bisnisku ini. Aku lupa kau masih baru disini.” Ungkap kakek kepadanya, “Xin kemarilah!” seru kakek memanggil cucunya yang tidak di sadari sudah jauh dari pandangannya Liu Jun seperti anak hilang. Tiba-tiba lolos dari pantauannya walau hanya sesaat memalingkan pandangannya. Liu Jun langsun menengok ke arah suara dan menghampirinya. “Apa kek?” kemudian kakek langsung memegangi kedua pundak Xin Liu, dan memperkenalkannya kepada penjaga. “perkenalkan ini cucuku satu-satunya. Xin Liu.” ujarnya. “cucumu memang tampan.” Pujinya si penjaga, kemudian merogoh kantong kain, dan mengeluarkan kayu ukiran berbentuk banteng. “Ini nanti berikan ke petugas administrasi.” ucap penjaga kepada kedua kakek dan cucu itu. “Terima kasih.” Ucap Xin Liu menerima kayu tersebut. Kemudian mereka pun pergi meninggalkannya. Lalu berlanjut menuju administrasi untuk di tukarkan uang, tidak lupa ia membawa keranjangnya kembali. Setelah itu, mereka langsung pulang karena sudah larut malam, namun sebelum itu. Mereka membeli beberapa obat untuk pria asing yang masih menunggu di rumahnya. *** Meski memakan waktu dua jam, dan pada akhirnya terpaksa harus menyalakan api untuk menerangi jalan yang gelap. Sepertinya, semua itu tebayarkan ketika mendapati hasil yang maksimal di bandung dua minggu yang lalu. Pintu terbuka, lalu Xin Liu membersihkan obatnya dan merendam di dalam air. Setelah it, Xin Liu menyalakan api, kakek masih menyibukan diri di tempat kerjanya. Ia sedang menyiapkan besi dan memilah untuk di tempa setelah makan malam. Kejutan pun datang, “Hei kau, bangunlah! Kenapa kamu bisa ada di sini?!” dengan panik Xin Liu berusaha mengembalikan pria asing itu ke ranjang. Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku. Mohon di mengerti,  kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN