Bab 44: Balas dendam

1150 Kata
Rumah yang terbakar habis dan hanya tersisa puing – puing tanah kayu yang belum berubah manjadi abu, serta pondasi batu yang masih tetap pada posisi yang seharusnya. Dong zhu turun dari kuda yang di tunggangi oleh dirinya, lalu menelisik lebih dalam dengan memsauki rumah yang masih utuh dan bagian dalamnya masih tersisa banyak barang – barang besi mentah maupun pedang setengah jadi. Lalu ia menemukan kembali sekumpulan batu yang tertata rapi berukuran kurang lebih satu meter dan saling berjejer satu sama lain. Jumlahnya cukup banyak sekitar enam sisanya hanyalah gundukan pasir yang meninggi, Dong zhu mengira – ngira isi di dalamnya. Namun, ia sudah berfirasat buruk jika dia berusaha mencoba membuka tempat itu.   “Kalian berdua.” Tunjuk Dong zhu, meski mempunyai firasat tentang hal ini. Ia lebih mementingkan untuk menghiraukannya. Kedua bawahannya hanya menuruti lalu membukanya menggunakan cangkul yang berada di dalam tempat kerja para penempa besi. Mereka juga memergoki  bekas galian yang cukup dalam berada di dalam gubuk. Galian semakin dalam, Dong zhu sepertinya semakin penasaran ketika tanah galian sudah separuh jalan. “Kenapa berhenti?” kejut Dong zhu ketika mengetahui bawahannya menghentikan menggali.   Bawahannya, terkejut dengan mata melotot, “Aku baru saja mencangkul tangan seseorang.” Setelah itu Dong zhu langsung menyuruhnya menyingkir dari tempat itu, “cepat pergi dari sana” perintah Dong zhu, ia langsung menggali dengan tangannya sendiri, dia tidak peduli jari – jemarinya menjadi kotor semakin di gali tubuhnya mulai terlihat, wajahnya ditutupi kain, kecuali tubuh dannya.   Mengetahui hal itu, Dong zhu, sepertinya sudah menyimpulkan sesuatu untuk hal ini. “kubur kembali, kita urus nanti. Ayo kita lapor.” Meski tampaknya Dong zhu tidak terlalu peduli akan hal ini. Namun sebaliknya, ia malah geram dan ingin mencari tahu pelaku yang berhasil membunuh.   ***   Mereka semua terkejut, ketika sudah sampai ke tempat mereka dan hendak melapor. Tempat yang seharusnya memiliki pertahanan kuat dari dalam maupun luar, ternyata tempat itu memiliki banyak kerusakan yang amat merugikan. Lantas saja, Dong zhu langsung memasuki tempat itu danmencari keberadaaan tuannya yaitu Xue Jang, ia bertanya kepada setiap penjaga yang sedang bertugas menjaga malah mengalami serangkai luka ringan hingga berat. “Dimana tempat tuan berada saat ini?” tanya Dong zhu penuh dengan rasa khawatir, para penjaga hanya menujuk tempat setiap kali di tanya olehnya langsung.   “Tuan!” suara teriakan serta dobrakan pintu. Xue Jang sepertinya baik – baik saja. Namun yang berbeda hanya penjaga yang mengelilinginya sangatlah banya sedari tadi. “Apa yang terjadi?” Dong zhu memang melihat para b***k yang tergeletak di tanah, dan beberapa sisanya sudah di amankan, namun ia tidak terlalu memahami situasinya saat ini dan butuh penjelasan.   “Bukankah sejak tadi sudah jelas apa yang terjadi?” ungkap Xue Jang dengan wajah marah yang terpancar begitu saja.   Dong zhu membungkuk, “Maafkan atas ucapanku yang lancang tuan.” Demikian Dong zhu berucap. Kemudian, Xue Jang beranjak dari kursinya, lalu meminta para penjaga menyingkir agar bisa mendekati Dong zhu.   “Berhenti membungkuk, dimana Kay?” tanya Xue Jang, yang kini sudah berada di depan matanya, Dong zhu pun kembali menegakkan badannya.   “Sekali lagi maafkan aku, Kay dan bawahannya sudah mati dan terkubur di atas gunung terpencil. Kami menemukannya bersamaan dengan rumah yang terbakar.” Balas Dong zhu, wajah menahan amarah tampak tersirat jelas sekali.   Rasa iba keluar dalam diri Xue Jang. “Aku sangat menyayangkannya, pria baik harus mati dengan cara seperti itu. Sekarang apa yang akan kau lakukan?” tanya Xue Jang, ia menyadari bahwa Kay dan Dong zhu memang sahabat baik hal ini sudah terlihat jelas sejak awal mereka masuk dan selalu bekerja sama. Namun sepertinya kali ini Dong zhu akan kehilangan semangatnya, untuk itulah ia bertanya ia ngin memastikan sesuatu kepada bawahannya sekaligus teman.   “Aku akan tetap membantumu tuan, tapi sepertinya kali ini aku akan keluar dari lingkungan ini sampai benar – benar membunuh mereka dengan tanganku sendiri.” Balas Dong zhu, sudah memutuskan keinginannya. Ia mengingat seseorang yang sempat ia curigai, “Dimana Xin Liu?”   “Dia kabur, bersama dengan kedua perawatnya.” Jelas Xue Jang.   “Tuan Xue Jang! Gawat! Xin Liu dan kedua … orang wanitanya menyerang para anggota kita!” penjaga itu berlari menampakkan wajah panik, serta napas yang tidak dapat di atur.   Kabar itu tentu saja bukan sebuah kejutan bagi Dong zhu, “Aku sudah menyadari hal ini, permisi tuan biar aku saja yang mengurus dia dengan tanganku sendiri.” Dong zhu langsung bergegas menuju arah keributan yang di bimbing langsung oleh bawahannya, ia berjalan dengan tergesa – gesa.   ***   Xin Liu menghalau lima orang sekaligus dengan tangannya yang cepat. Meski lawannya menggunakan pedang dengan ayunan yang sembarang itu. Karena mengetahui lawannya, semakin bertambah banyak, ia merebut pedang dari lawan. Penjaga itu, seolah seperti menjadi samsak hidup yang siap di hujam pedang menggunakan tangan Xin Liu.   Melawan dengan rasa takut yang membumbung tinggi, ini yang di rasakan para penjaga mengetahui lawannya tak lain adalah seorang tabib yang ternyata memiliki ilmu tinggi bela diri. Kedua perawat yang selalu mengikuti Xin Liu pun tidak kalah hebat, gerakannya lembut dan lincah. Meski di lihat ia seolah memiliki banyak celah untuk melawan balik, nyatanya sebaliknya. Mereka berdua sangat sulit untuk di serang dan tidak segan memmbunuh dengan wajah datar yang sering di perlihatkan ke orang – orang.   Entah atas tujuan apa mereka berniat untuk menyerang dan berani untuk kembali lagi, setelah bersusah payah untuk keluar dari tempat yang menjadi momok besar sebagian besar manusia yang tidak memiliki hak hidup bebas. “Jangan mundur lawan mereka!” teriak para anggotanya saling menyemangati, meski sudah mengetahui akhir yang akan menanti mereka. Beberapa orang yang terluka pun sampai rela untuk membantu rekan – rekannya yang sehat untuk ikut bertarung. Permainan pedang kedua perawat itu di luar nalar mereka saat ini, di tengah – tengah pertarungan, sesosok pria dengan wajah penuh amarah berdiri tegak menghampiri, mereka berdua.   Menyadari kedatangan Dong zhu, menuju ke arah mereka. Keduanya mempercepat menghabisi musuh, lalu berlari menuju ke arah Dong zhu untuk menyerang terlebih dahulu. “Hiyaa!!” teriak kedua wanita itu, untuk pertama kalinya menunjukkan ekpresi aslinya.   Ayunan pedang yang mengarah ke depan mengincar lehernya, secepat itu pula Dong zhu menarik pedang dan menghalau dengan kedua belati bekas mendiang sahabatnya yang tidak lain adalah Kay. Dong zhu membelokkan arah kedua pedang. Serangan kedua perawat gagal, tidak halang akal mereka menggunakan kakinya dengan menyerang memutar. Tendangan itu berhasil mengenai kedua pinggang kanan dan kiri Dong zhu, sepertinya ia dapat menahan serangan yang di lancarkan kedua perawat itu.   “Berhentilah melakukan hal itu jika tidak ingin mati.” ucap Dong zhu singkat, setelah kedua perawat itu menjaga jarak.  Mohon tinggalkan KOMENTAR, atau LOVE jika menyukai setiap cerita yang aku buat, komentar membangun kalian sangat mempengaruhi kualitas tulisanku. Mohon di mengerti,  kemampuanku dalam menulis belum sebagus orang - orang yang sudah lama menggeluti tulisannya, jadi jika kalian menyukai setiap bab yang aku tulis mohon tinggalkan komentar, jika pun kalian malas untuk berKOMENTAR mohon tinggalkan LOVE. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN