Bab 43: Menuju Quanzhi

1229 Kata
Pelarian yang cukup panjang di tempat tersebut mereka menunggangi kuda terus menerus dan dengan sengaja membawa masuk ke dalam hutan meski ada satu jalan yang mengarah langsung ke tempat tujuan, namun mereka sengaja memasuki hutan itu dengan alasan para penjaga kemungkinan dapat menemukan mereka menjadi sangat mudah. Perjalanan mereka pun berhenti, setelah mereka menemukan sebuah hambatan yaitu air.   Sungainya memang tidak terlalu deras malah sebaliknya sangat tenang, ketika di cek pun, tidak terlalu dalam air sungainya. Hal ini semakin jelas ketika di dekati, airnya menjadi sangat jernih ketika di telisik.   “Kita turun di sini sebentar saja.” Ungkap Xin Liu kemudian turun dari kudanya, Feng Ying dan lainnya pun mengikuti, kedua perawat membawa ketiga kuda itu ke sungai untuk minum. Karena sudah seharian penuh mereka berlari. Matahari pun sudah ada di atas kepala mereka, “Feng Ying bagaimana kabarmu?” Xin Liu memang ramah semenjak ia menjadi tabib di sana dan mengenal banyak b***k. Namun, ada satu b***k yang membuat Feng Ying tertarik yaitu Feng Ying. Selain karena alasan mereka membantu Feng Ying karena berhubungan erat dengan ibunya yang telah di bakar habis semasa wabah penyakit, karena perintahnya. Akan tetapi, ada satu hal lainnya lagi yaitu Tatapan Feng Ying yang tidak pernah padam, rasa ingin hidupnya sangatlah kuat bahkan hingga kini.   “Aku baik.” Balas Feng Ying memberi hormat, kemudian ia Xin Liu melihat seorang pria yang berada di sampingnya. Feng Ying menyadari hal itu dan berkata. “Perkenalkan di sampingku Liu Jun.” Ia dengan sengaja tidak memberitahukan sisi tersembunyi Liu Jun, karena ia merasa itu tidak di perlukan.   “Salam.” ucap Liu Jun memberi hormat, Xin Liu memberi hormat pula. Mereka duduk di atas batu, dekat sungai, Batu di sungat tidak terlalu tajam. Para perawat sepertinya sedang sibuk sendiri, tanpa di perintah mereka berdua mencari sebuah ikan yang berada dekat dengan sungai, dengan tangan kosong. Ini seperti sebuah kejutan, sedari tadi Feng Ying memperhatikan mereka berdua yang sibuk mencari ikan, di tengah obrolan mereka bertiga.   “Langsung saja, aku tahu kamu sedikit kecewa setelah mengetahui kakakmu berada di tangan seorang pria bangsawan dari luar pulau.” Papar Xin Liu.   “Apa kamu mengetahuinya secara detail?!” tanya Feng Ying dengan wajah terkejut.   “Tentu, aku tidak tahu terlalu detail, tapi yang jelas aku tahu tempat tinggalnya, sayangnya aku tidak tahu siapa nama aslinya yang mengikuti acara lelang di wakilkan oleh bawahannya saja.” Papar Xin Liu, “Tinggal di kerajaan Quanzhi, kerajaan seberang yang mengharuskan kita harus menggunakan kapal hanya untuk kesana saja. “ sambungnya demikian, menjelaskan sesuai apa yang di ketahuinya saat ini.   “Apa Quanzhi!” kejut Liu Jun, ia sepertinya memahami sesuatu tentang nama yang sangat familiar dengan telingannya.   “Apa kamu tahu sesuatu dengan tempat itu?” tanya Feng Ying, sepertinya ia ingin mengetahui tempat itu sekali lagi. “Aku hanya mengetahui tempat itu dari mulut ke mulut saja. Aku dengar laut menuju kerajaan Quanzhi sangatlah mengerikan, Hanya sedikit kapal yang sanggup melewati tempat tersebut, menahkodai kapal, berarti siap menjadikan laut sebuah kuburan.” Jelas Liu Jun, tampaknya penjelasan Liu Jun tidak terlalu di perdulikan lagi oleh Feng Ying. “Kau yakin mau kesana?” Liu Jun menanyakan kembali niatnya untuk menyelamatkan sang kakak.   “Aku tidak tahu tempat seperti apa Quanzhi yang kalian ceritakan, tapi aku sudah siap mempertaruhkan semua yang ku miliki demi menyelamatkan kakakku.” ungkap Feng Ying, ia tetap kokoh pada pendiriannya. “Jadi kemana arah pelabuhan?” tanya Feng Ying.   “Pikirkan nyawamu terlebih dahulu, jika hendak bertindak.” Xin Liu menyadari Feng Ying yang akan mengatakan hal itu dengan nada percaya dirinya. “Nyawa lebih penting, lebih baik kalian cari tahu terlebih dahulu informasi kabar – kabar yang tidak mengenakan tersebut sebelum membuat kalian menyesal dan putusa asa.” karena sudah yakin Feng Ying akan tetap pendiriannya, ia berkata demikian agar Feng Ying lebih menjaga diri. “Lalu apa kamu akan ikut perjalanan Feng Ying?” tanya Xin Liu, setelah medengar pertanyaan itu Feng Ying mengarahkan pandangannya.   “Aku tidak mempunyai pilihan, kakek sepertinya menaruh pesan padaku untuk terus bersamanya. Mungkin ada maksud tertentu, aku tidak bisa menanyakan penjelasannya karena sudah tiada.” Jawab Liu Jun, wajahnya tampak murung tapi ia berusaha untuk segera menutupi hal itu semampunya.   “Kalau kalian sudah yakin satu sama lain, baiklah. Sepertinya aku harus mengatakan kemana kalian harus pergi kali ini. Kalian, pergi ke arah utara, cari sebuah kota yang bernama Tian Fei, jika kalian menemukan kota itu berarti kalian sudah dekat dengan pelabuhan, di pelabuhan kalian hanya perlu menanyakan pihak organisasi yang mengurus transportasi. Hanya itu saja yang bisa aku berikan.” papar Xin Liu, ia menjelaskan secara jelas dan hati – hati agar tidak mudah di lupakan.   “Kenapa kau tidak ikut kami saja?” tanya Feng Ying.   “Aku tidak bisa melakukannya, aku masih memiliki hal yang harus aku selesaikan dengannya.” ucap Xin Liu demikan.   “Maksudmu?” Feng Ying tidak terlalu memahami setiap ucapan yang di lontarkan tabib Xin Liu.   “Aku tidak bisa mengatakan lebih jauh lagi, semua urusan ada di tanganmu.” Balas Xin Liu.   “Kalau begitu, kali ini kita akan berpisah.” ungkap Liu Jun.   “Tidak, ini bukan sebuah perpisahan, kita akan bertemu lagi jika takdir sudah memutuskan.” Papar Xin Liu. Di tengah – tengah pembicaraan sepertinya selama ini perawat Xin Liu sibuk memasak hidangan ikan air tawar dan juga udang, mereka sangat ahli menyajikan, buktinya hanya dengan ikan, udang bakar serta hanya menggunakan daun sebagai alas penyajian. Semua menjadi sangat sempurna meski hidangan sederhana.   Mereka makan dengan lahap, karena udang dan ikan di masak sempurna. Feng Ying pun sepertinya merasa kurang, “ikan bakar serta udangnya benar – benar nikmat. Bagaimana cara kalian mengolahnya?” tanya Feng Ying, yang cukup kagum karena mereka hampir tidak mempersiapkan peralatan memasakn ataupun berburu sekali pun dan hanya bermodalkan tangan kosong saja.   “Terima kasih, kami sudah terbiasa melakukannya.” Senyum salah satu perawat.   “Apa kalian tidak lapar?” Feng Ying terheran, karena ia dengan setia menunggu kami makan sampai habis. Namun, mereka tidak menjawabnya dan hanya memberi senyum saja.   “Biarkan saja, itu aturan yang mereka buat sendiri. Aku pernah meminta mereka berdua makan bersama tapi mereka menolaknya, dan lebih memilih menungguku makan sampai habis.” ungkap Xin Liu yang sudah terbiasa dengan sikap bawahannya.   ***   Mereka sudah selesai, makan. “Sepertinya, kalian sudah siap melakukan perjalanan panjang kalian. Aku harap semua berakhir baik.” Ungkap Xin Liu, ia juga memberikan salah satu kudanya untuk di kendarai Liu Jun.   Feng Ying sudah pergi menjauh sambil melambai, setelah mereka pergi dan hampir tidak terlihat lagi dengan mata telanjang, “Baiklah ayo kita kembali.” Ungkapnya, kemudian ia melupakan sesuatu. “Kalian belum makan bukan? Cepat makan! Aku akan menunggu kalian selesai makan.” Papar Xin Liu.      Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Riyuu Way
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN