Bab. 1 Kamu harus menikah lagi
Ryan Timothy Zinclar tampak sedang sibuk berkutat dengan dokumen – dokumen diatas meja kerjanya. Pria 37 tahun itu adalah CEO PT. Zin Mandiri Abadi, perusahaan yang bergerak dibidang perhotelan dan restoran. Ryan dinobatkan sebagai CEO menggantikan papanya 7 tahun yang lalu, beberapa bulan pasca papanya meninggal. PT. Zin Mandiri Abadi adalah perusahaan yang diwariksan kepada Ryan. Sebab itu Ryan semakin giat dan sibuk bekerja untuk kemajuan perusahaannya. Saking sibuknya, kerap kali ia melupakan waktu saat ia bekerja.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam namun Ryan masih saja terfokus pada berkas – berkas dihadapannya. Meski sudah bekerja seharian, tetapi pesona ketampanan Ryan tidak luntur. Berbadan tegap, berwajah oval, hidung mancung dan berkulit putih membuat Ryan tampak awet muda dan mempesona.
“Sudah mama duga. Kamu pasti masih disini.” Suara itu mengalihkan fokus Ryan.
Ryan memandangi wanita paruh baya yang berdiri diambang pintu ruangan kerjanya. Seperti biasa, wanita itu terlihat cantik dan elegan walau usianya sudah 58 tahun. Wanita itu adalah Terry Permatasari, mamanya.
“Hallo, ma. Aku nggak tahu mama dateng. Ayo masuk.” ajak Ryan. “Ada apa ma ? Tumben kesini.”
“Memangnya mama nggak boleh kesini ? Mama ganggu kamu ya ?”
“Ya nggak gitu juga ma. Aku Cuma heran aja kenapa mama ada disini sore – sore begini.”
“Astaga Ryan. Ini bukan sore lagi.” Terry menggelengkan kepala. “Kebiasaan deh. Kalau kerja suka lupa waktu. Ini sudah jam delapan malam tahu.”
“Masa sih ma?” ucap Ryan, tidak percaya dengan perkataan mamanya. Ia kemudian melirik arlojinya. “Astaga, benar sudah jam delapan malam.”
“Dasar kamu.”
Ryan tersenyum lalu secepat kilat ia bangkit dari kursi kerjanya, lalu menghampiri Terry. “Ayo ma, duduk disini.” Sambil memegang bahu mamanya, Ryan membantu mamanya itu duduk disofa.
“Ada apa mama kesini?”
“Mama habis ketemuan sama temen – temen arisan mama direstoran deket sini. Setelah selesai arisannya, mama mampir aja kesini nengokin kamu. Feeling mama, kamu pasti masih dikantor. Ternyata feeling mama benar.”
“Sekarang aku lagi banyak kerjaan ma. Mama tahu kan sekarang aku lagi prepare pembangunan hotel baru di Papua. Makanya sekarang sibuk banget.”
“Kenapa buka hotelnya disana? Tempatnya jauh dan kayak masih dipedalaman gitu.”
“Kata siapa ? Disana udah rame kok ma. Kotanya udah mulai berkembang. Makanya aku buka hotel cabang disana karena prospek disana bagus.”
“Tapi dari dulu juga kamu gitu. Sibuk kerja melulu. Sebelum buka cabang baru juga selalu aja sibuk. Kerja dari pagi sampe malem, sampai – sampai waktu buat diri kamu sendiri ngga ada. Ingat Yan, kamu masih punya Rafa yang butuh perhatian kamu.”
“Soal Rafa aku selalu pantau dia kok. Aku selalu memastikan keadaannya. Orang rumah juga selama ini jagain Rafa dengan baik.”
“Bukan itu maksud mama.” ucap Terry penuh penekanan.
“Walaupun orang rumah bisa jagain Rafa dengan baik, tapi sadar ngga sih kamu, Rafa butuh kasih sayang seorang ibu. Kamu juga butuh istri. Sudah saatnya kamu buka hati kamu. Jangan terjebak terus dengan masa lalu. Kalau punya istri dirumah, kamu jadi ingat pulang, nggak sampe malam – malam kayak gini kerjanya. Terus, kamu sama Rafa nanti ada yang ngurusin.”
Hampir setiap pertemuan Ryan dengan mamanya, wanita paruh baya itu selalu saja menyelipkan topic pernikahan dalam setiap obrolan mereka.
Hal itu terjadi bukan tanpa alasan. Status Ryan saat ini adalah seorang duda beranak satu. Istrinya, Helen Belnova meninggal hampir 5 tahun yang lalu karena kecelakaan. Sampai saat ini, Ryan masih betah menjadi single parent buat putranya, Rafael Zinclar. Berulang kali mamanya membujuk Ryan untuk menikah lagi, akan tetapi Ryan selalu saja banyak alasan. Masih sibuk, tidak ada waktu atau belum menemukan wanita yang cocok menjadi ibu buat Rafa adalah alasan - alasan yang sering diucapkan Ryan.
“Ya ampun ma, jangan bahas istri lagi deh. Aku kan udah bilang berkali – kali ke mama, nggak mudah nyari istri dengan status aku ini. Aku tuh bukan hanya sekedar nyari istri buat diriku sendiri tapi aku juga harus nyari ibu buat Rafa.”
Seolah tidak memerdulikan penjelasan Ryan, Terry tetap saja bersemangat mengutarakan isi pikirannya. “Tadi direstoran mama ketemu sama Winda, temen mama waktu kuliah dulu. Dia baru datang dari Singapur. Selama ini dia tinggal disana sama keluarganya, tapi katanya mulai tahun ini mau tinggal di Jakarta. Winda punya anak yang cantik. Tadi mama ketemu sama anaknya. Namanya Viona. Mama lihat Viona itu nggak hanya cantik tapi dia kelihatan baik. Kamu mau nggak…”
“Aku nggak mau.” Ryan langsung memotong ucapan mamanya. “Udah dong ma. Jangan bahas itu lagi apalagi mau kenalin aku sama anak temen mama. Kapok aku ma, nggak mau lagi.”
Ryan sudah kapok memenuhi permintaan mamanya untuk berkenalan dengan putri teman mamanya. Terakhir kali ia berkenalan dengan seorang wanita anak dari salah satu menteri. Tapi pertemuannya dengan wanita itu tidak berlangsung baik. Wanita itu cukup cantik, tapi menurut penilaian Ryan karakter wanita tak secantik parasnya.
Wanita itu mempunyai tempreman yang buruk. Mereka pertama kali bertemu di sebuah restoran, tidak sengaja seorang waiters menumpahkan minuman ke pakaian wanita itu. Amarahnya langsung muncul. Wanita itu tidak hanya memarahi waiters tetapi juga meminta ganti rugi pakaiannya.
Tidak mungkin bagi Ryan berhubungan dengan wanita itu lebih lanjut. Dia merasa wanita itu tidak cocok untuk dirinya apalagi untuk Rafa, putranya. Untuk kesalahan yang tidak disengaja saja ia sangat murka dan tidak bisa mengontrol emosinya. Apalagi jika ia bersama Rafa. Ryan tidak bisa menjamin wanita itu bisa memperlakukan Rafa dengan baik. Setelah membantu si waiters membayar ganti rugi, Ryan langsung meninggalkan wanita itu tanpa berkata apapun.
Wajah Terry berubah kesal. “Kalau kamunya begitu terus, kapan kamu menikah lagi? Mama bahas ini juga untuk kebaikan kamu sama cucu mama. Kamu harus menikah lagi Yan, biar kamu sama Rafa ada yang ngurusin.”
Ryan tidak peduli dengan kekesalan mamanya. Malah ia tersenyum jail. “Kan ada mama. Kasih sayang dan perhatian mama udah cukup kok. Nggak perlu ada yang lain buat ngurusin aku sama Rafa.”
Terry memukul pelan bahu Ryan. “Dasar kamu…”
Ponsel Ryan berbunyi disaat yang tepat. Ia bisa menghindar dari kekesalan mamanya. Ryan kemudian berjalan ke meja kerjanya dan mengambil ponsel lalu mengusap layarnya.
“Ada apa bi?” tanya Ryan pada bi Marni. Orang yang menelepon Ryan adalah bi Marni, salah satu pelayan yang bekerja dirumahnya.
“Maaf tuan, bibi mau ngasih tahu kalau Den Rafa sakit. Badannya panas tuan.”
“Apa ?” Ryan sedikit berteriak. “Aku segera pulang.”
“Ada apa ? Kok panik gitu ?” tanya Terry.
“Tadi bi Marni telpon, katanya Rafa sakit. Badannya panas. Aku mau pulang sekarang.” Setelah selesai menjawab pertanyaan mamanya, Ryan langsung menelepon Jimmy asistennya.
“Tunggu didepan, aku mau pulang sekarang.”
“Mama ikut kamu ya. Mama mau nengokin cucu mama.” kata Terry setelah Ryan selesai menelpon Jimmy.
“Nggak usah ma. Mama pasti capek. Mama pulang aja. Besok baru tengokin Rafa.”
“Tapi mama khawatir sama cucu mama.”
“Nggak usah khawatir ma. Aku akan menelepon Maya, suruh dia datang memeriksa Rafa. Mama tahu kan Maya itu dokter anak yang hebat. Jadi mama nggak perlu khawatir. Lagian aku juga sudah mau pulang sekarang, jadi aku bisa ngawasin keadaan Rafa.”
Terry mendesah. “Ya sudah, sekarang telpon Maya. Mmm... Menurut kamu Maya gimana ?”
Ryan menghembuskan napas frustasi. “Gimana apanya sih ma ?”
“Kalian kan udah lama saling kenal, masa nggak ada rasa apa gitu.”
Ryan menggeleng. Ya ampun ada – ada saja pikiran mamanya ini. “Kami hanya teman ma. Lagipula dia udah punya tunangan.”
“Sayang banget ya.” ucap Terry lemah.
“Mama apa – apan sih? Ayo kita pulang.” Ryan berjalan mendahului Terry lalu membuka pintu ruangan.
“Iya – iya. Tapi kamu jangan lupa yang mama bilang tadi. Kamu harus menikah lagi. Buruan cari istri dan ibu buat Rafa.”
Ryan tidak tahu harus berkata apa. Untuk sekarang Ryan belum memikirkan pernihakan karena baginya itu tidak terlalu penting. Yang terpenting sekarang adalah membesarkan dan membahagiakan Rafael, putranya.
Tetapi Ryan tahu seberapa inginnya orang tua melihat anaknya bahagia. Begitupun bagi Terry, mamanya.Apa yang diinginkan wanita itu semata - mata untuk kepentingan Ryan. Terry ingin melihat anaknya bahagia.
Ryan pun ingin mamanya bahagia. Sejauh ini dia sudah berusaha untuk memenuhi permintaan mamanya itu. Tapi apa mau dikata jika memang sampai sekarang dia masih belum menemukan wanita yang tepat untuk dirinya dan untuk Rafa. Dia kan tidak mungkin memaksakan diri.
"Kamu denger ngga sih, Yan apa kata mama?"
"Iya, ma. Mama ngga usah jodoh - jodohin aku lagi. Nanti aku cari istri sendiri. Ok?!" Entah dimana akan dicarinya. Ryan benar - benar tidak tahu. Tapi dari pada pembicaraan dengan mamanya tidak selesai - selesai, lebih baik mengiyakan saja permintaan mamanya itu.