Bab 2. Perawat dulu baru istri

1493 Kata
Sesampainya dirumah, Ryan langsung menuju kamar Rafa yang berada dilantai dua. Ryan menduga kalau Maya sudah berada dirumahnya dan sementara memeriksa Rafa karena tadi saat diperjalanan pulang, Ryan sudah menghubungi Maya dan menyuruh dokter itu kerumahnya untuk memeriksa kondiri Rafa. Saat ditelpon, Maya memberitahu Ryan bahwa dia saat itu dia sedang berada dirumah salah satu pasiennya. Tapi untung rumah pasiennya tidak jauh dari rumah Ryan. Hanya butuh dua puluh menit untuk tiba dirumah temannya itu. “Gimana keadaannya May?” tanya Ryan saat ia berada dikamar Rafa. Maya yang duduk ditepi ranjang langsung berdiri dan menghadap Ryan. “Kamu sudah pulang. Syukurlah Rafa hanya terkena demam biasa.” ucap Maya sambil mengalihkan pandangannya ke arah bocah 5 tahun yang sudah tertidur. “Syukurlah.” Ryan menghembuskan napas lega. “Jadi Rafa bisa cepat sembuh kan?“ Takut membangunkan bocah itu, Maya mengajak Ryan berbicara diluar. “Ayo kita bicara diluar.” Ryan menyetujui ajakan Maya. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu yang berada dilantai dua. Ryan kemudian mempersilahkan Maya duduk disofa berwarna krem yang berada diruangan itu. “Karena sakitnya nggak parah, jadi pasti Rafa akan cepat sembuh. Tadi Rafa sudah minum paracetamol. Besok pasti panasnya sudah turun. Tapi obatnya harus dihabiskan ya. Aku sudah kasih obatnya sama bi Marni. Anak itu susah sekali disuruh minum obat. Harus sabar bujukin dia. Walau begitu, kamu harus pastiin Rafa minum obat teratur. Ngomong – ngomong bi Wati kemana ?” Maya sudah sangat mengenal orang – orang yang bekerja dirumah Ryan. Bahkan hampir dapat dikatakan bahwa Maya tahu banyak tentang kehidupan pribadi Ryan karena dia dan Ryan sudah menjalin persahabatan sejak mereka SMA, ditambah lagi Maya sudah menjadi dokter Rafa sejak kecil. Setiap kali Rafa sakit, Maya selalu datang dan memeriksa anak itu dirumah. Ryan tidak terlalu menyukai rumah sakit. Dia juga tidak terlalu suka ke tempat praktek dokter karena disana dia harus mengantri panjang. Walaupun sudah membuat janji temu dengan dokter, tapi tetap saja saat ditempat praktek dia harus menunggu gilirannya. Ryan tipe orang yang tidak sabaran sekali. Itu sebabnya jika putranya sakit, ia memilih jasa layanan tenaga medis dirumah. Kebetulan temannya yaitu dokter Maya adalah salah satu dokter anak ternama di Jakarta. Ryan kemudian memutuskan menjadikan Maya sebagai dokter keluarga, khusus untuk Rafa, sehingga kapanpun dia bisa memanggil Maya untuk memeriksa Rafa dirumah. “Bi Wati ijin pulang kampung. Katanya anaknya mau nikah. Makanya dia ijin sebulan.” “Oh, pentesan.” “Pantesan kenapa ?” Ryan tampak penasaran. “Tadi bi Marni kewalahan ngerawat Rafa. Rafa kan rewel kalau sakit. Tadi sebelum tidur Rafa menangis terus. Pas disuruh makan juga dia nggak langsung mau. Apalagi pas suruh minum obat. Kayak tadi aku bilang, harus sabar bujukin anak itu. Tapi kasihan bi Marni. Dia keliatan pusing ngurusin Rafa.” Tiba – tiba Maya menutup mulutnya saat ia sadar pada tatapan Ryan yang terpaku padanya akibat omongannya barusan. “Maaf, aku jadi ngelantur bicaranya.” “Begitu ya.” ucap Ryan singkat. Kemudian ia terdiam sejenak seakan merenungkan ucapan Maya. Beberapa detik kemudian, Ryan mengeluarkan suaranya. “Kamu bisa bantuin aku nggak?” “Selama aku bisa melakukannya, aku pasti bantuin kamu.” “Ok. Cariin orang yang bisa ngurusin Rafa paling tidak selama sebulan ini. Kalau bisa orang yang ngerti kesehatan biar dia bisa ngerawat Rafa, bisa bantuin minum obat dan bisa jagain Rafa. Kayaknya aku butuh bantuan perawat buat ngurusin Rafa.” “Sebenarnya kamu tuh nggak butuh perawat tapi kamu butuhnya istri.” ucap Maya cepat. Sebenarnya Maya hampir sama dengan Terry. Wanita itu juga sudah sering menyuruh Ryan untuk segera mencari pendamping hidup untuk mengurus dirinya, tetapi juga untuk mengurus Rafa. Bagaimanapun anak kecil itu masih membutuhkan kasing sayang seorang ibu. Sudah 5 tahun lamanya Ryan menduda. Sudah saatnya Ryan membuka lembaran baru dalam hidupnya, pikir Maya. Sebagai seorang sahabat baik, Maya ingin Ryan merasakan kebahagiaan bersama orang yang dicintai dan mencintainya. Ryan memandangi Maya dengan malas. “Perawat dulu baru istri. Sekarang butuhnya perawat. Kalau istri bisa nanti.” Pernyataan Ryan cukup jelas bagi Maya. Ia tidak lagi melanjutkan pembicaraan tentang perawat atau istri karena dia yakin pembicaraan itu tidak akan diindahkan oleh Ryan. Maya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian Maya berpikir siapa yang bisa merawat Rafa. Lalu dia teringat pada Renata Adelia, seorang nurse yang dulu pernah bekerja bersama dengannya dirumah sakit. Tahun lalu wanita itu sudah resign dari rumah sakit dan sekarang dia bekerja lepas sebagai nurse Homecare. Maya cukup dekat dengan Renata. jadi meskipun tidak lagi bekerja bersama dirumah sakit, mereka masih sering berkomunikasi dan saling mengetahui kabar melalui akun medsos. “Aku punya temen, namanya Renata. Biar aku hubungi dia dan tanyain. Semoga aja dia nggak ada job.” Maya pun mengambil ponselnya dari dalam tas lalu segera menghubungi Renata. Panggilan diangkat pada dering ketiga. “Selamat malam dokter. Apa kabar ?” “Hallo Ren, kabar aku baik. Kamu dimana ? ada job nggak sekarang?” “Sekarang belum ada job, makanya lagi santai – santai aja di kosan Ada yang bisa aku bantu dok?” “Ada,” jawab Maya cepat.“Pas banget kamu belum ada job. Aku mau nawarin kerjaan sama kamu. Mau nggak ngerawat anak 5 tahun. Sekarang dia lagi sakit tapi syukurlah cuma demam biasa.” “Boleh dok. Kapan aku mulai kerja ?” Maya bertanya pada Ryan dengan suara pelan sambil menjauhkan ponsel dari wajahnya. “Kapan kerjanya?” “Mulai besok aja.” jawab Ryan. “Mulai Besok Ren. Bisa nggak ?” “Bisa dok. Berapa lama ya aku kerjanya dok?" "Berapa lama dia kerjanya ?" tanya Maya dengan suara pelan pada Ryan. "Sebulan aja." "Sebulan Ren. Bisa nggak?" "Bisa dok. Oh ya, bisa tahu nggak berapa pembayarannya? Hehe..” Maya bertanya lagi pada Ryan dengan suara pelan “Kamu mau bayar?” “10 juta sebulan.” jawab Ryan singkat. Maya melongo, terkejut dengan jawaban Ryan. Tapi ia buru – buru menghilangkan keterkejutannya lalu segera memberitahukan pada Renata pembayarannya. “Serius dok ? Eh, maaf bukannya nggak percaya tapi itu banyak banget.” “Iya, aku serius.” “Ok dok kalau begitu. Aku setuju. Besok pagi – pagi sekali aku akan kesana. Minta kirimkan alamatnya ya dok. Makasih banyak dok. Dokter baik sekali sudah kasih job ke aku.” “Ok, sama – sama. Entar aku sharelock ya alamatnya.” Setelah Maya mengakhiri teleponnya dengan Renata, ia kembali mengulang hasil pembicaraannya dengan Renata pada Ryan. Pria itu hanya menganggukkan kepala saja. Dia percaya Maya akan merekomendasikan perawat yang bagus untuk merawat Rafa. “Kamu kasih tahu dia terlebih dulu ya mengenai kerjaannya disini. Terus, kirimkan nomor teleponnya padaku ya.” pinta Ryan. “Ok. Siap laksanakan.” Maya kemudian berpamitan pulang. Ryan mengantarkan Maya sampai ke mobilnya dan membukakan pintu. “Thanks ya May. Kamu selalu bantuin aku. Kamu memang sahabat terbaik.” Dengan senyum tulus Maya menjawab,”Sama – sama.” Setelah mobil Maya melaju meninggalkan halaman rumah, Ryan kembali masuk dan menuju ke dapur. Ia memberitahukan pada Bi Marni tentang si perawat yang akan dipekerjakannya. “Mulai besok akan ada yang merawat Rafa. Namanya Renata. Tadi dokter Maya sudah meneleponnya dan menyuruh dia datang besok pagi. Tolong bibi urus dia ya. Suruh tidur di kamar samping kamar Rafa aja. Terus selama dia disini, tolong bibi awasin kerjanya. Segera kasih tahu saya kalau ada apa – apa.” “Baik tuan. Tuan tidak perlu khawatir. Bibi laksanakan perintah tuan dengan baik. Sekarang tuan istirahat saja soalnya tuan tampak kelelahan.” “Tidak apa – apa bi. Saya mau tidur dikamar Rafa, sekalian jagain dia.” “Baik tuan.” Secepat kilat Ryan membersihkan tubuhnya dikamar mandi dalam kamarnya dan ia juga segera mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Sebelum Ryan pergi ke kamar Rafa, ia terlebih dahulu mengambil ponselnya, menelepon Terry dan melaporkan kondisi Rafa. Wanita itu tidak akan tidur sebelum dia mendengar kabar dari Ryan tentang kondisi Rafa. Benar saja. Telepon Ryan langsung diangkat. “Kenapa baru telpon sekarang ? Gimana keadaan cucu mama? Rafa sakit apa?” “Tenang ma. Rafa baik – baik saja. Tadi Maya sudah periksa keadaan Rafa. Dia hanya terserang demam biasa. Mama nggak usah khawatir. Sekarang sebaiknya mama istiratah. Ini sudah hampir tengah malam.” Ryan melirik jam diatas nakas. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 11 malam. “Mama khawatir sekali, tapi syukurlah Rafa hanya demam biasa. Kamu juga harus jaga kesehatan. Jangan sampai sakit. Jaga diri baik – baik.” “Iya – iya ma. Mama juga jaga kesehatan mama. Jangan sampai encok sama kolestrolnya kambuh.” Setelah selesai berbicara ditelepon dengan Terry mamanya, Ryan langsung menuju kekamar Rafa lalu duduk tepi ranjang. Rafa tampak menggeliat kecil. Ryan menepuk lengan putranya dengan lembut. “Sssttt…Rafa bobo ya biar cepat sembuh.” Anak tampan itupun mulai terlelap lagi. Ryan merebahkan diri disamping putranya itu lalu memandanginya lekat – lekat. Ia kemudian mendaratkan kecupan didahi Rafa. “Get well soon, son. I love you so much.” ujarnya sebelum ia terlelap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN