Bab. 3 Pertemuan

1481 Kata
Renata Adelia masih belum percaya dengan apa yang didengarnya beberapa menit yang lalu. Sudah satu tahun ini Renata bekerja sebagai nurse homecare. Selama bekerja, pendapatan yang ia terima paling banyak sebesar 7 juta dalam sebulan. Itu sebabnya saat dokter Maya memberitahu pembayaran yang akan diterimanya untuk job ini sebanyak 10 juta, ia sangat terkejut sekaligus sangat senang.   “Aku bahkan belum tidur tapi aku sudah bermimpi.” gumam Renata. Ia sedang duduk di sofa diruang tamunya sambil berbicara pada dirinya sendiri. Renata kemudian mencubit lengannya. “Aww, sakit..” Renata meringis. “Ternyata ini bukan mimpi”.   Renata kemudian bergegas ke kamarnya lalu mulai mengepak barang – barang yang diperlukannya. Ia  sudah mengetahui nama orang yang mempekerjakannya, dimana alamat rumah orang itu dan garis besar pekerjaan yang akan dilakukannya disana karena beberapa menit setelah berbicara dengan dokter Maya, dokter itu langsung mengirimkannya pesan.   Perjalanan dari kost tempat tinggal Renata ke alamat yang akan ditujunya memakan waktu yang cukup lama apabila ia berangkat pulul 8 karena pasti dia akan terkena macet. Mencegah hal itu terjadi, Renata memutuskan untuk berangkat pagi - pagi sekali dengan menggunakan jasa transportasi online.   Setelah selesai mengepak barang, Renata langsung naik ke tempat tidur. Ditariknya selimut bercorak bunga merah menutupi tubuhnya lalu ia segera memejamkan mata.   * Hari masih pagi ketika Ryan terbangun. Sebenarnya dia masih ingin tidur karena semalam dia tidak tidur nyenyak karena mengurus Rafa yang beberapa kali terbangun karena mengigau.   Pagi ini Ryan harus mengikuti rapat penting bersama dengan tim project diperusahannya. Itu sebabnya begitu alarm di handphone nya berbunyi, dia segera kembali ke kamarnya untuk bersiap – siap.   Sebelum membersihkan diri, Ryan terlebih dahulu menghubungi bi Marni melalui pesawat telepon yang berada didalam kamarnya. Ryan menginstrusikan apabila si perawat yang dipekerjakannya untuk merawat Rafa sudah datang, suruh perawat itu menemuninya diruang kerjanya.   Setelah selesai berbicara dengan bi Marni, Ryan segera melesat ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.   Beberapa menit kemudian pesawat telepon diruang dapur kembali berbunyi. Kali ini bukan telepon dari Ryan melainkan dari Pak Maman, satpam yang menjaga rumah.   “Halo Bi, ini ada tamu mau ketemu pak Ryan katanya. Namanya Renata Adelia. Katanya sudah janjian semalam.” ucap Pak Maman dari balik telepon.   “Iya pak Maman. Perawatnya disuruh tunggu diteras rumah dulu ya. Saya mau menghubungi tuan dulu.”   Setelah selesai berbicara dengan Pak Maman, bi Marni langsung menghubungi Ryan. “Halo tuan. Perawat nya sudah datang. Apa langsung ke ruang kerja tuan atau bagaimana?” bi Marni meminta petunjuk.   “Sebentar bi, saya masih siap – siap ini. Perawatnya diantar ke kamar Rafa dulu, biar dia bisa memeriksa kondisi Rafa. Nanti. Setengah jam lagi baru bibi antar dia ke ruang kerja saya.”   “Baik, tuan.”   *   “Selamat pagi.” sapa wanita muda yang cantik sesaat setelah bi Marni membuka pintu rumah.   “Selamat pagi. Maaf ibu menunggu lama.” ucap Bi Marni. “Maaf, anda ibu Renata Adelia kan?” lanjutnya. Pertanyaan bi Marni mencerminkan keraguan terhadap wanita yang berdiri didepannya saat ini. Bagaimana tidak ? Wanita itu tidak tampak seperti seorang perawat. Orang  pasti akan menyangka wanita itu adalah seorang aktris karena wajah wanita itu cantik dan bening.   Sambil tersenyum lembut wanita itu menjawab, “Iya bu. Saya Renata Adelia perawat yang direkomendasikan oleh dokter Maya untuk merawat Rafael, anak pak Ryan. Semalam sudah janjian mau ketemu pak Ryan pagi ini. Tapi ngomong – ngomong, jangan panggil saya ibu, Hehe. Panggil saja Renata.”   Renata agak risi jika dia dipanggil ibu oleh orang yang lebih tua darinya. Selain itu, kenyataannya dia masih muda. Umur Renata sekarang baru 25 tahun. Menurutnya, dia kelihatan cantik dan menarik jadi panggilan ibu tidak cocok untuknya. Demikian pikir Renata.   Bi Marni pun tersenyum seolah ia mengetahui ketidaknyamanan Renata. “Maaf bu, eh non. Saya panggil nona saja ya kalau begitu, biar lebih sopan. Nona juga jangan panggil saya ibu. Panggil saja bi Marni.”   Kedua wanita berbeda usia itupun sama – sama tertawa.   “Mari masuk, non. Pertama – tama nona ketemu dulu sama den Rafa. Mari saya antar kekamar den Rafa. Oh ya, barang – barang nona nanti diantar pak Udin ke kamar nona. Kamar nya bersebelahan dengan kamar den Rafa biar nona lebih leluasa merawat dan mengurus den Rafa.” Bi Marni menjelaskan.   “Baik, bi. terimakasih.”   Bi Marni pun mengantar Renata ke kamar Rafa yang berada dilantai dua.   Bocah lelaki itu masih terlelap. Renata memandangi bocah itu dengan sorot kagum. Wajah anak itu tampan dan menggemaskan.   “Semalam badan den Rafa panas sekali. Makanya den Rafa sedikit rewel.”   “Itu normal bi. Anak yang sakit memang cenderung rewel dan tidak tenang saat demam. Kita yang mengurus pun sampai bingung dan sedih melihat anak rewel.”   “Iya, kasihan den Rafa. Bibi tanya apa ada yang sakit, bukannya menjawab, den Rafa malah menangis. Bibi sampai bingung, nggak tahu mau ngapain. Selama ini bibi hanya mengurus rumah. Yang mengurus Rafa adalah bi Wati. Tapi bi Wati lagi ijin pulang kampung.”   Renata tersenyum. “Sekarang sudah ada saya bi. Saya akan merawat dan mengurus Rafa dengan baik.” Ucapan itu terdengar  tulus, menurut bi Marni. Itu sebabnya bi Marni membalas ucapan Renata dengan senyum lembut.   Rafa mulai menggeliat. Matanya juga mulai mengerjap. Renata kemudian menghampiri anak itu sambil mengambil thermometer dari dalam tas jinjingnya.   “Selamat pagi anak ganteng.” sapa Renata lembut. “Gimana keadaan kamu?”   Masih dalam keadaan setengah sadar Rafa menjawab, “Kamu siapa ?”   Renata kemudian duduk disamping tempat tidur. “Kenalin, nama kaka Renata. Mulai hari ini kaka akan jagain Rafa.”   “Lafa sudah besal kok. Sudah bisa jaga dili sendili.” Berhubung bocah itu masih belum bisa menyebut huruf R, maka cara berbicaranya sedikit cadel.     Renata tersenyum kagum. Mandiri sekali anak ini, gumamnya dalam hati.   “Anak pintar.” puji Renata. “Tapi sekarang kan Rafa lagi sakit. Makanya kaka disini buat merawat Rafa biar Rafa cepat sembuh. Rafa tahu nggak ini apa ?” tanya Renata sambil mengangkat thermometer yang dipegangnya.   Rafa mengangguk. “Itu untuk mengukul panas.”   “Pintar. Nah sekarang kaka cek dulu ya suhu badan Rafa.” Renata kemudian menaruh thermomer itu diketiak Rafa.   Rafa cekikikan. “Aduh geli. Hahaha…”   Tawa Rafa  menjelaskan keadaannya yang semakin membaik. Renata mengeluarkan thermometer dari ketiak Rafa lalu memeriksanya. “Alhamduliah, panas Rafa sudah turun. Suhu badan Rafa sekarang 36, 8 derajat.” Renata menjelaskan.   “Alhamduliah.” ujar bi Marni.   Renata tersenyum menatap ke arah bi Marni. Detik berikutnya dia kembali mengalihkan tatapannya kepada Rafa.   “Ngomong – ngomong, memangnya yang tadi itu geli ya ?”   Rafa menangguk.   “Masa sih ? Belum aja dikelitikin masa udah geli aja? Yang geli tu kayak gini.” Renata menekan jari – jarinya dipinggul Rafa lalu menggelitiknya.   “Hahaha… geli kak, belhenti. Lafa geli.” Suara Rafa tersengal – sengal diantara tawanya.   Renata menghentikan gelitikannya. “Wah sudah bisa ketawa kayak gini berarti Rafa sudah sembuh. Tapi Rafa tetep harus makan yang banyak dan minum obat teratur biar semakin sehat. Sekarang kaka bantu Rafa ganti baju ya. Setelah itu Rafa sarapan.”   Tatapan mata Renata beralih ke bi Marni. “Bisa bantu saya bi ? Bisa bibi siapin baju ganti Rafa. Biar saya yang membersihkan badannya dan menggantikan pakaiannya. Bibi siapin aja bajunya.”   Bi Marni mengangguk lalu dengan segera menyiapkan pakaian Rafa. Setelah itu bi Marni meninggalkan Renata dan Ryan karena dia harus berbicara dengan Ryan.   Sementara Renata mengajak Rafa ke kamar mandi. Dibersihkannya badan Rafa dengan kain yang dibasahi air hangat. Sepanjang kegiatan membersihkan badan, Rafa tidak henti – hentinya tertawa. Ternyata badan Rafa sensitif. Hampir semua bagian tubuhnya terasa geli bila disentuh.     Beberapa menit kemudian bi Marni kembali ke kamar Rafa. Bi Marni senang melihat Rafa yang sudah tampak ceria. Ditambah lagi sekarang Rafa sudah berganti pakaian. Rambutnya pun disisir rapih dan wajahnya dipolesi bedak tabur. Keadaan anak itu semakin terlihat membaik.   Bi Marni melirik ke arah jam diatas nakas. Sudah setengah jam berlalu. Sudah waktunya Renata bertemu dengan tuannya. “Maaf, nona. Anda harus bertemu dengan tuan Ryan sekarang. Tuan sudah menunggu nona diruang kerjanya.” kata bi Marni.   “Baik bi.” jawab Renata.   “Sebentar ya sayang,” ucap Renata pada Rafa.  “Kaka mau ketemu papa Rafa dulu. Nanti setelah selesai berbicara dengan papa, baru kaka temanin Rafa lagi.”   “Lafa manggilnya papi bukan papa.”   “Oh, okey - okey... Kaka mau ketemu papi Rafa dulu. Rafa sama bi Marni ya. Sarapan sama bi Marni.”   “Den Rafa tunggu sebentar disini ya, bibi mau anterin ka Renata dulu. Setelah itu bibi kesini lagi.”   Rafa menyetujuinya.   Bi Marni pun mengantar Renata didepan ruang kerja Ryan.   Renata mengetuk pintu.   “Masuk.” Terdengar suara dari dalam ruangan.   “Selamat pagi pak,” sapa Renata. “perkenalkan nama saya Renata Adelia.”   Ryan mendongak menatap ke arah Renata. dengan alis terangkat Ryan bertanya, “Kamu Renata Adelia ?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN