Bab 4. Muda dan cantik

1668 Kata
Ryan tampak tidak yakin dengan wanita yang berdiri dihadapannya. Pikir Ryan, wanita  yang akan merawat putranya adalah wanita yang seumuran dengannya atau bahkan lebih tua darinya. Sungguh diluar dugaan. Pada kenyataannya wanita yang akan merawat putranya adalah wanita yang muda dan cantik. Ryan menduga umur wanita itu berada dipertengahan dua puluhan.   Penampilan wanita itu juga menarik. Ryan tidak tahu apakah dia sengaja berpenampilan seperti itu untuk memberikan kesan yang baik pada pertemuan pertama mereka. Atau gaya berpakaiannya memang seperti itu. Entahlah.   Bukannya Ryan ingin mengambil pusing. Dia juga tidak ingin mencari tahu. Tetapi melihat penampilan wanita itu yang sederhana namun indah, bayang mendiang istrinya sekilas terlintas dalam pikiran Ryan. Sial!     Wanita itu mengenakan gaun hitam bermotif bunga. Rambut hitam lebat dan panjangnya dibiarkannya tergerai. Kulit wanita itu putih mulus dan tubuhnya langsing. Semakin memerhatikan wanita ini semakin Ryan teringat pada Helen.       Saat Helen Belnova masih kuliah, penampilannya tergolong sederhana, persis seperti penampilan wanita dihadapannya ini. Meski begitu, Helen tetap terlihat sangat cantik. Memiliki paras menawan dan tubuh yang seksi membawa Helen memilih karir sebagai model. Kemudian dia menjadi salah satu model papan atas ibukota.   Namun, sangat disayangkan paras cantik Helen tak sama dengan tingkah lakunya karena wanita itu sama sekali tidak bisa mengurus keluarganya dengan baik. Atau bisa dikatakan tidak mau. Dia hanya memikirkan karirnya. Dia lupa akan tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan sebagai seorang ibu. Terlalu sibuk dengan profesinya membuat Helen tidak memiliki waktu mengurus Ryan apalagi menggurus Rafa anak mereka.     Tiba – tiba keraguan bercampur kekhawatiran menerpa Ryan. Bisakah wanita dihadapannya ini merawat Rafa dengan baik ? Mampukah dia mengurus Rafa ? batin Ryan.     Renata mencoba menampilkan senyuman terbaiknya.     “Saya benar – benar Renata Adelia, nurse yang direkomendasikan dokter Maya.” ucap Renata.     “Oh. Baiklah kalau begitu. Duduk.” ucap Ryan sambil menunjuk kursi dengan matanya.     Dengan patuh Renata duduk di salah satu kursi yang berada didepan meja kerja Ryan. Meski begitu, Renata tidak dapat memungkiri perasaannya yang gelisah. Berada dengan pria yang tampak dingin dan kaku seperti sosok didepannya ini membuat Renata gugup.     “Kamu sudah tahu tugas kamu kan?”   Renata mengangguk. “Iya pak. Dokter Maya sudah memberitahu saya.”     “Oke. Tapi biar saya ulangi. Kamu harus tinggal disini selama kamu bekerja dirumah ini. Bi Marni akan menyiapkan kamar untuk kamu. Tugasmu adalah merawat dan menjaga Rafa dengan baik selama setidaknya satu bulan ini. Kamu harus memastikan Rafa makan teratur dan minum obat. Dia agak susah disuruh makan apalagi disuruh minum obat kalau sedang sakit. Tapi saya tidak mau tahu, kamu harus berhasil membujuknya.”   Ryan berhenti sejenak untuk mengambil napas.   “Rafa harus makan makanan yang bergizi. Tidak boleh jajan sembarangan. Terus dia juga harus tidur siang. Misalkan Rafa ingin keluar, kamu harus ijin dulu sama saya. Pokoknya apapun yang dilakukan Rafa harus kamu laporkan  pada saya. Oh ya, perihal pembayaran kamu, akan saya transfer setelah kamu menyelesaikan pekerjaan kamu. Paham?”     Renata mengangguk.“Saya paham pak.”   “Kamu yakin bisa menjaga Rafa dengan baik?” tanya Ryan penuh selidik. Ternyata dia masih belum yakin pada Renata. Tetapi Ryan tidak peduli. Demi anaknya dia harus memastikan dengan siapa dia berurusan.   Ryan memang percaya pada Maya. Tentu sahabatnya itu akan merekomendasikan seorang perawat yang handal. Tapi dikarenakan usia Renata yang masih muda membuat Ryan sedikit meragukannya. Lagipula sekarang wanita itu tengah berbicara dengan dirinya. Apa salahnya bertanya ?     Mendadak Ryan merasa bersimpati pada Renata karena melihat wanita itu berusaha mengontrol emosinya. Kasihan juga dia.  Apa aku kelewatan ya bicaranya? Ryan bertanya – tanya dalam hati. Baru saja Ryan ingin meminta maaf, tetapi wanita itu terlebih dahulu bersuara.     “Saya yakin saya bisa pak."  ucap Renata setelah mengumpulkan seluruh kekuatan dan keberaniannya. Toh pekerjaan seperti ini sudah sering dilakukannya. Dan dia juga memang penyuka anak - anak. Renata sangat yakin dia bisa merawat dan menjaga anak pria dihadapannya ini dengan baik.   "Wajar kalau ragu. Tapi sekedar bapak tahu bahwa selama saya bekerja, belum pernah ada komplain dari orang yang mempekerjakan saya karena saya selalu mengedepankan tanggung jawab dalam bekerja. Jadi bapak tidak perlu khawatir. Saya pasti akan menjaga putra bapak dengan baik.” lanjut Renata.     “Baiklah kalau begitu. Kalau kamu mengalami kesulitan menjaga Rafa, jangan sungkan memberitahu saya.”   Menyangkut Rafael putranya, Ryan sering bertindak over protektif. Semua orang yang bekerja dirumahnya sudah tahu karakter Ryan. Dan mereka semua dapat melakukan setiap aturan dan perintah yang dibuatnya. Terhadap Renata, dia berharap wanita itu pun dapat melakukan  setiap aturan dan perintahnya.       “Ada pertanyaan ?”     “Ada pak.” jawab Renata cepat.     “Apa?”      Berapa nomor hp bapak ?” tanya Renata blak – blakkan. “Soalnya saya harus melaporkan semua kegiatan Rafa kan, tapi saya belum punya nomor bapak."   Memang dokter Maya sudah memberitahu Renata tentang Ryan. Tapi itu hanya informasi alamat rumah dan tugas yang harus dilakukannya. Nomor hp Ryan tidak dikirimkan Maya. Renata juga lupa menanyakannya pada dokter Maya.   Ryan mengambil ponselnya dari dalam saku. “Saya sudah punya nomor hp kamu. Nanti saya wa kamu.”     “Baik pak.”   “Ada pertanyaan lagi ?”     “Tidak pak.”     “Kamu sudah bertemu Rafa?”     “Sudah pak.”   “Sekarang Rafa dimana?”     “Tadi Rafa sudah membersihkan badannya dan sudah berganti pakaian. Setelah itu tadinya saya ingin menemani Rafa sarapan, tapi bi Marni bilang saya harus bertemu bapak. Jadi saya titip Rafa sama bi Marni pak.”     “Ok. Kamu boleh pergi sekarang biar bi Marni bisa melakukan pekerjaannya.”      *     Renata menghembuskan napas lega begitu keluar dari ruang kerja Ryan. Lama – lama berada bersama manusia es seperti pria itu bisa membuatnya membeku. Renata menilai Ryan seperti manusia es dikarenakan selama mereka berbicara pria itu sekalipun tidak menunjukan senyuman.     Pria itu malahan sudah membuat Renata gugup. gelisah dan kesal karena dari nada bicara pria itu menyiratkan bahwa dia tidak yakin dan percaya pada dirinya. Tapi untunglah orang tua Renata selalu mengajarkannya untuk menjunjung tinggi sikap sopan santun sehingga meski dalam keadaan emosi tetap dia harus bisa mengontrol emosi itu.     Saat bersama Ryan, Renata tidak bisa berbicara santai bahkan bergerak dengan bebas. Menurut Renata, bos barunya itu bukan hanya sekedar membicarakan tugas pekerjaannya saja, tetapi pria itu bertindak seperti polisi yang menginterogasi tersangka. Menegangkan.     “Ya ampun punya bos segitunya. Muka ganteng tapi sikap kaku gitu. Nggak ada senyum – senyumlah lagi. Muka datar nggak ada ramah – ramahnya. Hadew...”  Renata berbicara sendiri dengan suara pelan.     “Ah biarlah... Demi 10 juta kamu harus sabar Ren. Sabar ngurusin anaknya, terlebih sabar hadapin bapaknya. Seamgant... Semangat!!!” gumam Renata menyemangati dirinya.       *     “Kok belum makan sih?” tanya Renata saat ia masuk ke kamar Rafa. Bocah itu bukannya makan malah asyik tiduran diranjang. Pantas wajah bi Marni frustasi seperti itu.   “Saya sudah membujuk den Rafa buat makan tapi dia tetap tidak mau.” Bi Marni melapor.       “Biar saya coba bujukin bi.” Renata kemudian duduk ditepi ranjang.     “Rafa sayang, kok makanannya nggak dimakan?”     “Makanannya nggak enak.” jawab Rafa ketus.     “Makanan ini enak kok. Tapi karena Rafa sedang sakit makanya makanan ini terasa nggak enak di mulut Rafa.”   Bocah itu tidak menggubris.     “Rafa harus makan biar cepat sembuh dan jadi anak sehat dan kuat.”  Renata berusaha membujuk anak itu.   Rafa menoleh kearah Renata. Sepertinya ucapannya barusan berhasil mengundang perhatian bocah itu.     “Kuat seperti kapten amelika ya?”     “Iya.” jawab Renata langsung.  Ternyata bocah ini suka dengan kapten amerika. Mulailah Renata berekspresi untuk membujuk Rafa.   “ Tahu nggak. Kapten amerika juga pernah sakit loh. Tapi dia tetap mau makan dan mau minum obat juga karena dia ingin menjadi sehat dan kuat.”     “Rafa juga mau jadi kuat kayak kapten amelica.”     “Kalau begitu Rafa harus makan.”   Bocah itu menatap piring yang dipegang bi Marni dengan malas.   “Nanti kaka suapin deh.”     “Iya deh." jawab Rafa terpaksa.   "Lafa mau makan tapi jangan makan dikamal nanti kamalnya kotol.”     Ternyata bocah ini cinta kebersihan. Bagus.     “Non, kalau begitu mari kita kebawah. Saya masih mau siapin sarapan buat tuan.”     Renata mengangguk. “Bisa bantu bawain makanan Rafa ke ruang makan bi?”   “Baik non.” ujar bi Marni sebelum terlebih dahulu pergi.     “Ayo bangun.” ucap Renata pada Rafa.   “Kita turun sekarang. Mau jalan kaki apa mau digendong?” Renata memberi penawaran.     “Mau digendong.”     Terlambat sudah untuk membatalkan penawaran. Meskipun sedang sakit tapi ternyata bocah ini berat juga. Berapa kilo si ni anak ? Badan keliatan kecil tapi ternyata berat. Haduh... Menggendong Rafa yang berat menjadikan Renata kesulitan berjalan, apalagi saat menuruni tangga.   “Kok digendong sama tante Renata”   Renata menoleh kearah sosok yang bersuara itu.     “Asem. Sejak kapan aku jadi tante ? Mata kamu rabun ya bos ? wajah cantik ayu kayak gini dipanggil tante. Gini – gini aku masih muda nggak kayak kamu.” Renata menggerutu dalam hati.     “Sini Rafa biar papi gendong.”     “Tidak apa – apa kok pak. Rafa biar saya gendong saja.” Renata sok kuat.     “Tapi dia berat. Sini biar saya yang gendong. Ayo sayang.”   Bocah itu bukannya berpindah malah semakin mengeratkan tangannya dileher Renata.     “Tidak apa –apa kok pak.” Renata kembali bersuara.   “Jangan keras kepala.” tegur Ryan. “ Sudah saya bilang Rafa biar saya yang gendong. Lihat cara jalan kamu sudah kayak orang sakit ambeyen.”     Alih – alih tersinggung atau marah, Renata justru tertawa. Ternyata pria itu tidak sedingin dugaannya. Ternyata pria itu masih bisa membuat lelucon.   Tanpa berpikir lagi Renata langsung menyerahkan Rafa kepada Ryan. “Digendong sama papi ya soalnya papi sudah kangen sama Rafa.” Renata membuat alasan.     Untung anak itu langsung menurut. Ryan dengan cepat melangkahkan kakinya berjalan mendahului Renata.   Renata berharap ada sedikit senyuman tersungging dibibir Ryan. Nyatanya pria itu tetap saja menampakkan wajah datarnya. Tawa Renata pun langsung sirna digantikan dengan senyum canggung.     “Hadew… dasar pol ice man.” ucap Renata pelan. Tiba – tiba terpikir sebuah julukan untuk bosnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN