Bab 5. Memanjakan

1454 Kata
Rupanya Ryan berusaha sekuat tenaga menahan tawanya. Lucu sekali melihat Renata berjalan seperti tadi. Ryan tidak pernah tahu bagaimana cara berjalan orang yang sakit ambeyen tapi tiba – tiba saja dia melontarkan ucapan itu pada Renata.   “Hahahaha…” Ryan melepaskan tawanya ketika jarak antara dirinya dan Renata sudah cukup jauh. Tidak mungkin kan dia menertawakan  wanita itu tepat dihadapannya. Bagaimanapun sekarang dia adalah bos wanita itu. Dan seorang harus bos harus menjaga wibawa dan martabatnya.   “Permisi pak, apa saya bisa duduk disini ? soalnya saya janji mau suapin Rafa.” kata Renata sambil menunjuk kursi disamping Rafa.   “Silahkan. Tapi Rafa biar saya yang suapi. Kamu makan saja dulu. Kamu pasti belum sarapan.”   “Tidak apa – apa kok pak. Saya belum lapar juga. Biar saya saja yang suapin Rafa, bapak sudah rapi begitu bisa – bisa pakaian kerjanya kotor.”   Renata mengambil makanan Rafa lalu mulai menyuapi anak itu. "Ayo buka mulutnya sayang." pinta Renata. Tapi sama seperti tadi, Rafa masih saja tidak berselera memandangi makanannya itu apalagi membuka mulutnya. Renata tidak kehabisan akal. Diangkatnya sendok berisi makanan. “Wuing…wuing… ini adalah pesawat terbang. Ayo buka mulutnya, pesawatnya mau landing sekarang... Buka mulutnya sayang....Aaaa....” ucap Renata dibarengi dengan gerakan tangannya yang melayang - layang. Rafa pun membuka mulutnya. Tak berselang lama, Rafa sudah selesai makannya. Kini Renata harus membujuk anak itu untuk minum obat yang sudah di letakkan bi Marni diatas meja makan.   “Nggak mau, obatnya pahit.” tolak anak itu.   “Eh, tahu nggak ? kapten amerika nggak takut sama obat loh. Walaupun pahit, kapten amerika tetap mau minum obatnya.” Renata membawa - bawa kapten Amerika untuk membujuk Rafa.   “Kapten amelika juga minum obat banyak kayak gini ?” tanya Rafa sambil menujuk obat yang dipegang Renata.   Ada tiga jenis obat yang harus dikomsumsi Rafa. Dua obat tablet dan 1 obat sirup. Dua obat tabletnya sudah digabungkan bersama obat sirup agar memudahkan Rafa meminumnya.   Renata mengangguk. “Iya sayang. Kan kapten amerika mau jadi kuat, jadi dia tetap mau minum obat walaupun obatnya banyak. Rafa kan mau jadi sehat dan kuat. Rafa juga kan sekarang sudah pintar, pasti bisa minum obat ini. Ayo buka mulutnya.”   Walau wajahnya berkerut, tetapi Rafa berhasil menelan obatnya.   Selama kegiatan sarapan sampai minum obat, mata Ryan tidak pernah lepas dari Renata. Ia ingin memastikan dengan kedua matanya sendiri bagaimana  cara wanita itu mengurus putranya. Sebenarnya dia punya janji meeting pagi ini. Tapi meeting itu diundurnya 2 jam. Saat masih diruang kerja, Ryan sudah mengabari Jimmy asistennya.   Pandangan Ryan terfokus pada Renata. Wanita itu menyuapi Rafa dengan sabar  walaupun  mulutnya tidak pernah berhenti bersuara. Tanganya juga  terlampau sering melayang – layang diudara, menjadikan sendok berisi makanan itu sebagai pesawat. Tapi anehnya Rafa seakan mempercayai kata – kata wanita itu.   Saat wajah  Rafa belepotan, dengan lembut dia mengusap dan membersihkan wajah Rafa dengan serbet, membersihkannya dengan telaten. Saat minum obat, dikarangnya cerita kapten amerika yang suka minum obat supaya kuat. Padahal dalam filmya, si kapten jadi kuat bukan karena minum obat tapi disuntik dengan peralatan yang canggih. Ada – ada saja dia.   Sedikit kelegaan merayap dalam hati Ryan. Wanita itu tidak hanya mengurus Rafa, tapi juga dia memanjakannya.   Setelah menyelesaikan kegiatan sarapan,  Ryan langsung berangkat ke kantor. Sementara Renata membantu membersihkan meja makan.   “Tidak usah repot non. Itu pekerjaan bibi. Nona jagain den Rafa saja. Nanti kalau tuan tahu tuan bisa marah.”   “Tidak apa – apa bi. Saya sudah biasa mengerjakan ini kok.”   “Sayang, tunggu sebentar ya.” kata Renata pada Rafa.  “Kaka mau bantuin bibi mencuci piring. Nggak lama kok. Tunggu sebentar ya.”   Renata kemudian kembali membereskan meja makan. Diaturnya piring – piring yang kotor lalu dibawanya ke wastafel dan mencucinya.   Bi marni mengekori Renata. “Tidak usah non. Nanti tuan marah. Tugas non cuma jagain Rafa, kalau beresin piring kotor itu tugas saya.”   “Tidak apa – apa bi. Sejak masih SMA saya sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi pekerjaan dapur seperti ini mah bisa saya lakukan bi. Maklum, selama tinggal dirumah di Bandung, saya sering disuruh bunda bantuin masak, nyuci, ngepel dan masih banyak lagi bi. Hehe…” “Tapi, non.”   “Beneran bi tidak apa – apa. Biarkan saya membantu. Kasihan bibi sendirian mengurus rumah sebesar ini.”   Bi Marni mendesah. “Iya sih. Tadinya ada bi Wati yang bantuin. Tapi sekarang bi Wati nya ijin pulang kampung. Bibi jadi sedikit repot mengurus rumah. Hehe.” Bi Marni curhat.   “Makanya bi, biarkan saya bantuin bibi. Biar saya yang mengurus dapur. Saya bisa cuci piring bisa masak dan sekalian saya bisa siapkan makanan dimeja makan. Bibi kasih tahu saja makanan apa yang biasa pak Ryan dan Rafa makan, biar saya yang masakkin.”   “Memangnya non Renata bisa masak ?”   “Ya ampun bi, dikasih tahu malah nggak percaya. Saya beneran bisa masak. Dikulkas ada bahan makanan nggak ? biar saya masak buat makan siang sebentar. Gimana?”   “Boleh deh non." kata Bi Marni malu - malu tapi mau. "Tapi bibi harus periksa dan cicipin dulu ya masakan nona. Kalau bergizi dan enak baru disajikan buat den Rafa. Kalau enggak, nggak boleh dimakan sama den Rafa.”   “Tidak masalah.” tukas Renata. ”Eh, Rafa mau kemana ?” tanya Renata.   Bocah itu beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke ruang tengah.   “Sebentar ya bi, saya susul Rafa dulu.”   “Oh, ini ruang bermain Rafa ya ?” ucap Renata sambil melihat sekeliling ruangan.   Ruangan itu cukup besar. Dindingnya dicat biru tua dipadukan dengan warna kuning, sama seperti cat dinding kamar bocah itu. Di sudut ruangan terdapat lemari dua sisi tempat penyimpanan koleksi mainan. Renata mendekat memperhatikan isi lemari itu. Tetapi ia  tidak dapat menghitung jumlah permainan yang disimpan didalam sana.   Tetapi semua yang berada didalam lemari itu cukup menarik perhatian Renata. Mulai dari jejeran miniatur avangers yang mini sampai yang besar yang tersusun rapi dirak atas lemari. Lalu  dirak kedua, diatur patung – patung film komik seperti naruto, boboboy dan doraemon. Dirak ketiga terdapat mainan mobil – mobilan seperti racing cars, mobil truk, mobil polisi dan bus tayo. Koleksi mainan Rafa ternyata  banyak.   “Ka Lenata sini, Lafa mau tunjukkin ini.” Bocah itu mengambil sesuatu dari dalam box. Ya ampun, ternyata koleksi mainan anak itu tidak hanya berada dilemari tapi juga ada di dalam box. Disudut ruangan juga terdapat dua mobil - mobilan, satu motor remot control dan satu skuter. Habisin duit berapa buat beli mainan banyak begitu ?   Renata mendekati Rafa. “Ini tameng kapten amelika.” Diangkatnya perisai berwarna merah biru itu lalu diayunkannya ke udara dengan gerakan seperti sang kapten.   “Wah, hebat. Ternayata Rafa hafal ya jurus kapten amerika”     Rafa menyuginggkan senyum bangga. Senyum itu membuat Renata gemas. Dicubitnya pipi bocah itu. “Kamu tu gemesin banget sih. Muach..” tanpa sadar satu kecupan mendarat dipipi kanan Rafa. “pipi satunya lagi. Muach…”   “Eh kaka juga bisa menirukan gaya superhero loh.” kata Renata tiba - tiba.   .“Gimana ?” Rafa bertanya dengan rasa penasaran tinggi.   “Perhatikan baik – baik ya.” Renata kemudian mengancungkan jari kelingking, jari telunjuk dan jari jempol tangan kanannya lalu meluruskan tangannya kedepan. Sementara tangan kiri lurus kebelakang. Kaki kanan Renata diluruskannya kesamping dan kaki kirinya detekuknya sedikit. “Spiderman.” Teriak Renata.   “Hahaha…"Rafa tertawa geli melihat aksi Renata.   Renata juga ikut tertawa. “Lucu ya?"   "Hahaha.. iya, ka Lenata lucu banget."   "Biar deh, yang penting Rafa bisa ketawa. Ngomong - ngomong gimana kalau sekarang Rafa mainnya didapur aja ? Kaka masih mau bantuin bi Marni.” bujuk Renata.   “Tapi nanti papi malah. Kalau Rafa main disana nanti lumahnya belantakan.”   Kalau seperti ini mah bukan lagi cinta kebersihan. Tapi gila kebersihan. “Nggak apa – apa kok sayang. Rumahnya nggak akan berantakan asalkan nanti selesai Rafa main, permaiannya langsung diberesin. Nanti kaka bantuin Rafa. Mau ya…ya…ya…?” ucap Renata sambil menggelitik perut bocah itu.   Rafa cekikikkan, tapi ia mulai mempertimbangkan ucapan Renata. “Iya deh, Lafa mau. Tapi janji ya kaka bantuin Lafa belesin mainannya.”   Renata tersenyum lebar. “Iya – iya kaka janji.” Renata kemudian menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Rafa. "Janji..." ucapnya lagi. Rafa tersenyum menandakan ia percaya pada omongan Renata. Kemudia anak itu mengambil beberapa mainannya. Renata turut serta membantu memegang apa yang diambil anak itu.   Karena terlalu asyik berbicara dengan Rafa, Renata tidak menyadari kehadiran bi Marni. Wanita paruh baya itu berdiri tepat diambang pintu ruangan yang tidak terkunci sambil memegang handphone nya.   Karena tuntutan pekerjaan, bi Marni kini sudah pintar menggunakan ponsel android. Direkamnnya kegiatan Renata dan Rafa diruang bermain itu lalu dikirimkannya video rekamannya pada Ryan.   Ah, bi Marni sudah seperti mata – mata.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN